Happy Express in DuFan

“Serius puasa gini ke dufan?”

“Lah memang gak boleh yah?”

“Tapi kan ini puasa, cape gak sih harus teriak-teriak? Nanti haus.”

“Yang penting kan niatnya.”

“Tapi.”

“Oke.”

Kamipun kemudian menentukan tempat sekaligus waktu bertemu yang paling tepat untuk meluncur mengunjungi tempat bermain tersebut.

Dufan, atau dunia fanstasi bukanlah hal yang baru bagiku. Petama kali mengujunginya, jika tidak salah adalah ketika aku masih berada di bangku SMP. Aku masih ingat kala itu aku ketagihan dengan sebuah wahana roller coaster yang lebih dikenal dengan nama Halilintar. Saat itu team rombongan karya wisata dari sekolahku datang tepat pada saat musim liburan tiba. Otomatis suasana taman bermain ini sangat padat sehingga setiap pengunjung harus pandai dalam memilih wahana yang akan dinaikinya. Pun demikian denganku yang kala itu harus mengantri panjang untuk bisa menaiki wahana yang dinilai sangat extreme itu.

DSC09294
Sepi – DuFan yang tidak seperti biasanya

“Bagi yang menderita serangan jantung, asma, serta wahita hamil diharapakan untuk tidak menaiki wahana ini, dikarenakan ini adalah wahana yang masuk dalam katagori ekstreem.” Suara seorang wanita dibalik speaker kembali mengimbau para penumpang kereta halilintar yang sudah siap untuk diberangkatkan. Keteganganku perlahan muncul kala itu.

***

Minggu pagi aku terbangun ketika ada pesan masuk ke dalam handphoneku. Pesan itu hanya berisi kata ‘woy’ yang menandakan bahwa ia sedang berteriak membangunkanku. Aku sendiri sebetulnya sudah bangun beberapa saat sebelum pesan tersebut masuk kedalam kotak inbox dihandphoneku. Seketika akupun membalas isi pesan tersebut dengan kecepatan penuh.

“Woy.”

“Siap.”

“Jadi gak?”

“jadi dong!”

“10 menit lagi berangkat.”

“Hah? Cepet amat, mandi aja belum kali.”

“Kirain udah siap.”

“Bentar mandi dulu.”

“Sip, berkabar.”

“Oke.”

Mendengar sahabatku yang masih belum siap, aku kembali berbaring ditempat tidurku. Memainkan handphone dan mengecek beberapa email serta notifikasi lainnya yang masuk kedalamnya adalah aktifitas pertama yang aku lakukan pagi itu. Setelah aku membalas beberapa pesan yang masuk, aku kemudian bergegas mengambil handuk dan meluncur menuju kamar mandi. Cuaca Jakarta pagi itu sangat cerah. Tidak telihat sedikitpun awan hujan di atas langitnya. Air dingin sangat pas untuk memberikan kesegaran untuk badanku siang itu. Setelah selesai mandi, akupun memesan layanan transportasi online untuk mengantarkanku ke tempat aku dan sabahatku, Ghina bertemu.

DSC09481
Dufan Hits

Ada-ada saja ulah pengemudi gojek ini, batinku. Setiap kali aku menggunakan jasanya, pasti ada kejadian yang entah unik atau justru malah membahayakanku sebagai penumpangnya. Melawan arus, atau melanggar lampu lalulintas yang masih berwarna merah mungkin merupakan hal yang wajar terjadi dijalanan ibukota yang sangat macet tersebut, namun melintasi pembatas jalan bagiku sudah bukan lagi hal wajar yang bisa ditolerir. Alih-alih jalanan yang macet dan juga mengejar waktu, akhirnya mau tidak mau akupun memasukan hal tersebut kedalam batas kewajaranku. Sudahlah.

DSC09554
Merry go round

Tepat pukul 11.00, aku sampai ditempat pertemuanku dengan ghina. Kami bertemu disebuah halte busway yang berada di daerah sarinah. Kami memang sudah berancana untuk menggunakan busway untuk mengantarkan kami langsung ke lokasi taman wisata fantasi yang berada dibagian utara Jakarta tersebut. Awalnya, tidak ada keluhan saat menaiki moda transportasi masal ini. penumpang yang padat serta tidak mandapatkan tempat duduk merupakan hal yang sudah sangat biasa yang harus kami terima jika menggunakan moda transportasi ini. Tetapi, setelah sampai di halte senen, dimana kami harus transit sebanyak dua kali sebelum sampai di ancol, kami harus menunggu sangat lama kehadiran bus tersebut. Hanya sabar karena puasa lah yang mampu membuat kami tetap berdiri menunggu kedatangan bus besar tersebut.

