Saumlaki Series; Beautiful Sky

Purnama dan Kerlip Bintang Saumlaki

Malam akhirnya tiba. Ini adalah malam pertamaku berada di kota Saumlaki. Pemadaman listrik mengawali aktivitas malamku hari itu. aku tidak tahu, apakah pemandaman itu adalah hal yang biasa atau bukan. Yang pasti, saat listrik padam, aku langsung bergegas melihat alat meteran listrik yang tersedia di tempat tinggalku. Awalnya aku mengira bahwa listrik ini padam karena token PLN yang sudah habis, namun aku salah. Jumlah meteran masih sangat banyak sehingga aku yakin bahwa padamnya listrik adalah karena PLN.

Kota saumlaki gelap gulita. Tidak ada penerangan yang menyala satupun. Satu-satunya yang menyala hanyalah lampu dari kendaraan yang bergerak melintas di depan tempat tinggalku. Sisanya gelap. Aku bergegas mengambil sebuah senter ditas ranselku. Lampu senter dari handphone cukup dapat diandalkan untuk membantuku, sialnya aku lupa mengisi baterai pada siang hari sebelumnya. Aku cuma bisa berharap agar baterai handphone tersebut tidak segera mati, karena ia adalah satu-satunya teman yang masih menyala dan bisa menemaniku dikegelapan malam saat itu.

Disaat suasana kota gelap, aku kembali teringat akan keindahan bintang timur yang tahun lalu selalu aku saksikan setiap malam di pulau Wetar. Semua memori tentang keindahan itu perlahan kembali bernostalgia dipikiranku. Bergegas aku langsung terperanjat dari tempat dudukku dan berlari menuju halaman rumah tempat tinggalku. Aku sudah tidak sabar untuk menanti kehadiran gemerlap bintang timur yang begitu indah dipandang. Tentram.

Jam masih menunjukan pukul 19.00 WIT, lampu yang padam, dan kota yang gelap berhasil membuat kilauan bintang dilangit terlihat sangat jelas dan bersinar dengan bebas. Tidak ada satupun polusi cahaya yang menghalangi pancarannya.

Kerlipannya seolah-olah menari dengan indah, menemani setiap pandanganku yang mulai terhipnotis olehnya. Aku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya. Sampai-sampai, aku rela merubah posisiku yang awalnya duduk sekarang menjadi tidur dengan beralaskan pekarangan rumah. Cahaya bulanpun demikian. Bulan sedang menampilkan purnamanya. Bentuknya bulat sempurna dengan sinar yang pancaran yang sangat luar biasa. Warna orange dari bulan menambah kehangatan panorama malam itu. Sungguh luar bisa alam ini.

Rasanya, malam pertama kedatanganku di kota ini disambut dengan baik oleh alam. mereka seakan menyambutku dengan penuh sukacita. mereka seolah menerima kedatanganku dengan sangat antusias. Mereka nampak bahagia menantikan kahadiranku disini. Aku kembali masuk ke kediamananku ketika listrik sudah kembali menyala. Luarbiasa. Terima kasih alam.

Saumlaki, 21 July 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s