Saumlaki Series; Planning For Buying Seaweed

Bandara Tual sore itu terlihat ramai. Para buruh angkut beramai-ramai saling baku sikut dengan teman seprofesinya, berlomba dalam menawarkan jasa angkut barang-barang yang dibawa oleh penumpang yang baru saja turun dari pesawat. Mereka terlihat sangat riuh, ramai saling tegur, dan berteriak mencoba menarik hati para penumpang yang datang. Mereka sangat berani, bahkan terbilang gigih untuk meluluhkan hati konsumennya. Mereka tidak akan menyerah mengikuti kemanapun langkah penumpang yang terlihat sedang kesulitan mengangkat semua barang bawaannya. Jika tidak hati-hati, kita akan kena tipu muslihatnya. Pun demikian dengan para supir angkutan. Disini, tidak ada yang namanya taksi bandara. Semua taksi adalah plat hitam, illegal. Bandara kecil ini memang belum memiliki fasilitas pendukung yang layak. Oleh karena itu, tidak heran jika biasanya banyak angkutan-angkutan milik pribadi yang berubah menjadi taksi bandara dengan harga sewa yang melambung tinggi. Aku hampir saja menjadi korban dari tipu muslihat mereka. Kemanapun aku berjalan, meraka terus membuntutiku seraya menawarkan jasanya. Bahkan saat aku masuk ke kamar kecil untuk menghindar, ia tetap setia menungguku sampai aku keluar dari kegiatan pribadiku. Sungguh gigih luar biasa, pikirku. Meraka baru pergi meninggalkanku ketika aku melambaikan tangan pada seorang bapak yang memang sudah aku kenal sebelumnya. Ia adalah penjemputku di bandara Tual.

Senje pelabuhan

Jalanan keluar bandara Tual masih telihat baru, sangat sepi bahkan sangat minimalis. Tidak ada pembatas jalan serta tidak ada lampu penerangan apalagi trotoar. Pembatas jalan hanya terbuat dari tong besi yang diisi oleh bibit pohon. Marka jalanpun sudah banyak yang memudar. Jalanan lurus sejauh 20 kilometer ini sudah sangat cocok untuk dijadikan landasan pesawat tambahan, atau bisa juga dipakai untuk ajang uji kecepatan mobil ataupun motor balap, lurus, mulus, dan rata.

Selama kurang lebih 40 menit perjalanan, akhirnya aku tiba di Kota Tual. Kota ini tidak begitu besar. Wilayahnya hanya dibatasi oleh jembatan besi yang panjangnya tidak lebih dari 400 meter. Aku akhirnya mengerti mengapa Tual sebagai ibu kota Maluku Tenggara tidak memiliki Bandar udara. Selain karena wilayahnya kecil, kota ini awalnya adalah ibukota kabupaten yang kemudian menjelma menjadi kota. jalanan utamanya sangat sempit. Hanya cukup oleh dua buah mobil. Jalanan utama lingkar kotanya baru saja selesai dibangun. Jalan ini melintas dari timur ke barat membelah daratan Kota Tual yang di kedua ujungnya adalah lautan. Ramai, lancar, namun padat. Mayoritas penduduk di kota rupanya adalah muslim, berbeda dengan di kebupatennya yang lebih di dominasi oleh Kristen baik katolik ataupun protestan. Karena hari sudah menjelang malam, maka aku langsung bergerak menuju tempat dimana aku bisa menginap.

Pagi hari, cuaca di Tual cukup cerah. Panasnya tidak terkandali. Setelah mandi, aku langsung bergerak menuju kantor Dinas Kelautan dan Perikanan untuk berkordinasi dan mencari informasi terkait dengan keberadaan bibit rumput laut yang akan aku bawa ke Saumlaki. Ada dua kantor dinas, yaitu milik kota dan milik kabupaten, aku kemudian lebih memilik kantor milik kabupaten, itu karena menurut informasi yang aku dapatkan, keberadaan lokasi tanam Rumput Laut lebih banyak di Kabupaten daripada di Kotanya. Ada sekitar tiga desa yang aku datangi yang sampai saat ini masih membudidayakan Rumput Laut. Sama halnya dengan wilayah lain di Indonesia, Rumput laut di Tual juga tidak lepas dari serangan penyakit ice-ice yang menyebabkan semua tanaman mati. Akan tetapi, DKP di Tual melalui BBI-nya (balai benih ikan) lebih proaktif untuk menanggulangi masalah ini. mereka kemudian mendatangkan bibit baru yang dikembangkan dengan metode kultur jaringan dari Lampung. Usaha ini kemudian membuahkan hasil. Terbukti pembudidaya rumput laut kembali menggeliat ditengah kondisi harga yang masih naik turun. Akupun kemudian berkesampatan untuk dapat melihat langsung bagaimana tanaman ini dikembangkan, dan setelah yakin bahwa aku akan mengambil bibit ini ke Saumlaki, akupun kemudian terlibat negosiasi harga dengan petani tersebut agar mau menjual bibitnya dengan volume yang besar.

