Saumlaki Series; Uniquely Saumlaki Traditional Market

Saumlaki traditional market

Hari ini, memasuki bulan keempat aku berada di Kota Saumlaki. Rasanya hampir semua sudut kotanya sudah aku jalajahi. Mulai dari sisi paling timur, sampai sisi paling barat, bagian utara dan selatan sampai dengan jalur lintas desa di bagian baratnya sudah pernah aku kunjungi. Rasa bosan mulai melanda. Tapi bukan Saumlaki jika tidak memunculkan hal yang unik setiap harinya. Sebagai sebuah kota kecil yang mulai tumbuh menjadi kota besar, Kota Saumlaki memiliki dua buah pasar tradisional yang aktif digunakan oleh masyarakatnya sebagai bagian dari pusat perdagangan. Pasar itu adalah Pasar Olilit lama, serta Pasar Omele yang letaknya tidak jauh dari pasar pertama. Menurut sejarahnya, Pasar Omele ini adalah pasar baru yang dibangun, dimana pada awalnya pasar ini akan dijadikan sebagai pusat pasar serta pusat perdagangan Kota Saumlaki. Pada nantinya, semua lapak penjual di pasar lama akan direlokasi ke pasar ini. Bila diperhatikan, keberadaan pasar lama ini sangat berdekatan sekali dengan pelabuhan utama kota, maka tidak heran jika pasar lama ini jauh lebih ramai dari pasar baru yang ada.  

Bakar ikan pasar saumlaki

Akses ke pasar lama maupun ke pasar baru terbilang sangat mudah. Begitu keluar dari pelabuhan utama, atau bila kita datang dari arah kota, kita hanya tinggal mengikuti arus lalulintas saja. Jalur utama di Kota Saumlaki memang dirancang untuk bisa berkunjung ke pusat-pusat keramaian kota tersebut. Sarana transportasi darat pun mendukung kemudahan pergerakan di kota itu. Dari pintu masuk utama kota, yaitu pelabuhan laut, kita akan langsung mengetahui keberadaan pasar lama yang letaknya tepat berada di halaman luas di depan kawasan pelabuhan. Pun apabila kita datang dari arah bandara, kita akan langsung mendapati penunjuk arah Pasar Omele tepat setelah kita masuk ke pertigaan jalan yang menjadi gerbang pertama untuk masuk ke kota.

Mengunjungi keramaian pasar lama maupun pasar baru Kota Saumlaki memang memberikan kesan yang luar biasa bagiku. Pertama kali belanja di pasar ini, diakhir tahun 2015, aku cukup dikagetkan oleh harga kebutuhan pokok yang sangat melambung tinggi nilainya. Meskipun begitu, pasar ini tetap unik untuk terus dikunjungi setiap hari.

Rasa penasaranku untuk menjelajah seisi pasar kota Saumlaki tidak pernah surut. Hari itu, aku memang sengaja berjalan seorang diri hanya untuk melihat suasana keramaian pasar ini. Sore hari, pasar ini mulai menggeliat. Para penjual makanan olahan ataupun bahan mentah sudah mulai banyak yang bermunculan. Kepulan asap dan bara api dari sebuah pembakaran mulai menyala meruak membakar seluruh arang yang ada didalamnya. Meja-meja besar mulai penuh dengan ikan matang yang baru saja dibakar oleh penjualnya. Jalanan mulai ramai dikunjungi oleh pembeli yang datang silih berganti. Di pasar ini, masih banyak makanan tradisional yang dijual. Namun yang sangat disayangkan adalah tidak adanya makanan tradisional khas Pulau Tanimbar yang dijajakan. Aku sempat terheran-heran dengan keadaan ini. Bagaimana tidak, pulau kecil ini dirasa mulai penuh oleh pendatang dari Sulawesi ataupun dari luar Maluku, sehingga tidak heran jika makanan tradisional yang banyak dijual justru adalah makanan khas suku bugis atau dari Buton. Sebut saja lapa-lapa atau kasuami, dua olahan makanan berbahan dasar beras ketan dan singkong ini banyak menghiasi setiap meja besar yang ada disepanjang jalan utama menuju pasar. Kedua makanan ini rasanya memang pas jika disandingkan dengan ikan bakar yang masih panas. Yang lebih unik, aku juga bertemu dengan penjual bakpau khas Bandung. Bakpau dengan aneka rasa itu dijual dengan harga Rp.4000 saja. Cukup murah untuk ukuran Kota Saumlaki. Kang Dani, itulah nama seorang perantau khas kota kembang yang menghiasi sudut Kota Saumlaki sambil mendorong gerobak dagangan berisi puluhan bakpau siap kukus.

