Saumlaki Series; The Story of a War Veteran

Wajah tuanya terlihat kosong. Tatapan matanya seakan hampa. Ia duduk di sebuah bangku plastik dan sedang asik berbincang dengan seorang bapak yang juga duduk bersama disampingnya. Pelafalan kalimatnya sudah tidak lancar, terbata-bata, seakan sudah tidak mampu lagi bersuara. Nada suaranya sangat pelan sehingga aku harus mendekatkan telingaku ketika memulai mengajaknya berbincang. Awalnya tidak ada yang menarik dari seorang bapak yang mengaku berusia 76 tahun itu. Semua bagian kulitnya sudah keriput namun ia masih mampu berjalan berkeliling kampung. Semua warna rambutnya sudah berubah menjadi putih. Tidak ada lagi rambut berwarna hitam di tubuhnya. Tumbuh kumisnya sudah tidak terawat, terlihat liar di depan hidungnya, janggut jarangnya tumbuh putih menghiasi dagunya. Aku awalnya tidak yakin jika ia adalah masyarakat asli desa lermatang. Logat bicaranya sudah tidak lagi ke timur-timuran. Bahasa Indonesianya lancar dan sangat fasih. 

“Dekki, nama saya Pak Dekki.” Jawabnya ketika aku mulai bertanya nama padanya. Tangannya seketika mengeluarkan sebuah handphone di saku celananya dan jemari tuanya mulai mengetikan sesuatu handphonenya itu. mendengarnya sudah berusia 76 tahun, Aku kemudian tertegun menghitung tahun kelahirannya. Dengan usianya sekarang, maka ia lahir pada jaman dimana Negara Indonesia ini belum merdeka. Semua tahu bahwa Indonesia sendiri mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, dan itu berarti saat Negara ini menyatakan merdeka, bapak tersebut masih berusia 5 tahunan. Aku menatapnya kagum karena melihat bapak ini yang masih sehat dan masih aktif menghisap tembakau yang selalu ia bawa di dalam saku celananya. Aku jadi teringat akan mandiang kakekku selagi ia masih hidup.

Pak Dekki (kanan) sedang berbincang dengan pak simon

 “Jadi waktu Indonesia merdeka, bapak usia berapa?” pertanyaanku muncul kembali. “lima atau enam, masih kecil.” Jawabnya. “Bapak masih ingat bagaimana situasi setelah kemerdekaan pak?” lanjutku. “Masih kacau, suram, mencekam.” Jawabnya. Aku saat itu sedang berusaha untuk menggali lagi semua ingatan bapak mengenai masa mudanya. “Bapak ini militer.” Jawabnya dengan suara yang sangat halus namun berat. “HAH?” aku terbelalak mendengar pernyataannya itu. “Betul.” Jawabnya singkat. Matanya kemudian menatap tajam lantai beton rumah yang menjadi tempat kami berbincang. Ia terlihat seperti sedang berfikir mencoba untuk mengingat kembali semua kejadian masa mudanya. Disulutnya tembakau yang sudah ia linting sambil berbincang denganku. “Mas dari mana?” tanyanya padaku. “Bandung.” Jawabku singkat. “Ah, Bandung, Saya lama di Malang mas, pelatihan militer.” Terangnya. “Ohya? Berapa lama pak?” aku semakin penasaran dengan semua ceritanya. “8 bulan.” Jawabnya. “Setelah itu?” lanjutku bertanya.

