Me And Her Favorite Ice Coffee.

Dia hanya tersenyum ketika aku menyodorkan sebuah botol minum yang hanya terisi setengahnya. “Apa ini?”, tanyanya dengan paras penuh penasaran. “Coba aja”, jawabku sambil merekahkan mulut lebar-lebar. Dia tidak langsung memimumnya melaikan hanya menciumi aroma yang keluar dari atas mulut botol yang telah ia buka. “Wangiiii, Suka banget sama wanginya”, celotehnya seketika setelah aroma minuman yang masih dingin itu terhirup oleh indra penciumannya. “Aku cicip ya?”, pintanya. Aku langsung mengangguk kecil dengan wajah senang. Sengaja, aku tidak memberi jawaban saat ia bertanya soal jenis kopi yang aku buatkan untuknya. Aku membiarkannya untuk mencicipinya terlebih dahulu sebelum aku menjelaskan perihal biji kopi yang aku buatkan untuknya.Wajahnya manis, gerak tubuhnya yang pemalu namun sangat feminim itu mampu membuatku nyaman untuk selalu berada didekatnya. Aktifitas kantor yang padat dalam kesehariannya tidak membuatnya tampak lesu. Ia akan maluangkan waktu sibuknya setiap kali aku mengajaknya bertemu. Sudah hampir lima tahun ia tinggal dan melanjutkan hidupnya di Jakarta. Itu karena mamang setelah lulus kuliah, ia langsung mendapatkan pekerjaan di kota tersebut. Pertemuan pertamaku dengannya adalah pada saat kami sama-sama sedang menimba ilmu disalah satu perguruan tinggi di kota Bandung. Sejak saat itu, persahabatan kami resmi dimulai.

Unit Kegiatan Mahasiswa Listra, sebuah organisasi kemahasiswaan yang bergerak dalam seni tradisional-lah yang membuat kami semakin sering bertemu. Sebagaimana layaknya anggota aktif organisasi, kami berdua bersama dengan anggota lainya saling bekerjasama dalam membangun unit kegiatan tersebut untuk bisa terus eksis ditengah menurunnya jumlah keanggotaan. Aku masih ingat, saat itu, anggota UKM seangkatanku hanya cukup untuk satu team formasi alat musik tradisional yang hanya ditambah beberapa penari saja. Sampai-sampai jika mendapatkan undangan untuk mengisi acara rutin di wisuda, kami harus bersusah payah mengajak teman lain diluar UKM untuk bisa ikut bergabung dengan team yang ada.

“Ini kopi apa sih?, tanyanya penuh penasaran. “Gimana?, suka?, tanyaku. “Iii, serius deh ini kopi apa?”, rasa penasarannya untuk segera mengetahui jenis kopi yang aku seduhkan untuknya membuatku terasa ingin berlama-lama memberikan jawaban untuknya. Senyumku semakin lebar melihat raut wajahnya yang kemudian tampak lesu karena terus menunggu jawaban dariku.

Keseharianku diluar UKM yang semakin padat membuat kami pada akhirnya menjadi semakin jarang bertemu. Terlebih perbedaan fakultas dan jadwal kuliah juga menjadi sebab utama jarangnya pertemuan kami. Namun, entah mengapa rasanya kami berdua selalu berusaha meluangkan waktu luang hanya untuk mengikuti jadwal latihan UKM tersebut, dan jika memang tidak bisa ikut latihan, minimal kami akan datang untuk sekedar menyapa teman-teman yang sedang berlatih.

Suatu hari, Listra berencana untuk menyelanggarakan sebuah pagelaran seni budaya di gedung serba guna kampus. Acara ini sebetulnya sudah direncanakan sejak lama, namun katerbatasan dana membuat acara tersebut selalu mundur dari tanggal yang telah ditentukan. Tetapi untuk tahun ini, seluruh anggota yang hadir dalam rapat pembentukan panitia semua sepakat untuk memperjuangkan kelangsungan acara tersebut. Dia dipercaya memegang peran sebagai ketua panitia, dan aku mendampinginya sebagai wakil ketua saat itu. Acara itu yang membuat aku pada akhirnya lebih sering bertemu untuk membicarakan keberlangsungan acara.

“Cari makan yuk?, laper nih.” Ajakku sore itu. “Kita makan dimana?” tanyanya. “Ada ide?” sanggahku kembali bertanya. “Ada tempat hits nih, sini deh, kopinya aku simpen dulu gak apa-apa kan?”, pintanya. “Yaudah, kemana kita?” sambungku. “Ih, kamu belum kasih tahu aku itu kopi apa! Yuk!”, Dia merangkul pundakku dan mengajakku pergi menuju salah satu tempat baru yang ia ketahui.

