Saumlaki Series; Journey to the east, Tual City

Saumlaki Series : Jouney to the East, Tual City.

Wohooo, Tual, Langur. Hari itu aku mendapatkan tugas mulia untuk membawa satu ton bibit rumput laut dari kota ini. tugas yang lumayan cukup berat bagiku. Bukan karena bobotnya yang berat, tapi ini menyangkut akan keberhasilan untuk mendatangkan bibit dengan volume yang cukup besar dengan waktu perjalanan yang tidak sebentar. Semua rencana pun aku buat. Rincian biaya perjalanan serta biaya tetek bengek yang mungkin aku keluarkan pun aku tulis. Meledak. Yah, kata itu yang muncul ketika RAB (Rencana Anggaran Biaya) total sudah keluar dengan angka nominal yang tidak sedikit. Biaya transportasi jauh lebih mahal dari biaya pembelian bibit itu sendiri. Bayangkan, biaya angkut transportasi dari Tual menuju Saumlaki diperkirakan membutuhkan biaya tiga kali lipat dari biaya total pembelian bibit itu sendiri. Rencana yang mustahil dan betul-betul rugi dalam segi bisnis. Namun, aku tidak menyerah, aku kembali berdiskusi untuk bisa memenuhi dan menyelesaikan tantangan ini. aku harus ambil resiko, batinku meledak. 

Pesawat ATR Garuda yang menjadi sarana transportasiku menuju Langgur dibatalkan karena cuaca buruk. Pengumuman awak bandara pagi itu memecakan rintikan hujan besar yang sudah mengguyur dari pagi hari. Cuaca Saumlaki kacau, awan gelap, angin besar, sambaran petirpun terlihat berulang kali di kejauhan. Semua penumpang langsung berdatangan mendekati tempat check-in maskapai dan meminta kejelasan mengapa penerbangan ditunda. Aku tidak banyak berkomentar jika alasan utama cancel-nya penerbangan adalah karena cuaca. Aku hanya mendekat untuk membuat suasana semakin riuh. Seorang petugas garuda pun berusaha menjelaskan dengan detail meskipun sebagian penumpang nampak tidak terima karena penerbangannya ditunda sampai hari esok. Aku hanya tersenyum sinis melihat seorang bapak tua yang mulai memaki pihak maskapai karena penerbangannya dibatalkan. Lucu.

Panumpang mulai mendekati tempat checkin

Ada dua konpensasi yang diberikan maskapai karena batalnya penerbangan. Pertama adalah melakukuan refund penuh atas tiket yang sudah dibeli, dan yang kedua adalah penundaan keberangkatan sampai hari esok, dimana pemegang tiket hari ini akan masuk kedalam prioritas keberangkatan maskapai tersebut. Aku kemudian berfikir sejenak sambil memberitahukan kabar buruk tersebut kepada tim kerjaku di Jakarta dan Saumlaki. Penerbangan dari Saumlaki menuju Tual sebetulnya sangat tidak praktis. Tidak adanya penerbangan langsung Saumlaki – Tual mengharuskan penerbangan melakukan transit di Ambon untuk kemudian pindah pesawat tujuan Langgur. Yang disayangkan adalah, aku tidak menggunakan satu maskapai untuk keberangkatanku dari Ambon ke Tual. Sehingga jika ternyata aku harus batal berangkat di penerbangan pertama, otomatis tiket penerbanganku selanjutnya akan hangus. Tidak mau hal itu terjadi, akupun meminta tiket penerbanganku dari Ambon ke Tual di refund, begitupun dengan tiket penerbangan pertamaku. Setelah semua clear, aku kemudian kembali ke kediamananku di Saumlaki untuk berdiskusi ulang terkait keberangkatanku ke Tual. Apakah ini sebuah pertanda buruk? Pikirku.

Sampai di kediaman, hujan tidak kunjung reda. Aku semakin berfikir bahwa ini adalah sebuah pertanda. Pertanda buruk akan kegagalan rencana pengiriman bibit sebanyak satu ton dari Tual. Rasanya, cobaan datang terus menerus tidak kunjung henti saat rencana ini aku rancang. Mulai dari kebutuhan akan volume yang simpang siur, tempat pembelian bibit yang masih belum jelas, sampai waktu ketahanan bibit yang harus menjadi perhatian khusus terus membuntuti setiap rancana yang ada. Belum lagi ditambah dengan unsur ketidak pastian yang ada di lapangan. Ingin rasanya menyerah, namun semua itu terbantahkan dengan rasa penasaranku untuk bisa memberikan hasil yang maksimal. Aku harus menghadapi ketidak pastian ini, batinku membara.

Sunset indonesia bagian timur

Malam hari, aku kembali mendapatkan pesan teks berisi kode booking penerbangan wings, namun bukanya senang, aku justru hanya terdiam. Dalam cuaca yang sangat tidak menentu ini, melakukan perjalanan menggunakan maskapai swasta berlogo sayap merah ini justru membuatku menjadi waswas. Bukan tidak mau berangkat, namun track record maskapai ini masih saja membuatku takut untuk menggunakannya, terlebih dengan cuaca yang tidak menentu. Namun apa boleh buat, tugas harus terus dijalankan, dan takdir bagiku adalah kuasa tuhan. Akupun menguatkan hati dan berdoa meminta keselamatan kepadaNya untuk penerbangan esok hari, selain berdoa agar cuaca bersahabat untuk terbang tentunya.

