Saumlaki Series; Society And Their Aid’s

Masyarakat dan bantuan

Perkenalanku dengan masyarakat desa yang akan aku dampingi rasanya tidak mendapatkan masalah yang berarti. Sebagai pendatang baru disebuah desa yang memiliki kultur dan budaya yang berbeda, diterima dengan baik merupakan suatu pengalaman yang tidak ternilai buatku. Aku datang dengan mambawa kental unsur peranakan sunda. Aku lahir di tanah Jawa, dan harus beradaptasi dengan masyarakat di timur Indonesia. Dari segi budaya perbedaannya sudah sangat mencolok. Sebagai contoh, dalam hal penyebutan nama misalnya, jika di jawa sangat lumrah pemanggilan dengan nama lengkap, di Indonesia bagian timur ini tidak. Kita akan dianggap menantangnya jika kita memanggil nama mereka secara lengkap, apalagi dengan nama panjang mereka, bisa rumyam urusan. Disisi lain, jika dilihat dari budaya persahabatan, penilaianku terhadap hal itu sangatlah positif. Mereka sangat menjungjung tinggi nilai pertemanan dan persahabatan. Bisa dikatakan jika kita sudah bisa mengambil hati mereka, mereka akan memperlakukan kita selayaknya saudara kandung mereka sendiri. Loyal.

Jumlah kunjunganku ke desa ini belum genap satu bulan. Namun aku tidak pernah kehabisan teman untuk berbincang dan mengumpulkan informasi yang aku perlukan. Setiap kali datang, selalu saja aja bapak ataupun anak muda yang menemaniku duduk dan berbincang sampai larut, pun demikian dengan ibu-ibu dan anak-anaknya. Banyak hal yang biasanya kami perbincangkan. Akan tetapi karena tujuan utamaku adalah belajar mengenai rumput laut, maka disaat topik sudah melebar jauh, aku selalu berusaha untuk mengarahkannya kembali ke topik utama. Kali ini aku coba untuk menggali beragam informasi mengenai bantuan yang pernah masuk ke desa ini.

Desa Lermatang memang sudah sangat terkenal di seantero Pulau Yemdena sebagai desa penerima banyak bantuan. Bukan saja bantuan ilmu pengetahuan, namun bantuan berupa uang tunai untuk pembangunan desa sampai alat kerja dan lain sebagainya banyak masuk ke desa ini. Terlebih, aktivitas penduduknya yang banyak bergantung pada alam, membuat kondisi di desa ini banyak dilirik oleh para pemberi bantuan. Letaknya yang mudah diakses dari pelabuhan utama membuat desa ini banyak dimasuki oleh lembaga pemberi bantuan baik lokal ataupun internasional. Secara umum, pekerjaan utama penduduk desa ini adalah petani dan nelayan. Jumlah penduduk yang sudah mencapai lebih dari 1000 jiwa membuat desa ini sudah bukan lagi sebagai desa kecil yang mesti dibantu. Dengan tingkat pendidikan terendah sekolah menegah atas, pembangunan di desa ini seharusnya sudah bisa mandiri dan tidak lagi bergantung pada bala bantuan. Bahkan, informasi yang aku peroleh dari kepala desa, beberapa anak muda desa lermatang sudah banyak yang kuliah di perguruan-perguruan tinggi ternama di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah ITB Bandung dan Unpati Ambon.

