Saumlaki Series; The Man Who Build Phinisi.

Lelaki muda dengan rambut yang terbelah ditengahnya itu sedang asik memainkan pekakas pertukangan yang dibawanya. Sambil duduk ia memahat sebuah kayu tebal yang kemudian ia bentuk menyerupai sebuah lekukan-lakukan simetris. Sesekali ia berhenti untuk mengambil nafas panjang dan mengusap peluh yang sudah mulai menetes dipelipisnya. Palu kayunya sangat berat, besi tempanya sangat tajam. Balok balok kayu besar kemudian menjadi sasaran pukulan kayu dan pahatnya. Serabut-serabut sisa kayu yang dipahat sudah mulai banyak terkumpul. Pahatan kayu itu semakin mendekati bentuk yang diinginkannya. Panas teriknya suhu pantai tidak membuatnya berhenti melaksanakan pekerjaannya. Teko-teko air nampak terisi penuh dan siap disajikan dikala haus melanda. Disaat teman lainnya duduk beristirahat, dia tetap terlihat semangat memahat dan membentuk balok-balok kayu di hadapannya. Batang rokok yang terselip ditelingannya kemudian ia ambil. Ia duduk dikayu yang sedang ia pahat. Api dan kepulan asap rokoknya kemudian menyala, menandakan sudah saatnya ia berisitrahat.

kapal phinisi

Hasanudin (37). Begitulah nama yang ia berikan katika aku mendekatinya. Di balik tubuhnya, tersusun papan-papan tebal yang akan ia rakit menjadi sebuah perahu phinisi. Sebuah balok tebal nan panjangpun sudah ia siapkan diatas potongan batang pohon kelapa yang nantinya berperan sebagai tulang utama pembuatan perahu phinisi. Beberapa potongan kayu tersimpan berantakan disekelilingnya. Pahat, palu, penghalus kayu sampai mesin gergaji besar sudah siap mengolah dan memotong kayu-kayu yang ada dihadapannya. Kapal itu rupanya adalah kapal pesanan pengusaha penangkap ikan yang ada di kota saumlaki. Pak Hasan begitu kemudian aku panggil. Ia berasal dari Bulukumba. Phinisi dan Bulukumba sudah menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan. Aku sering mendengar banyak perahu phinisi berkelas dunia dilahirkan dari wilayah ini. Bahkan ketangguhan kapal ini pernah dipakai oleh para pelayar ulung dalam sebuah ekspedisi bernama ekspedisi phinisi nusantara. Aku pernah membaca kisahnya dalam buku dengan judul yang sama yang ditulis oleh Pius Caro. Buku Ekspedisi Phinisi Nusantara sendiri bercerita tentang seorang kapten kapal bernama Gita Arjakusuma yang melakukan perjalanan mengarungi lautan dari Jakarta menuju pantai barat Amerika hanya untuk mengikutsertakan phinisi pada pameran kameritiman yang diselenggarakan di Vancouver, Kanada. Perjalanan itu memakan waktu selama kurang lebih 67 hari dan menempuh 11000 mil laut. Phinisi sendiri adalah kapal tradisional suku bugis yang merupakan kapal asli buatan anak bangsa yang sudah ada sejak jaman nenek moyang Indonesia lahir. Penasaran dengan bagaimana perahu itu dibuat, aku kemudian duduk disamping Pak Hasan sambil mengamati pekerjaannya dan sesekali bertanya mengenai bagaimana konstruksi canggih itu dibuat. Beruntung.

lambung kapal phinisi

Untuk membuat satu buah perahu phinisi berukuran kurang lebih 7 Gross Ton (GT) Pak Hasan dibantu oleh 8 orang temannya. Ukuran perahu yang dibuat ini sebenarnya adalah ukuran kira-kira saja. Pak Hasan hanya terdiam dan meruncingkan matanya ketika aku bertanya ukuran kapal yang sebenarnya akan ia buat. Sebagai anak teknik yang pernah mempelajari bagaimana sulitnya membaca dan membuat gambar teknik dalam perancangan konstruksi justru membuatku kagum bercampur malu akan kepiawaian dan kemahiran yang dimiliki oleh Pak Hasan beserta teman-temannya. Pak Hasan sendiri hanya tamatan SMA, Ia mempelajari bagaimana cara membuat perahu phinisi langsung dari ayahnya secara turun temurun. Tidak perlu gambar teknik ataupun blueprint untuk merakit satu persatu lembaran kayu dengan tebal 10 centimeter itu menjadi sebuah perahu berukuran lebar 3 meter dengan panjang 12 meter. Perahiu itupun sama sekali tidak menggunakan paku besi untuk membuatnya menjadi kuat. Tiap lembar papan disambung dan direkatkan dengan paku kayu silindris yang sama-sama dibuat langsung ditempat pembuatan lambung kapalnya. Satu-satunya besi yang digunakan hanyalah besi ulir yang berfungsi sebagai penguat rusuk-rusuk kapal didalamnya.

