Saumlaki Series; Social Engagement

Social Engagment

Bangun pagi menjadi sebuah keharusan untuk memulai semua aktifitasku di kota para pendatang ini. Dengan zona waktu WIT (waktu Indonesia bagian timur) semua terasa lebih cepat dari waktu di Jakarta. Dunia seakan berputar dua jam lebih maju dari sebelumnya, sehingga jika tubuhku masih akrab dengan waktu Jakarta, aku akan banyak terlambat di kota ini. pada akhirnya aku harus kembali membiasakan diri dan tubuhku untuk mulai berkenalan dengan waktu di kota ini. Kesalahan fatal aku lakukan untuk pertama kalinya. Ini ada kaitannya dengan alarm yang aku hidupkan. Aku lupa mengganti zona waktu di Handphoneku, sehingga saat aku menset alarm pukul 05.00, justru dia akan menyala pada pukul 07.00 WIT. Aku kemudian harus berhadapan dengan sinar matahari yang cahayanya sudah sangat terang sekali. Bablas.

Cuaca di pulau Yamdena seharusnya masih masuk dalam katagori musim hujan, namun seperti halnya Indonesia bagian timur lainya, intensitas hujan di pulau ini pun sama, sangat sedikit dan bisa dibilang hujan jarang terjadi. Kondisi cuaca seperti ini aku sebut dengan cuaca peralihan. Akan tetapi, meskipun hujan bisa dibilang sangat jarang, angin di kota ini cukup kencang. Selain itu, angin yang berhembus juga terasa sangat dingin sekali. Menurut masyarakat asli yang tinggal di kota ini, angin dingin itu berasal dari Negara Australia yang memang baru selesai dari musim dingin, sehingga sisa-sisa angin dinginnya masih terasa dan terbawa sampai ke Indonesia dan kota saumlaki khususnya. Angin yang dingin berbanding terbalik dengan sinar matahari yang terik. Panasnya mampu membakar siapa saja yang berjemur dibawah pancarannya. Pun demikian dengan hari ini. Angin dingin bercampur cuaca panas membuat aku seketika langsung bangkit dan meninggalkan nikmatnya kasur kapuk yang sedang aku tiduri.

Pagi ini ada satu kegiatan yang tidak ingin aku lakukan seperti biasanya. Mandi. Bukan karena tidak tersedianya air seperti tahun lalu ketika hidup di Desa Kahilin, Pulau Wetar, namun ini karena suhu air yang ada tidak seperti biasanya. Dingin. Mungkin lebih mirip dengan suhu air yang ada di kota kelahiranku, Bandung. Sehingga pada akhirnya aku hanya mencuci muka dan membersihkan gigi saja. Selanjutnya, aku langsung berjalan menuju halaman depan rumah untuk merasakan udara pagi di kota Saumlaki.

Hari ini adalah hari jumat. Saat berada di halaman depan rumah, aku melihat anak sekolah yang berjalan berbondong-bondong menuju tempat mereka belajar. Segerombolan anak itu terlihat penuh mengisi badan jalan, bahkan beberapa anak ada yang dengan sengaja berjalan ditengah jalan guna menunjukan aksinya didepan teman-teman lainnya. Canda gurau diantara mereka menjadi pemandangan yang luar biasa pagi ini. mereka terlihat kompak, berjalan beriringan, tak perduli wanita ataupun lelaki. Para remaja itu terlihat semangat untuk mencari ilmu. Dari seragamnya, aku bisa menduga bahwa mereka adalah anak-anak sekolah menengah atas. Maklum, beberapa minggu berada disini, aku belum bisa mengira-ngira tingkat pendidikan mereka jika tidak sedang menggunakan seragam sekolah. Postur tubuh yang mereka miliki tidak menjadi jaminan bahwa mereka masih SMP atau sudah SMA, bahkan bisa jadi mereka sudah sarjana.

Satu hal yang menarik perhatianku saat itu adalah cara mereka pergi menuju sekolah mereka. Aku membandingkannya dengan prilaku anak sekolah di kota-kota besar yang mungkin hampir semua siswa setingkat SMA sudah mengendarai sepeda atau bahkan mobil pribadi masing-masing. Disini tidak, hampir tidak ada satupun anak sekolah yang menggunakan kendaraan pribadi menuju lokasi mereka menimba ilmu. Rasanya, berjalan kaki bersama lebih terhormat dibandingkan dengan menggunakan kendaraan perseorangan. Mungkin hanya guru atau pagawai saja yang menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju lokasi kerjannya, sedangkan anak sekolah tidak demikian. Luar biasa.

Pagi itu aku mendapatkan pelajaran yang berharga dari segerombolan remaja yang berjalan kaki bersama menuju lokasi mereka menimba ilmu. Pelajaran itu sangat sederhana, dimana nilai sosial diantara mereka terasa lebih hidup. Nilai solidaritas mereka patut diacungi jempol. Meskipun aku yakin, nilai sebuah sepeda motor masih mampu diberikan oleh orang tua mereka demi menyenangkan anak-anaknya. Akan tetapi nilai kebersamaan dan interaksi satu sama lain jauh lebih mewah dari nilai sebuah kendaraan yang mereka gunakan. Salut.

Tidak ada bosannya aku mengamati semua kejadian sosial yang ada di kota ini. Namun matahari yang semakin tinggi mengharuskanku bangkit untuk segera menyelesaikan pekerjaanku. Pada akhirnya akupun berjalan menuju kamar mandi sambil menenteng handuk dan peralatan mandi yang aku bawa. Aku sudah tidak lagi memeperdulikan suhu air yang masih terasa dingin dibadan. Semua tergantikan dengan rasa segar setelah beberapa gayung air singgah diatas kepalaku. Segar. Selesai mandi, akupun langsung mencari seorang supir ojek dan memintanya untuk mengantarkaku kesebuah tempat pertemuan yang sudah aku janjikan hari sebelumnya.

Saumlaki, 22 July 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s