Saumlaki Series; Keep Strong Old Ship!

Seoongok besi tua dengan wajah lesu itu terus diam dan bersadar dipinggir sebuah dermaga sederhana. Wajahnya sudah tidak mampu lagi memperlihatkan masa kejayaannya. Cat biru dibadan dan cat merah dibagian kakinya sudah mulai memudar. Aroma karat menjadi satu-satunya pengharum yang selalu ia kenakan. Hampir semua bagian yang bercat di tubuhnya sudah hilang tergantikan oleh karat. Luasan penyebaran karat itu sudah tidak terhitung lagi. Setiap sambungan pada tulang belulangnya siap putus termakan oleh asamnya karat yang terus membandel. Karat menguasai seluruh bagian badannya. Seutas tali cokelat besar yang terbuat dari bahan karung terikat kuat menahan hampir setiap gerakannya. Menahannya untuk tidak berontak dari tidur siangnya yang terlihat pulas. Menahanya dari jeritan derita perjalanan rutinnya melintasi kerasnya samudra. Deburan ombak seakan tidak mampu untuk membuatnya terbangun. Terpal yang menutupi hampir sebagian badannya membuat keadaan dibaliknya sungguh misterius. Hamparan terpal biru itupun seakan manjadi sehelai selimut yang ampuh menahannya dari dinginnya udara laut. Kilauan cahaya matahari sore seakan enggan membuatnya terjaga. Sinar keemasan berbalut dinginnya angin terus membuatnya tidur semakin lelap. Tetesan-tetesan keringat manusia yang setia kepadanya mulai mengalir deras. Berbondong-bondong manusia itu kini mulai menyerbu dirinya yang masih terkulai lemas. Hari ini, dijadwalkan ia akan bangun dan kembali mengarungi luasnya samudra tepat pukul 21.00 WIT.

Aku berjalan menaiki sebuah tangga sederhana yang terbuat dari papan tebal selebar kaki yang diberi sekat panahan. Air laut tidak sedang pasang, membuat siapa saja bisa dengan mudah masuk kedalam bagian tubuhnya. Gelap, terpal biru yang membungkus seluruh bagian badannya berhasil membuat seisi ruangan menjadi gelap. Karung-karung beraneka ragam warna yang berisi segala macam barang bawaan penumpang mulai menumpuk disetiap bagian yang terlihat kosong. Sebuah papan tulis putih kecil disamping pintu utama ruang sang kapten sudah terisi dengan goresan tinta baru. Berisikan semua informasi mengenai jadwal keberangkatan dan tempat mana saja yang akan disingahinya. Tidak ada cahaya lain yang masuk selain cahaya matahari yang mulai meredup. Saling raba, saling silang, serta saling permisi terlihat sangat jelas dihadapanku. Sesekali, tercium aroma kecoa dan sayuran busuk saling berbaur dengan pekatnya aroma kamar kecil yang tidak terawat. Sepeda motor, ikan kering, lemari, kardus mie, rokok, jerigan, solar, lemari es, semen, besi cor, pisang, kopra, singkong, burung, semua bercampur aduk menjadi satu.

Kapal Lintas Bahari Indonesia

Aku terdiam sejenak diatas palkanya. Melihat dan membayangkan kembali pengalaman perjalananku dengannya. Bagiku ini adalah sebuah fanomena menarik yang ada di Negeriku tercinta, Indonesia. Disaat hampir semua moda transportasi baik itu darat, laut dan udara sudah memiliki fasilitas lengkap seperti AC, TV, bahkan tempat duduk VIP untuk para penumpangnya, kapal ini benar-benar jauh dari kata manusiawi. Sangat sederhana, dan terlampau sederhana menurutku. Berbekal gelar ‘Perintis’, kapal ini terus tegar dengan semua kondisi yang menimpanya.

Kruing-marsela-luang-lakor-moa-leti-kisar-lurang-erai-liran-alor, adalah rute perjalanannya rutinnya. Sekali berlayar, ia mampu menempuh sampai 18 jam sebelum akhirnya beristirahat di pos terdekatnya. Tidak heran jika dalam satu trip perjalanan, ia menghabiskan waktu sampai dengan tujuh hari lamanya. Deru mesin tidak pernah berhenti selama masa tugasnya. Ia hanya akan beristirahat selama satu atau dua hari di pos terakhir sebelum kembali berlayar melintasi luasnya lautan Banda. Begitulah seterusnya. Kapal ini bukan kapal penumpang. Bukan juga kapal untuk berekreasi menuju pulau-pulau kecil yang ada di Provinsi Maluku. Kapal ini adalah kapal barang yang disulap menjadi kapal penumpang. Tidak heran jika akhirnya standar keselamatan untuk penumpang yang ikut bersamanya disunat. Tidak terlihat adanya rail pembatas palka, tidak pula nampak life jacket untuk keadaan darurat. Sekoci yang menggantung disamping pembuangan asap mesin hanya terdiam kaku dan membisu. Sederhana, seadanya.

