Saumlaki Series; Sirimau-the biggest ship ever i used.

Stoom kembali berbunyi untuk yang kedua kalinya. Para penumpang yang masih diluar segera bergegas untuk masuk dan mencari posisi paling nikmatnya masing-masing. Beberapa orang yang sedang makanpun segera mempercepat menghabiskan porsi makannya. Stoom 2 (dua) menandakan bahwa kapal sudah siap untuk berlayar. Namun, masih ada satu stoom lagi yang menadakan kapal telah melepas jangkar dan meninggalkan dermaga pelabuhan. Aku masih duduk sambil memainkan telepon gengamku di sebuah saparator pembatas pelabuhan. Biasanya jeda antara stoom satu dan stoom dua berkisar satu jam. Akan tetapi, alangkah lebih baik saat stoom 2 berbunyi, para penumpang sudah ada di dalam kapal. Hal ini untuk mengantisipasi bahwa biasanya kapal baru menyalakan stoom tiga setelah beberapa meter meninggalkan dermaga pelabuhan.

Pelabuhan tual

Tatapan mataku sesekali tertuju pada kapal putih besar bernama Sirimau. Sesekali juga aku berdecak kagum akan besarnya ukuran kapal ini. meskipun masih ada kapal yang lebih besar lagi, namun untuk ukuran pelabuhan kecil yang ada di Tual, kapal ini berhasil membuat kepal-kapal lain terlihat kerdil. Angkuh. Saat melihat jam di handphone, aku bergagas untuk segera menaiki anak tangga kapal tersebut, dan masuk mencari tempat duduk atau lebih tepatnya tempat tidur yang paling nyaman. Tepat pukul 00.00 WIT, stoom 3 berbunyi, dan kapalpun meninggalkan dermaganya.


Sudah menjadi kebiasaan rutin, aku selalu berkeliling seisi kapal terlebih dahulu sebelum memutuskan tempat yang akan aku pilih. Ini kali pertamaku pada tahun 2016 untuk kembali menaiki kapal laut dalam waktu yang cukup lama. Perasaan was-was pun muncul ketika tidak sengaja aku melihat dengan jelas lengkungan badan kapal yang tarapung di jernihnya air laut pelabuhan Kota Tual. Aku dapat dengan jelas melihatnya saat aku akan menaiki anak tangga menuju pintu masuk kapal. Meskipun sudah malam, namun lampu pelabuhan mampu memberikan penerangan yang sangat baik.

Suasana di deck lantai 3

Suasana kapal yang dikelola oleh Pelni ini lumayan lebih bagus daripada kapal perintis yang dikelola oleh swasta. Aku saat itu memegang tiket ekonomi. Jadi tidak ada kamar khusus yang bisa aku gunakan untuk menikmati perjalananku. Kapal Sirimau memilki 6 lantai deck. Dimana deck 1-4 diperuntukan bagi penumpang kelas ekonomi, sedangkan deck 5 diperuntukan untuk kelas bisnis, dan deck 6 khusus untuk ABK dan Kapten kapal. Pintu masuk sendiri berada di deck 4, sehingga untuk bisa mengeliling seisi kapal, mau tidak mau aku harus turun dulu sampai dengan deck paling bawah. Tidak jauh berbeda dengan kapal perintis, dikapal ini pun menyediakan matras-matras selebar badan yang dapat digunakan para penumpang kelas ekonomi untuk beristirahat. Pengaturan ruangan dari deck paling bawah sampai deck lantai 4, semua sama, bentuk dan interiornya pun serupa. Tidak ada kursi tempat duduk, yang ada hanyalah tempat-tempat tidur berbentuk panggung dengan matras diatasnya. Tempat-tempat tidur itu saling berhadapan, hanya dibatasi oleh tiang besi dimana diatasnya adalah rak tempat menyimpan barang-barang yang dibawa oleh penumpang. Yang membedakan dengan kapal perintis hanyalah aturan mengenai barang bawaan penumpang. Di kapal ini, barang bawaan penumpang telah diatur sedemikian rupa dengan penanganan yang sangat apik, sehingga tidak ada lagi penumpang yang turut serta membawa barang dagangannya masuk kedalam deck kapal. Barang dagangan atau barang yang sangat banyak diharuskan masuk ke dalam bagasi kapal, yaitu di deck haluan paling depan. Dan tentunya barang-barang tersebut sebelumnya harus didaftarkan terlebih dahulu ke bagian logistik Pelni. Hal ini rupanya merupakan bentuk dari peraturan keselamatan kapal penumpang.

