Saumlaki Series; Cinta and Her Playground.

“Bet pung nama cinta” sapanya dengan senyum yang lebar.“Cinta? Betulkah?” tanyaku penasaran dengan kebenaran namanya.

lucu saja pikirku, dikebanyakan masyarakat Pulau Tanimbar, terutama desa Lermatang yang dimana mayoritas masyarakat desanya mengemban nama khas timur dimana nama marga lebih dominan, namun tidak demikian dengan anak kecil ini. Meskipun dibelakang namanya masih melekat nama marga, tetapi ia lebih suka dipanggil dengan sebutan nama depannya yang begitu cantik didengar. Cinta.

Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja ketika aku sedang berbincang dengan seorang ibu di desa lermatang. Ditengah perbincanganku dengannya, ia tampak usil dengan selalu menganggu sang ibu yang sedang aku wawancarai. Ada saja kelakuannya, mulai dari bergelantugan ditangan sang ibu, sampai mencabut ikat rambut yang sedang dipakai oleh sang ibu. Aku hanya tertawa kecil sembari terus melanjutkan sesi wawancaraku dengan wanita yang taklain adalah mama darinya.

Cinta masih berumur 6 tahun. Saat ini ia sudah masuk kelas satu sekolah dasar negeri di desa Lermatang. Ia kemudian berkata padaku bahwa ia sangat suka sekali mengemut permen. Ia murah senyum, bahkan tak ragu jika harus menyapaku terlebih dahulu saat kami bertemu. Meskipun masih duduk di kelas satu SD, kepiawaiannya dalam membaca patut diacungi jempol. Ia dapat dengan mudah membaca beberapa kata dan kalimat dengan cepat tanpa mengejanya. Tidak perlu tunggu lama saat ia aku tantang untuk membaca sebuah kata yang ada di buku catatanku. Sifatnya yang aktif membuat ia mudah dikenal oleh semua masyarakat di desa tempat ia tinggal. Bahkan sang ibupun menjulukinya ‘si nakal’ pada anak bungsunya ini. Sifat usilnya ternyata tidak hanya pada mamanya ataupun padaku saja, pada teman sebayanya pun demikian.

Suatu hari, aku kembali bertemu dengannya saat aku sedang melakukan observasi dipantai depan desa Lermatang, Pantai Kalorang. Aku dikejutkan dengan kehadirannya yang tiba-tiba naik keatas punggungku yang sedang dalam posisi jongkok mengamati aktivitas dihadapanku. Seketika tanganku spontan untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dari atas punggungku. “Cinta!! Ose seng begitu pada mas ee!” tegur sang ibu. “haha, seng apa bu” jawabku sambil berdiri dan menggendongnya. Cinta tertawa keras dan kemudian minta diturukan karena sudah ingin berlari kembali menuju pantai. Yang membuatku terharu adalah ketika ia tiba-tiba menyodorkan tangan kecilnya yang sedang mengenggam sebuah permen dengan maksud memberikannya padaku. Aku tidak kuasa untuk mengambilnya. Bukanya tidak mau, tapi karena aku yakin bahwa itu adalah permen satu-satunya yang ia miliki saat itu. “Buat ose sa sudah, beta seng suka gula-gula ee”, jawabku menolak halus pemberiannya. Ia pun langsung berlari meninggalkanku menuju pantai.

“Mas, jangan marah ee?” tanya ibunya padaku. “Aih, seng mama ee, seng apa, tenang sa.” Jawabku. “Cinta ini memang su begitu sama teman barunya. Suka seng sopan. Suka seenaknya.” Penjelasan sang ibu padaku. “Namanya juga anak kecil bu, seng apa.” Jawabku.

Ia kemudian datang lagi dan meminta izin pada sang ibu untuk bermain air laut bersama temannya. Ada ataupun tidak ada izin dari sang ibu, ia sudah berusaha untuk melepaskan semua pakaian yang sedang dipakainya. “Seng usah buka baju cinta!” instruksi sang ibu. “Su, pakai saja toh, seng perlu dibuka ee, nanti ose masuk angin, pakai sudah.” Lanjutnya. Seketika ia pun sudah berada di dalam air laut bersama dengan teman-temannya. Cinta rupanya sudah sangat mahir berenang. Beberapa kali ia mencoba menunjukan keahliannya padaku untuk berenang dengan gaya katak ataupun gaya bebas. Beberapa kali juga ia memanggil namaku dan kemudian saat pandanganku tertuju padanya, ia sudah masuk kedalam air laut menunjukan kebolehannya dalam berenang. “Su jago berenang cinta ini e?” tanyaku pada sang ibu. “Seng bisa diam dia mas, selalu ikut waktu beta pung suami cek agar. Apalagi waktu panen, seng bisa diam.” Terang sang mama padaku. “Cinta!!! Seng, seng, seng bawa adek terlalu kedalam cinta, sini bawa pinggir saja ee, adik seng bisa berenang!” teriakan sang mama kemudian meletus ketika beliau melihat cinta sedang menggendong seorang balita berenang menuju laut yang lebih dalam. Balita tersebut terlihat menangis ketakutan, sedangkan cinta hanya tertawa terbahak-bahak dan membawa kembali sang belita tersebut kedaratan.

Keceriaan cinta memang tidak terlepas dari umur yang ia miliki saat ini. Nuansa dunia penuh permainan seakan terlihat jelas dari caranya menghabiskan waktu diusianya. Tidak ada hari tanpa bermain, berlari, tertawa dan terjatuh. Semua ia lewati dengan penuh keceriaan. Keterbatasan alat permainan tidak menjadikan hari-harinya suram. Tidak ada ipad, video games, ataupun games online yang bisa ia akses dalam kesehariannya. Jangankan gadget, listrik saja dirasa masih sangat sulit didapatkan. Semua permainan yang ia mainkan betul-betul tradisional. Aku iri terhadapnya. Lingkungan bermainnya sangat indah. Pantai yang masih perawan. Hutan yang masih rimbun, serta kebun yang sangat luas benar-benar kesempurnaan yang melengkapi kesehariannya. Tidak ada polusi asap kendaraan, tidak ada pula macet jalanan yang menghabiskan banyak waktunya. Alam sungguh masih sehat dan bersahabat untuk menemaninya menghabis waktu kecilnya. Habiskan masa keceriaanmu nak, kejar mimpi-mimpimu seperti halnya kau berusaha mengejar ban motor bekas yang kau kendalikan dengan sebilah kayu sambil berlari ditepian pasir pantai.

 Desa lermatang 24 agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s