Saumlaki Series; Seaweed and Lermatang Society

Rumput laut dan masyarakat desa lermatang.

“Hancur semua mas, seng ada lagi yang tersisa ee.”

“Harga su turun sekarang mas, seng jelas.”

“Seng ada bibit mas, katong cari yang cepat sa.”

“Disini seng bisa mas kerja kelompok.”

“Susah mas.”

“Seng bisa mas.”

“Seng tau mas.”

“4000 mas.”

“Satu karung satu juta mas.”

“Pasir su paling cepat mas.”

“500 ribu satu rit mas.”

Ucapan ucapan itu terus terulang setiap kali aku datang dan bertanya kepada masyarakat yang dahulu berprofesi sebagai petani rumput laut. Miris memang, disaat harga rumput laut sedang anjlok, keinginan masyarakat di desa lermatang seakan sirna dan kemudian enggan untuk membudidayakannya kembali. Akhir tahun 2015 adalah masa dimana semua petani rumput laut di desa ini kebingungan. Sedih. Suram. Penyebab utamanya adalah munculnya penyakit ice-ice yang menghancurnya semua tanaman yang mereka tanam. Impian didepan matapun kemudian sirna bahkan padam seketika. Hutang tidak jadi lunas, malah semakin membesar karena keperluan hidup dan anak sekolah.

“Beta awalnya su yakin bisa dapat sampai 20 karung agar mas, tapi waktu itu semua agar hilang, hancur, bet menangis mas.” Ucap Petrus Maskikit (37) mengenang kejadian saat gagal panen. Sekarang, dengan kesabaran dan ketekunannya, bapak tiga orang anak ini tetap pergi melaut untuk memeriksa beberapa tali agar yang sedang dibibitkannya. “Bet rawat sedikit-sedikit mas, terus bikin bibit dulu, biar nanti kalau bibit su banyak, baru bet tanam untuk panen.” Harapnya padaku. Bapak Petu, demikian ia senang dipanggil memilih untuk bertahan membudidayakan rumput laut karena dinilai bahwa agar ini lebih mudah dirawat dan mudah dijual. Selain itu pula, meskipun harga agar rendah, tapi ia sudah memiliki pemahaman jika uang yang didapat tentu akan lebih tinggi jika produksi yang ia hasilkan banyak. Oleh karena itu, sisa-sisa potongan bibit yang tidak terpakai selalu ia kumpulkan untuk kemudian dikeringkan. “Ini buat tambah-tambah berat agar mas, buat nanti waktu panen.” Terangnya.

Rumput laut segar

Berbeda dengan Luis Maskikit (53), di tahun 2013, ia pernah mencapai rekor capaian panen yang mencapai 14 karung besar dengan nilai total mencapai 13 juta rupiah. Hasil itu didapat dalam satu kali panen. “Bet pernah sampai panen 14 karung agar mas, kering, harga masih 14 ribu waktu itu, Gros-Gros (gemuk-padat) agarnya. Itu rumah di depan pantai hasil dari kerja agar mas.” Ucapnya penuh dengan bangga. Bapak Luis Maskikit sendiri memang bisa dibilang sebagai pioneer yang mengenalkan budidaya rumput laut kemasyatakat dasa lermatang. Pada tahun 2006, ia bersama dengan tiga orang teman satu kampungnya mengikuti pelatihan budidaya rumput laut yang difasilitasi oleh dinas kelautan dan perikanan kebupaten Maluku Barat Daya. Bersama dengan istrinya, kemudian ia dengan tekun menanam dan mengembangkan sendiri dasar pengetahuan yang ia dapatkan dari pelatihan tersebut. Usianya yang kini sudah tidak muda lagi membuatnya harus banyak beristirahat dan tidak sanggup untuk kembali ke lahan budidaya. Oleh karenanya ia sekarang menjadi motivator untuk anak-anaknya dalam budidaya rumput laut. Jika ada waktu senggang, ia tidak sungkan untuk ikut serta membantu anak-anaknya dalam mengikat agar untuk kemudian ditanam dilaut. Menurutnya masa jaya rumput laut di desa ini terjadi pada tahun 2013-2014, dimana saat itu harga rumput laut sangat tinggi sehingga hampir semua penduduk yang ada beralih profesi menjadi pembudidaya rumput laut. “Pantai ini su seng sanggup lai tampung agar mas, su seng ada tempat, penuh semua.” Kenang pak Luis sambil menunjuk lokasi mana saja yang dulu pernah penuh dengan agar yang sedang dijemur. “Bapak pung lokasi bagus di tanjung tual mas, disana bagus kalau lagi musim barat begini.” Terangnya padaku.

