Saumlaki Series; The Power of Electricity loss

Sabtu, ya, hari ini adalah hari sabtu. Biasanya hari sabtu adalah hari libur bagi pada pegawai negeri sipil ataupun pegawai swasta lainnya. Pun demikian denganku. meskipun sebetulnya jam kerjaku sangat flexible, namun biasanya akupun menjadwalkan bahwa hari sabtu dan minggu adalah hari untuk beristirahat. Seperti biasa, aku sudah terbangun pada pagi hari. Meskipun tidak ada aktivitas yang terencana pada hari itu, aku tetap berusaha untuk bisa bangun pada pagi hari. Udara pagi di kota ini telah berhasil membuat semangatku terus terjaga. Pancaran matahari pagi ditambah angin sejuk dimusim ini membuat seluruh tubuhku bergairah. Aku langsung menyalakan leptopku dengan maksud untuk menyalakan musik sebagai penyemangat tambahan dikala pagi hari. Naas, listrik ternyata padam. Hanya sisa baterai semalam yang mungkin mampu untuk menyalakan music kurang lebih satujam kedepan. Semoga setelah satujam, listrik akan menyala kembali, harapku.

Satu jam berlalu, listrik tak kunjung juga menyala. Leptop sudah kehabisan daya, hanya terisa handphone yang kemudian menggantikan peran leptop sebagai penyedia music pagi itu. Beruntung, karena baterai handphone masih penuh karena aku isi pada malam sebelumnya. Tidak tahu apa penyebab terjadinya pemadaman listrik hari ini. Sampai aku sempat mengira bahwa PLN selaku penyedia utama listrik dikota ini telah bertindak semena-mena terhadap pelanggannya. Karena tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu, listrik dipadamkan untuk jangka waktu yang tidak diketahui. Aku tidak mungkin menghabiskan semua daya yang tersisa di handphoneku, oleh karena itu pada akhirnya aku mematikan music yang sedang berjalan demi menyimpan daya untuk berkomunikasi. 

Rasa lapar menghampiriku siang itu. karena memang sudah waktunya untuk makan siang. Aku kemudian mengajak seorang temanku yang sama-sama berada dalam satu rumah untuk keluar mencari makan. Beruntung, siang itu ada kendaraan milik kantor yang sedang tidak digunakan. Aku langsung menyambar kunci kendaraan tersebut yang tergeletak manis diatas meja makan. Berjalan ke garasi kemudian memanaskan mobil tersebut. 

Aku baru tahu penyebab utama mengapa listrik dipadamkan setelah mobil yang aku pakai berjalan melintasi beberapa gardu listrik yang sedang dibetulkan oleh petugas PLN. Rupanya, hari ini PLN sedang melakukan kegitan rutin penggantian beberapa instrument kelistrikan guna meningkatkan pelayanannya. Terlihat travo-travo besar sedang dinaikan dibeberapa tiang listrik yang sedang dibetulkan. Para teknisi dengan cekatan memanjat tiang-tiang yang ada dan kemudian mencabut kabel dan mengganti travo-travo tersebut. satu tiang bisa dikerjakan oleh 5-6 orang petugas. Pekerjaan yang diburu waktu, batinku.  

Dampak dari pemadaman listrik tersebut sangat luas. Hampir semua aktivitas pelayanan jasa mau tidak mau tutup. Awalnya temanku juga berencana untuk pergike kantor pos, mengirimkan barang titipan saudaranya. Namun, padamnya listrik membuat kantor pos tersebut harus menutup layanan pengiriman. Hari itu kantor pos hanya melayani jasa pengambilan barang saja. Alasannya taklain adalah computer system pengiriman sedang tidak menyala. Pun demikian dengan tempat pengisian air gallon isi ulang. Meskipun lapaknya terbuka, namun pengisiian tidak bisa dilakukan karena pompa air yang digunakan tidak bisa menyala. Oleh karena itu, tempat pengisian gallon pun hanya melayani jasa penukaran gallon kosong dengan yang sudah terisi. Yang unik, meskipun tempat ini adalah tempat pengisian gallon isi ulang, tapi system tukar gallon layaknya dikota-kota besar bisa dilakukan. Syaratnya, yang penting tipe galonnya sama dengan yang akan ditukarkan. Beruntung. 

