Saumlaki Series; The Potential of Lermatang Village.

Potensi desa lematang 

Jalanan berbatu nan panas itu tidak menyurutkan perjalananku untuk sampai di sebuah desa yang lokasinya berjarak 25 kilometer dari pusat kota Sumlaki. Beruntung, pembangunan akses jalan sedang dikerjakan sehingga beberapa ruas jalan sudah mulai terasa nyaman. Aku pergi dengan menggunakan sepeda motor pinjaman dari seorang pegawai negeri di kota ini. Motornya cukup handal untuk digunakan dimedan yang masih banyak rusaknya. Namun sebetulnya, ada satu hal yang membuatku khawatir sebelum aku sampai di desa tersebut. Rasa khawatir itu bukan terhadap kondisi jalan yang masih rusak ataupun terhadap masyarakat di desa, namun lebih kepada kondisi motor yang mau tidak mau harus bekerja ekstra untuk melahap setiap jalanan rusak yang aku lalui. Beberapa kilometer jalan mamang sudah diaspal, namun 70 persen sisanya masih berupa jalanan berbatu yang dipadatkan, namun masih belum dilakukan pelicinan jalan, sehingga jalanan masih sangat kasar dan berhasil membuat kondisi tubuh terguncang.

jalan menuju desa lermatang

Desa wisata Lermatang lama, inilah desa yang akan aku ceritakan sesuai dengan apa yang ada dibayanganku saat pertama kali mengunjunginya. Sebetulnya khayalan ini muncul seketika pada saat aku mendengar bahwa desa ini akan masuk dalam agenda perencanaan tata wilayah sebagai desa wisata oleh pemerintah kabupaten Maluku tenggara barat. Isu itu muncul ketika aku sedang berbincang dengan salah satu warga yang aku temui di warung kecil di dalam desa. Kemudian isu ini diperkuat ketika secara tidak sengaja aku bertemu dengan kepala desa yang sedang berkunjung ke desa lama serta menemani dua orang tamu yang menurutnya berasal dari Universitas Sudirman (Unsud).

Setelah bertegur sapa dan bersalaman dengan ketiganya, aku kemudian terlibat dalam perbincangan singkat tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka di desa ini. Dari caranya bicara, aku yakin bahwa ia adalah seorang dosen atau tenaga pendidikan yang datang untuk melakukan sesuatu di desa ini. Tebakanku benar, karena setelah pertanyaan standar sebagai pembuka percakapan aku layangkan, ia kemudian menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk mencoba memetakan daerah potensi yang pada akhirnya diharapkan bisa menjadi daerah konservasi yang dilindungi oleh pemerintah daerah. Adalah J.Rangkoli (40), kepala desa Lermatang sendiri yang berkata bahwa pemerintah daerah sedang merancanakan pengembangan daerah wisata di desa ini. Selain sebagai daerah wisata, daerah ini juga akan dimasukan kedalam rencana pengembangan daerah konservasi yang akan dikelola oleh pemerintah daerah. Rencana lainnya adalah pemda membeli pulau tyang popular dengan nama tanjung tual dan menjadikannya sebagai lokasi wisata terintergrasi. Mendengar kabar itu, pikiranku langsung tertuju pada sebuah masterplan khayalan pengembangan desa yang seketika berkelemit di otakku.

dermaga kayu desa

Wilayah konservasi. Aku sebelumnya pernah masuk ke Taman Nasional Way Kambas di Lampung. Taman ini tak lain adalah tempat konservasi gajah Sumatra yang merupakan taman konservasi warisan dari pemerinah Belanda. Taman ini dikelola langsung oleh balai konservasi yang dibiayai oleh pemerintah daerah lampung. Kondisinya saat ini sulit untuk dijabarkan. Mati enggan hiduppun tak mampu. kali ini aku tidak sedang membicarakan taman nasional ini, aku sedang mencoba mengeskpresikan hasil khayalanku tentang lokasi wisata serta daerah konservasi yang akan dibuat di desa lermatang lama.