Disaat masyarakat lain sedang menanti kehadiran bibit agar, tidak demikian dengan Ian (28), saat ini ia lebih memilih untuk beralih profesi menjadi pedagang kecil di kampungnya. Ia merubah sebagian rumah nyafarnya (nyafar : rumah tinggal sementara untuk istirahat dari pekerjaan melaut) menjadi tempatnya untuk berdagang. Modal awal untuk warung yang ia kelola saat ini adalah hasil dari menjual rumput laut kering yang sempat ia tanam. “Seng ada bibit mas, harga su turun.” Keluhnya. Meskipun begitu, ia masih terus berharap agar harga dan ketersediaan bibit rumput laut kembali membaik. Ayah satu orang putri itu kini lebih banyak menghabiskan waktu kosongnya dengan berdiam menantikan konsumen yang membeli barang dari warungnya. Sesekali ia akan pergi ke laut hanya untuk memancing ikan yang akan dikonsumsinya bersama keluarga.

ulur tali longline rumput laut

Alo (19) pun demikian, disaat menanti ketersediaan bibit dari dinas, ia beralih profesi sebagai penambang pasir. Menurutnya keuntungan dari menambang pasir sangat jauh lebih besar daripada keuntungannya membudidayakan rumput laut. Penghasilannya dari menambang pasir pantai bisa mencapai 500 ribu rupiah untuk satu kali angkut. Ia tidak sadar dengan dampak yang muncul akibat penambangan tersebut. Yang ia tahu hanyalah mendapatkan uang untuk keperluan keluarga dan anak sulungnya yang beranjak balita. “Dulu air pantai masih sangat jauh mas, seng seperti ini.” keluhnya saat melihat pantai yang sudah hilang dikala air laut pasang. “Ose tahu itu kenapa?” tanyaku. “Seng tau mas.” Jawabnya polos.

Lain lagi cerita yang datang dari ibu Sonya (35), pertama kali datang dan membudidayakan rumput laut pada tahun 2007 tetap membuatnya terus bersemangat walaupun harga agar rendah dan ketersediaan bibit sangat kurang. Pengalaman panjangnya sebagai pembudidaya rumput laut menjadikan ia kaya akan pengetahuan tentang tumbuhan tersebut. Ia nampak masih tenang dengan kelangkaan bibit yang selalu dikeluhkan oleh masyarakat lain di desanya. Ia juga tetap tekun mengikat dan mananam bibit meskipun harga agar sangat rendah. Menurutnya, tumbuhan yang satu ini tetap menjadi primadona bagi pundi-pundi keuangan keluarga kecilnya. Di tahun 2009 ia sempat pergi meninggalkan desa lermatang karena penempatan tugas dinasnya sebagai guru honor disalah satu SMK Kota Tual. Rindunya akan membudidayakan rumput laut membuatnya kembali datang ke desa lermatang pada tahun 2012. Di tahun inilah ia mulai fokus untuk mencurahkan seluruh waktu luangnya kepada budidaya rumput laut. Hasil yang diperolehnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun godaan tambang pasir terus membayanginya, namun baginya rumput laut lebih memiliki masa depan yang berkelanjutan dari pada harus ikut serta menambang pasir. Sekarang, hasil jerih payahnya sedikit demi sedikit mulai dilirik oleh berbagai pihak. “Su ada lagi yang curi mas.” Keluhnya padaku saat kami sedang duduk santai dibale-bale depan rumahnya. “Yang bikin bet aneh, ontua seng ikat, seng tanam, tapi jemur, heran kan mas?” Tambahnya. Meskipun begitu, ia tetap rendah hati dan bisa mengontrol emosinya untuk tidak menjadi pitam.

