Saumlaki Series; Uniquely Vaccine

Unik dan tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan.  

Hari itu, aku berjalan meninggalkan kediamannku dengan maksud untuk mencari keberadaan vaksin Rabies di kota ini. Lagi-lagi aku harus berurusan dengan vaksin dikarenakan vaksin pencegahan rabies terdiri dari tiga fase. Ini berarti mau tidak mau aku harus menyuntikan vaksin tersebut kedalam tubuhku sebanyak tiga kali dengan rentang waktu yang berbeda. Dikota kecil ini, rumah sakit merupakan tujuan utama karena menurut logikaku, tidak ada lagi tempat lain yang lebih meyakinkan selain rumah sakit. Kota saumlaki sendiri adalah kota kecil dengan fasilitas yang masih terbatas. Bisa dibilang, fasilitas yang ada di rumah sakit daerahnya pun masih belum lengkap, sehingga keberadaan vaksin pun masih sangat aku ragukan. 

Aku kemudian berputar mengelilingi kota dengan mobil sewaan. Karena memang aku belum mengetahui keberadaan rumah sakit tersebut, otomatis aku mengeluarkan senjata andalanku dalam mencari sesuatu; GPS alias Gunakan Penduduk Sekitar.

 “Kaka, boleh tanya kah?”

 “Ada apa mas?”

 “Ose tahu rumah sakit kearah mana kah?”

 “Aih kaka, kaka tau jalan poros kah?”

 “Yup.”

 “Nanti kaka lurus trus saja toooh, nanti ada pos jaga, belok lah kiri.”

 “Lalu?”

 “Itu sudah pas rumah sakit tooh.”

 “Oh, oke, baiklah, terima kasih kaka.”

 “Sama-sama kaka.”

Akupun mengikuti instruksi dari seorang kaka tempatku bertanya. Yang membuat bingung adalah karena ada dua pos yang berdiri di jalan poros tersebut, selain itu hampir kedua pos tersebut tidak berada diperempatan jalan, melainkan tepat di depan arahku berjalan. Setauku, jika aku mengarahkan kendaraan untuk berbelok ke kiri, maka otomatis aku akan kembali lagi memutar ke tempat kediamanku semula. Karena penuh dengan rasa penasaran, akupun tetep melanjutkan instruksi yang diberikan oleh kaka tersebut, dan benar saja, aku kembali ke kediamannku semula. Aku hanya tersenyum lemah. Bodohnya. Selanjutnya aku kembali bertanya pada seorang remaja yang sedang berjalan tepat didepan mobilku.

 “Kaka, boleh tanya kah?, Rumah sakit kearah mana ee?”

 “RSUD kah?”

 “Ada yang lain lagi kah?”

 “Seng.”

 “Jadi?”

 “Kaka ikut sa ni jalan, putar balik, nanti pertigaan kaka belok kanan, nah kaka liat disebelah kanan pas perempatan ada pos toh?, belok kanan lah sudah. Lurus terus pas gerbang sudah.”

 “Hah?, betulkah itu jalannya?”

 “iyoooh kaka.”

 “Yasutra, terimakasih kaka ee.”

 “Sama-sama kaka.”

Aku berfikir sejenak, bukanya tidak mau melanjutkan perjalanan sesuai intruksi tersebut, namun jika tidak salah, itu adalah jalur dimana aku datang. Instruksi dari remaja tersebut membawaku kembali pada tempat si kaka pertama yang aku tanyai sebelumnya. Aku semakin bingung, namun tetap saja perasaannku mengatakan bahwa instruksi remaja tersebut benar, sehingga laju kendaraanku berjalan mengikuti instruksi dari remaja tersebut. Kali ini, instruksi yang diberikan oleh remaja tersebut benar. Itu karena tepat di ujung jalan, aku melihat sebuah gapura bertuliskan RSUD Magreti. Yang salah dari instruksi si kaka pertama adalah keharusanku belok ke kiri, yang seharusnya cukup lurus saja dari pos yang ada. Sudahlah.

