Hai Yamdena, Long Time No SEA you!

Hai yamdena, kata itu seketika muncul ketika pesawat wings air seri ATR 600 mendarat sempurna di bandara internasional Mathilda Batlayeri. Bukan hal yang aneh bagiku mengunjungi pulau ini. Rasanya sudah tidak asing seluruh indraku dengan bandara kecil ini. Hari itu, aku kembali mendapatkan tugas untuk melaukan survey lokasi guna keperluan pembangkit listrik tenaga surya. Rasanya sudah tidak sabar untuk bisa menginjakan kaki di pulau yang terkenal dengan nama negeri duan lolat ini. Hujan menjadi salam penyambutku. Namun setelah turun dari pesawat, hujan sudah reda dan hanya menyisakan basahan-basahan kecilnya. Tujuan utamaku bukan lagi desa Lermatang atau desa Latdalam seperti tahun lalu. Tujuanku kali ini adalah desa yang berada di ujung utara Pulau Yamdena, Larat dan Yaru.

Untuk menuju Pulau Larat, diperlukan setidaknya 3 jam perjalanan melintasi jalur Trans Yamdena. Waktu itu adalah waktu tercepat dengan menggunakan mobil carteran. Sampai saat ini, masih belum ada angkutan umum khusus dari kota Saumlaki menuju Larat. Angkutan yang ada berupa taksi plat hitam dengan tarif perkepala atau dengan carter untuk mempersingkat waktu tempuh.

20140423_131721
Trans Yamdena (Image by Google.com)

Aku tiba di Bandara sekitar pukul 15.50. bila dipaksakan langsung menuju Pulau larat, maka akan tiba pada malam hari. Malam bukan waktu yang tepat untuk berada di jalur trans tersebut, sehingga aku memutuskan untuk mencari penginapan dan beristirahat dahulu di Kota Saumlaki. Tahun lalu, aku tidak perlu dipusingkan untuk mencari tempat beristirahat. Sebuah kantor yang juga dijadikan tempat tinggal bisa aku gunakan untuk melepas lelah setelah bekerja. Kantor itu pula yang menjadi titik kumpul dengan teman-teman lainnya yang masih satu profesi denganku. Sekarang, aku mau tidak mau harus masuk keluar penginapan satu ke penginapan lainnya untuk mencari harga yang sesuai dengan bujet pengeluaranku.

Satu malam di Kota Saumlaki aku habiskan dengan beristirahat. Tidak banyak aktifitas yang aku kerjakan, selain mencari armada yang bisa aku carter untuk mengantarkanku ke pelabuhan siwahan, tempat penyebrangan ke Pulau Larat. Mudah-mudah gampang untuk mencarinya. Karena di depan penginapan banyak mobil terparkir, aku cuma berpura-pura mencari mobil dan seketika datang seorang supir menawarkan jasanya. Bila tidak hati-hati, tarifnya bisa melambung tinggi terutama pada orang yang dirasa baru menginjakan kaki di Kota Ini. Setelah sepakat dengan harga, kamipun berjanji untuk berangkat keesokan harinya tepat pukul 09.00 wit.

Taksi Plat Hitam

Jika diperhatikan, kebanyakan mobil yang manjadi angkutan menuju pelabuhan siwahan ini adalah mobil berplat nomor hitam. Selain itu, kode kota pun kebanyakan bukan asli dari kota Saumlaki. Banyak mobil dengan plat nomor jawa yang berkeliaran menjadi taksi. Mobil yang aku pakai saja berplat-nomorkan F, yang berarti mobil tersebut di keluarkan di kota bogor dan sekitarnya. Usut demi usut, sang driver yang mengaku bernama Leo berkata bahwa harga mobil di Jawa lebih murah dari pada di Ambon atau di Saumlaki. oleh sebab itu, banyak bos pemilik mobil yang sengaja mendatangkan mobil-mobil dari Jawa untuk digunakan di Saumlaki. Yang lebih menarik lagi adalah banyak diantara mobil-mobil tersebut merupakan mobil “bodong” yang tidak memiliki kelengkapan surat menyurat. Jhonson, 33 tahun, merupakan nama samaran, bercerita padaku bahwa modus yang banyak digunakan adalah membeli mobil dengan sistem kredit di Jawa, selanjutnya mobil diberitakan hilang. Lalu Oknum akan membuat surat berita kehilangan terhadap mobil tersebut. Dan setelah surat berita kehilangan terbit, maka mobil sudah ada di Kota Saumlaki untuk dipakai sebagai taksi penumpang. Lucu. Jhonson juga bercerita bahwa jalur trans Yamdena ini masih jauh dari pengawasan aparat hukum. Bahkan bisa dibilang jalur hutan, sehingga mobil-mobil bodong tersebut bisa bebas berkeliaran. Jika ada sweeping (operasi surat kendaraan) mobil-mobil tersebut akan disembunyikan kedalam hutan-hutan lebat sepanjang jalur Trans Yamdena.