Seharusnya sebagai kapal pengangkut penumpang tentu harus memiliki standar pelayaran yang sangat ketat. Jika dilihat dan mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 37 Tahun 2015 pasal 5, idealnya setiap penumpang angkutan laut di atas kapal itu wajib mendapatkan pelayanan keselamatan, pelayanan kehandalan, pelayanan kenyamanan, pelayanan kemananan dan ketertiban, pelayanan kemudahan serta pelayanan kesetaraan. Melihat semua itu, aku kemudian kembali bertanya pada diriku sendiri, apakah semua penumpang yang ikut berlayar dengan kapal ini sudah mendapatkan semua pelayanan itu?

Bagi masyarakat di pulau-pulau kecil terluar, mungkin sarana transportasi yang nyaman masih menjadi oase di tengah lautan. Keadaan ekonomi membuat banyak masyarakat yang tinggal di pulau-pulau yang terisolasi itu tidak bisa berbuat banyak. Apapun yang diberikan oleh pemerintah akan mereka terima tanpa berkeluh kesah. Bagi mereka, semua kapal itu sama, yang paling penting adalah mereka bisa ikut berlayar menuju kota untuk belanja dan memenuhi segala kebutuhan di desa.

Inilah Palkamu, Perintis

Aku sempat berfikir panjang, bagaimana kapal tua yang aku injak ini bisa mendapatkan izin berlayar, apalagi izin membawa penumpang. Bahkan aku sempat berfikir lebih dalam bagaimana asal muasal kapal tersebut berubah menjadi kapal penumpang. Siapa yang memiliki inisiatif untuk menambahkan lembaran-lembaran terpal sebagai atap panahan panas?, atau siapa yang kemudian menjadikan selembar kertas kwitansi menjadi selembar tiket untuk penumpang yang sudah membayar biaya perjalanannya?

Lagi-lagi sebagai penumpang dengan tingkat ekonomi rendah dan ketidak-tersediaan armada transportasi yang layak membuat para penumpang itu mau tidak mau harus menerima semua keadaan tersebut. Tidur berlapiskan matras diatas palka, duduk berdesakan dengan barang bawaan, sampai mengantri panjang untuk menuntaskan kewajiban pribadinya harus mereka terima dengan senang hati. Biaya perjalanan yang murah, yang tidak terdaftar dalam lembar manifest keselamatan pelayaran serta tiket yang tidak memiliki jaminan asuransi mau tidak mau mereka beli. Sampai-sampai kapal yang tidak memiliki alat keselamatan darurat pun tidak mereka perhatikan. Selamat sampai tujuan dengan membawa barang belanjaan dari kota sudah menjadi impian terbesar mereka ketika ikut berlayar dengan kapal tua ini. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keterbatasanlah yang membuat mereka pasrah akan keadaan yang harus diterimanya.

Indonesia South Sea Pearl, kata inilah yang mungkin lebih tepat dikenakannya olehnya dibandingkan kata ‘Perintis’. Bagaimana tidak, di tengah sulitnya jasa transportasi yang masuk dan menjangkau pulau-pulau kecil terluar Indonesia, kapal ini mampu hadir dengan sabar serta setia untuk terus melayani kebutuhan ber-plesir bagi penduduk terisolir Indonesia. Ibarat mutiara ditengah lautan, kapal ini terus menjadi motor pengerak roda ekonomi masyarakat terbelakang. Penggerak kehidupan dan pemberi harapan akan kemajuan wilayah mereka. Tidak ada yang mampu menahannya untuk tidak beralayar. Tidak ada pula yang mampu menggantikan kahadirannya di pulau terluar negeri ini. Teruslah berlayar, jamahlah semua saudara kita yang berada jauh di pulau kecil disana.

Selimut Terpal Biru

Suara stoom keberangkatan sang kapalpun berbunyi. Pertanda bahwa kini saatnya ia bangun. Membuka matanya dan memompa seluruh energinya untuk kembali mengantarkan para penumpang setianya ke lokasi tujuan masing-masing. Tali-tali mulai dibuka, tangga kayu sederhana pun mulai diangkat. Beberapa penumpang didalamnya mulai memanjatkan doa perjalanan masing-masing, meminta keselamatan kepada sang Maha Selamat. Selamat berlayar, kapten.

Pelabuhan kapal saumlaki, 21 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s