Saumlaki Series; Sopi, Tradition and Negotiation.

Alotnya negosiasi dalam menetapkan harga jual rumput laut akhirnya selesai. Aku berhasil menurukan 20 persen dari anggaran biaya yang aku bawa untuk membeli satu ton bibit rumput laut ke Saumlaki. Setelah panjar aku bayarkan, akupun pulang dengan suasana hati yang tenang. Satu masalah selesai, batinku. Ada tiga desa yang aku datangi untuk mencari keberadaan bibit rumput laut ini. Namun diantara ketiga desa tersebut, hanya ada satu desa yang paling memungkinkan sebagai tempat pembelian bibit. Ini karena dari faktor transportasi pengangkutannya, desa ini lebih dekat dengan pelabuhan dibanding desa lainnya. Letvuan, itulah nama desa yang menjadi tempatku untuk membeli satu ton bibit rumput laut.

Proses negosiasi

Dengan menggunkan jalur darat kearah bandara, aku bertolak mengunjungi desa ini. hujan besar saat itu tidak menyurutkan niatku untuk mengunjungi desa yang hanya berjarak kurang lebih 30 kilometer dari pusat Kota Tual. Desa ini sebetulnya masuk ke daerah adminstratif Kabupaten Maluku Tenggara yang beribukotakan Langgur. Namun karena Tual sendiri awalnya adalah ibukota kabupaten, maka terkadang aku sulit membedakan mana Kota Tual dan mana Kabupaten Maluku Tenggara dengan ibukotanya Langgur. Entah mengapa, perjalananku kali ini tidak begitu menyenangkan. Disaat hujan sangat lebat, ban mobil yang aku kendarai pecah, sehingga mau tidak mau kami harus berhenti untuk menggantinya terlebih dahulu dengan ban serep yang ada. Kurang lebih satu jam kami berhenti, hujan tidak kunjung reda. Supir yang mengantarkanku harus rela basah kuyup menghadapi hujan untuk mengganti ban mobil yang pecah itu. Setelah selesai, kamipun melanjutkan perjalanan menuju desa tujuan.


Pintu gerbang selamat datang di desa letvuan menyapa kami yang baru tiba. Sisa-sisa basahan hujan masih berbekas disetiap sudut desanya. Dedaunan masih menyisakan tetesan air hujan yang menempel dibagian badannya. Anak-anak kecil yang melihat kedatanganku semua serempak mengucapkan selamat sore bersama-sama, dan kemudian pergi berlarian meninggalkanku. Seorang ibu yang sudah berumur yang sedang duduk santai disebuah bale-bele terlihat penasaran melihat sebuah mobil putih masuk kedalam desanya. Kami kemudian berhenti didepan ibu tersebut untuk menanyakan tempat kediaman bapak malvin. Dan sesuai dengan instruksi ibu tersebut, rupanya kediaman bapak malvin hanya berjarak sekitar 5 rumah saja dari bale-bele desa yang ada. Kamipun langsung mengucapkan terimakasih dan meluncur ke depan rumah kediaman yang dimaksud.

Packing seaweed at desa letvuan

Yang bersangkutan rupanya sudah menanti kehadiran kami. Rumah yang sederhana tanpa penerangan itu dalam sekejap langsung terpenuhi oleh bangku-bangku plastic untuk kami duduki. Para istri dan anak-anak tidak kalah mengambil bagian dalam prosesi negosiasi ini. Seteleh memperkenalkan diri, aku kemudian berbicara langsung ke point tujuan kedatanganku ke desa ini. Dengan ekspresi kosong sang bapakpun terus menganggukan kepala menandakan bahwa beliau telah mengerti dan memahami maksud tujuan kedatanganku. Tidak lupa akupun menanyakan bagaimana dengan cara pengepakan, sampai cara perawatannya selama barang tersebut berada didalam kapal. Entah karena aku yang memang kurang jago dalam bernegosiasi atau karena pengucapan dan artikulasi kalimat yang keluar dari sang bapak yang kurang jelas, rasanya pembicaraan kami terus berputar-putar tanpa adanya kejelasan tujuan apapun. Terus memutar dan bahkan berulang-ulang. Apa yang sudah aku jelaskan, kembali ditanyakan. Dan apa yang telah aku tanyakan, kembali dibicarakan, begitu seterusnya sampai seorang bapak dengan tubuh gumpal berinisiatf untuk membawa satu botol sopi untuk kami berdiskusi. Sudah menjadi sebuah tradisi di Timur, minuman tradisional ini selalu ada jika diskusi ataupun pertemuan sedang terjadi. Aku hanya mencicipi sedikit saja sebagai penghormatan kepada pemilik rumah, walau sebetulnya aku hanya menempelkan bibirku saja dimulut gelas tanpa meminumnya. Maklum, aku sudah tidak tertarik lagi dengan minuman khas yang satu itu.

Perkampungan letvuan

Satu botol sopi sudah habis dengan cepat. Obrolan masih terus memutara tanpa ada hasil. Aku sudah hampir putus asa dibuatnya. Tapi aku tidak kehabisan akal. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan pada topic lain selain rumput laut. Aku berbicara politik pilkada yang akan berlangsung beberapa bulan mendatang. Aku membiarkan sang bapak bercerita panjang lebar mengenai jagoannya di pilkada, mengenai bupati lama yang sangat ia bangakan, juga membiarkan bapak tersebut bercerita mengenai perjuangannya menjadi pembudidaya rumput laut, sampai bagaimana pengalamannya sewaktu ia pernah pergi merantau ke tanah papua saat 20 tahun silam. Semua aku dengarkan dengan seksama sambil sesekali memuji pengalaman beliau. Dan cara ini terbukti membuahkan hasil. Setelah kurang lebih dua jam berdiskusi alot, akhirnya sang bapakpun menyetujui dengan tawaran harga yang aku ajukan untuk pembelian satu ton bibit rumput laut. Beliaupun berjanji bahwa pada hari esok sekitar jam 17.00 WIT semua bibit sudah berada di dalam karung-karung dan siap untuk diangkut ke palabuhan.

Jika dihitung, jumlah botol sopi yang dihabiskan dalam proses negosiasi ini adalah 8 botol, itu hanya diminum oleh 4 orang saja, aku mau tidak mau mengorbankan supir yang mengantarkanku ke desa ini sebagai perwakilanku untuk menemani bapak-bapak itu menikmati gelas demi gelasnya. Karena supirku adalah warga lokal, maka kepiawainnya dalam menikmanti setiap cangkir sopi sudah tidak perlu diragukan lagi. bahkan kekuatannya dalam menenggak setiap tetesan minuman khas timur yang dikenal memabukan inipun patut diacungi jempol. Sebagai imbalan, kini ia aku biarkan duduk dikursi penumpang untuk beristirahat. Dan peran pengemudi kemudian digantikan oleh pengantarku yang satunya lagi. Sekitar pukul 20.00 WIT, kamipun tiba di tempat kediaman dengan selamat.

Desa letvuan, 30 Oktober 2016

Advertisements

One thought on “Saumlaki Series; Sopi, Tradition and Negotiation.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s