Hampir setiap topik obrolanku dengannya tidak pernah membosankan. Mulai dari topik ringan sampai topik yang berat bisa kami bicarakan sampai kami berdua tidak ingat akan waktu. Aku selalu senang saat melihat ekspresi wajah antusiasnya pada saat mencoba mempertahankan sebuah argumen. Walaupun raut wajah itu akan tampak lesu jika argumen yang dipertahankannya ternyata salah. “Gak gitu tahu!, itu Tina mau bantu bikin desain backdrop, tapi bisa gak yah nanti diperbesar?”, tanyanya padaku ketika ia sedang kebingunggan perihal dekorasi panggung disaat waktu acara acara sudah mulai mendekat. “Bisa, mana sini aku garap.” Tawaranku. “Serius kamu bisa?, nanti aku suru Tina buat kontak kamu, bener bisa nih Baw?” tanyanya padaku.”Bisa, Insyaallah.” Jawabku.

“Baw”, aku kadang tersenyum dengan kata yang satu ini. Aku tidak tidak tahu kapan mulanya kami berdua mulai menggunakan kata ini setiap kali kami memanggil satu sama lain. Kata ini seakan memiliki kekuatan lain yang pada akhirnya membuat kami semakin dekat. Kata ini menjadi sangat sakral disaat kami bertemu atau saling menyapa satu sama lain. Tidak lengkap rasanya jika bertemu namun tidak mengeluarkan kata ini. BAW!

“Tempat apa sih?”, tanyaku padanya yang terlihat kebingungan saat berusaha menemukan tempat yang akan kami tuju. “Perasaan disini deh Baw, tempatnya! Kok gak ada yah?”, keluhnya. “Memangnya tempat apa sih?” tanyaku. “Bentar, sini deh, pasti ada disekitar sini.” Ucapnya penuh keyakinan. Aku hanya membutuntutinya dari belakang. “Naaaahhh kaan, aku bilang juga disini”, senyum sumringahnya terpacar dari raut mukanya yang nampak begitu bersemangat. Tempat itu adalah sebuah kedai pudding khas jepang yang menjual beragam menu cemilan manis sebagai sajian utamanya. Dia memesan satu porsi menu ice cream yang disajikan disebuah mangkuk kecil berwarna hijau tosca. Aku sendiri pada akhirnya memesan satu porsi ice mochi yang menurut kedai ini merupakan menu andalan yang banyak dipesan oleh konsumen. Setelah pesanan kami datang, ia kembali mengeluarkan botol berisi kopi yang ada di dalam tasnya. “Campur ice cream enak nih kayanya?”. “Wohoo, jadi affogato?” tanyaku. “Iyah, Afigatto, enak kayanya Baw, aku tuang yah?” pintanya. “Cobainlah.” Jawabku. Ia-pun kemudian menuangkan sisa kopi yang masih ada di botol tersebut sampai semua isinya kosong. “Tuhkaan enaakk!” terangnya dengan wajah yang sangat sumrigah.

“Dengan berakhirnya penampilan tersebut maka berakhir pula seluruh rangkaian acara Wajah Nusantara. Terima kasih kepada para hadirin yang telah datang dan menyaksikan penampilan dari kami, sampai jumpa di kesempatan yang akan datang.” MC menutup semua rangkaian acara yang kami buat. Di samping panggung ia telihat lega, semua perjuanganya dalam menyusun acara tidak sia-sia. Peluh resahnya terbayarkan oleh hasil acara yang sangat berkesan dan sukses. Semua penonton yang hadir memberikan standing applause dari tempat duduknya masing-masing. Wajah tegangnya kemudian berubah menjadi senyum bahagia yang begitu manis terlihat. Dari kursi penonton tatapan mataku langsung tertuju padanya. Semua teman wanitanya kemudian datang menghampirinya, berbagi pelukan pertanda ucapan selamat untuknya. Aku belum berani mendekat. Ucapan syukur bahagia terucap dalam hatiku. Aku yang sedang membereskan beberapa property sehabis acara selesai dikagetkan dengan teriakannya dijauhan. Ia pun datang menghampiriku dan langsung memeluku. Berterima kasih karena atas bantuanku juga acara ini bisa terselanggara dengan sukses. “Sukses baw, Puas, Senang banget deh rasanya.” Ucapannya saat itu.