 ***

Rancangan yang ada dikhayalanku seperti ini : wilayah desa lermatang lama tidak begitu besar, namun aku rasa wilayahnya cukup luas untuk bisa menampung banyak wisatawan yang datang ke lokasi ini. Pemandangan dari jalan utama masuk desanya sudah cukup menjual. Jalanan yang turun menuju pantai menjadikan pengunjung yang datang bisa langsung melihat dengan jelas sebuah dermaga kayu yang dibangun tepat diakhir jalan utama desa. Dermaga ini seakan menjadi bangunan dipenghujung daratan. Jika air sedang pasang, dermaga ini menjadi tempat paling ujung yang berdiri sendiri di atas air laut. Pemandangan alam dari atas jalan utama pun begitu menggoda. Jajaran pohon kelapa yang menjulang tinggi ke angkasa, serta pekarangan rumah sederhana menjadi sajian yang mampu memuaskan mata pengunjung yang datang. Di titik ini, khayalanku berkata bahwa perlu dibangun pos retribusi yang dikelola oleh masyarakat desa yang menjual tiket sebagai tanda masuk pengunjung ke dalam area wisata. Nantinya hasil keuntungan dari biaya retribusi ini dipakai untuk pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada.

Khayalanku kemudian tertuju pada konsep besar berupa tema yang bisa diaplikasikan di desa wisata ini, dimana semua elemen harus mengandung unsur tradisional yang sekaligus bisa menjadi ciri khas dari desa lermatang. Aku kemudian membayangkan bahwa semua bangunan harus terbuat dari pohon kelapa serta berupa rumah panggung tradisional yang ada di pulau yamdena. Rumah sederhana kemudian diaplikasikan pada semua bangunan yang ada di dekat pantai. Meskipun bangunan luarnya masih tradisional, namun fasilitas di dalamnya harus sudah modern agar membuat nyaman para wisatawan yang datang dan berkunjung.

air pasang, pantai terkikis

Aku lalu melihat kendaraan yang terparkir seenaknya tepat di depan dermaga kayu. Kendaraan-kendaraan itu sungguh mengganggu pemandangan yang ada. Selain mengganggu pemandangan, kendaraan-kendaaran itu juga merusak lokasi pantai dengan menyisakan sampah atau bekas ban mobil yang menggerus permukaan pasir. Oleh karena itu, jika desa ini resmi menjadi desa wisata, maka tempat parkir kendaraan akan aku tempatkan dilahan kosong sebelah pabrik rumput laut yang tidak beroprasi. Lokasinya tepat dijalan utama sebelum pos retribusi, sehingga para pengunjung yang datang diharuskan berjalan kaki untuk menikmati semua keindahan yang diberikan oleh desa lermatang lama. Pengelola pun akan menyediakan sarana transportasi pemacu adrenalin tepat disebelah pos pintu masuk desa wisata berupa flying fox yang bisa digunakan oleh pengunjung jika tidak ingin berjalan kaki menuju lokasi wisata. Flying fox ini selalu dijaga keamanan dan menggunakan tiket tambahan tentunya. Tiket sebagai tanda masukpun tidak sembarang. Tiket akan dibuat berupa kartu identitas lengkap dengan foto yang berlaku secara harian, mingguan atau bulanan. Tarifnya tentu berbeda untuk masing-masing masa berlaku kartu. Jika masa aktif kartu sudah habis, pengunjung bisa memperpanjangnya atau menjadikannya sebagai kenang-kenangan serta bisa menjualnya kembali ke pengelola desa wisata untuk di daur ulang.

Masuk ke bagian utama desa wisata, semua rumah penduduk yang terbuat dari kayu dan sudah terbilang kumuh akan direvitalisasi dengan rumah panggung tradisional yang unik dan menarik. Penggantian ini jelas untuk menghilangkan pemandangan kumuh yang ada di desa. Sebagai informasi, rumah-rumah penduduk yang berdiri itu sebetulnya bukanlah rumah permanen para penduduk yang ada. Rumah itu adalah rumah singgah yang dibangun hanya sebagai tempat berteduh sementara disaat para pembudidaya rumput laut atau nelayan sedang beristirahat dari pekerjaannya. Karena rumah itu adalah rumah sementara, maka hampir semua rumah itu tidak dirawat oleh pemiliknya. Dibiarkan begitu saja sehingga pesan kumuh terus melekat kepadanya. Dalam khayalanku, rumah-rumah ini kemudian diganti dengan rumah dari pohon kelapa yang model dan bentuknya seragam. Penataan letaknya pun kemudian diatur sedemikian rupa sehingga terlihat lebih rapi dan menarik.