 Setelah lulus dari pelatihan di tahun 1956, Dekki (76) resmi memulai karirnya sebagai seorang militer yang bertugas menjadi prajurit garis depan dalam membela Negara kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun itu, semua anggota yang lulus pelatihan kemudian dipulangkan kembali ke daerah asalnya. Karena pak Dekki berasal dari Maluku, maka ia dipulangkan ke Ambon dan resmi tergabung dalam satuan militer disana. Tugas pertamanya saat itu adalah sebagai prajurit di Ambon dan kemudian tergabung dalam prajurit perlawanan terhadap RMS (Republik Maluku Selatan). Saat itu pada tahun 1966, NKRI dinyatakan bebas dari RMS. Pak Dekki bergerilya keluar masuk pulau Seram, pulau Buru dan pulau Ambon sendiri untuk berperang malawan pergerakan RMS. Kemudian beberapa tahun sebelum RMS resmi dibubarkan, Pak Dekki mendapatkan tugas untuk berperang kembali dalam oprasi pembebasan Irian Barat. Ini terjadi pada kisaran tahun 1961 sampai tahun 1962 dimana pada saat itu Presiden Soekarno mengumumkan pelaksaanan dari trikora dan menunjuk Jendral Soeharto sebagai panglima dalam operasi ini. tujuannya adalah menggabungkan Irian Barat yang kala itu dikuasai oleh Belanda dengan Irian Timur yang sudah menjadi bagian dari NKRI. Selama kurang lebih satu tahun perjuangan, Pak Dekki dan prajurit lainnya bergerilya kembali keluar masuk hutan selama kurang lebih satu tahun. Menurutnya tidak gampang hidup di hutan, setiap harinya harus berjibaku melawan ketidakpastian serta terror dari musuh. Tidak ada tempat nyaman untuk berisirahat. Kondisi prima dan ketahanan fisik wajib dimiliki. Keahlian bertahan hidup di alam liar mutlak dikuasai. Taktik yang dipakainya saat itu adalah perang griliya yang sudah tersohor sebagai kekuatan utama prajurit militer Indonesia. Persenjataan yang dipakai kala itu masih sangat sederhana. Menurutnya, senjata utama prajurit kala itu hanyalah sebuah pisau atau parang yang sangat tajam. Disamping pisau, para prajurit dibekali racun makanan yang akan digunakan untuk meracuni para musuh pada saat waktu makan tiba. Senapan api hanya dipakai oleh prajurit militer terpilih saja. Panas dingin cuaca di dalam hutan berhasil dilaluinya sampai Belanda dinyatakan pergi dari Irian Barat. Kesedihan sebagai militer pun ia curahkan saat mengenang banyaknya teman dan saudara yang gugur dalam perang. Gumuruh mesin engkol sebagai pusat kelistrikan rumah semakin menambah keseruan cerita pengalamam tugas kemiliteran Pak Dekki. Aku semakin mendekatkan tempat dudukku agar bisa mendengar suaranya lebih jelas.

 “Jadi setelah pensiun dari militer pada tahun 1988, saya tinggal di Ambon mas.” Terangnya. “Baru pada tahun 2000, saya kembali ke desa kelahiran saya, untuk tinggal sama-sama anak dan cucu mas. Rumah saya ada di Ambon.” Lanjutnya. Secangkir kopi panas yang dibuatkan oleh istri sang pemilik rumah datang menemani perbincangan kami. Bila dihitung, sebenarnya sudah hampir 20 tahun lebih sebelum pada akhirnya Pak Dekki memutuskan untuk kembali ke desa kelahirannya. Cerita perjuangannya berlanjut ketika operasi pembebasan Irian Barat selesai dan ia ditugaskan kembali untuk berjuang mempertahankan Timor Timor di kedaulatan NKRI. Ini adalah perjuangannya yang berujung pada kekecewaan terhadap pemerintah. Pada tahun 1975, dimasa itu operasi seroja dimulai. Operasi ini adalah operasi militer untuk menginvasi timor timor dengan alasan anti-kolonialisme. “Ini perang paling sedih mas.” Terangnya. “Kenapa pak?” tanyaku penasaran. “Sedih sekali mas, waktu itu kami militer harus perang sama bangsa sendiri, sama orang Indonesia. Tidak ada perbedaannya siapa yang kami perangi mas. Kulit sama, rambut sama, seng ada beda mas.” Kenangnya sambil menghisap lintingan tembakau yang melekat dijemari tangannya. “Perang lainnya kan jelas, kita lawan penjajah, kulit putih, bule, barat, tapi perang ini kita lawan saudara sendiri mas. Tidak tega sebetulnya kami mas. Tapi ini perintah, komando harus ditaati.” Lanjutnya sambil matanya memandang kosong langit-langit rumah. Aku tertegun membayangkan situasi yang terjadi saat itu. “Tapi saya kecewa sama pemerintah mas.” Keluhnya. “Kenapa pak?” tanyaku. “Akhirnya timor-timor dilepas mas.” Jawabnya. Setelah mengungkapkan rasa kecewanya itu, Pak Dekki menjadi tidak suka kepada pemimpin Negara yang berkuasa saat itu, ia bahkan mengejeknya dengan sebutan ‘Si Cebol’ untuk presiden yang memutuskan untuk memerdekakan timor-timor menjadi timorleste. Menurutnya semua perjuangan teman-teman seperjuangannya dirasa sia-sia. Tidak ada gunanya. Jika memang pada akhirnya timor-timor harus lepas dari NKRI, buat apa para prajurit harus berperang mempertahankannya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang harus mengorbankan nyawanya demi kedaulatan NKRI. Entahlah, aku tidak bisa memberikan komentar akan peristiwa tersebut.