Cafetaria kapal

Semakin ke dalam kapal, suasana semakin panas. Ruangan terasa sangat pengap. Peneranganpun mulai tidak terlihat. Gelap dan lembab. Namun, dalam kondisi seperti itu, matras-matras yang tersedia terlihat penuh. Tidak ada satupun matras yang kosong dan bisa aku tempati. Dan jika diperhatikan, hampir semua penumpang di deck paling rendah ini adalah pria. Itu terlihat jelas karena hampir semua penumpang di deck paling bawah tidak mengenakan baju saat beristirahat. Semua kompak bertelanjang dada guna menekan tingkat panas yang harus diterima oleh tubuh. Aku tersenyum sambil kemudian melanjutkan pencarian lapakku ke deck satu tingkat diatasnya, lantai 2.

Di deck lantai dua, penerangan masih samar-samar, namun hawa panas tidak seperti di deck lantai satu. Dinginya AC sesekali dapat dirasakan meskipun dalam sekejap hilang. Dilantai ini, sudah ada campuran gender yang menempatinya. Lelaki dan wanita semua bersatu menempati tempatnya masing-masing. Aku menemukan satu tempat yang menurutku cukup nyaman di deck lantai 2, namun saat aku akan merebahkan badanku, tiba-tiba seorang kakek berkata bahwa tempat itu sudah ada yang menempatinya sebelum aku. Meskipun aku tidak melihat adanya barang-barang yang disimpan oleh pemilik tempat, namun tidak enak rasanya jika pada saat sedang asik beristirahat tiba-tiba ada yang datang dan meminta tempatnya kembali. alhasil akupun pergi meninggalkan tempat tersebut. saat berjalan beberapa meter mencari tempat lain, aku melihat ada sebuah matras yang kosong. Akupun segera mengunjungi tempat tersebut dan kemudian menaruh tas raselku yang mulai ingin diturunkan. Sebagian orang di dekat tempat baruku ini kemudian serempak melihat kearahku. Wajah mereka tampak heran dan terlihat sinis. Aku berusaha tenang dan memberikan senyum kepada mereka. Raut wajah mereka sebenarnya terlihat menyeramkan, namun mindset diotakku sudah kebal akan tatapan seperti itu, dan hampir semua orang disini seperti itu jadi aku sudah terbiasa dengan raut wajah heran mereka. Saat aku akan merebahkan diri, tiba-tiba ada segerombolan serangga halus yang kaluar dari samping matrasku tersebut. Rupanya serangga-serangga itu berasal dari tumpahan makanan yang membasi. Aku jadi mengerti mengapa penumpang disekelilingku ini menampakan wajah heran dan sinis saat aku akan menempati tempat ini. meraka sebetulnya ingin memberitahuku bahwa tempat tersebut kotor dan tidak layak untuk ditempati, namun karena raut wajahku sudah terlalu lemas, jadi mereka enggan untuk memberitahu kondisi tempat tersebut padaku. Rasa kecewaku hadir kembali. disaat tubuh sudah menginginkan istirahat, namun apadaya, aku kembali harus menggendong ranselku dan meneruskan perburuan tempat menuju deck lantai tiga.