Jika dihitung, hanya ada tiga jenis kayu yang digunakan olehnya untuk membuat perahu phinisi tersebut. Salah satunya adalah kayu besi yang ia gunakan sebagai paku yang menjadi perekat antar papan kayu. Semua jenis kayu yang digunakan asli berasal dari hutan Pulau Tanimbar. Uniknya, batang kayu putih rupanya ia gunakan sebagai lapisan antibocor yang menjadi pengisi diantara sela-sela papan yang direkatkan oleh paku kayu itu. Sifat lapisan kayunya yang lunak seperti spons membuat celah-celah kecil diantara papan-papan itu tertutup rapat sehingga bebas dari kebocoran. Luar biasa.

“Perlu waktu berapa lama untuk buat satu perahu pak?” tanyaku penasaran.

“Kalau pasokan bahan lancar, dua perahu selesai tiga bulan mas.” Jawabnya.

“Tapi kalau pasokan bahannya telat, jadi molor juga selesainya.” Tambahnya.

“Ini papan setebal ini bisa dibikin melengkung bagaimana pak?”

“Coba liat kesana mas, itu dapurnya.”

“Dipanaskan pak?”

“Begitulah mas.”

Aku kemudian meminta izin kepada Pak Hasan untuk meninggalkannya sebentar dengan tujuan ingin melihat lebih jelas bagaimana papan-papan tebal itu bisa berubah bentuk menjadi lengkungan-lengkungan yang ukurannya presisi. Sederhana saja ternyata cara kerjannya. Papan-papan tebal itu akan dilumuri oleh oli, dan kemudian di asapi sambil dilakukan penarikan kuat terhadap bagian yang akan dibentuk. Seperti dipress perlahan, akan tetapi, meskipun terlihat sangat sederhana, namun tetap saja harus memerlukan kesabaran serta kemahiran yang luar biasa. Skillfull pikirku dalam hati. Orang awam pasti akan sangat sulit melakukannya. Dibutuhkan pengalaman panjang dan keuletan yang sungguh-sungguh, batinku. Waktu membentuknya pun bervariasi, tergantung pada kelengkungan yang diinginkan. Dan hampir semua bentuk kapal phinisi itu adalah gabungan dari lengkungan-lengkungan papan yang hasil akhirnya adalah lambung kapal yang bisa menahan dan memecahkan gelombang air laut.

batang kayu putih

“Ini cara ukurnya bagaimana bang?” tanyaku pada salah satu rekan kerja Pak Hasan.

“Sembarang saja mas, yang penting nyambung dan pas.” Jawabnya.

“Hah? Serius sembarangan mas? Tidak pakai ukuran begitu?” aku terkejut.

“Iya mas, sembarang saja.” Jawabnya.

“Luarbiasa.” Batinku takjub dengan keterampilan yang dimiliknya.

Bunyi gaungan mesin gergaji kemudian membuatku kaget, mesin itu akan digunakan untuk memotong beberapa bagian balok kayu yang akan dipakai sebagai tulang rusuk penguat lambung kapal. Aku mengamati bagaimana cara pembuatan rusuk-rusuk itu dengan seksama. Aku perhatikan sedetail dan sebaik mungkin, namun lagi-lagi aku tidak melihat adanya garis ataupun coretan-coretan yang membentuk pola pada bagian balok kayu yang akan dipotong tersebut. Semuanya dibentuk berdasarkan perasaan dan pengalaman saja. Asal potong, asal terbentuk, dan asal masuk ketempat peletakannya, selesai. Ah betul-betul diluar nalarku.

Rasanya, bagi mereka, membuat sebuah perahu berkalas dunia itu ibarat membuat secangkir kopi instant. Tidak perlu memakai takaran khusus, tidak perlu memakai suhu air sekian derajat, bahkan tidak perlu menggunakan timbangan atau alat-alat canggih yang harganya ratusan ribu, melainkan hanya cukup dengan menyobek kemasannya, menuangkannya pada gelas, lalu ditambahkan air mendidih dan aduk sampai bercampur, kemudian selesailah satu buah perahu phinisi yang bisa digunakan untuk menangkap ikan atau bahkan berlayar mengarungi luasnya lautan Indonesia. Luarbiasa.

Desa Lermatang lama, 08 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s