Saumlaki Series ; The Ending of Journey

Bandung.

Yeaay, Bandung. Itu adalah kalimat pertama yang aku ucapakan ketika travel trayek Bandara – Bandung tiba di poolnya. Aku tiba sekitar malam hari. Arlojiku saat itu menunjukan waktu 02.00, dini hari. Jalan Cihampelas, salah satu jalan iconik kota ini telah berubah. Aku melihat ada pembangunan sejenis jembatan tepat diatas jalannya. Entahlah itu bangunan apa, yang jelas rasanya aku harus kembali berkenalan dengan kota kelahiranku ini. Rasanya, baru kemarin sore aku harus kembali meninggalkan kota kelahiranku untuk kembali bertugas di perbatasan. Masih teringat jelas dalam ingatanku dimana di tempat yang sama dan dengan menggunakan armada travel yang sama, aku pergi meninggalkan kota bandung tercinta ini. lebay memang, namun itulah adanya.

IMG_9346
Memfasilitasi Masyarakat Untuk Berdiskusi

 

Bila diminta untuk bercerita apa pekerjaanku selama diperbatasan, aku hanya bisa tersenyum kecil sambil lanjut berbicara. Sederhana sebenarnya pekerjaanku disana. aku hanya berperan sebagai fasilitator. Yah, sebagai fasilitator, jelas tugas utamanya adalah memfasilitasi masyarakat yang ada dilokasiku bertugas. Namun jangan tanyakan padaku apa saja yang harus aku fasilitasi, karena jawabannya akan sangat panjang dan yaaah, mungkin lebih rumit dari pekerjaan seorang manager perusahaan yang sejatinya sudah memiliki SOP yang jelas.

Jika ditarik dan ditelaah sampai ke akarnya, persoalan di desa, apalagi desa terpencil itu sungguh luar biasa. Luar biasa menurut masyarakat desa, namun justru terlihat sepele menurut masyarakat luar desa. Misalkan saja masalah tambang pasir yang akhir-akhir ini marak dilakukan hampir oleh semua kepala keluarga di desa. Awalnya aku sendiri melihat permasalahan itu sebagai hal kecil yang sejatinya mampu untuk segera diselesaikan, caranya cukup dengan diberlakukan hukuman yang tegas dari kepala desa. Akan tetapi hal itu tidak semudah yang dibayangkan, banyak pertimbangan yang harus dilihat dan ditelaah lebih dalam. Aku, sebagai orang luar yang baru datang jelas tidak berhak untuk serta merta menutup usaha tambang tersebut serta mempidanakan pelaku-pelakunya apapun alasannya. Tidak adil. Meskipun aparatur desa sudah memberikan banyak larangan, serta diberlakukannya Perbup (Peraturan Bupati) mengenai tembang tradisional dari bupati yang menjabat, namun jika sudah berurusan dengan perut, maka semua aturan tersebut sudah jelas akan dilanggar. Sejatinya, tambang pasir yang mereka lakukan adalah sebagai pekerjaan pengganti disaat belum tersediannya lapangan pekerjaan yang lebih layak untuk mereka. Selain itu, pekerjaan sebagai penambang pasir dinilai adalah pekerjaan yang cepat mendatangkan penghasilan. Sehingga tidak heran jika pekerjaan ini lantas menjadi primadona hampir di setiap kalangan masyarakat. Kota saumlaki sendiri sedang membangun banyak infrastruktur, sehingga kebutuhan akan pasir dan batu jadi melonjak dan itu dimanfaatkan hampir oleh semua masyarakat desanya. Tugasku sebagai fasilitator jelas berusaha meyakinkan mereka bahwa apapun jenisnya, pekerjaan tambang itu akan merusak lingkungan yang ada. Tentu saja, pendekatan persuasive dan memberikan pencerahan serta pemahaman akan dampak lingkungan yang timbul akibat aktivitas itu menjadi salah satu dari pekerjaanku.

img_7212
Berbincang dan Berdiskusi di salah satu rumah warga

Belum lagi jika harus berurusan dengan aparatur desa yang terkadang tidak konsisten. Hari ini mereka bisa berkata A, namun esok hari mereka bisa merubahnya menjadi B secara sepihak. Itu pernah terjadi takkala kami sudah sepakat membuat agenda rapat pertemuan dengan warga untuk membahas salah satu program yang akan kami lakukan bersama-sama di lingkungan desa. Karena mungkin saat itu kepala desa sedang dipusingkan oleh beragam laporan menyangkut RPJMDes yang tertunda, maka saat itu juga rapat tersebut dibatalkan dan akan direncanakan kembali. Otomatis, semua jadwal kegiatanku yang sudah disusun runyam seketika.

img_4712
Abrasi akibat Penambangan Pasir

Itu hanya sekilas tentang pekerjaanku disana, intinya, aku harus dituntut serba flexible akan ketidakpastian yang sering terjadi di lapangan. Akupun dituntut untuk bisa memberikan keputusan yang cepat agar semua program yang ada bisa terlaksana. Sebagai fasilitator aku memang dituntut untuk terus belajar memahami kondisi yang ada di tempatku bertugas. Bagaimana tidak, budaya timur jelas berbeda dengan budaya barat. Maluku tenggara barat, jelas berbeda dengan Jawa barat. Semua aktifitasku dan bagaimana caraku bergaul pun menjadi penentu diterima atau tidaknya aku didalam lingkungan masyarakat disana. Aku mulai mengerti makna sesungguhnya dari sebuah peribahasa tua yang berbunyi : “dimana bumi dipijak, di situ langit dijungjung”.

Aku kemudian mengetuk pintu rumah yang masih terkunci. Tak lama kemudian suara adzan mulai berkumandang. Kangen rasanya mendengar adzan yang saling bersautan satu sama lainnya di udara. Setelah menyimpan tas ransel di balik pintu, akupun pamit pada ibuku untuk sejenak singgah dan bersujud di masjid komplek rumahku.

Bandung, 30 Desember 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s