Saumlaki Series; Beach And Our Soccer

Bola dan Pantai
Dengan semangat mereka semua berlarian kesana kemari. Panasnya cuaca pantai saat itu tidak menyurutkan mereka untuk mencoba menjebol gawang lawan di depannya. Bola yang mereka tendang beberapa kali meleset dari sasaran karena kencangnya hembusan angin pantai. Teriakan seorang anak yang mengeluh karena tidak mendapatkan kesempatan menendang si benda bundar itu terdengar sangat jelas ditelingaku. “Oper par beta! Aaahh” Keluhnya. Semua tertawa sambil kembali ke posisinya masing-masing. Aku saat itu datang ke desa hanya untuk melakukan silaturahmi dengan masyarakat disana. Pendekatan dengan mereka terus aku lakukan tak lain agar aku dapat diterima dengan baik oleh mereka.

Pak Yaya (29) menjadi orang pertama yang aku temui saat aku baru saja tiba di desa itu. Tidak banyak yang kami perbincangkan mengenai program, bosan rasanya jika setiap hari harus membicarakan satu topik yang terus berulang. Aku sedang tidak memiliki bahasan mengenai topik itu, sehingga aku kemudian mencari kegiatan lain namun tetap tidak keluar dari jalur program yang aku bawa. Motor biru yang aku pakai aku simpan tepat di depan sebuah bangunan beton sisa-sisa peninggalan desalinasi air laut. Menurut Marcus (33), bangunan itu merupakan bantuan dari dinas perbatasan, namun karena rusak maka dialihfungsikan menjadi sebuah rumah. Pak Yaya (29) kemudian menemaniku berjalan keliling desa.

Cuaca panas tidak menjadi persoalan untukku. Keceriaan adik-adik yang sedang bermain bola di pantai seketika langsung mengalihkan seluruh perhatianku. Obrolanku dengan Pak Yaya seketika langsung buyar. Aku sudah tidak fokus lagi dengan semua percakapannya. Dan tanpa mengurangi rasa hormat, aku pamit mundur kepadanya seraya memberitahukan keinginanku untuk bermain bola bersama adik-adik kecil di pantai.

“Aih, seru juga main bola yah pak?” pamit halus caraku seketika terucap. “Ikut saja mas.” Sarannya. “Sebentarlah pak, santai-santai dulu.” Candaku yang langsung berjalan menghampiri lokasi tempat adik-adik bermain. “Hey, Mas ingin ikut main, ajak sudah!” teriak pak Yaya mewakili permintaanku. “Ayooo maaass!” semua berteriak menandakan persetujuan atas keikutsertaanku. “Mas main disana, tim sana.” Tunjuk seorang remaja yang paling tua usianya. “Sip, siapa sa tim beta nih?” tanyaku pada mereka. “Main dulu sudah mas, nanti tau tim toh.” Intruksinya yang membuatku bingung. Dalam situasi seperti ini, mengetahui secara langsung siapa saja yang masuk dalam tim tidaklah begitu penting. Ini akan menghancurkan skema permainan yang sudah berjalan jauh sebelum kehadiranku. Oleh karena itu, aku langsung saja ambil bagian pada bagian yang sudah ditunjukan, dimana aku harus mempertahankannya dan kemana aku harus menyerang gawang lawan. Urusan siapa saja yang masuk tim, aku akan mengetahuinya nanti, sendiri. Aku lalu menyimpan semua peralatan yang aku bawa dipinggir lapangan, setelah melepas sandal, aku langsung berlarian kearah dimana bola berada.

Jika air sedang meti (keadaan dimana air laut sedang surut), pantai di desa ini sangat cocok untuk dipakai beragam aktivitas, tak terkecuali bermain bola. Pasir pantai yang putih dan juga halus membuatnya enak untuk diinjak. Namun, aktivitas penambangan pasir guna keperluan proyek pembuatan jalan lintas desa dirasa cukup merusak lingkungan yang ada. Dulop (43) pernah mengeluh perihal aktivitas penambangan tersebut. menurutnya, jika pasir terus-terusan diangkut, pantai akan terkikis sehingga akan menimbulkan abrasi. Namun, perkataan itu tidak sesuai dengan tindakannya yang ternyata juga melakukan hal serupa. “Bagaimana lagi mas, sedang tidak ada pekerjaan, jadi apapun kerja diambil toh?” pengakuan jujurnya padaku sambil mengerutkan wajah sepuhnya. Aku hanya tersenyum mendengar keluhannya.

