Saumlaki Series; Quiet Home.

Sepi.

Ah, rasanya baru kemarin aku tiba dan disambut dengan tawa dan bahagia oleh teman-teman seperjuanganku di Saumlaki. Baru kemarin juga aku dijemput dari Bandar udara internasional mathilda batlayeri dengan sebuah mobil innova silver yang disewa dari seorang kepala bidang pesisir dan ruang laut dinas kelautan dan perikanan Maluku tenggara barat.

Hari ini, meskipun mereka sudah ditarik kembali ke pangkuan ibu pertiwinya masing-masing, aku masih bisa merasakan gelak tawa mereka yang begitu sangat melekat dalam ingatanku. Delapan bulan sudah mereka bertugas mengawal kembali pulau-pulau kecil terluar Indonesia. Delapan bulan sudah mereka hidup dan berjuang bersama-sama masyarakat desa untuk membantu mereka terbebas dari ketertinggalan. Delapan bulan juga mereka saling mengikat kasih layaknya seorang anak yang menemukan sahabat baru ditempat perantauannya. Bagi mereka, mungkin waktu delapan bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk dijalanai. Bukan waktu yang mudah juga untuk dilalui. Tapi, aku yakin, saat hari dimana mereka ditarik, waktu delapan bulan itu bagi mereka terasa menjadi sangat sebentar untuk dilalui. Isak tangis dan berjatuhannya air mata dari sahabat baru mereka di pulau dampingan, bertanda bahwa masyarakat sangat berat untuk ditinggalkan oleh mereka.

dsc00472
kami, masyarakat Saumlaki (maaf blur)

Ka Nas, Wido, Mele, dan Iryan serta Ka Uya, merekalah sahabat serta rekan kerja yang aku jumpai dan menemani kesehariannku di saumlaki. Ka Nas, adalah kaka yang paling senior yang bukan saja menjadi rekan kerja, namun sudah menjadi ayah bagi kita semua. Aku mengenalnya ketika kita sama-sama menjadi fasilitator program pendampingan efektifitas sarana dan prasarana di Pulau kecil terluar Indonesia, gagahnya disebut PRAKARSA tahun 2015 silam. Saat itu Ka Nas bertugas di Pulau Larat, sedangkan aku ditempatkan di Pulau Wetar. Tahun 2015 silam, aku belum terlalu mengenalnya, itu karena lokasi dampingan kami sangat tidak memungkinkan untuk bisa bertemu dengannya. Jarak yang terbilang cukup jauh, serta sarana trasnportasi yang belum bagus membuat aku tidak bisa mengunjunginya di kota saumlaki saat itu. Baru tahun ini, aku lebih sering berinteraksi dengannya karena secara bersamaan juga beliau mendapatkan mandat untuk menjadi Manager Lapangan Kantor Sekertariat Percepatan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu kota Saumlaki. Layaknya seorang manager, Ka Nas selalu memberikan arahan pada kami pada saat kami semua sedang dipusingkan oleh masalah di lokasi dampingan kami, tak terlebih lokasiku.

dsc00890
Ka Nas – FM PSKPT Saumlaki

Berbeda dengan wido, aku mengenalnya saat acara pelatihan fasilitator prakarsa tahun 2016 di Jakarta. Wido adalah fasilitator alumni Indonesia mengajar yang ditugaskan di pulau larat. Aku baru rutin bertemu dengannya pada saat aku sudah berada di kota saumlaki. Unik anak ini. rasa ingin tahunnya yang mendalam membuat dia tidak pernah lepas dari pertanyaan-pertanyaan aneh yang kadang sulit untuk dijawab. Kebiasaan tidak bisa tidur dimalam hari serta ditemani sepiring makanan penuh seakan sudah menjadi kebiasaannya dan ciri khasnya selama beraktifitas. Aku pernah dikagetkan olehnya ketika suatu subuh disaat aku terjaga dari tidurku, serta disaat semua orang sudah tertidur pulas, aku mendengar keributan kecil yang berasal dari arah dapur. Setelah aku selidiki, rupanya itu adalah wido yang sedang asik memasak makanan seorang diri di dapur kantor yang sekaligus menjadi tempat tinggal kami bersama. Aku yang pada awalnya mengira itu adalah maling, secara spontan langsung memasang kuda-kuda siaga untuk mengantisipasi serangan yang mungkin akan terjadi padaku. Rupanya disaat aku tau itu adalah wido, ia langsung merekahkan senyum tak berdosanya kearah pandanganku. Selain itu, ada satu kejadian yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh mahasiwa lulusan ui ini. Hari itu dia berencana akan melakukan presentasi sosialisasi pembentukan BUM Desa di desa dampingannya. Entah apa maksud dan tujuannya, pada sora harinya sudah gelisah dan terlihat sibuk menyiapkan segala macam keperluan untuk acara tersebut. Tas ransel hitamnya mulai dikeluarkan dari lemari persinggahannya. Baju-baju untuk persiapan satu minggu di desa mulai dilipet satu persatu. Jam sudah menunjukan pukul 00.00 WIT. Kami semua sudah mulai mengatuk dan satu-persatu dari kami mulai meninggalkan ruangan dimana kami biasa berkumpul. Aku tidak tahu sampai jam berapa wido mempersiapkan segala macam kebutuhan acara itu, yang aku tahu, tepat pada pagi hari disaat aku bangun, aku melihat tas ranselku sudah berdiri anggun didepan meja dengan muatan yang sudah terisi penuh. Aku heran, dan bertanya mengapa tas ku ada di luar? Siapa yang pakai tasku? Bukanya setauku wido sudah menyiapkan tas miliknya untuk peralatan yang akan dibawanya?. Aku masih belum menemukan jawaban sampai pada akhirnya wido terbangun dari tidurnya dan langsung memberikan senyuman liciknya padaku. Rupanya ia bermaksud meminjam tas ranselku untuk dipakainya ke desa dampingannya, namun karena aku sudah tertidur, maka ia baru meminta izin padaku setelah semua barang bawaannya masuk dengan rapi di tas ranselku. Pinjam dengan izin belakangan, batinku. Rupanya bukan hanya tasku yang menjadi korban, sebuah infokus milik Kantor, Speaker portableku, serta semua peralatan ATK kantor pun menjadi korban dalam kasus peminjaman dengan izin menyusul tersebut. Dan lucunya, kami baru menyadari itu setelah tersangka utama berangkat dan tiba di desa dampingannya.

