Saumlaki Series; Matilda Batlayeri Airport

Susana kota saumlaki masih seperti itu-itu saja, tidak ada perubahan berarti yang aku lihat. Suasana kotanya, jalanannya, serta aktivitas penduduknya hampir sama. Pagi itu aku berencana untuk bergerak menuju bandara. Entah karena memang tidak ada lagi tampat hiburan yang menarik atau bagaimana, yang pasti aku sangat penasaran dengan bandara kecil disisi barat kota tersebut. Mobil sewaan yang aku gunakan mulai aku nyalakan. Pagi itu adalah hari minggu dimana mayoritas penduduk sedang melakukan ibadah rutin mingguan, sehingga dengan otomatis susana perkotaan nampak sangat sepi sekali. Bahkan kendaraan yang biasa lalu-lalang didepan jalan utama tempat tinggalku pun tidak nampak.  

Cuaca pagi hari itu sangat luar biasa. Cerah, angin sepoi-sepoi yang masih menyisakan hawa dingin itu tidak malu untuk langsung menerpa wajahku dibalik kaca jendela mobil innovva yang aku gunakan. Aku sengaja tidak menyalakan pendingin mobil karena hari itu aku masih belum merasakan hawa panas yang biasa menemaniku dalam setiap aktivitasku. Mungkin, karena letak pulau ini lebih dekat ke Negara Australia, maka angin yang berhembus masih mengandung sisa-sisa musim dingin yang ada di Negara sana. Itu adalah pendapat dari kebanyakan penduduk yang sudah lama menetap di pulau ini. entahlah.

Jalanan kota yang kosong melongpong membuat aku melambatkan laju kendaraanku. Sekedar ingin menikmati jalanan sekaligus indahnya panorama alam yang ada di kota ini. Jalan aspal yang sangat rapi, dan terbilang masih mulus ini rasanya membuat laju kendaraanku sungguh terasa nyaman. Tidak ada hambatan sama sekali. Alunan lagu khas ambon yang aku pasang secara random di pemutar musik membuat aku seakan sudah resmi menjadi bagian dari panduduk asli pulau Yamdena.

Perjalanan menuju bandara ternyata harus melewati jalanan berbukit. Aku tidak menyadarinya, meskipun sudah berulang kali mengunjunginya. Mungkin ketidak-sadaran itu terjadi karena biasanya aku pergi dengan diantarkan oleh supir saat mengunjungi bandara ini. Biasanya saat menjadi penumpang, aku memilih untuk tidur atau sekedar mendengarkan musik selama perjalanan. Dan kali ini berbeda, karena aku sendiri yang mengendarai mobilnya, jadi mau tidak mau aku harus benar-benar memperhatikan jalanan yang sedang aku lalui. Bahaya jika konsentrasiku hilang karena tidak memperhatikan kondisi jalanan tersebut.

Bandara Matilda adalah bandara baru dipulau ini. Sebelumnya pulau ini menggunakan bandara kecil bernama olilit. Namun, seiring dengan pembangunan kota yang terus menggeliat, pemerintah daerah setempat kemudian tergerak untuk memiliki bandara yang lebih besar lagi. Harapan pemda tak lain sebagai sarana penunjang ekonomi serta penambahan pendapatan daerahnya. Pembangunan bandara ini nampaknya masih jauh dari kata sempurna. Sarana parkir yang masih belum tertata dengan rapi, ditambah dengan bangunan utamanya yang masih setengah jadi memperlihatkan bahwa bandara ini memang masih dalam tahap pembangunan.

Fasilitas didalamnya sendiri masih terbilang sederhana. Instrument petunjuk arah ataupun ruangan belum sepenuhnya lengkap. Hanya terdapat satu buah pintu keberangkatan, serta satu buah pintu kedatangan yang masing-masing nampaknya belum memiliki penjagaan super ketat. Namun, fasilitas x-ray yang sudah menjadi standar keamanan dari sebuah bandara sudah tersedia lengkap dengan semua penjaganya. Fasilitas check in bandara pun masih sangat sederhana. Jangan harap tersedianya esksutif lounge yang megah di bandara ini, karena untuk urusan toilet saja masih sangat minimalis. Masuk ke ruang tunggu, kursi-kursi sederhana khas terminal keberangkatan disediakan. Ruangan ini tidak memilik pendingin udara, namun jangan takut berkeringat atau kepanasan, karena dibagian atas ruangan ini sengaja tidak ditutup, yang berperan sebagai ventilasi dan juga pendingin udara alami. Yang mengejutkan lagi adalah ruangan kedatangannya. Para porter penjual jasa angkutan serta penjemput bisa dengan bebas masuk lalu lalang membantu para penumpang yang turun untuk mengambil bagasi. Tapi jangan khawatir akan aksi pencurian bagasi, karena sebelum keluar dari pintu kedatangan, tiga orang petugas akan memeriksa dengan detail satu persatu bagasi yang kita bawa. Kita tidak diperbolehkan keluar ruangan jika ada satu saja bagasi yang tidak sesuai dengan yang kita bawa.

Runway di bandara ini terbilang memiliki ukuran yang standar. Rasanya, pembangunan yang terus berlangsung membuat bandara ini pada akhirnya akan mampu menampung pesawat besar untuk singgah. Eksavator masih terlihat berhamburan disetiap sudut wilayah bandara ini. Bangunan ATC (Air Traffic Control) masih setengah jadi. Pos pintu masukpun masih belum ada yang menjaganya. Bebas parkir tanpa tarif. Aku masih ingat pada saat aku akan masuk ke sebuah mesin ATM dari salah satu bank rakyat BUMN yang ada di bandara tersebut. Biasanya mesin ATM akan menampilkan instruksi perawatan jika memang tidak bisa digunakan. Namun lain halnya dengan ATM ini, mesinnya mati dan pintupun terkunci. Sesaat setelah merasa kecewa dengan mesin ATM itu, seorang petugas bank datang sambil membawa kunci pintu ATM tersebut. namun karena hari itu terjadi pemadaaman listrik, maka lagi-lagi ATM masih tidak bisa digunakan karena tidak adanya sumber energi. Aku hanya bisa menggeleng dan bersabar.

Perjalanku mengunjungi bandara matilda selesai ketika rasa bosan mulai menghampiriku. Setelah hampir semua sudut aku potret dengan kamera handphoneku, aku kembali menghidupkan mesin mobil dan bergerak menuju kota untuk mencari makan siang. Aku masih penasaran dengan cerita dibalik penggunaan matilda sebagai penamaan bandara tersebut. sepanjang jalan pulang, aku terus teringat akan hal itu, namun apadaya, google tempatku bertanya tidak bisa diandalkan di pulau ini. Jaringan telepon saja sulit. Internet apalagi. Sudahlah.

Saumlaki, 24 juli 2016, Happy Birthday love.

Advertisements

One thought on “Saumlaki Series; Matilda Batlayeri Airport

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s