 “Lalu bagaimana dengan kerusuhan Ambon pak?” tanyaku mencoba bertanya perihal peristiwa lain yang tergolong sebagai peristiwa kelam NKRI. Aku bertanya padanya karena pada saaat peristiwa itu terjadi, aku masih berusia 9 tahun dan kala itu aku dilarang menonton televisi oleh orang tuaku karena dinilai berita peristiwa ini sangat brutal penuh dengan kekerasan. “Peristiwa itu terjadi saat saya sudah pensiun.” Jawabnya. “Bapak tahu penyebabnya?” pertanyaanku berlanjut. “Ah, itu awalnya cuma masalah sepele mas, masalah kecil. Tapi karena disulut, dan orang ambon itu mudah emosi, serta isu sara maka terjadilah kerusuhan itu.” terangnya. “Maksudnya pak?” aku tidak mengerti dengan penjelasannya. “Jadi perisrtiwa itu awalnya bermula dari perkelahian pemuda ambon yang berkelahi dengan pemuda asal bugis yang senang mabuk-mabukan dan palak-palak orang mas. Tapi karena si pemuda Bugis ini Muslim dan pemuda Ambon ini Kristen, maka saat terjadi pemalakan dan korban tidak melayani keinginan pemalak, si pemalak kemudian mengeluarkan badig dan mengancam untuk menikam pemuda ambon itu mas. Karena diancam, si pemuda ambon kemudian lari dan pulang mengambil parang di kediamannya. Pemuda ambon tersebut kembali mendatangi pemuda bugis yang kemudian lari memasuki komplek dan ditahan oleh warga, dan saat ditanya kenapa, pemuda bugis itu berkata bahwa ia akan dibunuh oleh orang Kristen. Dari kejadian itulah akhirnya kerusuhan antar agama terjadi.” Ceritanya panjang. Peristiwa kerusuhan ini dikenal dikalangan masyarakat Ambon dengan sebutan Ambon picah. Kerusuhan kemudian bisa reda setelah adanya mediasi dari atasan militer yang turun langsung ke lapangan untuk meredakan konflik. Suasana duka sekaligus memilukan kala itu ramai diperbicangkan secara nasional. Sedih karena ini adalah perang antar satu suku bangsa yang sama-sama satu kesatuan republik Indonesia. Kenangnya. Menurut Pak Dekki juga, Peristiwa Ambon Picah ini juga bisa dikatakan sebagai peristiwa adu domba oleh ‘orang ketiga’ agar terjadi kerusuhan. Aku sendiri tidak mengerti, siapa ‘orang ketiga’ yang dimaksud oleh sang bapak.

 “Katanya disini pernah masuk jepang pak? Betulkah?” aku masih penasaran dengan cerita perjuanganya. “Betul mas. Itu setelah Belanda keluar dari pulau ini.” terangnya. “Pulau yamdena pak? Belanda masuk juga ke pulau ini pak?” tanyaku. “Belanda itu hampir masuk ke semua wilayah Indonesia mas, termasuk pulau yamdena ini. bahkan di tenggara jauh sana, masih banyak peninggalan belanda mas.” Jawabnya. “Lalu jepang?” tanyaku. “Jepang lebih banyak masuk ke pulau selaru sebentulnya mas, namun dipulau yamdena juga masuk walau cuma sedikit. Salah satu peninggalannya adalah galian batu, mobil-mobil tua jepang, serta radar yang sekarang dipakai oleh militer mas. Tapi yang jelas terlihat cuma Bandar udara yang ada di selaru.” Terangnya. “Bagaimana pada akhirnya jepang bisa keluar dari pulau ini pak?” aku makin penasaran. “Ini terjadi kala itu pemerintah membuat koalisi dengan masyarakat dan penduduk lokal untuk berperang melawan Jepang, caranya adalah bunuh perlahan pakai racun lewat makanan atau kopi yang disuguhkan saat pertemuan-pertemuan seperti ini mas.” Terangnya. Mataku kemudian melirik secangkir kopi yang tersaji dan belum sempat aku minum diatas meja di depan kami. “Kopi ini aman kan pak?” tanyaku sambil tertawa.

 Saat ini, disisa masa pensiunnya, Pak Dekki masih manantikan penggakuan atas perjuangannya membela tanah air tercinta dari pemerintah. Pemerintah dinilai masih belum memperhatikan nasib para veteran perang yang tingkat kehidupannya masih belum sejahtera. Namun penantiannya tersebut membuahkan hasil, karena tepat pada tahun 2005 dikala presiden SBY menjabat, semua veteran perang mulai mendapatkan perhatian dengan pemberian berbagai fasilitas kemiliteran. Dengan adanya fasilitas itu, dengan rasa bangga Pak Dekki mengakui bahwa dirinya layak disebut sebagai pahlawan. Dengan bangga pula ia menyebutkan bahwa tempat peristirahatan terakhirnya kelak tidak berada di pemakaman umum, melainkan pemakaman pahlawan yang ada di Ambon. Terima kasih atas jasamu membela Negara ini pak.

 Desa Lermatang, 29 Agustus 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s