***

DSC09329
Wahana Tornado

Ancol terlihat sangat sepi sekali hari itu. Tempat parkiran mobil nampak sangat lenggang. Tidak terlihat kerumunan manusia yang biasanya sudah menanti antri di loket pembelian tiket. Pintu gerbang masukpun nampak sangat lenggang. Hanya ada dua gate yang dibuka dan dijaga oleh petugas pemeriksaan tiket. Berbeda dengan 9 tahun yang lalu, ketika aku harus mengantri cukup lama untuk bisa masuk ke dalam kawasan fantasi itu. Hari ini, hanya ada setidaknya lima orang saja didepanku yang harus aku tunggu sebelum aku bisa mendengarkan themesong khas dunia fantasi yang masih saja belum berubah dari waktu terakhir aku mengunjunginya. Hal yang paling aku rindukan dari tempat ini bukanlah wahana ekstreem yang menjadi permainan favoritku, malainkan sebuah kipas angin besar yang berputar sangat cepat dan mengeluarkan butiran-butiran air yang membuat siapa saja pasti akan merasakan kesejukan yang luar biasa saat berada didekatnya.

Dunia Fantasi resmi dibuka pada tahun 1985. Dufan sendiri memiliki mascot utama berupa seekor kera bekatan. Kera tersebut dipilih karena dahulu kawasan berdirinya lokasi taman wisata ini adalah tempat hidup para kera. Namun kera bekantan dipilih bukan karena lokasinya terdahulu, melainkan dengan maksud untuk mengenalkan satwa yang dilindungi dan hampir punah keberadaannya. Dufan kemudian menjadi nama dari sang mascot utama tersebut. Lebih dari itu, dunia fantasi juga memiliki beberapa maskot lain yang diperkenalkan kepada para pengunjungnya. Sebut saja Bije, yang terdapat pada logo cap tanda masuk kami saat itu. Bije sendiri tak lain adalah kependekan dari Bison Jenaka.

DSC09648
Romantism Bianglala

Nigara gara, menjadi wahana pembuka kami. Sebuah kereta luncur yang dapat diisi oleh maksimal empat orang, dan berada pada sebuah lintasan air yang kemudian diterjunkan dari ketinggian 30 meter itu membuat seluruh badan dan pakaianku basah. Naik wahana ini membuat ketegangan tersendiri untukku. Ditambah aku yang masih takut akan ketinggian berhasil membuat jantungku bergejolak penuh ketegangan. Wahana ini menurutku menceritakan sebuah perahu yang sedang berada disungai Niagara dan harus terjun bebas, jatuh memasuki air terjunnya yang sangat tinggi. Setelah basah, rumah jahil dan beberapa wahana yang tidak terlalu ‘serius’ kami jajal. Belum lama kami berpetualang, seorang sahabatku lainnya, ignas, mengirimkan pesan dan bertanya perihal keberadaan kami. Dan setelah berbicara panjang lebar, akhirnya ia pun setuju untuk menyusul dan ikut dengan kami berpetualang di Dufan. Sambil menunggu kedatangannya, kami masuk ke sebuah wahana yang baru dibuka yang memiliki antrian yang sangat panjang. Lumayan untuk beristrihat dari rasa haus berpuasa. Batinku.

Setalah ignas bergabung, petualangan kamipun dilanjutkan. Wahana Ice Age, Histeria, dan wahana lainnya yang masih tersisa kami mainkan. Kora-kora menjadi wahana paling seru yang kami naiki karena berhasil membuat ghina, yang masih trauma akan kejadian 15 tahun silam dimana saat itu adalah pertama kalinya ia menaiki wahana ini. Efek trauma berupa ketakutan untuk mengulangi wanaha tersebut masih terus melakat sampai sekarang. Namun, dengan sedikit tipu muslihat dan paksaan, akhirnya iapun luluh dan mencoba kembali memainkan wahana yang ditakutinya tersebut.

“Duduk di tengah aja yaa!”

“Mmm.” Tidak ada jawaban dari kami berdua yang langung berjalan menempati kursi bagian belakang.

Ghina sudah duduk di bangku tengah, namun karena melihat kami yang berjalan melaluinya, secara otomatis ia-pun kembali berdiri dan bergabung bersama kami yang mengambil bangku belakang. Wajah tegang nampak jelas dimukanya. Panik.

Hampir kurang lebih tiga menit wanaha tersebut berjalan, dan ketakutannya-pun semakin menjadi-jadi. Air mata keluar dari sela-sela matanya.

“Pusingnya masih berasa sampai sekarang.” Keluhnya.

“Hahahaha.” Aku dan Ignas tertawa lepas mendengarnya.

“Tapi seru kan?”

“Gak mau lagi.”

“Hahaha.”

Waktu buka puasa akhirnya datang. Hujan deras membuat beberapa wahana terpaksa harus ditutup. Bianglala, yang menjadi wahana paling romantis-pun terkena dampaknya. Dalam hati aku bersyukur karena wahana roda besar itu tidak beroprasi.

***

DSC09737
Checkpoint

Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi Dufan selalu memberikan keceriaan yang maksimal bagi para pengunjungnya. Wahananya yang sudah nampak usang dan berumur tidak menjadi halangan bagi siapa saja untuk berkunjung walau hanya sekedar menghirup udara kebebasan dari hiruk pikuknya Jakarta. Selesai berpetualang di Dufan, kami bertiga berjalan menyusuri pantai utara ancol sambil menikmati ‘indahnya’ panorama laut jawa. Sebuah minimarket 24 jam menjadi oase kami dikala haus mulai melanda. Sampai akhirnya kami bertiga berpisah karena malam sudah hampir larut. See you next year Dufan. Bianglala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s