Simon (40) pun demikian. Ditengah harga rumput laut yang anjlok, ia tetap memiliki semangat untuk terus membudidayakannya. “Agar ini paling gampang mas, jadi bet terus tanam, seng perlu pusing rawat, di diamkan sa bisa tumbuh.” Pengakuannya padaku. Mamang betul, sebenarnya jika gelombang air laut besar, para pembudidaya tidak perlu sering-sering memantau perkembangan rumput lautnya. Alam membersihkannya secara alami dari kotoran yang menempel di talus-talus rumput laut. Namun itu bukan berarti tidak harus dilakukan pengecekan. Simon tetap melakukan budidaya terhadap rumput laut karena ia beserta istrinya menjalankan sistem tabungan agar yang bisa mereka jual kapan saja disaat mereka membutuhkan uang tunai. “Kalau kering, sampai dua tahun juga kuat mas, asal jangan disimpan di tempat lembab saja toh.” Resep tabungannya dibocorkan padaku.  

ikat bibit rumput laut

Masyarakat desa lermatang dan rumput laut sebenarnya sudah bersatu dari tahun 2006. Kampung lama yang sampai saat ini masih ada kemudian berubah menjadi kampung nyafar yang digunakan para petani rumput laut untuk menjaga dan merawat kebun rumput lautnya. Masing-masing dari masyarakat yang tinggal di kampung lama sudah mempunyai rumah di kampung baru yang beberapa diantaranya dihasilkan dari hasil membudidayakan rumput laut. Bahkan dari hasil penjualan rumput laut, sudah banyak anak-anak meraka yang sekarang melanjutkan sekolah di perguruan tinggi di berbagai kota di Indonesia. Meskipun data produksi rumput laut Indonesia yang terbilang menakjubkan, pada kenyataannya banyak pembudidaya rumput laut khususnya di desa lermatang ini yang beralih profesi. Sekarang, sampai tulisan ini aku rawi, jumlah pembudidaya itu hanya tinggal tersisa 4 kepala keluarga saja. Itupun masih terus berjuang karena faktor kelangkaan bibit yang mereka tanam. Mereka terus berusaha untuk memecahkan masalah kelangkaan ini. bibit-bibit yang dinilai layak mereka rawat guna menghasilkan jumlah bibit yang banyak. Kasus pencurian pun terus menghantui usaha keempat pembudidaya aktif ini. pihak desa belum mampu mencarikan jalan keluar terhadap sulitnya bibit serta kasus pencurian yang marak terjadi belakangan ini. berbagai macam bantuan mengenai kelembagaan terus dicoba untuk diterapkan di desa ini, dengan harapan pola pikir masyarakat tentang kerja secara berkelompok bisa berubah. Dinas mulai menurunkan para tenaga penyuluh bantu untuk melakukan sosialisasi dan pemahaman masyarakat terkait kerja secara berkelompok. Harapan dinas kepada para penyuluh itu adalah dapat terbentuknya koperasi yang bisa menaungi segala keperluan masyarakat baik dalam sektor perikanan ataupun sektor lainnya.

Masyarakat desa sendiri tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dinas atau pemerintah terkait kelangkaan bibit yang terjadi. Usaha keras serta kemauan dari masyarakat sedirilah yang sekarang harusnya muncul. Pemerintah sudah banyak ikut serta dalam memecahkan solusi bagi permasalahan ini, namun masyarakat desa terkesan hanya bisa menunggu hasilnya tanpa mau bersusah payah untuk membantu dan bekerja sama dengan pemerintah ataupun swasta yang datang. Pemikiran pendatang adalah pembawa bantuan harus mulai ditepiskan. Pembentukan pemahanam ini rasanya harus dilakukan secara berkesinambungan dengan waktu yang tidak dapat ditentukan.

Lermatang lama, 05 Agustus 2016 

Advertisements

2 thoughts on “Saumlaki Series; Seaweed and Lermatang Society

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s