Rumah sakit tampak sangat sepi. Setelah memarkirkan mobil, aku langsung berjalan menuju tempat resepsionis berada. Tempat resepsionis pun sepi, aku hanya melihat beberapa perawat sedang duduk didepan pintu masuk sambil menyusun botol-botol obat kedalam sebuah rak. Perawat lainnya mencatat sesuatu di sebuah buku tebal dan penuh dengan tabel. Seorang perawat yang melihat kedatanganku akhirnya bertanya maksud dan tujuanku berkunjung ke rumah sakit ini. Aku kemudian menjelaskan bahwa aku sedang mencari keberadaan vaksin rabies. Dengan raut wajah bingung, perawat tersebut menyarankanku untuk mengunjungi dinas kesehatan. Karena menurutnya, rumah sakit tidak menyediakan vaksin, apalagi vaksin rabies. Di kota ini, untuk urusan vaksinisasi harus langsung bertanya ke dinas kesehatan. Kalaupun ada, rumah sakit hanya manyediakan vaksin untuk balita saja. Akupun langsung berterima kasih pada perawat tersebut, dan langsung memacu kendaraanku menuju kantor dinas kesehatan yang dimaksud.

Letak kantor dinas kesehatan tidak jauh dari rumah sakit magreti berada. Hampir semua perkantoran di kota ini berada disatu garis lurus di jalan poros, sehingga aku harus kembali menuju jalan poros dan berjalan perlahan sambil mengamati plang-plang nama kantor. Begitu aku melihat plang dengan tulisan Dinas Kesehatan, akupun langsung belok memasuki tempat parkir kantornya. Setelah parkir aku langsung memasuki ruang utama dibagian pelayanan.

Aku dirujuk untuk langsung masuk ke bagian imunisasi untuk menanyakan lebih lanjut ketersediaan vaksin rabies yang aku cari. Kemudian aku bertemu dengan seorang ibu muda yang melayaniku berkonsultasi masalah vaksin. Penjelasan darinya cukup sulit aku mengerti karena penjelasannya tidak jelas dan memutar kesana kemari. Satu hal yang pasti, olehnya aku disuru untuk menunggu atasannya saja agar lebih jelas dalam memaparkan semua pertanyaan konsultasiku. Akupun kemudian menunggu kepala pelayanan tersebut sampai datang.

Bapak ketua pelayanan imunisasi datang dengan wajah heran. Masih tampak kaku sehingga raut wajah khas ambonnya terlihat sangat kental. Dia kemudian memperkenalkan diri bernama jhon. Awalnya perbincangan kami masih terbata-bata. Karena ada raut wajah heran yang muncul dari bapak jhon mengenai vaksin yang aku tanyakan. Aku lupa menjelaskan, bahwa selain vaksin Rabies, aku juga diharuskan untuk menjalani vaksin hepatitis B. Secara kebetulan, jadwal vaksin hepatitis B-ku untuk penyuntikan yang kedua adalah hari ini. Maka, selain bertanya ketersediaan vaksin rebies, aku juga bertanya mengenai ketersediaan vaksin hepatitis B tersebut. Lucunya, aku yang berfikir bahwa dikota kecil seperti ini ketersediaan vaksin Rabies akan lebih sulit dari vaksin Hepatitis justru terbalik. Rasa penasaranku pun kemudian membuatku berubah menjadi seorang wartawan dadakan dan bertanya lebih mendalam kepada bapak ketua palayanan imunisasi tersebut.

 “Masa pak?, sesulit itukah?, apa penyebabnya pak?”

 “Hepatitis disini masih belum pernah ada kasusnya pak.”

 “Sedangkan Rabies?”

 “Nah, Rabies ini sudah masuk ke daftar KLB.”

 “Hah? KLB?”

 “Iyah, Kejadian Luar Biasa. Dan itu harus ditindak lanjuti lebih serius.”

