Saumlaki Series; Shock and Sick.

“Penumpang yang terhormat, dikarenakan cuaca di Kota Saumlaki buruk, oleh karena itu pesawat akan berputar selama kuran glebih 10 menit. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, terima kasih.”

Nada pengumuman dari salah satu pramugari dengan nomor penerbangan IW 1516 tujuan Saumlaki itu membuat seluruh tubuhku bergetar. Aku kemudian memandang kesekeliling pesawat yang sedang mengudara di atas ketinggian 16.000 kaki diatas permukaan laut itu. raut muka pucat, panik, serta takut seketika terpancar dari setiap sisi. Awan tebal sesekali masuk menutupi semua pemandangan dari kaca jendela. Awan tebal pula yang menutupi semua daratan Pulau Yamdena, sehingga pilot tidak bisa melihat keberadaan bandara dengan jelas. Tidak ada lagi seorang pemuda yang sedang memainkan sebuah game di handphonenya, semua duduk tenang sambil memanjatkan doa menurut kepercayaannya masing-masing agar pesawat dapat mendarat dengan selamat. Kurang lebih 10 menit sudah lewat, para penumpang mulai panic kembali. Bunyi nada pengumuman nyala kembali, namun tidak ada yang orang yang bersuara dibaliknya. Penumpang mulai resah, tak terkecuali denganku. hal terburuk jika pesawat tidak bisa mendarat di bandara saumlaki adalah pesawat akan kembali menuju ambon dan penerbangan akan dilanjutkan keesokan harinya. Seolah mentari di tengah kegelapan, akhirnya seorang pramugari kembali bersuara dibalik pengeras suara dalam kabin. Menadakan bahwa pesawat siap untuk mendarat, sehingga dihimbau kepada para penumpang agar kembali mengencangkan sabuk keselamatannya. Pendaratanpun tidak semulus biasanya, terjadi beberapa goncangan sebelum pada akhirnya tuas rem pesawat terasa menahan kencangnnya laju pesawat yang baru saja mendarat. Kami tiba dengan selamat di bandara internasional mathilda batlayeri, saumlaki.

Lovely office

Hari ini adalah hari senin. Jam di arlojiku menunjukan 16.58. jika penerbangan normal, seharusnya aku sudah sampai di kota saumlaki sejak pukul 15.45. karena cuaca buruk, pesawat harus menunggu persetujuan terbang terlebih dahulu dari otoritas penerbangan bandara pattimura ambon, disini pesawat delay sekitar satu jam lebih. Setelah ada informasi cuaca membaik, barulah pesawat diterbangkan menuju kota samulaki. Suasana sehabis hujan jelas terlihat. Bandara basah, genangan-ganangan kecil terlihat jelas disetiap sudut landasan pacu bandara. Sinar senja pun nampaknya sedang malu untuk menampakan dirinya. Aku malihat awan tebal sepanjang perjalananku dari bandara menuju tempat kediamannku di kota saumlaki.

Sebelum cuaca buruk melanda

“Hujan terus saumlaki pak nus?” aku membuka obrolan santai sambil duduk tenang di kursi motor.

“Setiap hari bang, hujan besar, seminggu ini banyak penerbangan ditunda bang.” Jawab supirku dengan penuh antusias.

Yah, kali ini aku dijemput dengan menggunakan sepeda motor oleh supirku. Aku memilih sepeda motor dengan alasan penghematan, selain itu pula karena memang aku tidak membawa banyak barang bawaan, sehingga dengan menggunakan sepeda motor aku rasa jauh lebih flexible.

Tidak perlu waktu lama untuk sampai di kantor tempat kediamanku. Hanya 15 menit dari bandara. Kantor rasanya sangat kotor dan berantakan. Lantainya banyak jejak kaki bernodakan lumpur. Halamannya penuh dengan dedaunan kering. Rumpur-rumput liar sudah mulai tumbuh membesar dan menutupi seluruh permukaan lahan. Lampu masih menyala karena belum ada orang yang mematikannya. Listrik sudah berbunyi, menandakan sudah saatnya mengisi daya. Digarasi ada satu mobil dinas milik pelabuhan perikanan yang ditingalkan oleh penggunanya pulang kampung. Baru saja aku membuka pintu kantor, aroma sopi langsung menjalar keluar ruangan. Rasa lelah selama di perjalanan ini langsung membuatku tidak ingin memikirkan terlabih dahulu keadaan kantor. Aku langsung meminta kunci kamar utama kepada pak Nus, dan langsung masuk untuk beristirahat. Begitu masuk kamar, aku mendengar pak nus masuk ke dalam dapur, mungkin berniat untuk membereskan kantor, namun aku tidak mempedulikannya. Beberapa saat kemudian, pak nus meminta izin padaku untuk pulang ke kediamannya. Dengan susah payah, akupun angun dari tidurku lalu bercakap dengannya dan kemudian tertidur kembali setelah pak nus pergi dan pintu kembali aku kunci.

Saumlaki night market

Rasa lapar membuatku terjaga dari tidur lelapku. Aku melihat arloji, masih jam 21.00 WIT. Kantor besar ini rasanya sunyi sekali. Aku kemudian bangun lalu mencuci mataku. Karena lapar, aktifitas pertamaku saat itu adalah menuju dapur. Meskipun aku tahu bahwa tidak mungkin ada makanan yang bisa diolah disana, namun aku hanya memastikan bahwa kondisi dapur baik-baik saja. Perkiraanku salah besar. Sesaat setelah menyalakan lampu dapur, aku melihat perabotan yang masih berantakan. Bahkan diatas tempat cuci piringpun masih menumpuk cucian bekas yang masih belum bersih. Tempat menanak nasipun aku lihat mulai penuh dengan serangga dari bekas nasi sisa yang mulai membusuk. Dalam hati aku langsung menghujat penghuni terakhir kantor ini. Seenaknya, batinku. Karena takut kepalaku pusing, aku langsung meninggalkan dapur tersebut dan lalu mengambil kunci motor untuk pergi ke warung tempat makan. Urusan dapur, biar besok lagi saja aku telepon pak nus.

Tidak ada yang berubah dari pasar malam kota saumlaki. Tempatnya masih berada di atas trotoar di bilangan jalan poros pemda. Lokasi lebih tapatnya berada di depan gedung kesenian Maluku Tenggara Barat. Pada pedagang umumnya adalah pendatang dari jawa. Hampir semua makanannya sama dan seragam; nasi goreng, soto, bakso, dan ayam lalapan. Yang membedakan para pedagang ini mungkin hanya kecepatan dalam hal melayani, serta cita rasa yang ditawarkannya. Selebihnya sama saja. Tampilan kedai mereka saat ini berbeda dari sebelumnya. Ada penambahan kain terpal sebagai atap agar para pengunjung terbebas dari percikan air hujan yang turun mendadak. Aku memesan satu mengkok soto lamongan ditempat biasa aku memesannya. Dan tidak perlu menunggu terlalu lama, karena sang pelayan sudah hafal betul selera makanku, nasi soto tanpa telur dengan extra krupuk. Sajian yang pas takkala aku perlu energy tambahan disamping tenggorokanku yang sedang meradang. Selesai makan, aku langsung kembali ke kantor untuk melanjutkan istirahatku.

Saumlaki, 21 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s