“Tendang mas, ayoo serang!” instruksi seorang bocah bernama Willy padaku. Bola plastik yang aku tendang itu tidak sanggup untuk melawan kencangnya angin pantai yang berhembus menghadangnya. Tembakan bola menjadi sangat tidak akurat. Malambung tinggi mengarah ke air laut. “Korner korner.” Teriakan Eddo dengan lantang. “Seng, seng ada yang kena toh? Seng korner, seng!” Martin tidak terima keputusan sepihak dari Eddo. “hahaha, su lanjut sudah, tendang tooh.” Sanggahku sambil tertawa dan kembali berlari kecil menuju posisi bertahan. Keringat mulai bercucuran ditubuhku. Aku tidak membawa pakaian lain karena memang aktivitas ini tidak masuk dalam rencana kunjunganku saat itu. membuka baju menjadi pilihan satu-satunya yang aku lakukan. Telanjang dada, pikirku. Panasnya sengatan matahari tidak aku persoalkan. Aku tidak peduli lagi jika kemudian tubuhku harus terbakar oleh sengatannya. Yang penting aku bisa mengenal dan berinteraksi dengan seluruh masyarakat di desa ini, tidak peduli anak-anak sekalipun. Bahagia.

Satu jam bermain sangat menguras semua simpanan tenagaku. Belum lagi panasnya matahari yang berhasil membuat tenggorokanku kering. Aku berjalan lemas menuju pinggir lapangan dan meminta seorang bocah untuk menggantikan posisiku. “Adik, kau main sudah! Beta su lemas. Panas!” pintaku yang kemudian duduk lemas dibagian teduh dipinggir lapangan sambil menjolorkan kaki. “Cape mas? Ayo lanjut lagi tooh?” teriakan Oddy yang membuat aku malu. Bagaimana tidak, mereka yang sudah berlarian sebelum aku tiba masih saja menyimpan banyak tenaga untuk bermain. Sedangkan aku, sudah lemas dan tidak berdaya disamping lapangan. “Su lanjut sudah, beta su lelah, lanjut sudah!” teriakanku menyemangati mereka yang masih mencari-cari kedatangan bola.

Beberapa menit setelah aku duduk, merakapun satu persatu kemudian mengikutiku duduk dipinggir lapangan. “Sudah sudah, sudah lelah beta, main bolanya sudah ee.” Intruksi willy pada seluruh teman-temannya yang sudah bermandikan keringat. Aku melihat jam, rupanya sudah jam 16.00 WIT. Lumayan lama juga kami bermain. Pantas jika semua sudah terlihat lelah. “Ayo ke laut kita!” ajakku. “Mandi mas?” tanyanya willy. “Pakai sampan sa eee, liat rumput laut kita, bisa kahseng?” pintaku. “ayoo mas, ayoo, pakai sampan itu tuh!” jawabnya sambil menunjuk sebuah sampan yang bersandar manis dipinggir pantai. “Sebentar, beta ambil dayung dulu ee.” Pinta Eddo yang langsung berlari ke rumahnya untuk mengambil dayung. “Mas tau berenang kaseng?” tanya Martin. “Aiih, beta seng tau brenang, jangan kau tenggelam-tenggelamkan beta nanti ee!” jawabku berbohong. “Aman mas, mas duduk sa di tengah ee.” Pintanya sambil mendorong sampan keluar dari pantai.

Mereka berempat kemudian mengantarkanku menuju sebuah bentangan tali rumput laut. Namun karena memang masa tanam masih belum datang, otomatis setiap bantangan tali yang ada di lautan tersebut kosong. Para pembudidaya rumput laut yang ada sampai saat ini masih menunggu ketersediaan bibit di pasaran. Aku hanya tersenyum kecewa, karena kami tidak bisa melihat bentangan lain yang lokasinya lebih jauh akibat sampan yang kami pakai terlalu kecil untuk pergi ke tengah laut yang lebih dalam. Kamipun kembali kedaratan setelah semua tenaga yang tersisa habis. Semoga secepatnya bibit-bibit itu bisa tersedia, doaku.

Desa Lermatang, 10 Agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s