Saumlaki Series; Best Place to See a Sunset

Sore itu, adalah kali ketujuh aku mendatangi sebuah dermaga rusak yang ada tepat diujung di pasar omele. Pencarianku terhadap tempat terbaik untuk menikmati momen tenggelamnya matahari di ufuk barat masih belum selesai. Beberapa kali aku berjalan mengelilingi kota saumlaki, namun aku masih belum bisa menemukan tempat yang paling menarik untuk menikmati momen tersebut. Jika dilihat di peta, letak kota Saumlaki tepat berada ditengah teluk paling selatan pulau Yamdena. Itu berarti tidak ada tempat yang langsung menghadap laut untuk bisa menikmati tenggelamnya sang surya di kala sore hari tiba. Arah barat kota ini dibatasi oleh daratan, sehingga aku hanya bisa melihat matahari tenggelam dibalik ketinggian daratan yang menghalanginya, tidak tepat digaris horizon laut. 

Sebelum singgah ditempat ini, aku pernah mengunjungi sebuah dermaga PPI (Pelabuhan Pendaratan Ikan) milik dinas kelautan perikanan yang letaknya agak jauh terpisah dari pusat kota. Pelabuhan ini tidak terawat, bahkan aku melihatnya sebagai sebuah lokasi tak bertuan yang mulai ditinggalkan oleh para pekerja ataupun para pemilik kepentingan yang beraktivitas disana. Aku tidak tahu apa niat utama pembangunan pelabuhan ini, satu yang pasti pelabuhan penumpang lama saumlaki aku rasa lebih ramai daripada pelabuhan ini. Suasananya sepi, bangunan-bangunannya sudah mulai rusak. Aku datang hanya untuk mencari tempat terbaik untuk menikmati senja di kota ini. Penilaianku tidak bagus untuk tempat ini, sehingga aku tidak merekomendasikan tempat ini untuk mencari keindahan matahari tenggalam disaat senja.

 Aku juga pernah menyusuri perkampungan desa sifnana untuk mencari tempat yang sama. Perkampungan padat penduduk ini letaknya tepat berada dipinggir teluk, tidak jauh dari jalan raya kota. Akan tetapi tempat itupun tidak memiliki lokasi yang cocok untuk berburu sunset. Meskipun lokasinya dipinggiran pantai, namun semua tempat yang menghadap lautannya sudah tertutup oleh tembok-tembok rumah yang berdiri permanen disepanjang garis pantainya. Sulit untuk bisa masuk ke dalam bibir pantai langsung, mengingat tempat-tempat itu sudah menjadi milik pribadi yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Tidak ada sunset di lokasi ini.

 Aku sebetulnya lebih merekomendasikan jalan poros yang berada disebuah bukit di dekat tempat kediamananku untuk melihat tenggelamnya matahari di ufuk barat. Dari tempat ini kita bisa melihat laut dan juga teluk secara langsung. Hanya saja, pembangunan kebel-kabel listrik PLN seakan mengganggu pemandangan itu. bagaimana tidak, disatu titik spot yang paling bagus menurutku, banyak kabel berseliweran sehingga indahnya pemandangan tidak bisa dinikmati dengan penuh hikmad. Pun demikian dengan banyaknya kendaraan yang lalu-lalang dan tidak beraturan. Lengah sedikit, kita bisa jadi sasaran empuk para pengendara yang melaju kencang seenaknya. Lokasi taman kota juga sebetulnya bagus untuk melihat kajadian ini. Sayang, pembangunan rumah besar yang tepat menghadap kearah barat seakan menjadi penghalang untuk bisa menikmati datangnya cahaya senja yang memancar menyinari patung dimana sang proklamator berdiri.

 Tidak ada alasan lain yang membuatku tergerak untuk berburu tempat terbaik dalam menikmati senja selain rasa kagum. Ya, berulang kali aku melihat kejadian ini, berulang kali juga aku merasakan kekaguman yang luar biasa pada alam. Bagaimana tidak, meskipun sang surya hanya ada satu, namun ia selalu memberikan suasana lain yang berbeda setiap kali aku berjumpa dengannya. Rasanya tentram jika berhasil menyaksikan secara langsung bagaimana proses ia masuk keperaduannya. Jika sedang beruntung, ia akan menampilkan satu bulatan penuh berwarna orange menyala yang sempurna. Ia akan turun secara perlahan meninggalkan bumi yang selalu setia ia temani. Setelah menghilang, langit kemudian berubah warna menjadi merah, pink, bahkan menjadi jingga. Perpaduan warna mereka menjadi sangat romantis ketika warna hitam malam mulai bercampur. Putih awan seakan tidak mau kalah untuk ambil bagian dari keindahaan paduan warna tersebut. ia akan bertugas menjadi penegas diantara semua warna yang ada. Seiring berjalannya waktu, semua warna yang ada akan hilang ketika warna hitam mulai mendominasi. Terkecuali warna awan yang terus setia menemani warna hitam dan menghiasi langit malam.

 Di dermaga rusak ini, aku berhasil melihat keindahan dan kesempurnaan ciptaanNya. Aku menilai bahwa tempat ini adalah tempat yang paling romantis dan paling indah untuk memikmati senja di Kota Saumlaki. Itu mengapa, aku selalu mendatanginya dikala senja terutama saat kondisi langit sedang bersahabat. Tempat ini betul-betul unik dan artistik. Dermaga kayu yang sudah mulai termakan air laut, dengan beberapa bagiannya yang sudah rubuh justru memberikan kesan yang sangat menarik. Banyak anak muda yang sengaja datang untuk memadu kasih sambil menikmati keindahan rutin yang disuguhkan secara gratis oleh alam ini. itu yang membuatku menjadi sangat menantikan kehadirannya disetiap penghujung hari yang aku lalui. Senja kemudian menjadi penyuntik semangatku untuk melakukan beragam aktifitas dikeesokan harinya.

 Terima kasih senja, aku selalu menantikan kehadiranmu dimanapun aku berada.

 Dermaga Kayu Pasar Omele, Saumlaki 19 Agustus 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s