Daily Journal; Worst Flight Ever I Had.

Worst Flight Ever I had

Perjalanan menggunakan pesawat rasanya sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Belum lagi karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskanku berpergian dengan menggunakan pesawat harus terus aku jalani. Tidak ada yang berbeda dari tahun ketahun aku menggunakan tranportasi udara ini. semua lancar dan seperti apa adanya. Namun cuaca akhir tahun yang melanda seluruh wilayah di Indonesia ini merupakan titik balik dimana aku mulai merasakan rasa cemas setiap kali aku berpergian menggunakan pesawat terbang.  

Awan tebal di udara

Siang itu aku mendapatkan telepon dari pengurus besar wushu Indonesia yang menanyakan kesediaan bertugas di kejuaraan nasional junior serta babak kualifikasi pon remaja Bangka Belitung. Dengan penuh pertimbangan domisiliku saat ini, aku kemudian menyanggupi untuk bertugas dalam acara tersebut. Sebelum mendapat telepon resmi dari PBWI, aku sudah mendapatkan bocoran penugasan dari salah satu kakak seniorku yang memang sangat aktif dan selalu mendapatkan panggilan tugas sebagai wasit juri. Setelah berkonsultasi dengan beliau, akupun memantapkan diri untuk ikut mensukseskan acara tersebut. Tidak menunggu waktu lama, aku mendapatkan email berisi SK (Surat Keputusan) yang berisi nama-nama wasit dan juri yang bertugas dalam acara tersebut. Group di WA pun segera terbentuk. Serta segera ramai dengan beberapa pertanyaan ataupun guyonan dari setiap wasit juri yang masuk didalamnya. 

Masing-masing dari wasit dan juri itupun kemudian mendapatkan e-ticket yang sudah dipesankan oleh PBWI (Pengurus Besar Wushu Indonesia). Sambil berharap cemas, e-ticket-kupun kemudian masuk ke dalam inbox emailku. Ini adalah rute penerbanganku yang paling panjang, batinku.

Mengapa batinku berkata demikian? Ini karena saat ini aku sedang tinggal di wilayah Maluku Tenggara Barat, tepatnya di kota Saumlaki. Untuk bisa sampai di Pangkal Pinang, pulau Bangka, otomatis aku harus terbang terlebih dahulu ke Jakarta, dan kemudian kembali terbang ke pangkal pinang. Bukan waktu yang sebentar, pikirku. Selain itu, cuaca di kota Saumlaki saat ini tidak stabil. Seminggu terakhir, hujan besar disertai angin kencang terus melanda kota ini. satu minggu itu pula, tiga dari lima jadwal penerbangan di bandara internasional Mathilda Batlayeri ditunda. Mendengar situasi seperti ini, aku langsung mengambil keputusan untuk mengalihkan jadwal penerbanganku ke waktu yang lebih pas. alasan utama aku mengalihkan jadwal penerbanganku taklain karena cuaca Saumlaki yang belum juga membaik. Pengalamanku mengatakan bahwa sangat riskan untuk melakukan penerbangan keluar dari saumlaki dengan waktu yang sangat mepet dengan waktu penerbangan selanjutnya. Meskipun menggunakan satu maskapai yang sama, namun cuaca terkadang membuat penerbangan dari saumlaki tidak menentu. Rute penerbanganku kurang lebih seperti ini: dari saumlaki, aku harus terbang dengan menggunakan pesawat kecil jenis ATR, sesampainya di Bandara Ambon, aku kemudian berpindah pesawat dengan menggunakan jenis Boeing 747-900 dengan kapasitas yang lebih besar. Penerbangan dari Ambon harus transit lagi di Bandara Udara Internasional Hassanudin, Makasar untuk kembali pindah menggunakan pesawat Boeing 737-400 yang lebih kecil. Dari Makasar, aku terbang ke Bandara Internasional Soekarno Hatta di Cengkareng, lalu menunggu penerbangan selanjutnya ke Bandara Depati Amir Pangkal Pinang, Bangka. Untuk urusan waktu, jelas ini merupakan penerbangan yang sangat melelahkan bagiku. Terlebih, perbedaan zona waktu Indonesia bagian timur dengan Indonesia bagian barat membuat jam tubuhku semakin kacau, dan jika harus membayangkan waktu transit, rasa lelah itu semakin menggunung.