Lama tidak saling bertukar kabar, aku kemudian dikejutkan oleh satu berita dari seorang teman yang berkata bahwa dia sedang tertimpa musibah. Berita itu adalah berita kecelakaan mobil travel di jalan toll cipularang. Rasa panikku keketika muncul. Aku langsung mengambil telepon ganggamku dan kemudian mencari namanya lalu memanggilnya. “Tuuuut… tuuuuttt..” dua kali nada panggilan masuk kudengar, dinada ketiga panggilanku dijawab olehnya. “Kenapa baw?” tanya heran seakan ia sedang tidak dalam suasana duka. “Baw, Dimana? Gimana kondisinya? Bener? Baw! Baw!” nada panik yang keluar dari mulutku masih belum bisa membuatnya berterus terang. Susana dibalik telepon hening sejenak. Tidak ada ucapan apapun dibalik gagang telepon yang tersambung itu. “Baw!! Bener? Kamu dimana sekarang?”, nada suaraku mulai meninggi meminta jawaban secepatnya atas kepanikanku. “Bawwww…. Iya…”, tiba-tiba ia bersuara, nadanya suaranya menurun diiringi dengan tangisan sedih dan membuat seluruh tubuhku bergetar. Aku berusaha membuatnya tetap tenang, namun tangisannya justru malah semakin menjadi-jadi. “Kamu dimana sekarang? Di Rumah sakit mana? Aku kesana!”, pintaku dengan seketika. “Sekarang di puskesmas daerah Purwakarta, kamu gak perlu kesini, papah lagi di perjalanan mau kesini.” Nada ucapannya masih berat dan tersedu-sedu. “Serius?” tanyaku. “Tapi kondisimu gimana?”, Aku melanjutkan pertanyaanku. “Ini baru dikasi pertolongan pertama dari puskesmas, tunggu papah jemput baru ke rumah sakit Bandung aja.” Jawabnya masih dengan suara yang berat dan terputus-putus. “Yaudah kalo papah udah dalam perjalanan jemput, aku tunggu kamu di Bandung, sekarang kamu tenangin diri kamu dulu, tarik nafas dalem-dalem, keluarin pelan dari mulut, yang kuat yaahh.” Pintaku sebelum aku tutup sambungan teleponku dengannya. Seluruh kepanikanku berubah ketika ia sudah menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit terbaik di kota Bandung. Beberapa hari pasca operasi, aku berkunjung ke kediamannya. Tidak lupa meminta maaf karena aku tidak sempat menjenguknya saat masih di rumah sakit.

“Baw, mau coba gak?, enak loh!” tanyanya padaku sambil menyodorkan sesendok ice cream rasa greentea yang sudah bercampur dengan seduhan kopi yang aku beri. “Mana?” jawabku sambil membuka mulut lebar-lebar. Sendok berisi ice cream itupun mendarat halus tepat di mulutku. Aku langsung menyambar habis ice cream yang diangkutnya. “Eemm, not bad, manisnya jadi pas.” Komentarku. “Makasih banyak loh bilang aku manis.” Celotehnya. “Hahahaha.” Aku tertawa mendengar celotehannya itu. Mamang.

“Eh baw, jadi ini kopi apa?” tanyanya masih penuh dengan rasa penasaran. “Gimana kesan saat pertama kali minum? Ada rasa apa di mulut?” aku balik bertanya padanya. Dia kemudian termenung, sambil sesekali kembali mengambil sesendok kopi yang sudah tercampur dengan manisnya ice cream. “Atulah, aku-kan penikmat kopi ih, bukan pencinta kopi.” Raut wajah manjanya muncul saat merengek meminta penjelasan tentang kopi yang aku buatkan untuknya. Semakin meminta justru aku semakin senang, karena saat itu aku bisa melihat langsung wajah manisnya tepat didepan mataku. “Jadi ini Malabar natural yang aku coldbrew pake aquadriper, enak gak? Brewtime-nya sekitar 8 jam.” Jawabku. “Hah? 8 jam?” tanya dengan muka penuh heran. “Iya, 8 jam aku brew pakai air dingin, gimana?” aku kembali bertanya padanya. “Enak, karena aku suka banget ice coffee. Enak banget, paitnya pass.” Terangnya. “Terus-terus, apalagi?” tanyaku kembali. “hehehe.” Ia hanya tersenyum lebar menandakan bahwa sudah tidak ada lagi jawaban yang muncul dari mulutnya. Kamipun tertawa lepas bersama.

Hari itu, adalah hari dimana untuk kesekian kalinya aku kembali mengajaknya bermain. Hanya berdua. Dia pulang dari Jakarta untuk berlibur di Bandung. Aktifitas menghabiskan waktu besamanya menjadi moment yang paling aku nantikan. Berbagai macam alasan bisa aku munculkan hanya sekedar untuk bisa jalan ataupun bertemu berdua dengannya. Rasanya, menghabiskan waktu dengannya membuat seluruh hati dan pikiranku menjadi lebih bahagia. Persahabatan yang aku jalin lebih dari tujuh tahun itu mulai berubah menjadi rasa sayang untuk takut kehilanganya. Dan rasa itu terus ada dan semakin bermekaran hingga sekarang.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s