Saumlaki Series; Lermatang Mayor and His Matakau

Sore hari aku sengaja berkunjung ke desa lermatang untuk bertemu dengan bapak kepala desa. Niat awalku bertemu dengannya adalah untuk melakukan kordinasi terkait dengan program pemberdayaan masyarakat rumput laut yang ada di desanya. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan beliau. Beberapa kali aku berjumpa di kediaman ataupun di kebun miliknya. Seperti hari ini, aku menemui beliau di kebun miliknya yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari tempat kediamannya.Saat aku datang, pak desa masih sibuk dengan pekerjaannya. Sungkan rasanya jika aku harus mengganggu dirinya yang sedang bekerja. Aku kemudian duduk di sebuah pondokan yang mamang ia bangun sebagai tempat untuk beristirahat disela-sela pekerjaannya berkebun. Pondoknya sangat sederhana. Terbuat dari kayu dengan atap daun kelapa. Didalamnya terdapat sebuah bale-bale bambu yang nampak sudah sangat licin. Bambu yang sudah licin permukaannya menandakan bahwa bambu tersebut sudah banyak terkena sentuhan ataupun gesekan dari pengunjung yang duduk ataupun beraktivitas dipermukaannya. Informasi ini aku dapat dari seorang bapak tua yang tahun lalu aku temui di sebuah kampung nelayan daerah Pantai Ling’al, Alor. Pun demikian dengan bale-bale bambu yang ada dipondok milik pak kades itu. Sambil menunggu pak kades selesai dari aktivitas berkebunnya, aku berbicang sedikit dengan putra ketiga pak kades yang kebetulan sedang bermain di dalam pondok tersebut. Tony (14), bersama seorang temannya sedang asik memainkan sebuah permainan di handphonenya. Tempel ruun, ujarnya dengan pelafalan bahasa Indonesia.

Selang beberapa menit berlalu, kesabaranku menunggu kedatangan pak kades berakhir. aku tidak lagi sabar menunggu pak kades selesai dari pekerjaannya. Tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda gerakan pak kades mengakhiri pekerjaannya, sehingga terpaksa akupun berinisiatif menghampirinya ke kebun karena hari sudah semakin sore. Pak desa terlihat kaget saat aku temui. Bukan karena beliau tidak mengenalku, melainkan karena aku datang dengan pakaian dinas lengkap disertai celana berwarna coklat muda. Pak kades mengira bahwa aku adalah seorang Satpol PP yang datang untuk menjemputnya. Hal ini juga yang membuat pak desa tidak bergegas menemuiku ketika beliau melihatku turun dari motor biru yang aku pakai. “Beta pernah dijemput paksa sama satpol PP mas, dikira punya salah apa, eh ternyata itu perintah dari pak bupati agar saya ikut rapat.” Tegasnya.

 Akupun langsung menggelar pembicaran dengannya, tidak di pondok tempat istirahat, melainkan disebidang tanah kosong yang datar, lesehan. Kami tidak lagi mementingkan kebersihan. Duduk santai ditengah kebun lebih menyenangkan dibandingkan harus duduk diatas bele-bale pondok dengan suasana formal. Lebih bersahabat, lebih merakyat, batinku. Kamipun pun larut dalam obrolan santai ngalor-ngidul yang sangat panjang.

Suatu ketika, obrolan kami tiba pada sebuah topik tentang pencurian. Menurutnya, aksi pencurian warga terkait hasil kebun ataupun hasil produksi rumput laut sangat tinggi. Apalagi disaat musim tanam datang dan harga dipasaran sedang tinggi. Modusnya sangat sederhana, semua masyarakat ingin mendapatkan penghasilan yang lebih besar, sehingga pencurian dianggap hal yang biasa. “Suru siapa tidak dijaga baik-baik toh?” pengakuan pak kades. aku hanya tersenyum dengan informasi itu. Disaat pembicaraan mengenai pencurian itu kian seru, aku menanyakan kepadanya mengenai makna dari kata ‘matakau’ yang ditulis jelas dipapan pengumuman didepan pondok milik kepala desa. Sambil tersenyum, pak kades menjelaskan bahwa ‘matakau’ itu adalah sebuah ilmu gaib yang bertugas untuk melindungi atau menjaga barang milik seseorang. Dan jika ada orang yang berani mengambilnya, maka orang tersebut akan mati. Sontak aku kaget dengan penjelasannya itu. Dengan halus kemudian aku menanyakan kepemilikan ‘matakau’ kepada bapak kades. Iapun kemudian tertawa lebar memperlihatkan gigi hitammya. “Hahaha, itu cuma ala-ala saja mas, parlente itu, buat bikin takut orang saja toh? Banyak pencuri mas, apalagi curi-curi ayam.” Terangnya. “Kenapa ayamnya tidak dibikinkan kandang pak?” tanyaku penasaran. “Aih, beta biarkan saja diluar mas, bahaya ular toh! Kalo dikasi kandang mereka seng bebas toh? Terpenjara, kasian mas, bisa habis sudah sama ular.” Terangnya padaku. Cerita pak desa kemudian berlanjut pada kisahnya saat mengetahui bahwa ada satu ekor ayam jantan yang ia rawat tidak kembali ke rumah pondoknya. Ayam jantan itu adalah ayam kesayangan yang sengaja tidak pernah ia jual seperti ayam-ayam lainnya. Akan tetapi, suatu pagi disaat pak kades tiba di rumah kebunnya, ia tidak bisa menemukan keberadaan ayam jantannya itu di kerumunan ayam lainnya. Setelah menanti hingga sore hari tiba, sang ayampun tidak kunjung datang, sehingga beliau harus mengikhlaskan kepergiannya. “Apakah ada yang mati setelah itu pak?” Tanyaku kemudian. “Seng tahu.” Jawabnya lemas.

Berbicara mengenai ‘matakau’ kembali mengingatkanku pada kisah tentang ‘swanggi’ yang banyak beredar di masyarakat adat alor, serta kisah ‘kamolang’ yang selalu menemani setiap aktivitasku ketika aku berada di pulau wetar. Nampak ketiganya memiliki kemiripan satu-sama lain. Ketiganya sama-sama bercerita mengenai mahluk halus yang berperan untuk menjaga dan melindungi setiap pemiliknya. Namun, yang membedakan dari ketiganya adalah kegunaan dan cara pemakaiannya. Unik, dan memang inilah kekayaan budaya yang dimiliki oleh Negara Indonesia ini. Obrolan mengenai budaya ini sebetulnya tidak bisa sembarangan. Perlu pendekatan secara khusus untuk bisa menggali beragam informasi tentang keberadaannya. Oleh karena itu aku tidak melanjutkan pembicaraan mengenai topik ini.

 Obrolan dengannya berakhir karena hari sudah semakin larut. Matahari sudah berada tepat dipangkuannya. Nyanyian binatang malam sudah mulai berdatangan. Istri pak kades pun sudah berdiri sigap disamping motor miliknya, itu menandakan bahwa ia sudah siap untuk membawa pak kades pulang. Akupun kemudian pamit dan kembali ke kota saumlaki.

Lermatang, 13 Agustus 2016

Advertisements

One thought on “Saumlaki Series; Lermatang Mayor and His Matakau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s