Jalur Berkelok Trans Yamdena

WhatsApp Image 2017-05-17 at 12.46.29
Pemandangan Dari Atas Bukit

Jarak kota Saumlaki ke Pelabuhan Siwahan kurang lebih 180 kilometer. Melewati setidaknya 4 wilayah kecamatan. Jalurnya sudah mulus teraspal, namun medannya masih berbukit. Kurangnnya angkutan yang melintas membuat jalan ini seakan tidak pernah terpakai. Maka tidak heran jika beberapa ruas jalan mulai termakan oleh kerasnya alam. Di beberapa titik jalan sudah banyak yang mulai ditutupi kembali oleh ilalang. Longsoran-longsoran kecil dibahu jalan mulai terlihat akibat pergerakan tanahnya. Belum ada lampu penerangan jalan yang terpasang. Beberapa kilometer pertama memang terasa sangat rata dan lurus, namun jalan itu kemudian akan berubah menjadi jalan ular yang berkelok dan turun naik sehingga pengemudi harus memiliki kemampuan driving yang baik. Salah gas bisa berakibat fatal, karena disisi kiri dan kanan jalan umumnya masih berupa jurang. Keindahan pemandangan di jalur ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Wilayah yang berbukit dan masih lebat dengan pohon-pohon besar membuat seluruh pandangan mataku terhenti. Aku tertegun melihat kekayaan alam nusantara. Sepanjang mata memandang dataran itu berwarna hijau tua yang menandakan kesuburan dan kerapatan dari pohon-pohon didalamnya. Disaat berada diketinggian tertentu, laut akan terlihat sangat dekat. Alam begitu bebas, sehingga rasanya tidak ada pembatas antara daratan dan lautan.

Penyebrangan Siwahan

 

WhatsApp Image 2017-05-17 at 12.47.46
Pantai Di jalur Trans Yamdena

 

Pelabuhan Siwahan bukan seperti pelabuhan pada umumnya. Pelabuhan ini lebih tepat disebut sebagai penyebrangan. Hal itu karena pelabuhan ini taklain adalah sebuah hutan mangrove yang lokasinya paling menjorok dan paling dekat dengan pulau Larat. Tidak ada tempat parkir kapal ataupun besi penahan kapal agar tidak hanyut. Yang ada hanyalah sebuah daratan dari tanah merah hasil urugan yang dipadatkan. Lahan itu sengaja dipadatkan dan dibuat lapang, sehingga bisa menempung mobil-mobil taksi yang datang dan parkir. Diujung daratanya, sudah siap perahu-perahu kecil dengan mesin Honda 125 cc. warga sekitar menyebutnya rakit. Setelah turun dari mobil dan membayar biaya carter, aku langsung menaiki sebuah perahu rakit dan kemudian diantarkan ke pelabuhan larat. Beruntung, hujan belum turun saat aku menyebrang selat Larat. Jika hujan turus saat aku menyebrang, otomatis seluruh bawaanku akan basah, karena rakit-rakit tersebut tidak memiliki penutup kepala. Setidaknya ada 10 rakit yang selalu siap mengantarkan penumpangnnya ke Pulau Larat. Namun, rasanya mereka harus cepat mencari alternatif pekerjaan lain. Hal ini dikeranakan pemerinta daerah sedang membangun jembatan penghubung pulau Yamdena dan Pulau Larat yang rencananya akan selesai pada tahun 2018. Jembatan ini jelas akan mematikan usaha jasa transportasi penyebrangan Siwahan-Pulau Larat. Kurang dari 30 menit adalah waktu yang diperlukan untuk menyebrang dari Penyebrangan Siwahan ke Pelabuhan Larat. Gelombang air sangat tenang, sehingga tidak ada yang perlu dicemaskan. Setelah membayar ongkos jasa, hujan turun sangat lebat. Akupun kemudian menunggu hujan berhenti disebuah aula milik pelabuhan yang diubah menjadi sebuah warung sembako.

 

Hallo Larat, akhirnya kita bertemu.

Saumlaki, 18 Mei 2017.

NB: Tulisan ini juga dimuat di http://www.kelana-loka.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s