Masuk ke bagian laut, khayalanku berputar pada adanya masyarakat pembudidaya rumput laut aktif yang sedang menjalankan aktivitasnya. Dimana aktifitas ini bisa dijadikan sarana edukasi bagi para pangunjung yang datang. Selain berenang dan main-main di air laut, pengunjung juga bisa menyewa perahu sampan untuk melihat dan belajar bagaimana rumput laut itu ditanam. Masih satu paket dengan penanaman rumput laut, di daratan juga terdapat para petani rumput laut yang sedang mengikat bibit-bibit diseutas tali yang panjangnya bisa mencapai puluhan meter dan pengunjung juga bisa berinterasi aktif dengan para pengikat bibit rumput laut itu. Bahkan pengunjung bisa mengambil paket kursus budidaya rumput laut langsung dari para petani yang terlatih. rumah-rumah singgah yang bisa disewa untuk pengunjung yang ingin bermalampun disediakan oleh pengelola desa wisata. Di desa ini sebetulnya tidak hanya berisi kumpulan petani rumput laut saja, nelayan penangkap ikan pun ada. Jika pengunjung ingin pergi memancing ikan, maka para nelayan tangkap pun akan dengan senang hati menemani para pengunjung tersebut.

Mengenai kebutuhan akan pangan, pihak pengelola kemudian membuat aturan yang ketat bagi para pengunjung untuk tidak membawa makanan dan minuman dari luar area wisata. Sebagai gantinya, beberapa rumah sudah menyediakan semua kebutuhan pangan untuk pengunjung yang datang. Dengan harga jual yang terjangkau dan hampir sama dengan harga pasar menjadikan tempat wisata ini akan terus ramai dikunjungi oleh wisatawan. Terlebih, dilokasi wisata juga akan ada beberapa kelompok yang mengolah rumput laut untuk dijadikan makanan tradisional yang bisa dijadikan sebagai buah tangan khas desa dan bisa dibawa pulang oleh para pengunjung. Produk hasil olahan rumput laut ini memiliki standar pangan resmi dari badan pengawasan obat dan makanan, sehingga sangat aman untuk dikonsumsi.

Untuk menambah kenyamanan di desa wisata ini, semua sarana dan prasarana dasar mutlak harus tersedia. Ketersediaan air bersih untuk mandi, toilet serta tempat pembuangan sampah menjadi prioritas utama. Denda besar kemudian diberlakukan kepada siapa saja yang kedapatan membuang sampah sembarang, serta hadiah pun diberikan kepada siapa saja yang mampu mengumpulkan sampah dengan berat minimal untuk diserahkan ke bank sampah yang tersedia dilokasi wisata ini.

Hampir semua sudut di desa ini memiliki pemandangan yang bagus untuk diabadikan, namun ada satu tebing atau tanjung pembatas pantai yang menurutku adalah tempat terbaik untuk menyaksikan panorama alam yang dimiliki oleh desa lama ini. Dalam khayalanku, di tebing atau tanjung ini akan dibuat sebuah taman yang cantik dimana vegetasi alami yang ada tetap dipertahankan. Besi-besi pembatas sebagai sarana keamanan didesain sedemikian rupa namun tidak mengganggu kealamiannya lokasinya. Di tebing ini juga dibangun sebuah bale-bale sebagai tempat istirahat sementara pengunjung yang kelelahan. Aku membayangkan bahwa pada akhirnya nanti roda perekonomian masyarakat di desa ini mampu berjalan mandiri tanpa terus berharap pada bantuan pemerintah ataupun orang lain. Desa ini kemudian naik pangkat menjadi desa mandiri dengan tingkat kesejahteraan yang baik. Bahkan desa ini juga menjelma menjadi tempat wisata yang diperhitungkan keberadaannya di Maluku tenggara barat bahkan Indonesia.

panorama dari atas tebing desa lermatang

“Kasbi mas!!”, teriak seorang sahabat baru dan menghacurkan semua khayalanku tentang desa wisata yang akan aku rancang di desa ini. Saat tersadar, aku kemudian kembali melihat keadaan desa secara keseluruhan. Aku kembali berjalan dari atas jalan utama menyusuri pemukiman yang letaknya berada tepat di bibir pantai. Kembali merasakan sebagai orang yang baru pertama kali hadir di desa kecil ini. melihat dengan jelas berbagai aktivitas yang terbilang merugikan wilayah desa, juga melihat tumpukan sampah yang berserakan disepanjang garis pantainya. Penambangan pasir pantai marak dilakukan, Rumah-rumah pun nampak kumuh sekali. Berantakan tidak karuan. Pasir pantai mulai menipis, abrasi mulai terlihat ketika air sedang pasang. Akankah desa kecil ini bisa berubah menjadi tempat wisata atau bahkan daerah konservasi yang menarik seperti yang ada di khayalanku? Apakah pemerintah daerah mampu menjadikan serta mengelola desa wisata ini dengan serius?

 Lermatang lama, 30 Agustus 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s