Flash Journey: Pawon Cave, Prehistorical Site

Cuaca sore hari yang masih bersahabat membawa perjalananku dengan seorang sahabat terdekatku berlanjut. Kali ini, motor melaju kebagian yang lebih barat dari taman wisata batu peninggalan jaman prasejarah; Stone Garden. Teriknya pancaran sinar matahari tidak membuat kami takut untuk melanjutkan ekprolasi. Juru parkir yang kami temui memberikan sedikit petunjuk mengenai tempat yang akan kami tuju. Menurutnya, patokan sebuah rumah makan disamping jalan besar dan sebuah gapura besar bertuliskan nama lokasi bertengger sangat jelas disamping jalan utama. Setelah helm dipakai, kami siap meninggalkan taman wisata yang sempat booming diawal tahun 2015 tersebut.

Jalanan yang kosong tidak memberikan kendala yang berarti bagi kami. Benar saja, tidak lebih dari lima menit kami keluar dari komplek wisata stone garden, kami sudah bisa menemukan sebuah rumah makan dan juga gapura yang dimaksud oleh sang juru parkir tersebut. Rupanya, untuk masuk ke lokasi tujuan, kami harus melewati banyak pemukiman warga yang berdiri disepanjang jalan masuk lokasi.

IMG_3763
Salah satu bagian dalam Goa Pawon

Goa Pawon adalah lokasi wisata yang akan kami kunjungi selanjutnya. Seperti yang sudah banyak diberitakan, Goa Pawon adalah sebuah goa prasejarah yang keberadaannya sudah masuk ke dalam situs cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Lokasi goa ini berada di desa gunung masigit. Menurut sejarahnya, goa ini pada mulanya nampak tidak begitu istimewa, namun setelah adanya penelitian lebih lanjut, tidak ada yang menyangka bahwa dilokasi ini terdapat banyak sekali tulang-belulang manusia serta serpihan batu yang diperkirakan telah memiliki umur lebih dari sepuluhribu tahun yang lalu. Sontak, hasil temuan ini menjadi peristiwa besar, khususnya bagi Jawa Barat, karena dinilai di lokasi ini adalah awal mula adanya kehidupan prasejarah serta asal usul keberadaan suku sunda. Aku sendiri sebenarnya baru pertama kali menjejakan kaki di lokasi ini.

Saat berada di gerbang masuk, kami melihat ada sebuah gapura besar yang menandakan bahwa kami telah sampai di area goa pawon. Tidak ada penjaga yang bertugas di loket pembelian karcis. Namun, saat aku sedang memarkirkan kendaraanku, seorang bapak datang menghampiri kami sambil membawa sebuah buku daftar kunjungan. Kamipun mengisi daftar hadir tersebut, dan tidak lupa membayar tiket parkir serta karcis masuk ke lokasi cagar budaya tersebut.

IMG_3764
Hutan di dalam Goa

Untuk memasuki mulut goa prasejarah itu, kami harus menaiki beberapa anak tangga terjal yang terbuat dari lempengan batu alam. Karena lokasi ini sudah dikelola secara profesional, maka tidak heran jika semua fasilitas yang ada begitu lengkap. Tangga sebagai pintu masuk misalnya, sepanjang jalurnya telah disediakan pegangan besi stainless agar para pengunjung bisa menaiki tangga dengan aman. Meskipun begitu, suasana alami didalam goa tetap dipertahankan. Saat akan tiba dimulut goa, kami disambut oleh burung-burung yang keluar dari goa tersebut, menandakan bahwa akan ada orang yang datang, sehingga waktu istirahat burung-burung tersebut terganggu. Yang sangat disayangkan adalah tidak adanya pemandu selama kami menjelajah ke dalam goa tersebut. Goa ini benar-benar sepi dari pengunjung. Aku bisa menghitung jumlah orang yang datang saat kami berada disana. Dan selama ekplorasi di dalam goa, hanya ada aku dan sahabatku saja yang berkunjung.

