Saumlaki Series; Beautiful Empty Island, Nustubung.

Tek keteeekk keteekk keteekkk…. Siang itu alunan nada mesin ketinting mulai terdengar. Jam masih menujukan pukul 12.00 WIT, para nelayan mulai berdatangan ke pantai desa lermatang seusai menjual hasil tangkapannya di kota saumlaki. aku dan seorang kawanku memang sengaja datang untuk menagih janji bapak kepala urusan umum desa untuk berwisata ke pulau kosong yang ada di depan desa. Rupanya, bapak kaur, begitu aku memanggilnya sudah menanti kehadiranku dari jam 10.00 WIT. Beliau mengatakan bahwa waktu ibadah sudah selesai sejak awal sehingga ia sudah bersiap untuk pergi pada jam tersebut. semakin pagi semakin bagus, karena gelombang dan konsidi air masih sangat tenang, sehingga kita akan puas untuk bermain di pantainya.

dsc01802
Pulau Nustubung

Pulau kosong itu bernama nustubung. Masyarakat sekitar pulau mengenalnya dengan sebutan nustubun. Jaraknya hanya 30 menit dengan menggunakan perahu ketinting dari desa lermatang. Jika gelombang air sedang besar, pulau ini sangat sulit untuk disinggahi. Beruntung, saat mengunjunginya, cuaca lautan sedang tenang karena mamang sudah masuk musim teduh. Kami menggunakan katinting kecil berisi enam orang. Perahu yang terbilang kecil dan sempit itu membuat kami tidak bisa banyak bergerak disepanjang perjalanan. Gerakan sedikit bisa membuat perahu bergoyang, sehingga sangat tidak disarankan untuk bergerak terlalu banyak selama berada diatas perahu tersebut. berjalan dengan menggunakan dua buah mesin rasanya memperpendek waktu perjalanan. Jika menggunakan satu buah mesin, waktu perjalanan kurang lebih memakan 30 menit, namun jika mesin ditambah satu buah lagi, maka waktu perjalanan menjadi lebih singkat, sekitar 15 menit saja.

dsc01935
kelomang-kelomang liar

Sambil mengabadikan moment selama perjalanan, aku terus menatap luasnya lautan arafuru. Aku saat ini berada di ujung Indonesia. Perairan perbatasan antara Indonesia dan Australia. Memang masih ada pulau terluar lainnya yang berbatasan langsung dengan Australia, namun pulau nustubun sendiri letaknya sudah berada di tepi selatan Indonesia, maka bisa dikatakan bahwa pulau inipun sebetulnya adalah halaman depan NKRI. Cuaca panas tidak menyurutkanku untuk terus mengabadikan setiap keindahan alam yang aku lihat sepanjang perjalanan. Aku bisa melihat langsung hutan mengrove yang masih asri yang ada di garis pantai desa lermatang, juga batu besar yang muncul karena air laut sedang surut. Sepanjang 15 menit perjalanan, bidikan kameraku terus aku arahkan pada tempat-tempat yang menurutku terlihat indah. Sayang, jernihnya air laut tidak bisa aku abadikan, karena memang kameraku sangat rentan terhadap air.

dsc01794
tak ada pelampung, gabuspun jadi.

Mendekati sampai, aku tidak melihat adanya dermaga untuk berlabuh perahu. sebetulnya jangan pernah mengharapkan adanya fasilitas umum yang lengkap di pulau ini. bisa sampai dengan selamat dan menjejakan kaki di pasir halausnya sajau sudah merupakan sebuah anugerah serta pengalaman yang luarbiasa menyenangkan. Perlahan perahu ketinting yang aku gunakan mulai melambat, menandakan kami akan segera melapas jangkar untuk kemudian turun dan berwisata di pulau tersebut. perahuku semakin lama semakin melambat dan sang nahkoda terlihat sibuk mencari tempat tebaik untuk berlabuh. Karena terumbu karang disekitar perairan masih banyak, maka sang nahkoda mencari tempat yang tepat agar kami tidak harus menabrak terumbu karang yang ada. Rasa penasaranku untuk segera menceburkan diri ke dalam lautan sudah tidak terbendung lagi. Bagaimana tidak, paduan warna alami hijau tosca dan terumbu karang yang telihat jelas di atas perahu begitu menggodaku untuk segera menceburkan diri ke dalamnya. Dan setelah menitipkan kamera serta tas yang aku bawa, akupun langsung membuka bajuku dan seketika meloncat ke dalam air laut yang sangat tenang tersebut.

Pulau ini benar-benar kosong, tidak ada penduduk atau penghuni lain sama sekali. Garis pantainya masih alami, terumbu karangnya masih segar. Sepanjang garis pantai, hanya pasir putih serta tanaman mangrove yang tumbuh. Pasirnya sendiri sangat putih dan sangat halus. Sampah pun masih sangat sedikit. Namun karena pulau ini sudah menjadi pulau wisata bagi penduduk sekitar, makan tidak heran jika disalah satu bagian pantai yang lapang sudah tersedia tempat pembakaran ikan yang dibuat secara alami dari kayu-kayu yang didapatkan dari hutan di pulau ini.

dsc01819
kars pulau nustubung

Tidak lengkap rasanya jika tidak bermain di air lautnya. Setelah keluar sebentar dari air laut, aku berjalan menuju daratan untuk meminjam sebuah kacamata renang agar aku bisa lebih bebas menikmati keindahan alam bawah laut pulau ini. setelah kacamata aku dapatkan, aku langsung menceburkan diri kembali ke bagian yan glebih dalam untuk melihat lebih jelas terumbu karang serta ikan-ikan yang bebas berlarian di tempat hidupnya. Sang nahkoda meminta izin padaku untuk berkeliling mencari ikan segar yang akan menjadi sajian makan siang kami. Dengan anggukan kecil dariku, pak kaur pun langsung pergi tancap gas mencari ikan besar di tengah lautan. Aku beserta temanku kembali mengexplorasi semua bagian yang bisa kami singgahi di pulau ini.