Bibit-bibit rumput laut

Tidak gampang rupanya melakukan negosiasi dengan pemilik bibit ini. selain karena mereka juga memang memerlukan bibit untuk penghasilannya keluarga, ketersediaan bibit pun masih terbilang sedikit. Dalam jumlah yang aku butuhkan saat ini, tidak bisa dipenuhi oleh satu pembudidaya saja, mereka harus berbagi dengan pembudidaya lainnya. Soal harga, jelas mereka menginginkan harga yang sangat tinggi. Sedangkan aku sendiri, tidak mungkin untuk mengikuti permintaan harga mereka karena aku harus memikirkan persoalan lain seperti trasnportasi, buruh angkut, sampai biaya bagasi untuks bisa sampai dengan selamat ke Saumlaki. Belum lagi biaya kecil yang bila dikumpulkan juga akan cukup memakan biaya. Negosiasipun sangat a lot bahkan hampir tidak mendapat kesepakatan. Aku tetap mempertahankan harga beli sesuai dengan rancangan anggaran biaya yang aku susun. Bila lebih dari biaya itu, otomatis anggaran biayaku akan jebol. Siasat demi siasat negosiasipun akhirnya keluar. Obrolan panjang mengenai sejarah tanimbar, sejarah pahlawan tanimbar, sampai dengan minum sopi bersama pun dilakukan. Namun tunggu dulu, aku tidak memaksakan diriku untuk minum sopi bersama. Aku membiarkan teman yang menemaniku meladeni sang pemilik bibit untuk mabuk sampai menemukan kesepakatan harga. Dan itu berhasil. Harga beli kini turun 20 persen dari anggaran biaya yang aku rancang.

Selanjutnya aku kemudian memikirkan bagaimana angkutan serta cara packing bibit rumput laut ini. setelah bertanya sana sini, akhirnya aku pergi menuju BBI untuk mendapakan informasi lebih jelas dan lebih tepat mengenai penanganan bibit yang sangat sensitive ini. sekedar informasi, menurut para petani rumput laut ataupun kepala bagian budidaya DKP, bibit hanya bisa bertahan kurang lebih 18 jam begitu keluar dari air laut, selain itu, bibit seharusnya tidak boleh terkena panas, apalagi air hujan. Penyimpanannya pun diusahakan harus ditempat yang dingin dan tidak pengap. Satu-satunya cara paling bagus adalah dengan menggunakan kotak sterefoam yang diberi es air laut dan kemudian ditutup rapat. Itupun harus tetap dijaga jangan sampai saat es mencair, bibit malah jadi kepanasan dan berujung mati. Memang cara ini paling praktis, namun harga sau buah kotak sterefoam berukuran besar di Tual bisa 4 kali lipat dari harga di Jawa. Dan kapasitasnya pun paling maksimal adalah 20-25 kilogram bibit. Dan itu merupakan harga yang sangat mahal, tidak mungkin RAB-ku mampu membiayainya. Setelah berkonsultasi, akupun yakin dengan menggunkan cara paling sederhana yang biasa dilakukan oleh para pembudidaya Rumput Laut di kota ini. yaitu dengan menggunakan karung-karung bawang yang setiap 3 jam disiram dengan menggunakan air asin. Namun cara ini sebetulnya cukup beresiko, karena kapal laut yang akan aku pakai untuk mengangkut bibit akan berlayar selama kurang lebih 20 jam untuk sampai ke Saumlaki. Jika dikalkulasikan dengan waktu angkat bibit, waktu trasnportasi, sampai dengan waktu kedatangan dan penjemputan bibit di pelabuhan Saumlaki, bibit ini akan berada diluar laut lebih dari 24 jam. Dan itu bukan waktu yang baik untuk bibit tersebut. Karena keterbatasan anggaran, serta biaya lain yang diluar dugaan, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil resiko ini. Aku akan membungkusnya dengan menggunakan karung, serta menjaganya sewaktu barang berada di kapal sampai dengan tiba di Saumlaki. Aku harus berani, pikirku.

Proses negosiasi

Belum selesai disitu masalahku, biaya bagasi dan biaya angkut oleh TKBM (Tenaga Kerja Bongkat Muat) harus aku pikirkan. Tidak ada harga pasti, karena ini menyangkut tenaga dan besaran volume barang. Aku kemudian berangkat menuju kantor Pelni untuk menyelesaikan masalah transportasi ini. Sesampainya di kantor Pelni, aku menjelaskan perihal paket bantuan ini. sang manager sangat mengerti dengan kondisi anggaranku, sehingga tidak perlu waktu yang sangat lama, urusan pengangkutan barangpun selesai dengan pemotongan 10 persen dari total volume barang yang akan diangkut. Pun demikian dengan TKBM, setelah nego panjang, hargapun turun 10 persen dari harga awal yang jauh lebih mahal dari harga perkiraan anggaran belanjaku. Lagi-lagi aku harus berpikir keras sebelum menyetujui nominal-nominal hasil negosiasi yang ada, salah sedikit aku tidak bisa kembali ke Saumlaki.

Tual adalah kota kecil yang ada di salah satu kepulauan Tanimbar Kei. Pulau kecil ini memilki biaya hidup yang lumayan mahal. Sulitnya sarana transportasi lah yang menyebabkan semua harga kebutuhan pokok di kota ini melambung tinggi. Sebelum berkambang seperti saat ini, Kabupaten Tual tidak ubahnya seperti daerah-aderah lain yang masuk ke dalam katagori daerah tertinggal. Namun, karena lambat laun akses trasnportasinya mulai membaik, maka perekonomian di kota inipun semakin berkembang. Sekarang, meskipun kota ini sudah bisa dibilang lebih maju dan modern dari kota lain disekitarnya, harga kebutuhan masih saja melambung karena pasokan yang terkadang terhambat. Itu sebabnya banyak beberapa rencana anggaran yang aku buatpun harus betul-betul terinci dengan baik agar pengeluaran tidak membengkak karena ketidak tahuan harga pokok. Begitulah Tual, kota pelabuhan yang dahulu sempat Berjaya karena pasokan ikan segarnya yang tidak pernah habis.

Tual – Desa Letvuan 27 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s