Suasana bandara Mathilda – Saumlaku sudah ramai riuh. Penumpang yang hari sebelumnya tidak jadi berangkat sudah bersiap untuk mendapakan jatah kursi paling pertama. Antrian di gerbang keberangkatan sudah mengular. Petugas terlihat kerepotan melayani penuh sesaknya bandara yang tidak seperti biasanya. Satu persatu barang bawaan penumpang diperiksa dengan X-Ray, dan masing-masing badan penumpangpun diperiksa dengan metal detector. Aku lolos pemeriksaan dengan cepat karena memang barang bawaanku yang hanya berisi dua pasang kaos dan celana ganti selama di Tual. Antrian sempat terhenti karena adanya seorang penumpang yang kedapatan membawa pengaris besi dan tang potong di dalam tasnya. Setelah di intrograsi oleh petugas bandara, penumpang tersebut terlihat pasrah karena barangnya harus disita oleh petugas. Raut wajahnya nampak sedih, namun teman di belakangnya berusaha untuk menenangkannya. Setelah aku tanya, rupanya barang itu adalah peralatan pekakas yang akan digunakannya untuk mengikuti lomba robotic di Ambon, dan mereka adalah sekelompok anak SMA Unggulan Kota Saumlaki yang berkesempatan menguji keterampilan mereka dalam ajang lomba robotic tingkat provinsi. Meskipun tugas mereka mulia, namun tetap saja mereka kalah argumentasi dengan peraturan bandara dan penerbangan yang melarang penumpangnya untuk membawa alat tajam ke dalam kabin pesawat.

“Flight Attendent, take off position”, intrusksi dari kapten pesawat melalui pengeras suara di dalam kabin pesawat mulai terdengar. Para pramugari itu baru saja selesai memberikan intruksi keselamatan penerbangan yang merupakan kegiatan wajib mereka sebelum pesawat lepas landas. Dengan sigap, mereka langsung berkemas dan duduk siaga dibangku khusus paling depan pesawat. Semua panumpang mulai bersiap untuk lepas landas. Ada yang berdoa, ada juga yang mengambil majalah yang disediakan oleh maskapai untuk dibaca, serta ada bersanda gurau dengan teman disampingnya. Aku mengeluarkan ipodku dan mulai menyalakan playlist dan mendengarkannya dengan penuh ke khusuan. Tidak banyak aktifitas yang bisa aku lakukan dalam penerbangan yang memakan waktu 1 jam 45 menit ini. pemadangan udara pulau yamdena serta gempulan awan terlihat jelas menutupi hampir sebagian lautan dibawahnya. Cuaca cukup cerah, namun sangat berawan. Ketinggian 16.000 kaki di udara nampak dekat dengan permukaan awan yang menyerupai kapas. Seorang penumpang disebelahku menyalakan iPadnya dan mulai menonton sebuah tayangan reality show ternamaan asal korea: Running Man.

Bandara Langgur

“Flight Attendant, Landing Position”, kembali kapten pesawat ATR ini memberikan instruksi kepada para peramugarinya untuk bersiap melakukan pendaratan. Waktu di kota Ambon tidak berbeda dari kota Saumlaki. Para penumpangpun terlihat mulai membetulkan posisi bangkunya masing-masing. Para pramugaripun tak mau kalah dengan berjalan memeriksa setiap sabuk pengaman yang dipakai oleh para penumpang. Pendaratan berjalan mulus, dan para penumpang transit berbondong-bondong kembali mengantri untuk mendapatkan boarding pass menuju kota selanjutnya. Pun denganku yang kemudian menukar boarding pass lamaku dengan yang baru. Transit 4 jam membuatku memutuskan untuk berjalan menuju kota Ambon dan menikmati sejenak pusat pemerintahan Provinsi Maluku tersebut.

Rasanya, waktu 4 jam sangat singkat untuk berjalan menyusuri setiap sudut kota kelahiran sang pahlawan Patimura ini. Akupun harus segera kembali ke bandara agar tidak tertinggal penerbanganku selanjutnya.

Welcome Langgur

Waktu penerbangan Ambon-Tual hampir sama dengan waktu penerbangan Saumlaki-Ambon, hanya 1 jam 45 menit. Dengan menggunakan pesawat jenis sama, akupun bertolak terbang menuju Tual. Penumpang pesawat tidak sepadat penerbangan pertamaku. Banyak bangku kosong yang tidak berpenumpang. Kabin terasa sangat lowong melompong. Bandar Udara Karel Sadsuitubun, sebuah nama seorang tokoh revolusi tanimbar menghiasai sebuah bangunan sederhana berbentuk segitiga dengan cat berwarna kuning berdasar biru tersebut. Sambutan kedatangan peserta Festival Pesona Meti Kei masih tersisa. Yah, kota ini baru saja mengadakan sebuah festival tahunan yang sangat langka dimana hampir seluruh pantai di sepanjang pulau ini surut sampai dengan puluhan kilometer jauhnya. Sebuah acara tahunan yang menampilkan pesona Kepulauan Tanimbar secara nyata. Penumpang yang turun dari pesawatpun kemudian memanfaatkan sisa-sisa festival tersebut untuk sekedar berfoto, mengisyaratkan bahwa mereka sudah sampai dengan selamat di Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara.

Kini, saatnya berkendara menuju Kota Tual.

Langgur, 25 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s