Suasana bandara ambon

“Flight Attendant, Takeoff Position”, intrusksi pilot pesawat untuk pada awak kabin terdengar jelas di pengeras suara pesawat. Aku sudah mengencangkan sabuk keselamatanku sesaat setelah aku mendapatkan kursi yang tercetak di lembar boarding pass. Cuaca siang itu sedikit mendung. Meskipun tidak hujan, namun rasanya angin sangat kencang, serta awan tebal dapat terlihat jelas dari daratan. Laju pesawat di landasan terbang seakan tertahan oleh kerasnya angin yang menerpa semua bagian pesawat. Tidak seperti biasanya, hari itu pesawat seakan tidak lagi bisa terbang. Goncangan kuat jelas terasa oleh penumpang yang ada didalamnya. Pesawat begetar hebat sebelum pada akhirnya lepas landas. Aku hanya bisa berdoa disepanjang perjalananku menuju Ambon. Di langit, awan terus menutupi daratan. Tidak ada satupun didarat yang bisa aku lihat, semua putih. Pesawat terus mengalami turbulensi hebat disepanjang perjalanan kali ini. telingaku terus ditutupi oleh headset yang terus aku pakai sepanjang perjalanan. Ketinggian 16.000 kaki diatas permukaan laut begitu tinggi terasa. Bunyi alarm penanda sabuk keselamatan terus berbunyi. Lampu penanda sabuk keselamatanpun tidak pernah berhenti menyala. Pramugari terus mengingatkan para penumpangnya untuk tidak beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Waktu penerbangan Saumlaki-Ambon yang hanya 1 jam 45 menit terasa sangat lama sekali.

“Para penumpang yang terhormat, waktu mendarat sudah dekat, untuk itu dipastikan agar sabuk keselamatan kembali dikencangkan, bagi yang masih berada di toilet, harap segera kembali ke tempat duduk masing-masing”, pengumuman mendarat sudah terdengar, namun aku masih belum merasakan ketenangan jika pesawat masih belum mendarat dengan sempurna. Setelah pramugari mencek satu persatu sabuk pengaman dan sandaran kursi penumpang, waktu mendaratpun tiba. Angin kencang kembali mengguncang badan pesawat, turbulensi keras kembali terjadi. Pesawat masuk kembali ke awan tebal. Aku mengencangkan cengkramanku ke pembatas kursi yang ada. Beberapa saat sebelum mendarat, goncangan terus terasa. Aku merasakan pesawat kehilangan tekanan angin sehingga harus turun ketinggian mendadak yang menyababkan penumpang didalamnya sedikit terlempar. Beruntung, sabuk keselamatan menahan lemparan tersebut, serta udara diluar segera memberikan kembali tekanan kepada pesawat yang akan mendarat.

Masuk awan tebal

Rasa takut akan pesawat yang gagal mendarat terus muncul dalam pikiranku. Sesaat sebelum roda pesawat menyentuh landasan pacu, badan pesawat kembali digoyangkan oleh angin kencang yang bertiup dari arah samping landasan. Jujur ini membuat seluruh badanku lemas seketika. Namun kelihaian pilot patut diacungi jempol, karena setelah angin kencang itu melintas, pesawat dapat mendarat mulus di bandara international Pattimura, Ambon. Ini baru penerbangan penerbangan pertamaku untuk bisa sampai di pulau Bangka. Masih ada sekitar 4 penerbangan lagi yang harus aku lalui sebelum aku menjejakan diri di pulau tersebut. aku hanya berdoa, semoga cuaca di penerbangan pertama ini tidak terulang pada perbanganku selanjutnya.

Saumlaki, 20 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s