5 Mitos Umum Tentang Maluku.

Pak Jokowi terima gelar kehormatan adat Malukuheadline sebuah berita disalah satu laman online membuat aku penasaran untuk segera membukanya. Dalam berita yang dirilis pada tanggal 25 februari 2017 itu mengatakan bahwa pak presiden mendapatkan gelar kehormatan adat tersebut disela kesibukannya dalam kunjungan kerja di Maluku. Sungguh luar biasa dan aku semakin salut dengan pak presiden yang hobby tersenyum tersebut.

screen-shot-2017-02-25-at-6-58-29-pm
Peta Provinsi Maluku

Dalam satu pekan terakhir, aku banyak melihat berita berisikan tentang pak presiden yang selalu menjadi headline dibeberapa media online, seperti berita soal pak presiden yang terus berupaya menertibkan perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia, sampai dengan beberapa aksinya saat kunjungan kerja di beberapa wilayah tak terkecuali Maluku. Sebut saja seperti video viralnya saat makan bakso bersama beberapa menteri di Ambon, vlognya bersama sang anak, Kaesang, serta lain sebagainya. Namun tunggu dulu, dalam tulisanku kali ini, aku tidak akan membahas mengenai aktifitas pak presiden, tapi aku akan memberikan beberapa info dan mitos mengenai Maluku yang, Alhamdulillah sudah pernah aku rasakan sendiri disana.

***

Orang Maluku itu keras-keras.

Setiap kali aku bertemu dengan beberapa teman yang baru mengetahui jika aku pernah tinggal di Maluku, banyak yang bertanya mengenai hal ini. Lalu aku hanya berbalik bertanya pada meraka dengan nada yang sangat penasaran. “Ohya?” itu satu kata yang lantas selalu keluar dari mulutku jika aku ditanya soal ini. aku kemudian menjelaskan bahwa itu adalah mitos. Mungkin mereka hanya melihat orang Maluku dari segi panampilannya saja. Namun, jika mereka sudah mengenal lebih dalam, maka niscaya, kita akan melihat sisi melankolis dari mereka. Sebenarnya, dari unsur seni, terutama seni musik saja, kita sudah bisa melihat bahwa hati orang Maluku itu sangat sensitif dan melankolis. Hampir semua lagu yang pernah aku dengar, semuanya bernuansa romantis dan galau, atau bahkan nasionalis. Bila tidak percaya, coba saja buka beberapa lagu dari mitha talahatu yang bisa dibilang adalah diva-nya orang-orang timur.

Ongkos ke Maluku itu mahal.

Mahal atau tidaknya sebuah sarana transportasi memang bisa dibilang relatif. Namun, bagi yang memiliki bujet sangat terbatas, bisa kok berkunjung kesana dengan biaya yang murah. Sekarang ini, di era pakde Jokowi, sudah banyak angkutan laut yang menjalankan trayek dari Jakarta sampai Papua, dan tentunya kapal-kapal laut tersebut akan singgah di pelabuhan Ambon, Gerbang utama masuk Maluku. Namun, saat memutuskan untuk memilih armada laut tentu harus dipersiapkan pula segala kebutuhan perjalanan dengan matang, dan yang pasti tentu harus memiliki ketahanan fisik yang luar biasa, karena waktu perjalanan dengan armada ini sangat panjang dan lama. Pesawat mamang menjadi transportasi yang sangat praktis dan sangat diandalkan. Namun tentu saja berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan. Akan tetapi, rasanya sangat bijak jika saat memutuskan untuk menggunakan pesawat, kita bisa membeli tiket jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan yang telah direncanakan. Mengapa? karena ini mirip dengan penerbangan umumnya, dimana biasanya tiket yang dibeli jauh-jauh hari akan jauh lebih murah serta bisa mendapatkan diskon yang lumayan untuk disisihkan untuk keperluan lainnya.

screen-shot-2017-02-25-at-7-02-29-pm
Sang Diva – Mitha Talahatu (Image by @mithatalahatu)

Biaya hidup di Maluku Mahal.

Aku pernah terkejut saat membeli bensin Rp.100.000 dengan ukuran satu botol air kemasan 600 ml. Aku membelinya di Kota Tiakur, salah satu ibukota kabupaten Maluku Barat Daya yang memang masih terus dibangun. Aku pernah menulis mengenai kota ini disini. Mungkin untuk kebanyakan orang, harga segitu sangat tidak wajar, namun bagi sebagian masyarakat disana, harga sebesar itu masih saja menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi. Tapi tenang, Kota Tiakur hanya sebagian kecil kota-kota di Maluku yang memasang biaya hidup yang sangat mahal. Berkunjung ke Maluku, pasti hal yang ada dipikiran adalah Ambon, yah memang, Ambon memang menjadi pintu gerbang utama Maluku. Tapi karena Maluku merupakan provinsi kepulauan, jadi sebetulnya masih banyak kota-kota lainnya yang bisa disambangi disana. Berbicara biaya hidup, aku rasa tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Hanya saja karena mungkin disana konsumen masih sangat terbatas serta pasokan yang bisa terbilang lambat, maka tidak heran jiga terkadang harganya sedikit lebih tinggi dari ibukota. Untuk harga sepotong ayam goreng misalnya (disana dikenal dengan sebutan ayam lalapan), jika di Jakarta dengan merogoh kocek Rp.25.000 kita sudah bisa kenyang bahkan mendapat paket komplit plus tahu dan tempe, namun di Ambon, dengan kocek yang sama, kita hanya bisa mendapat sepiring nasi plus ayam dan secuil sambal. Namun tunggu dulu, jika misalnya kita makan dengan ikan laut, mungkin di Jakarta harus merogoh kocek yang dalam untuk bisa menikmati kesegaran sajian seafood, di Maluku, dengan merogoh Rp 25.000 – Rp 50.000 saja, dijamin kita akan puas menikmati kesegaran macam-macam jenis ikan yang ditangkap langsung dari habitatnya. Sebanding bukan?