Sampai di deck lantai tiga, jumlah penumpang rupanya makin padat. Bagaimana tidak, jika dirasakan dari segi kenyamanan, rasanya deck lantai tiga ini cukup nyaman. Semua ruangannya terang oleh lampu yang menyala disetiap sudut. Suhu ruangan lebih manusiawi karena masih ada hembusan AC dari deck lantai empat. Belum lagi, angin yang masuk dari pintu yang terbuka di deck lantai empat cukup membantu ruangan menjadi segar, tidak pengap seperti halnya deck lantai satu dan lantai dua. Hampir semua matras yang ada penuh. Bahkan penumpang rela mambawa matras yang kosong di lantai satu atau lantai dua untuk digunakan di lantai tiga. Televisi sebagai pusat hiburan pun menyala walau siarannya tidak karuan. Suasana di deck lantai tiga lebih ramai dan lebih hidup daripada lantai-lantai dibawahnya. Ada aktivitas lain selain tidur yang bisa aku lihat di deck ini. beberapa penjual makananpun saling hilir mudik menawarkan barang dagangannya kepada setiap penumpang yang ada. Semua ruangan di lantai tiga ini aku kelilingi, namun naas, aku tidak bisa menemukan tempat kosong satupun. Lalu bagaimana dengan Susana di lantai empat? Aku hanya tersenyum kemudian turun kembali ke deck lantai satu atau dua untuk mencari dan mengangkat matras yang kosong ke lantai tiga atau lantai empat. Ini aku lakukan karena aku sudah dapat membayangkan bagaimana penuhnya deck lantai empat yang bisa dibilang sangat nyaman dengan kemewahan fasilitas yang masih berfungsi normal.

“Terima kasih sudah berlayar bersama kami. Segenap kru kapal Sirimau mengucapkan terima kasih atas perhatiannya untuk tidak membuang sampah sebarangan, menjaga serta seluruh barang bawaan anda serta tidak merokok selama berada di dalam kapal. Kami menyediakan kafe yang menyediakan berbagai jenis makanan di deck lantai lima, serta sebuah mini teater yang terus memutarkan film-film terbaru saat ini. bagi yang beragama muslim, kami menyediakan ruangan mushola yang letaknya berada di deck lantai enam.” Sebuah informasi terdengar dari sebuah pengeras suara yang berada disetiap sudut ruangan di kapal ini. aku yang masih duduk di matras yang aku bawa dari lantai dua kemudian bangkit dan segera mencari letak kafe tersebut. karena tidak ingin tempatku digunakan oleh orang lain, maka aku menyimpan jaketku diatasnya sebagai tanda bahwa matras ini ada pemiliknya. Jam menunjukan pukul 04.00 WIT dini hari, perutku diserang oleh rasa lapar yang tidak mungkin lagi aku tahan. Popmie dan sebungkus biskuat menjadi ganjalku malam itu. akupun bisa tidur dengan nyenyak sampai keedokan harinya.

***

Yang namanya kapal, sebesar apapun pasti ada batasannya. Pagi hari aku merasa bosan ketika terpaksa bangun karena suasana sudah sangat ramai. Belum lagi suara obrolan setiap penumpang ditambah sapaan penjaja makanan yang berkeliling terakumulasi menjadi satu, membuat ruangan besar itu berubah menajadi sebuah pasar pagi yang sangat ramai. Ribut dan berisik. Satu-satunya tempat yang aku tuju adalah kafe. Perjalanan dari Kota Tual sampai ke Kota Saumlaki berkisar antara 18-20 jam. Jika kapal baru berangkat pukul 00.00 WIT, maka diperkirakan aku akan sampai ke tempat tujuanku sekitar jam 18.00 WIT. Saat ini masih jam 09.00, dan berarti aku masih memiliki 9 jam menunggu diatas kapal. Setibanya di kafe, aku memesan kopi serta lagi-lagi biskuat. Lumayan untuk ganjel perut, pikirku. Kopi memang menjadi sajian yang pas disaat rasa bosan berada ditengah lautan ini menimpaku. Berkeliling seluruh ruangan kapal bukan lagi aktifitas yang menyenangkan disaat semua orang sudah terbangun dari tidur lelapnya. Bukan hanya aku saja yang ternyata merasakan kebosanan. Seorang penumpang disamping tempatku dudukpun demikian. Menurut pengakuannya, sudah hampir 5 hari ia berada diatas kapal. Ia berlayar dari sorong papua menuju kupang dengan waktu tempuh sekitar 8 hari pelayaran. Wetar-Saumlaki, batinku kembali teringat memori akhir tahun 2015 silam.

