Saumlaki Series; The Circle Of Germ Seaweeds In Yamdena Island

Lingkaran Bibit Rumput Laut Pulau Yamdena.

Mempelajari soal rumput laut adalah hal yang benar-benar baru untukku. Terlebih aku memang tidak memiliki pengetahuan dasar mengenai tanaman ini. Aku sendiri lulus dari fakultas teknik industri, dimana semua mata kuliah yang aku ambil tidak ada hubungannya dengan tanaman jenis ini. Meskipun google telah menyediakan dengan lengkap semua informasinya, namun tetap saja aku belum mampu membayangkan bagaimana tanaman ini bisa tumbuh subur sampai dijual bahkan di eksport ke seluruh dunia.

Pertama kali aku melihat rumput laut taklain adalah pada saat dimana para pedagang es rumput laut pada tahun 2000-an sempat menjamur. aku masih sekolah dasar saat itu. Aku ingat bahwa tetanggaku yang sudah bekerja memiliki usaha es rumput laut, dan aku selalu menjadi langganan tetapnya kala itu. Aku senang dengan potongannya yang renyah ditaambah sedikit sirup dan susu. Menyegarkan. Apalagi saat bulan puasa tiba, es rumput laut ini sudah menjadi menu andalanku saat waktu buka tiba.

Aku kembali diperkenalkan dengan rumput laut mungkin saat makanan asal jepang mulai merebak di kota kelahiranku dan menjadi makanan yang banyak dicari orang. Dahulu, makanan jenis ini sangat mahal harganya, namun lambat laun seiring berjalannya waktu, mulailah bermunculan penjual-penjual sushi minimalis yang menawarkan harga yang lebih ekonomis. Namun tetap saja, karena mungkin lidahku ini adalah lidah kampung, maka sampai saat ini pun aku selalu menolak jika diajak atau bahkan ditraktir makanan jenis itu. Alasannya sederhana : tidak doyan.

Tahun lalu, diakhir tahun 2015, untuk pertama kalinya aku berkenalan secara langsung dengan tanaman laut kaya manfaat ini. Aku mengenalnya di Pulau Luang, Maluku Barat Daya. Saat itu aku berkesempatan mengunjungi pulau ini disela-sela musim baratan akan segera datang. Perlu diketahui, untuk bisa masuk ke pulau kecil ini, diperlukan keberanian cukup ekstra karena saat musim tertentu gelombang lautnya cukup menakutkan. aku pernah menceritakan bagaimana kondisi Pulau Luang ini di artikel perjalannku terdahulu. Di Pulau ini, aku pertama kali menyentuh Rumput laut yang masih berupa bibit yang akan ditaman dilautan. Beberapa pekerja sedang mengikat potongan-potongan kecil bibit rumput laut itu diseutas tali yang panjangnya bisa mencapai 100 meter. long line mereka sebut. Rasa penasaranku kemudian membuatku datang menghampiri para pekerja tersebut untuk sekedar berbasa-basi. Pulau Luang sendiri masuk dalam daftar penghasil rumput laut terbesar di provinsi Maluku. Jumlah produksinya mampu mengangkat kabupaten Malaku Barat Daya menempati posisi 3 besar dalam jumlah produksi tertinggi se-provinsi Maluku. Padahal, luas pulau ini sangat kecil dan masuk dalam daftar 93 Pulau-Pulau Kecil Indonesia. Besarnya jumlah produksi Rumput Laut di pulau ini membuat tak ada satupun lahan yang tidak dihuni oleh rumput laut. Kecuali di atas bukit, daerah yang dekat dengan tempat budidaya rumput laut dipulau ini pasti sudah terisi dengan mereka yang sedang dijemur ataupun baru akan ditanam. Menurut pengakuan seorang petani budidaya, semenjak pertama kali rumput laut dibudidaya dipulau ini, sekitar tahun 2006, tingkat ekonomi masyarakat semakin membaik sehingga rumput laut perlahan mulai menjadi mata pencaharian utama yang terus ditekuni oleh masyarakat di desa tersebut. luar biasa.

Awal tahun 2016, aku kembali mendapatkan tantangan baru untuk mendampingi sebuah desa pembudidaya rumput laut yang sedang melesu. Program ini berdurasi sekitar enam bulan, dimana aku akan secara internsif mendampingi mereka untuk kembali memiliki kayakinan dalam membudidayakan rumput laut. Desa dampinganku kali ini adalah desa dipesisir barat Pulau Yamdena, lokasi tepatnya masih belum final, karena aku kembali harus melakukan penilaian terhadap beberapa desa yang akan dijadikan sebagai pilot project-ku tersebut. Jika berhasil, nantinya desa dampinganku ini akan menjadi desa percontohan bagi desa-desa lain yang ada di Pulau Yamdena. Setelah berbagai persiapan dilakukan, akupun kembali harus meninggalkan pulau jawa dan pergi merantau ke Pulau Yamdena yang letaknya kurang lebih 3000 kilometer dari Jakarta.