pertokoan saumlaki

Makin masuk ke dalam pasar, suasana semakin ramai. Pedagang sayuran disibukan dengan membereskan beberapa bahan mentah yang dinilai kurang rapi penyimpananya. Pedagang lain terlihat sedang menyemprot sayuran dengan botol berisi air bersih yang membuat sayuran itu terlihat sangat segar. Tumpukan bunga kol, daun kangkung, daun sawi, cabe rawit, bawang merah dan bawang putih menjadi barang penghias utama hampir disemua lapak dagangan di pasar ini. Di pasar ini, cabe rawit tidak dijual dengan ukuran kilogram. Tidak ada timbangan di sini. Semua barang jualan dijual dengan ukurannya masing-masing. Misalkan cabe rawit, ukuran resminya adalah dalam bantuk ‘cupa’ (seukuran kaleng susu kental manis) atau satu piring kecil. Demikian juga dengan bawang merah dan bawang putih. Tomat dan cabe merah pun tidak mau kalah dengan ukuran tersebut. Ukuran besar kecilnya bunga kol pun menjadi penentu harga jualnya. Pun demikian dengan ukuran wortel ataupun terong yang tersaji. Semakin besar ukuran, maka harga akan semakin mahal.

Aku dikagetkan oleh teriakan lantang yang keluar dari para penjual ikan yang berusaha menarik konsumen tepat didepanku. Sore hari adalah waktu yang tepat untuk mencari ikan segar. Ini karena pada sore hari biasanya para penangkap ikan baru saja selasai melaut, sehingga ikan yang datang ke pasar ini bisa dipastikan masih sangat segar. Sebagai pembeli bisa saja aku langsung membeli ikan segar tersebut kepada nelayan-nelayan itu, namun hal itu sangat sulit dilakukan, karena biasanya ikan-ikan itu sudah menjadi milik para ‘papalele’ yang sudah menanti di lapak-lapak dagangan meraka. Para ‘papalele’ biasanya akan marah jika ada nelayan yang menjual ikannya langsung kepada pembeli yang datang. Meskipun begitu, masih banyak juga nelayan-nelayan yang kemudian menjual langsung hasil tangkapannya kepada konsumen tanpa melalui peran ‘papalele’. Ohya, ‘papalele’ sebetulnya adalah istilah yang digunakan oleh penduduk lokal kepada mereka yang membeli hasil tangkapan nelayan untuk dijual kembali ke tangan konsumen. Istilah ini sama dengan istilah yang ada di Sulawesi. Aneka ragam ikan segar banyak dijual dangan harga yang relatif terjangkau. Bahkan jika beruntung, kita bisa mendapatkan ikan besar dengan harga yang sangat rendah. Ikan geropa, kerapu, serta layar banyak dijual di pasar ini, bahkan tidak sedikit dari para penjual ikan yang menjual hiu sebagai barang dagangannya. Namun pada umumnya, para nelayan tradisional ini hanya menjual ikan karang yang habitat hidupnya tidak terlalu jauh ke tengah lautan. Yang lucu, untuk ikan yang kecil-kecil, para pedagang itu menjualnya dengan takaran jumlah atau tali. Biasanya satu takaran jumlah atau tali itu berisi 13 sampai 15 ekor ikan, tergantung ukuran. Lagi-lagi, tidak ada timbangan untuk mengukur berat ikan yang akan dijual, sehingga terkadang besarnya ikan bisa mempengaruhi harga jualnya, terutama jenis-jenis ikan popular seperti kerapu dan geropa.

penjual sayuran pasar saumlaki

Suasana pertokoan di dekat pasar Kota Saumlaki pun masih terbilang lekat dengan berbagai macam unsur tradisional. Bangunan kayu khas rumah Makasar dengan ornamen pecinan sungguh lekat disetiap dinding bangunannya. Banyak berjejeran toko yang menjual segala macam kebutuhan masyarakat Pulau Yamdena, Sebagian dari pedagang-pedagang yang menghuni pusat pertokoan itu adalah keturunan Tionghoa. Barang pokok seperti beras, gula, sabun, serta kebutuhan rumah tangga lainnya banyak disediakan oleh para pedagang keturunan ini. Jangan salah, untuk ukuran kota yang kecil ini, di dekat pasar tradisional Kota Saumlaki sudah berdiri sebuah bangunan megah dengan nama SATOS, Saumlaki Town Square. Luar biasa batinku.

Dengan segala keunikan di dalamnya, pasar tradisional ini sudah menjadi salah satu objek vital kota dimana di tempat ini arus perekonomian kota berjalan pesat. Pasar ini sudah menjadi tumpuan hidup bagi sebagian besar masyarakat yang menghuni Pulau Yamdena, terutama di wilayah Tanimbar Selatan. tidak heran jika semakin hari, area ini semakin tumbuh dan berkembang serta ramai dipadati oleh penduduk lokal atapun pendatang. Setelah menenteng satu keresek besar berisi kerapu, daun kangkung, telur, cabe merah, bawang putih dan bawang merah, serta beberapa bumbu masak, akupun kemudian berjalan perlahan meninggalkan pasar yang justru semakin ramai. Mari memasak, ucapku meninggalkan area pasar.

Seputar area pasar Saumlaki, 12 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s