Saumlaki Series; Lermatang Old Village

Kampung lama Lermatang

Jarak desa ini dari kota Saumlaki kurang lebih 23 kilometer. Desa lermatang adalah satu dari banyak desa pesisir yang ada di pulau yamdena. Akses menuju desa tersebut saat ini bisa dibilang cukup nyaman. Pembangunan kota Saumlaki sebagai pusat kabupaten turut berimbas pada pembangunan desa-desa yang ada di sekitarnya, pun demikian dengan desa Lermatang. Jalanan lintas desa terus diperbaharui sehingga memudahkan akses transportasi bagi setiap desa yang ada. Aku melihat pembangunan jalan menuju desa lermatang sedang dilakukan, ketika hari itu aku bergerak mengunjunginya. Menurut inforamasi yang aku terima, sampai saat ini jalanan menuju desa tersebut masih terbuat dari pasir dan batu yang dipadatkan, sehingga pengendara harus ekstra hati-hati jika melintasi jalanan ini. Pada kenyataannya informasi tersebut tidak sepenuhnya benar. Setengah perjalanan daratku disuguhi oleh jalanan aspal yang masih mengkilap. Tidak ada marka jalan yang mengotori mulusnya jalanan tersebut. Jalanan aspalnya benar-benar baru dan masih hangat. Meskipun jalanan untuk menuju desa berliku dan berbukit, namun karena kondisi aspal yang rata maka perjalananpun dirasa sangat nyaman. Ditengah perjalanan, aku melihat banyak mobil projek pengerjaan aspal jalan yang sedang beroprasi. Jalanan menyempit ketika aku melintasi mobil-mobil tersebut. Suasana hutan belantara masih nampak sangat jelas disepanjang perjalananku. pohon-pohon tinggi dan semak belukar serta rimbunnya pepohonan mulai tumbuh subur sampai kebadan jalannya. Warna hijaunya kontras dengan warna hitam aspal yang masih hangat. 

Sekitar lebih dari satu jam perjalanan akhirnya aku tiba disebuah persimpangan jalan menuju kampung. Beberapa meter sebelum persimpangan, jalan aspal tersebut terputus. Berakhir. Itu adalah ujung jalan aspal mulus yang sedang dikerjakan oleh para pekerja perbaikan jalan. Setelah itu, jalan kembali pada pasir dan batu yang dipadatkan. Lumayan membuat badan bergetar dan pantat terbakar. Sebuah bangunan megah yang tidak terawat berdiri kokoh dipersimpangan jalan itu. Bangunan berwarna putih yang aku taksir berukuran 20 x 40 meter itu terlihat megah berdiri sendiri disebuah tanah lapang yang sangat besar. Aku turun dari kendaraanku untuk melihat isi dari gedung tersebut. Disinyalir ini adalah gedung pabrik pengolahan rumput laut yang ada dipulau ini. Bangunan tersebut tampak tidak ada yang menggunakannya. Disampingnya terdapat rak-rak kayu yang mungkin dipakai untuk tempat penjemuran rumput laut sebelum diolah. Namun rak-rak tersebut kini kosong dan sudah hampir lapuk dimakan oleh cuaca. Semua pintu tergembok rapat. Sepi. Tidak ada aktifitas sama sekali. Debu-debu tebal mulai menghiasi setiap sudut bangunannya, serta ilalang tinggi mulai mengotori tembok-tembok yang ada. Kaca jendelanya bahkan sudah ada yang hampir pecah. Aura mistis sedikit muncul dari bangunan baru ini.

Setelah dirasa puas mengelilingi bangunan malang itu, akupun melanjutkan perjalananku ke desa lermatang. Belok kiri dipersimpangan jalan aku lakukan karena aku melihat sebuah perkampungan yang berdiri ujung jalannya. Selain itu, tentu saja karena aroma laut dan warna hijau tosca dari airnya yang membuatku tidak sabar untuk segera memarkirkan kendaraanku disana.

Pohon kelapa yang sangat tinggi menjulang menjadi penyambutku hari itu. angin kencang yang masih sedikit dingin menerpa semua bagian wajahku. Dengan jelas aku dapat melihat dermaga kayu tanpa pembatas pinggiran tepat dihadapanku. Desa ini rupanya berada disebuah teluk. Meskipun angin kencang, namun tampaknya gelombang dan arus laut tidak sebesar anginnya. Aku melihat banyak botol-botol terapung yang muncul dipermukaan air lautnya. Dikiri kanan dermaga, banyak berdiri rumah-rumah yang terbuat dari papan-papan kayu yang sudah mulai menghitam. Tidak ada cat sedikitpun yang menghiasi setiap dinding rumah disana. dibiarkan alami dan pudar dengan sendirinya oleh alam. Dipasir pantainya yang putih, aku melihat sisa-sisa rumput laut yang terbuang secara tidak sengaja. Aku berkesimpulan bahwa itu adalah sisa-sisa potongan yang menang tidak terpakai sehingga berubah menjadi sampah lautan. Organic.