Sampai di Pulau Yamdena, tepatnya di kota Saumlaki, aku kemudian singgah di kantor seorang rekanku yang pada nantinya akan menjadi homebase-ku saat program pendampingan berlangsung. Setelah istirahat dirasa cukup, akupun langsung bergegas mengunjungi desa pertama untuk menggali segala informasi yang dibutuhkan dalam tahap assessment ini. Banyak pertanyaan yang aku luncurkan pada semua masyarakat yang aku temui di desa itu. Semuanya tentang rumput laut. Mulai dari bibit, masa tanam, masa panen, sampai siapa pembelinya tak luput dari pertanyaanku. Ibarat seorang yang tidak tahu apa-apa, aku mengosongkan semua isi kepalaku dan juga semua bahan referensi yang telah aku pelajari dikota untuk bisa menangkap dan mendengar semua kebenaran tentang rumput laut langsung dari pelaku utamanya. Aku hanya bisa mengangguk-ngangguk penuh semangat ketika seorang bapak yang aku temui berbicara panjang lebar mengenai seluk beluk rumput laut padaku. Hari itu aku sengaja tidak membawa peralatan apapun disaat berbincang, tidak membawa buku untuk mencatat, tidak membawa kamera untuk dokumentasi, yang aku bawa hanyalah otak yang memorinya aku siapkan untuk mengingat dan mencerna semua pembicaraan yang aku dapatkan.

Ada hal yang lucu saat kami berbicara masalah bibit. Menurut pengakuan bapak yang aku temui, bibit didapatkan dengan cuma-cuma di kebun bibit milik Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Menurutnya, petani cukup datang dengan mengisi dan membawa surat keterangan pengambilan bibit dari Kantor DKP dan membawa sendiri ke kebun bibit DKP. Satu orang pembudidaya akan diberikan jatah satu karung besar bibit basah yang siap untuk ditanam. Namun ternyata ketersediaan bibit ini menjadi masalah tersendiri karena biasanya persediaan bibit di kebun bibit milik DKP sangat terbatas. Jika persedian bibit di kebun bibit DKP habis, maka untuk mengatasi kelangkaannya DKP kemudian membeli kembali bibit di petani-petani rumput laut yang ada di desa. Bibit-bibit itu dibeli seharga Rp 250.000 rupiah perkarung isi 25 kilogram. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana jadinya jika dikedua pihak tersebut sama-sama tidak memiliki stok bibit, kemungkinan terburuknya adalah segala aktivitas penanaman rumput laut sudah dapat dipastikan terhenti. Dan itu ternyata terjadi di pulau ini. Dengan alasan sulitnya bibit dan harga yang semakin menurun, membuat para petani rumput laut itu terpaksa beralih profesi dahulu sebagai penambang pasir dan batu. Saat aku coba untuk menggali lebih dalam masalah kelangkaan bibit ini, masyarakat hanya bungkam karena tidak tahu penyebab pastinya. Alhasil, masyarakat menilai bahwa dinas tidak bisa kelola ketersediaan bibit yang diperlukan oleh masyarakat. Entahlah, aku masih mencari kebenarannya.

Dari beberapa referensi yang aku pelajari diberbagai artikel, jenis rumput laut yang banyak dikembangkan ada dua jenis, namun yang memiliki nilai jual yang tinggi adalah rumput laut dengan species Eucheuma Cottonii. Banyak penelitian yang menjadikan rumput laut jenis ini sebagai objeknya. Rumput laut jenis ini banyak dikembangkan karena memilik nilai potensi yang luar biasa. Apalagi jenis ini mampu menghasilkan karagingan yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri. Maka tidak heran jika rumput laut ini menjadi primadona dan andalan beberapa Negara, tak terkecuali Indonesia sebagai komoditi unggulan produk eksportnya. Untuk level industri, kualitas rumput laut yang memiliki kadar karagingan ini sangat diperhatikan, namun beda halnya dengan level petani khususnya para petani yang ada di desa dampinganku. Dari segi hasil, mereka hanya melihat tiga hal utama, yaitu gemuk, besar, dan berat. Sehingga, jika menurut para peneliti disarankan agar masa tanam rumput laut itu optimalnya 45 hari, maka lain ceritanya di desa ini. Bisa jadi, karena dirasa ketiga hal tersebut sudah terpenuhi dalam waktu 30 hari, maka mereka akan langsung memanennya dan menjemurnya sampai kering untuk dijual ke pegumpul yang ada di kota. Pun demikian dari segi jenis, yang mereka tahu rumput laut yang bagus dan mahal adalah rumput laut yang memiliki warna hijau dan merah keungu-unguan saja.

Melihat ketidak-tahuan masyarakat itu membuatku sedikit prihatin. Bukan berarti aku sudah paham betul dalam budidaya rumput laut, melainkan pola managemen pembibitan mereka yang harus segera diubah. Sampai saat ini, para pembudidaya dinilai sangat tergantung sekali pada Dinas. Mereka belum mampu memproduksi bibit secara mandiri karena berfikir bahwa Dinas pasti menyediakannya secara cuma-cuma. Dan itu berdampak pada tanaman yang akan dihabiskan semuanya untuk dijual dan tidak menyisakan sedikit saja untuk dijadikan bibit. Dengan adanya pemahaman pola menagemen pembibitan, aku rasa kedepan para pembudidaya akan lebih mandiri lagi tanpa tergantung pada dinas. Dan itu adalah pekerjaan rumahku yang harus segera dicari formulasi tindakan nyata agar masyarakat yang aku damping mau menerima dan merubah gaya bercocok-tanamnya. Semoga.

Saumlaki, 03 Agustus 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s