Kehidupan di Maluku masih primitif.

Hallooooo, ini sudah abad 21 pak! Indonesia saja sudah merdeka lebih dari 70 tahun. mungkin maksud primitif disini bukan seperti mereka yang masih belum mengenal teknologi, masih berburu bahkan masih sepenuhnya tergantung pada hasil alam, atau mungkin masih belum mengenakan pakaian jika sedang beraktifitas. Itu memang benar, namun tidak usah lebay dalam menanggapinya. Di sebagian wilayah Maluku memang masih terbilang sangat miskin. Bahkan tingkat ekonominya pun terbilang sulit. Namun mereka tidak bisa dibilang primitive karena mereka sudah mengenal apa itu televisi, handphone, bahkan mereka sudah mampu mengoprasikan mesin diesel, dan yang hebatnya lagi, meraka sudah mampu untuk memperbaiki sendiri mesin genset yang rusak. Aku sendiri justru sangat tidak sepakat jika meraka disebut manusia primitif, aku lebih senang menyabutnya dengan masyarkat tingkat ekonomi rendah. Karena rendahnya tingkat ekonomilah yang membuat mereka belum mampu untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier mereka. Mereka hidup seadanya dari alam. Bagi sebagian masyarakat yang hidup dipedalaman misalnya, alam menjadi tumpuan hidup utama meraka karena pasokan kebutuhan harian masih sangat sulit diakses. Bagiku, ini menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah yang harus segera dientaskan.

img_7123
Bandara Tual – Maluku Tenggara

Buruknya Infrastruktur di Maluku.

Aku selalu bilang jika Maluku adalah salah satu provinsi kepulauan di negeri tercinta ini. luas wilayah Maluku rasanya sebanding dengan banyaknya pulau, baik pulau besar ataupun pulau kecil yang berada di dalam wilayah administratifnya. Berbicara mengenai insfrastruktur, infrastruktur apa dulu, dan di wilayah mana? Jika berbicara di wilayah ibukota provinsi, yaitu Ambon, hampir semua infrastrukturnya lengkap. Jalan sudah sangat bagus, Bandara bertaraf Internasional. Bahkan pelabuhannya pun lumayan cukup besar. Jaringan telekomunikasi dan internet sudah sanggup menyaingi kecepatan di Jakarta. Di Ambon, kita tidak perlu lagi khawatir soal infrastrukur baik infrastruktur dasar ataupun tambahannya. Hidup nyaman dan lengkap sudah tersedia di Ambon. Tetapi, jika berbicara infrastruktur di Kabupaten-Kabupaten yang dimiliki oleh Maluku, barulah kita harus sedikit mengerutkan dahi. Aku saja sangat heran jika banyak masyarakat di desa kecil yang masih belum memiliki sarana sanitasi yang layak disetiap rumahnya. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan alam sebagai sanitasi masal yang bisa digunakan bersama. Bahkan yang lebih parahnya lagi, untuk kebutuhan air minum-pun terkadang sangat sulit. Namun dalam hal ini, Tidak selalu sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Karena akses yang sangat sulit, serta keinginan untuk maju dari masyarakat yang terbilang rendah yang menjadikan beberapa kelompok masyarakat di wilayah pedalaman Maluku terus berada di garis kemiskinan. Yang aku tahu, pemerintah sudah banyak memberikan bantuan-bantuan dengan tujuan mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat pedalaman untuk bisa lebih mandiri, bahkan setiap tahunnya, pemerintah daerah serta pusat banyak menggelontorkan uang melalui program-program ataupun proyek-proyek pembangunan daerah, namun terkadang bantuan-bantuan itupun tidak dipergunakan sebagaimana mestinya oleh si penerima, sehingga pada ujungnya mereka terus seperti itu (baca: Dibawah garis kemiskinan).

***

Panah gurita di ujung tanjong, cari bia di ujung meti. Biar tapisah gunung deng tanjong, orang Maluku selalu di hati,” boleh juga pantun yang dibuat oleh pak presiden ini. Pantun itu menjadi kalimat penutup yang diucapkan oleh sang presiden dalam pidatonya. Di masa yang akan datang, aku rasa Maluku akan lebih bangkit dan menjadi lebih mandiri bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi salah satu destinasi wisata dunia, menyaingi bali dan Lombok yang lebih dahulu terkenal.

I proud of you, Mr. President !! kalwedo.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “5 Mitos Umum Tentang Maluku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s