Saumlaki Series; Onny and his Australia Jail’s

Onny and his Australia Jail’s
Lelaki gagah itu datang menghampiriku disaat aku sedang berbincang dengan seorang petani Rumput Laut di desa Lematang. Badannya terbilang besar untuk ukuran warga Maluku. Raut mukanya terlihat seakan sedang menahan hawa panas yang membakar tubuhnya. Cuaca di desa saat itu dapat dibilang membakar sekali, namun hembusan angin dingin yang begitu kuat mampu meminimalisir teriknya panas matahari tersebut. 

Ia kemudian duduk dan memperkenalkan diri padaku. Namanya Pak Onny. Taksiranku ia masih berusian 40-an. Sudah menjadi tradisi kearifan masyarakat di Maluku, dimana masyarakatnya tidak senang jika dipanggil langsung dengan nama lengkap, itu sangat tidak sopan dan terkesan menantang. Oleh karena itu biasanya masyarakat di Maluku ini lebih senang dengan memberikan nama panggilannya daripada nama lengkapnya kepada orang lain. Bisa panjang urusan jika aku tiba-tiba memanggilnya langsung dengan nama lengkapnya. 

Kami kemudian berbicara panjang lebar mengenai seluk beluk rumput laut yang sedang dibudidaya di desa ini. Memang tujuanku mengunjungi desa tersebut tidak lain adalah karena ingin belajar mengenai Rumput Laut. Pak Onny sendiri adalah seorang nelayan yang kemudian berpindah profesi sebagai petani rumput laut. Lama kami bercerita akhirnya mengantarkan kami ke sore yang semakin gelap. Akupun harus pamit pulang kerena memang belum ada niat untuk life-in di desa itu. Kebetulan, karena aku membawa mobil, aku mengajak pak Onny untuk ikut serta menuju kota, karena memang sebelumnya pak Onny sempat berkata bahwa hari ini ia harus ke kota Saumlaki untuk menyelesaikan beberapa urusannya. Kamipun berjalan bersama mengendarai mobil menuju kota.

Obrolan seputar rumput laut terus berlanjut di dalam mobil. Namun lambat laun mulai tergantikan karena topiknya yang mulai berputar dilingkaran yang itu-itu saja. Mulai dari topik bupati, tangkap ikan, buaya, sampai pulau sebelah kami bahas. Aku kemudian terkesima dengan cerita petualangan seru yang harus dialami oleh pak Onny pada bulan January awal tahun lalu.

Pak Onny bercerita bahwa ia pernah masuk penjara Australia karena masuk perairan Negara tersebut tanpa izin. Ia adalah seorang bapak beranak tujuh. Untuk menghidupi kebutuhan keluarga, ia menjalani profesi sebagai penangkap ikan. Suatu ketika ia ikut serta dalam pelayaran untuk mencari ikan di perbatasan antara Indonesia yaitu Maluku dan Australia. Dalam pelayaran itu ia bertugas sebagai ABK (Anak Buah Kapal). Pemilik kapal sendiri adalah seorang makasar yang sudah malang melintang dalam dunia panangkapan ikan laut lepas. Sebelum menjadi petani rumput laut seperti sekarang, pak Onny juga pernah terjun menjalani profesi sebagai pencari sirip hiu serta teripang diperairan kupang dengan menggunakan kompressor angin sebagai bantuan pernafasannya. Selam kompresor. Meskipun ia sudah tahu semua resiko yang ada diselam kompresor, namun ia terpaksa harus menjalaninya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga.

Cerita dibalik penangkapannya oleh polisi perikanan Australia membuatnya harus menetap dipenjara negeri kangguru itu selama kurang lebih satu bulan. Awal mula penangkapannya taklain karena arogansi pemilik kapal yang dengan nekad memasuki wilayah perairan Australia, padahal ia tahu bahwa titik kordinat tersebut sudah keluar dari wilayah yang dimiliki oleh Negara Indonesia. Pak Onny sendiri sebetulnya paham dalam membaca peta. Ia sudah menyarankan pada pemilik kapal untuk tidak masuk wilayah tersebut karena hari ini adalah hari jumat. Menurut kepercayaan yang dianutnya, hari jumat sebetulnya adalah hari yang buruk untuk melakukan penangkapan ikan. Hari sial, sambungnya. Dan benar saja, beberapa menit setelah masuk perairan tetangga, sebuah pesawat patroli datang dengan terbang rendah memonitor kapal berbendera merah putih yang ditumpangi Pak onny dan kawan-kawan. Pemilik kapal yang kebetulan bertindak sebagai kapten pun tidak bisa berbuat banyak karena dengan cepat kapal-kapal patroli dari negeri tetangga sudah datang dan berusaha untuk merapat ke lambung kapal sang kapten. Yang menegangkan adalah kapten yang berusaha untuk mengakhiri nyawanya sendiri karena imbas dari penangkapan ini secara otomatis kapalnya akan disita dan mungkin tidak akan pernah dikembalikan. Bagi sang kapten, kapal itu adalah hartanya, dimana karena kesehariannya yang berada di lautan, maka seluruh harta benda yang ia miliki semuanya berada didalam kapal. Sudah menjadi rumah utama sang kapten. Maka tidak heran jika kemudian sang kapten menyimpan sebuah parang tepat dilehernya sendiri untuk mengancam polisi perikanan Australia agar batal menangkapnya. Ancaman tersebut tidak diindahkan oleh polisi perikanan yang datang, sehingga pada akhirnya mereka semua harus diboyong masuk ke kapal patroli dan berakhir di penjara kepolisian Australia. lain halnya jika mereka ditangkap oleh tentara perbatasan. Berdasarkan pengalaman pak Onny, jika yang menangkap adalah tentara perbatasan, maka negosiasi dikapal merupakan jalan utama yang dilakukan, dan biasanya cukup efektif sehingga tidak terjadi penahanan di darat. Akan tetapi ini berbeda, karena yang sedang patroli saat itu adalah polisi perikanan, maka mau tidak mau negosiasi ditempat tidak bisa dilakukan, sehingga pada akhirnya semua negosiasi harus dilakukan di darat melalui peradilan resmi di negeri tersebut.