img_6807
wido (Larat) – Ka Uya (PM Lermatang)

Lain halnya dengan mele, wanita batak ini sungguh luar biasa. Banyak cerita yang aku dapat dari pengalamannya ketika ia berada di lokasi dampingannya. Bayangkan saja, mayoritas penduduk lelaki di MTB itu seakan “haus” takkala melihat wanita kota yang masuk ke desa mereka. Mele dengan santainya mampu berjalan melenggang tanpa ada perasaan risih sediktupun untuk menghadapi lelaki desa yang genit padanya. Sifat bataknya senada dengan kehidupan di Desa Lingat, Desa dampingannya. Aku sempat menemani mele untuk bertemu dengan kepala desanya suatu hari menjelang hari terakhir mele berada di saumlaki sebelum penarikan ke Jakarta. Acara bertemu kepala desa ini hanya untuk mengukur badan mela yang akan dibuatkan pakaian khusus dari tenun ikat khas tanimbar. Disela perbincangannya, pak kades baumasse, begitu aku memanggilnya bercerita bahwa dirinya sudah menyiapkan sebidang tanah berukuran 30×30 meter persegi yang akan ia berikan secara cuma-cuma kepada nona mele, begitu sapaan sayang sang kades apabila mele mau dipersunting oleh anak lelakinya. Menurutnya pengakuan paling jujur dari dalam hatinya, ia sebenarnya tidak menginginkan mele untuk pergi dari desa yang dipimpinnya. Baginya, mele sudah dianggap sebagai anak kandung oleh bapak kades tersebut. ini sungguh menyentuh. Kejadian ini menunjukan bahwa salah satu indicator keberhasilan dalam program pendampingan sudah bisa terpenuhi. Indicator itu adalah kehilangan dari masyarakat yang akan ditinggalkan. Hal ini tidak akan mungkin muncul jika para fasilitator tidak sungguh-sungguh bekerja untuk membantu masyarakat desa. salut.

dsc02030
mele (lingat)

Satu lagi temanku adalah Irsyan. Ah, aku tidak bisa menulis banyak tentangnya. yang aku tau, mele selalu berkata bahwa irsyan itu misterius. Itu benar. Ini terbukti karena setiap saat kami ada kesempatan untuk berkumpul dan berbincang satu sama lain, pasti irysan tidak pernah hadir. Ia lebih banyak berada di dalam kamarnya untuk menyelesaikan tugas-tugas laporannya yang belum selesai. Maklum, di lokasi dampingannya, jangankan sinyal, listrik saja masih belum melimpah. Namun irysan bisa dibilang seorang teman yang setia. Apabila sudah berbincang dengannya, ia akan rela menemani arah perbincangan sampai larut, bahkan meskipun topiknya sudah habis, selalu saja ada pembahasan lain yang keluar dari mulutnya.

img_5561
irysan (marsela)

Oh iya, satu lagi yang terakhir adalah ka uya. Dia sebetulnya adalah Project manager dari program yang sedang aku jalankan di Saumlaki. Namun, ka uya tidak berada bersama-sama kami sampai waktu terakhir semua fasilitator dan manager lapagan ditarik. Ka uya haru spulang terlebih dahulu karena urusannya di kota ini dinilai sudah selesai. Oleh karena itu, ia ditugaskan untuk memantau perkembangan program dari Jakarta, melalui laporan-laporan kecil yang dikirimkan olehku tentunya.

Teman, aku tau kalian sekarang sudah berada di kota masing-masing. Bahkan aku tahu, kemanapun kalian pergi, kalian pasti akan selalu ingat bagaimana kenangan hidup di saumlaki, ataupun di pulau-pulau kecil yang kalian datangi. Kalian harus tahu, sepulangnya kalian dari saumlaki, rumah ini terasa sangat sepi. Tidak ada lagi pemandangan “rusuh” di dapur, tidak adala lagi dentuman speaker JBL di pagi hari, dan tidak ada lagi acara nonton film bersama dengan menggunkan infokus kantor. Pak nus dan pak Mikael pun merasakan demikian. Meraka bahkan sudah semakin jarang datang di pagi hari hanya untuk menyapu dan memanaskan mobil yang biasa dipakai sang manager. Asap kopi panas pun sudah jarang aku lihat. Bahkan gelas berisi ampas kopipun terus mengendap di wastafel dapur. Rumah sekaligus kantor ini sunyi. Debu mulai berdatangan, serangga-serangga kecil mulai asik bercengkrama setiap kali lampu menyala. Kemanapun kalian, dimanapun kalian, aku harap kalian sudi memasukan nama Saumlaki kedalam memori ingatan terdalam yang patut untuk dikenang. Aku tunggu kabar terbaru kalian. Sukses dengan apapun yang sekarang menjadi pekerjaan kalian. Sampai berjumpa di lain kesempatan.

Kantor sekertariat PSKPT ; 08 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s