Deck barang, haluan paling depan

“Pintu teater Sirimau telah dibuka, bagi para penumpang yang sudah memiliki tiket bisa segera masuk karena dalam waktu kurang dari 10 menit, film akan segera dimulai. Film kali adalah film dengan tema romantis, tokoh dalam film ini sudah tidak asing lagi di dunia perfilman Indonesia. Wanita cantik bernama maria ozawa yang tak lain adalah miyabi akan siap menghibur anda di dalam teater sirimau.” Pengumunan itu sangat jelas membuatku terkejut. Untung aku tidak sampai memuntahkan kopi yang baru saja masuk ke dalam mulutku. Jelas alasannya, film dengan artis seperti itu seharusnya ditujukan untuk orang yang sudah dewasa. Bisa dibayangkan, didalam kapal yang bisa berlayar sampai berhari-hari dilautan yang sebagian besar merupakan masyarakat kalangan menengah kebawah diberikan tontonan yang mungkin memang menarik bagi meraka. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ternyata ada anak dibawah usia yang ikut menonton bersama ayahnya, atau mungkin karena penjualan tiket dijual secara bebas, maka sang anak akan dengan asik masuk dan menyaksikan tontonan tersebut. Balum lagi, jadwal pemutaran filmnya aku rasa tidak ingat waktu. Disaat siang bolong seperti ini, dimana semua kalangan umur sudah terjaga, pasti akan menimbulkan rasa ingin tahu mendalam untuk bisa menyaksikan tayangan tersebut. aku hanya terdiam tak berkomentar.

****

“Selamat sore para penumpang kapal sirumau, dalam waktu kuranr lebih 60 menit kedepan, kapal akan segera berlabuh di pelabuhan Saumlaki, bagi para penumpang yang akan turun di pelabuhan tersebut, harap mempersiapkan diri dan jangan lupa barang bawaan yang dibawa, jangan sampai tertinggal di dalam kapal. Terima kasih sudah berlayar bersama kapal Sirimau”, Informasi dari speaker pengumunan terdengar kembali. Tanpa banyak komando, aku langsung bergerak menuju tepi haluan. Ujung pulau yamdena tempat dimana teluk saumlaki berada sudah terlihat. Hari beranjak sore, matahari semakin mendekat ke peraduannya. Aku melihat hampir semua penumpang yang akan turun di saumlaki mulai sibuk mempersiapkan diri. Seketika kapal kembali ramai. Lalulalang penumpang dengan barang bawaannya mulai terlihat keluar dari dalam deck. Meskipun bergitu, tidak ada ricuh ataupun saling rebut untuk mendapatkan urutan pertama untuk bisa menginjakan kaki ke daratan.

Sirimau, kapal putih yang selalu manjadi pilihan paling tepat bagi penduduk di kepulauan, terutama pulau-pulau kecil. Keberadaannya laksana malaikat penolong yang selalu dinantikan oleh penumpang setiannya. Jadwal yang tepat dan harga yang terjangkau menjadi salah satu alasan bagi para penumpang kelas menengah kebawah untuk bisa melakukan traveling melihat dunia, atau berpergian mengunjungi sanak saudara di pualu lain. Seperti halnya kapal perintis lainnya, mungkin ini adalah kali pertama dan terakhir aku duduk di haluannya. Selamat tinggal Tual, Selamat datang Saumlaki, senang berlayar bersamamu, Sirimau.

Kapal Sirimau, 30 oktober 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s