 

 “Penjara di Australi enak pak, beda sama disini.” Terangnya.

 “Ohya?, enaknya kenapa pak?”

 “Bersih, Nyaman, Sipir juga baik-baik, makan gratis, enak.”

 “Bapak satu penjara sama warga asli?”

 “Itu sudah pak. Besar-besar orang sana.”

 “hahaha.”

 “Disana, yang dipenjara bebas beraktifitas setiap harinya pak, ada yang main bola, bilyard, basket, volley, macem-macem pak, lengkap.”

 “bapak ikut main?”

 “Aih, beta seng mau main volley sama mereka (orang lokal Australia), Besar-besar, tinggi-tinggi, seng perlu loncat subisa jaga jaring, curang.”

 “hahaha.”

 “Mereka putih-putih juga toohh. Su kaya ‘kasbi kupas’ pak, aiih, itu nona cantik-cantik sudah.”

 “hahahaha, bahasa apalagi itu ‘kasbi kupas’ pak?”

 “betul pak, betul, putih putih, cantik cantik, beta kadang seng tahan liatnya pak.”

 “Seng tahan bagaimana pak?”

 “Aiiih, kalo ada di kampung, su habis itu kayanya pak.”

 “hahahaha.”

 “Bapak bisa bahasa mereka?”

 “Seng bisa pak.”

 “Lalu, cara bapak bicara bagaimana?”

 “Ada penerjemah pak.”

 “Bule?”

 “Seng pak, muka-muka jawa.”

 “Setiap hari ada?”

 “seng juga pak, biasanya kalo tidak ada, beta sama teman-teman catat di kertas, nanti dorang terjemahkan sendiri pake kamus pak.”

 “oh gitu toh. Senang bapak disana?”

 “hahaha, kalo jalan-jalan sih senang pak, lah ini beta seng bisa kemana-mana pak, di penjara toh?, mana bisa senang, istri di rumah seng dapat kabar pak.”

 “Aiiih, ingat istri pak?”

 “hahaha, bapak bisa sa eee.”

 “hahaha, saya ingin sekali pak pi ke Australia.”

 “pi lah sudah, tinggal urus sa paspor toh?”

 “hahaha.”

Kurang lebih satu jam perjalanan aku habiskan untuk mendengarkan cerita petualangan pak onny saat disandra sebagai tahanan di negeri tetangga. Kapal yang ditumpanginya pada akhirnya disita oleh pihak Australia, para abk dipulangkan ke tempat asal mereka setelah hukuman mereka selasai dan tebusan ditanggung oleh pemerintah Indonesia. Baginya, perjalanan udara dari Darwin-Bali-Makasar-Ambon dan berakhir di Saumlaki sungguh melelahkan. Meskipun saat transit pihak imigrasi memberinya sebuah kamar hotel, namun tetap saja rasa rindu pada kampung halaman yang menyebabkannya ingin segera sampai dan bertemu dengan keluarganya. Saat ditanya apakah ingin mengulanginya lagi, pak onny dengan semangat menjawab tidak, baginya sekarang ia sudah mantap untuk menjalani profesi barunya sebagai petani rumput laut di desa. Resiko pekerjaan sebagai petani rumput laut tidak sebesar resiko yang ada pada pekerjaan sebelumnya. Selain itu, bertani rumput laut menurutnya lebih mudah dan dengan hasil yang bisa terukur setiap minggunya. Aku kemudian diberitahu lokasi dimana pak onny dan rekan-rekannya menjual rumput laut di kota. Pak Onny pun minta diturunkan disebuah pasar tradisional yang ada di kota Saumlaki. Setelah mengucapkan terima kasih, ia menghilang ditengah ramainya pengunjung pasar. Aku berjanji padanya jika esok atau lusa aku akan kembali ke desa tersebut untuk menggali lagi banyak informasi yang aku perlukan. Dengan senang hati iapun berkata bahwa ia siap membantuku. Terimakasih pak Onny.

Saumlaki, 01 Agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s