Perjuangan orang tua mereka untuk membiayai anak-anaknya kuliah tidak terlepas dari hasil budidaya rumput laut yang sampai sekarang masih terus berlangsung. Meskipun harga jual sempat anjlok, namun beberapa dari pembudidaya yang ada masih bertahan dengan beragam alasan. Salah satu alasannya adalah faktor kemudahan dalam menaman rumput laut dibandingkan dengan pergi melaut mencari ikan. Hal inilah yang pada akhirnya banyak dilirik oleh lembaga-lembaga pemberi bantuan untuk masuk menyalurkan bantuannya kepada masyarakat desa. Jika dihitung dari nilai investasi awal dalam budidaya rumput laut sebetulnya sangat mahal sekali harganya. Meskipun harga bibit bisa dibilang tanpa biaya, namun harga alat yang harus dimiliki oleh pembudidaya rumput laut cukup mengejutkan. Berdasarkan penuturan singkat dari bapak Anok (43), Untuk ukuran wilayah timur, harga satu roll tali tambang ukuran 5 milimeter yang dibanrol seharga Rp 100.000/100 meter dinilai sangatlah murah. Tali ini biasanya memiliki umur pakai sampai dengan satu tahun pemakaian. Namun, apabila arus terlalu besar maka umur pakainya hanya bisa bertahan sampai 3 kali panen saja. Ohya, biasanya dari mulai persiapan bibit sampai dengan masa panen membutuhkan setidaknya 2,5 bulan, atau 65 hari kerja. Belum lagi harga pelampung yang bisa mencapai Rp 400.000/buah dan biasanya mereka membutuhkan sebanyak 12 buah untuk satu rak lahan yang mereka buat. Jika ditotalkan, setidaknya mereka membutuhkan biaya investasi awal yang mencapai Rp 10.000.000 lebih untuk mengelola lahan rumput laut sebesar 100 meter persegi. Uang sebanyak itu dinilai sangat mahal bagi sebagian pembudidaya rumput laut di desa lermatang. Akan tetapi, jika dilihat dari segi pendapatan, rasanya nilai investasi awal itu sangatlah jauh dari jumlah yang diperoleh dalam setiap kali musim panen tiba. Kembali ke perhitungan kasar, dalam satukali panen selama 65 hari, mereka biasanya mendapatkan berat bersih rumput laut kering sebanyak 6-7 karung ukuran 120 kilogram. 120 kilogram itu biasanya didapat dari 2 bentangan rumput laut dengan panjang masing-masing 50 meter. Rata-rata pembudidaya biasanya mengelola paling sedikit 30-60 bentangan. Itu berarti jumlah dalam satu kali panen seharusnya bisa mendapatkan sampai dengan 3.600 kilogram rumput laut kering dan setara dengan nilai Rp 21.600.000 per satukali panen. Biaya itu sudah mampu untuk mengembalikan modal awal yang dikeluarkan dan masa pakai alat yang masih layak sampai dengan beberapa tahun mendatang. Menguntungkan bukan?

Namun pada kenyataannya, nilai rupiah yang besar itu masih membuat masyarakat desa tetap berada di bawah garis kemiskinan. Pendapatan mereka yang terbilang sangat besar itu tidak dikelola dengan baik. Selain itu, banyak pemberi bantuan yang masuk hanya sebatas memberi mereka alat-alat kerja tanpa dilengkapi dengan pemberian pelatihan untuk meningkatkan kapasitas menejemen tata kelola budidaya rumput laut secara menyeluruh. Kalaupun ada, sifatnya hanya sementara. Para penyuluh yang didatangkan oleh lembaga-lembaga pemberi bantuan biasanya hanya datang sesekali sesuai dengan target kerja yang dibawa oleh masing-masing lembaga. Belum lagi karakter masyarakat yang dinilai keras dan sulit menerima masukan membuat banyak program pendampingan berakhir pada kegagalan. Pelatihan-pelatihan yang sudah dilakukan hanya sebatas pengetahuan yang tidak mereka kembangkan. Setelah program berakhir, mereka akan kembali pada kebiasaan budidaya tradisional mereka masing-masing. Menurutnya, kebiasaan tata kelola budidaya secara tradisional lebih mudah untuk dijalakan.

Aku heran dengan pengakuan masyarakat desa yang menilai bahwa kerja secara berkelompok justru dinilai merugikan. Alasannya adalah kebiasaan masyarakat lokal yang lebih senang bekerja seorang diri dalam beragam hal yang mereka kerjakan. Gotong royong guna meminimalisasi beban kerja tidak ada dalam kamus meraka. Kebanggaan membiayai keluarga seorang diri lebih mereka utamakan walaupun hasil yang dicapai kurang maksimal. Aku semakin heran karena hasil budidaya rumput laut yang mereka kelola kurang lebih sudah 10 tahun ini tidak memberikan hasil yang nyata. Mereka masih masuk dalam katagori kalangan miskin kebawah dan selalu masuk dalam daftar penerima bantuan. Pikiran sinisku kemudian tertuju pada pola perilaku masyarakat yang akhirnya muncul setiap kali bala bantuan datang ke desa ini. Aku berpendapat bahwa banyaknya bantuan yang masuk justru semakin melemahkan kemampuan masyarakat desa untuk menjadi mandiri. Entahlah, itu hanya pendapatku saja. Perlu waktu yang sangat lama untuk memverifikasinya sehingga benar-benar menghasilkan fakta daya yang sebenarnya terjadi.

Angin kencang dari arah laut terus berhembus disaat aku berbincang dengan masyarakat desa. Awan gelap mulai terlihat, namun hujan tidak kunjung datang. Lawan bicaraku sudah banyak yang silih berganti. Arah pembicaraan semakin meluas. Gorengan buah sukun dan pisang mulai datang menghampiriku. Kopi panas menyusul kemudian. Seorang ibu kemudian memaksaku untuk mencicipi masakannya. Perut kosong ini langsung bereaksi positif. Tangan lapar ini seketika langsung menyambar sepotong gorengan yang terlihat mengkilap diatas piring putih berlogokan bunga mawar. Aku senang berada di desa ini.

Desa Lermatang, 06 Agustus 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s