Pencarian makan siangku pada akhirnya tertuju pada sebuah warung makan khas Makasar. Warung tersebut menyediakan makanan khas daerah makasar, yang tak lain adalah coto. Aku rasa, ini adalah penjual satu-satunya yang berada dikota ini. Ohya, sedikit informasi yang aku terima dari penduduk lokal, kota Sumlaki adalah kota para pendatang. Disini banyak tinggal orang-orang dari makasar, buton, juga jawa bahkan china. Awalnya mereka datang sebagai pedagang kapal yang berkeliling masuk ke pulau-pulau kecil di wilayah ini, namun karena mungkin sudah nyaman sehingga mereka kemudian membangun rumah-rumah singgah sehingga terbentuklah kota saumlaki. Aku sendiri tidak tahu secara detail tentang sejarah terbentuknya kota ini, namun yang pasti beberapa orang pedagang atau pengusaha yang aku temui kebanyakan adalah orang-orang perantauan yang mengadu nasibnya di kota kecil ini. termasuk warga etnis china yang menurut informanku mereka adalah etnis pertama yang membangun kerajaan bisnisnya di kota ini. tanpa mereka, tidak akan pernah ada kota dengan nama Saumlaki, katanya. Aku memesan sepiring coto campur, tanpa hati. Sensasi rasanya aku rasa lumayan enak untuk standar ukuran pedagang perantauan. Tidak harus percis sama dengan cita rasa daerah aslinya, namun yang pasti rasa yang mendekati sudah jauh lebih nikmat karena masih bisa menikmati varian masakan khas nusantara. Satu piring nasi pengganti ketupat yang masih belum matang menemaniku menghabiskan semangkuk coto yang nikmat tersebut.  

Aku melanjutkan perjalananku setalah makan siang selesai. Sepanjang perjalanan, aku baru sadar jika kota ini mulai memberlakukan system jalan satu jalur untuk beberapa ruas jalannya. Sepanjang berkendara, aku tidak melihat adanya kendaraan yang berlawanan arah denganku. berbeda dengan tahun sebelumnya aku di kota ini. jalanan yang sempit, ditambah system jalan dua arah membuat beberapa ruas jalan sering terjadi kemacetan. Belum lagi jika tidak hati-hati, tebrakan merupakan hal yang sudah sering terjadi. Hari ini rasanya beda. Disamping kendaran yang masih belum padat, berlakunya system satu arah membuat jalanan menjadi lebih rapi dan lenggang. Kemecetan bisa diurai bahkan jumlah kecelakaan rasanya bisa ditekan. Aku menilai pemberlakuan system satu jalur ini sangat positif, dan sudah saatnya diberlakukan sebelum kota semakin berkembang dan jumlah kendaraan semakin meningkat. Yang jadi masalah adalah jarak tempuh yang harus dilalui jika kita tidak hafal dengan jalan yang ada. Karena, salah belok sedikit, menyebabkan kita harus mengelilingi seisi kota untuk bisa kembali ke tempat semula. Hal yang melelahkan. 

Setelah dirasa cukup puas berkeliling kota serta semua kebutuhan yang dicari sudah terpenuhi, akupun bergegas kembali ke tempat tinggalku. Angin sepoi-sepoi dan cuaca yang mendukung membuatku bergegas memasang hammock dihalaman belakang rumah tempat tinggalku. Sore hari bergalantungan diatas hammock sambil ditemani senja yang mulai turun dari peraduannya merupakan hal yang sangatku nanti. Lagi-lagi panorama alam menunjukan kesempurnaannya dikala rasa rindu pada seorang kekasih di Jakarta mulai terasa.  

Saumlaki, 23 july 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s