IMG_3786
Mulut Goa yang Menghadap Langit

Awalnya suasana mistis khas goa sangat terasa olehku, namun begitu masuk suasana itu hilang dan tergantikan oleh Susana penasaran untuk terus masuk dan melihat bagian paling dalam dari goa tersebut. Bau kotoran hewan sangat menyengat penciumanku. Rupanya, untuk masuk ke bagian utama goa, kami harus melewati sebuah lubang kecil sebagai pintu masuk ke beberapa ruangan besar yang terbentuk secara alami. Didalamnya, sebuah ruangan besar yang menganga berhasil memberikan pemandangan yang luar biasa bagiku. Sayangnya, beberapa bagian stalaktit dan stalakmit yang ada sudah banyak yang patah atau hancur. Bagi yang takut akan ketinggian, sangat tidak disarankan untuk mendekat kepingiran goa. Bukan tanpa sebab, goa ini berada tepat disebuah tebing besar, sehingga tidak ada batasan antara dinding goa dan bagian luar goa. Masuk lebih kedalam, baberapa pohon berdiri kokoh tepat ditengah lubang goa yang menhadap ke langit. Menyerupai sebuah hutan kecil, pohon tersebut sangat rimbun dan mentupi jalan masuknya sinar matahari ke dasar goa. Yang menjadi unik dari goa ini taklain adalah sebuah kerangka tulang (fosil) manusia yang sengaja tidak dipindahkan dari tempatnya. Ini bertujuan sebagai tempat edukasi bagi para pengunjung sehingga bisa mengetahui bahwa Goa ini pada jaman dahulu merupakan tempat bernaung atau berteduh para manusia prasejarah. Demi menjaga keutuhan dari fosil tersebut, pihak pengelola sengaja memagari lokasi fosil agar tidak rusak oleh tangan jahil yang datang. Aku terkesima ketika melihat sebuah lubang besar di dinding goa yang mengahadap kebagian depan. Bagaimana tidak, dibalik lubang tersebut terdapat panorama indah berupa hamparan padang sawah yang sedang menghijau, serta pegunungan bagian barat kota Bandung. Tidak ada kata bosan untuk terus memandannya. Indah. Namun pengunjung harus tetap hati-hati karena lagi-lagi tidak ada pembatas antara mulut lubang dan bagian luar goa yang berupa jurang.

IMG_3771
Kamuflase

Semakin sore, Suasana didalam goa semakin sepi. Beberapa bagian goa mulai gelap karena sinar matahari yang masuk mulai berkurang. Aku dan sahabatku sepakat untuk bergegas meningalkan lokasi goa tersebut. Dengan sangat hati-hati, kami kemudian turun dari atas goa untuk kembali ke tempat awal kami masuk. Kembali memasuki lubang kecil, serta kembali menuruni anak tangga yang lumayan cukup terjal. Monyet-monyet penghuni goa sudah mulai banyak yang turun mancari makan. Dengan sigap, monyet-monyet tersebut berlarian ketika kami mendekat. Kami kemudian bergegas untuk pulang karena waktu adzan magrib sudah hampir tiba. Perjalanan kami di goa pawon pun berakhir setelah kami pamit ke petugas yang sedang bersantai disebuah warung penjual es kelapa muda. Sepanjang jalan, aku terus membayangkan bagaimana kerasnya kehidupan pada masa prasejarah itu. Lebih dari itu, Goa Pawon hanyalah saksi bisu dari sepersekian persen jumlah sejarah mengenai perkembangan manusia untuk bisa sampai pada titik masa kini. Semoga keindahan goa ini bisa terus terjaga sampai kapanpun. Jangan sampai nasibnya sama dengan gunung-gunung batu yang sudah habis digali oleh manusia modern. Sampai jumpa kembali masa Mesolithikum, Preneolithikum, serta Neolithikum.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s