Kelomang di pulau ini masih terlalu banyak untuk kami hitung. Belum lagi agas, semacam nyamuk hutanpun berkeliaran bebas mencari siapapun yang bisa dihisap darahnya. Namun tenang saja, agas ini sangat takut akan air, sehingga sebisa mungkin jangan pernah keluar dari air laut jika tidak ingin dihisap darahnya. Lebatnya hutan mangrove di pulau ini menjadikan semua wilayahnya masih nampak sangat alami. Sehingga janga heran jika hewan-hewan yang adapun masih belum mengenal manusia yang datang. Maklum, ini pulau kosong, dan sangat jarang disinggahi oleh manusia. Jikalau ada yang singgah, biasanya itu adalah wisatawan yang memang datang untuk memikmati kesendirian dan kenyamanan dari sepinya rutinitas perkotaan. Sambil berenang, aktifitas yang aku lakukan adalah menangkap ikan. Caranya sederhana, hanya dengan memanfaatkan kail dan seutas tali pancing, akupun memanfaatkan kelomang sebagai umpannya. Jangan salah, semakin besar kelomang yang aku gunakan sebagai umpan, semakin besar pula ikan yang aku dapatkan. Akan tetapi, tetap perlu kesabaran untuk menancing ikan seperti ini, terbukti dari sekian banyak kelomang yang aku jadikan umpan, aku hanya bisa memangkap 4 ekor ikan saja. Itupun ukurannya kecil. Lumayan untuk ganjal sambil menanti datangnya ikan tangkapan pak kaur, batinku.

dsc01952
Hutan Mangrove

Tepat jam 17.00 WIT pak kaur datang dengan kekecewaan. Ikan tangkapannya lepas dari kail karena terlalu besar, sehingga tali pancingnya putus. Usahanya untuk menyenagkanku batal seketika. Raut wajah sedihnya terpancar begitu meminta maaf atas kegagalannya tersebut. Aku hanya bisa tertawa dan memintanya untuk tidak bersedih. Lagian aku sudah makan ikan hasil tangkapanku sendiri. Selain itu juga, istri pak kaur membawa petatas (Ubi jalar) yang direbus yang memang akan menjadi teman saat ada ikan yang dibakar. Rasa bahagia ini tetap terpancar meskipun ikan tangkapan lepas. Aku tetap bisa menikmati indahnya pantai, serta indahnya kebersamaan ditengah pulau kosong dengan keterbatasan yang ada. Rasa laparpun kemudian terbalaskan dengan potongan-potongan ketela rebus yang dicampur dengan sambal colo-colo khas ambon. Segar dan pedas.

Kebahagiaan kami dipulau kosong ini harus segera berakhir karena sang surya sudah mulai tenggelam. Rasanya bukan pilihan yang tepat jika kami harus kembali ke desa saat hari sudah gelap. Saat malam tiba, biasanya gelombang air laut akan mulai membesar, belum lagi perahu kami tidak dilengkapi dengan lampu penerangan yang sebetulnya bisa membahayakan kami semua jiga harus berlayar mendekati malam. Akhirnya kami semua bergegas pulang sambil menikmati senja diatas perahu. Air sudah pasang, ini terlihat dari batu besar yang tadi siang bisa aku lihat, sekarang hanya tinggal ujung atasnya saja, karena bagian badannya sudah tergenang oleh air laut yang pasang.

Rasanya dilema mulai menghantui pikiranku. Keindahan pulau ini ingin sekali aku sebarkan ke khalayak ramai. Ingin sekali aku mempromosikan semua keindahan yang bisa ditawarkan oleh pulau ini. Pasir putih yang halus, terumbuk karang yang indah, serta senja yang romantis bisa aku jual kepada siapapun pencinta wisata pantai. Akan tetapi, aku lebih memikirkan masa depan pulau kecil nan indah ini. aku rasa masyarakat lokal masih belum siap mengelola dengan baik apabila arus wisata mulai mengalir deras menuju pulau ini. Terlihat egois memang, namun apa daya, aku cuma tidak ingin jiga tahun-tahun mendatang pantai ini rusak. Bahkan aku tidak rela jika pulau eksotis ini mulai dipenuhi oleh limbah sisa pengunjung. Tapi dibalik semua itu, aku mengharapkan pulau ini bisa menjadi alternatif pemasukan bagi orang-orang desa disamping pekerjaan utamanya sebagai nelayan. aku juga ingin sekali melihat desa lermatang menjadi salah satu desa tujuan wisata dikemudian hari. Aku cuma berharap, adanya perhatian khusus pada pulau ini jika pada akhirnya sudah banyak pengunjung yang datang ke pulau ini. Semoga dikemudian hari, aku masih bisa datang dan menyaksikan keindahan serta kesunyian alami dari pulau nustubung ini.

Saumlaki, 26 Desember 2016.

Advertisements

One thought on “Saumlaki Series; Beautiful Empty Island, Nustubung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s