 “Kenapa masuk KLB pak?”

 “Tahun kemarin ada dua kasus meninggal karena rabies, seharusnya orang-orang yang terkena gigitan anjing itu bisa diselamatkan. Nah apalagi di pulau ini kan populasi anjing sangat banyak. Masyarakat jadinya trauma, sehingga sekarang-sekarang ini jika ada yang terkena gigit anjing, pasti langsung cari vaksinnya.”

 “Seharusnya pertolongan pertama pada gigitan anjing itu bagaimana pak?”

 “Sebenarnya cukup di cuci pakai air sabun, atau deterjen, dengan air yang mangalir sampai bersih. Nah setelah itu baru datang ke rumah sakit untuk diobati. Tapi kenyataannya kan mungkin bapak tahu juga bagaimana di lapangan. Air sulit toh?, bagaimana bisa mereka cuci itu gigitan, hahaha.”

 “Efek rabies itu sebetulnya seperti apa sih pak?”

 “Jadi efek rabies itu buat manusia jadi takut sama air. Bakal histeris begitu liat air. Padahal air adalah salah satu kebutuhan manusia yang paling penting toh?”

 “Nah, dari terkena gigitan, sampai dinyatakan positif Rabies itu berapa lama pak?”

 “Itu tergantung dari lokasi gigitannya pak. Rabies ini kan menyerang system saraf pusat. Nah semakin deket lokasinya dengan kepala, maka semakin cepat dia positif rabies. Paling jauh biasanya dua bulan pak.”

 “Jadi untuk Vaksin Rabies aman yah pak?”

 “Aman, banyak tersedia disini. Tapi mohon maaf karena harganya sedikit lebih mahal dari harga kota besar. Maklum, Vaksin ini kami swakelola, itu karena permintaan pasar yang banyak namun tidak ada subsidi dari pemerintah, oleh karena itu mohon maaf apabila harganya sedikit lebih mahal.”

 “Aman pak, yang penting ada ketersediannya.”

 “Memangnya bapak nanti bertugas dimana?”

 “Saya mungkin di desa Lermatang atau Latdalam pak.”

 “Hah? Itu lokasi paling banyak kasus pak.”

 “Ohya?, Waduh!, terus untuk Vaksin Hepatitisnya jadi bagaimana pak?”

 “Kami disini hanya menyediakan vaksin hepatitis untuk balita, sedangkan untuk dewasa tidak tersedia pak. Inipun ada karena program PIN (Pekan Imunisasi Nasional) pak.”

 “Solusinya bagaimana pak?”

 “Paling bapak minta teman yang ada dikota untuk mengirimkan vaksin Hepatitisnya kesini. Atau tidak, bapak bisa terbang ke Ambon, atau Jakarta sekalian.”

 “hahahaha.. baikalah pak, terima kasih pak.”

Akupun kemudian berjanji akan kembali pada tanggal dimana vaksin rabiesku harus disuntikan. Dan bapak ketua pelayananpun siap melayaniku dengan sepenuh hati. Yang menarik bagiku adalah ekspektasi itu tekadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dari Jakarta aku berekspektasi bahwa vaksin hepatitis pasti tersedia sangat banyak di setiap kota, karena biasanya penyakit itu sangat marak dan umum terjadi. Namun faktanya, penyakit Hepatitis itu justru sangat jarang terjadi disini dan kalaupun ada kejadian, biasanya mampu diatasi dengan cara tradisional. Sedangkan vaksin Rabies untuk manusia yang bisa dikatakan sulit dikota besar, justru sebaliknya. Mungkin karena di pulau ini anjing merupakan hewan yang populasinya cepat meningkat dan statusnya masih liar, maka ketersediaan Vaksin rabies untuk manusia diperbanyak. Yah itulah pelajaran yang berarti dalam perjalananku kali ini.

Saumlaki, 25 july 2016 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s