Seorang bapak sedang membetulkan posisi perahu sampannya tepat dibawah dermaga. Aku bertanya mengenai keberadaan rumah kepala desa kepadanya. Seperti halnya mengunjungi rumah orang lain, sebisa mungkin aku harus meminta izin kepada sang empunya rumah, pun demikian dengan kedatanganku ke desa ini. Dengan ramah, ia menjawab bahwa rumah kepala desa berada di kampung baru yang letaknya masih sekitar 1 kilometer lagi dari desa ini. Aku heran, rupanya desa ini bukan desa utama yang akan aku kunjungi. Terpaksa aku harus kembali mengambil kendaraanku untuk melaju secepatnya ke desa tujuan utamaku mengingat hari sudah semakin sore. Motor yang sudah usang dan tua yang aku pakai untuk mengantarkanku bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan dengan tenaga seadanya, tergopah-gopah layaknya orang tua yang sudah hampir lumpuh. Sebenarnya aku tidak tega menunggangi odong-odong tersebut, namun karena faktor keterbatasan transportasi yang ada, maka mau tidak mau aku terpaksa menggunakan tenaganya.

Disebuah gapura kampung aku bertanya pada sekelompok orang dewasa yang sedang bercengkrama. Nongkrong. Lucunya, hampir semua orang yang aku tanyai mengenai keberadaan kepala desa semuanya sepakat menjawab bahwa kepala desa sedang berada di kebunnya, sehingga aku tidak langsung ditunjukan arah rumah singgahnya, melainkan ditunjukan dimana kebunnya. Dengan sebuah petunjuk berbahasa lokal, aku kembali harus memutar arah kendaraanku meninggalkan desa tersebut sambil meraba-raba mencari keberadaan kebun milik pak kepala desa. Kali ini, semua orang yang aku temui aku tanya. Pohon kemiring dalam bahasa lokal berarti pohon yang posisinya berada disebuah lahan yang miring. Sedangkan aku justru memahaminya sebagai pohon kemiri yang berarti sebuah pohon rempah yang banyak ditanam di wilayah ini. Alhasil, semua orang yang aku tanyai perihal pohon kemiri semuanya memberikan ekspresi kebingungan. Tidak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaanku, sehingga pada akhirnya aku mengunjungi satu persatu pondok yang dibangun disebuah lahan kebun dengan harapan orang yang aku temui adalah bapak kepala desa. Tiba disalah satu pondok kecil, aku melihat ada sebuah intruksi bernada ancaman yang dipasang tepat didepan pondokan tersebut. isinya seperti ini: “Perhatian – Jangan Pencuri Apa Saja di Dalam Kebun Maupun di Rumah Ini. Atau Ayam. Ada Pasang Matakau – Kalau Mau Coba Silakan Tapi Jangan Menyesal – Kades”. Aku langsung berhenti dan yakin bahwa ini adalah kebun milik kapala desa. Sayangnya, pondok tersebut kosong. Aku kemudian mencari seseorang yang bisa aku temui untuk aku tanyai. Naas, suasana kebun benar-benar sepi, mungkin karena hari sudah semakin sore. Beruntung, ada suara seorang anak kecil yang berteriak ke arahku. Sayup sayup dia berkata: “Su pulang, Su pulang.” Akupun langsung menjawab teriakannya untuk memastikan bahwa orang yang sudah pulang yang maksud oleh anak tersebut adalah pak kepala desa. Benar, yang dimaksud adalah kepala desa, dan akupun kembali menunggangi odong-odongku kembali ke kampung baru.

Pada intinya, kepala desa menerima dengan senang hati semua maksud dan tujuanku datang ke desa ini. kepala desa juga berjanji untuk selalu menjaga dan memfasilitasiku untuk bisa tinggal di desa yang dipimpinnya. Karena hari semakin gelap, dan lampu odong-odong tidak menyala normal, akhirnya aku pamit kepada kepala desa dengan alasan keamanan perjalanan. Tidak lupa aku mengucapkan banyak terima kasih karena sudah diterima dengan baik di desa yang dipimpinnya. Malampun tiba, nafas odong-odong aku pacu, tidak peduli lagi ia akan kehabisan tanaga. Yang pasti malam hari bukan waktu yang pas untuk berkunjung ke desa ini. horror.

Saumlaki, 31 july 2016, Thx July! You give me amazing gift.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s