Dialogue : Himalaya’s Summit Experience & Adventure Journalism

Dialogue : Himalaya Summit Experience & Adventure Journalism

Jumat malam, aku mandapat pesan singkat dari seorang teman yang sedang mengikuti pelatihan di daerah ciracas, Jakarta Timur. Pesan itu berisi sebuah gambar mengenai suatu event journalism. Aku yang memang sedang berada di kota Jakarta langsung saja menyambut acara tersebut dengan sangat gembira. Alasannya taklain karena berarti aku memiliki variasi kegiatan selama aku berada di kota ini. Rasanya semakin menjelang malam, aku semakin tidak sabar untuk segera hadir di acara tersebut.

Dari judulnya, aku berfikir bahwa acara ini terlihat sangat santai sekali. Topik yang akan dibahas adalah tentang bagaimana membuat laporan catatan perjalanan suatu petualangan di alam bebas. Himalaya’s summit experience dan Adventure Journalism adalah salah satu tema yang diangkat dari pokok pembahasan di acara tersebut. Melihat judulnya saja, aku sudah tidak sabar untuk bisa ikut bergabung dengan para narasumber yang ada.

IMG_3421
Talking Sesion : Ultra7

Hari sabtu sore, Gojek yang aku pesan kemudian datang menjemputku. Setelah pamit pada teman satu kantor, aku langsung memakai helm hijau khas dan meluncur ke tempat dimana acara itu berlangsung. Jalanan yang padat dan basah sehabis hujan tidak menyurutkan niatku untuk pergi ke lokasi tersebut. Lokasinya sendiri berada di Kampus Sekolah Tinggi Managemen Tranport Trisakti. Aku menyerahkan semua parjalananku kepada abang gojek yang baru saja mendapatkan pelanggan pertamanya hari itu. Tidak lebih dari duapuluh menit perjalanan, aku telah sampai di sebuah kampus besar yang berada disamping sungai besar dan komplek kuburan cina dijalan kebon nanas. Di depan pintu masuk kampus, aku ditahan oleh dua orang satpam kampus tersebut. Mungkin ini adalah kampus pertama di Indonesia yang aku datangi yang mewajibkan setiap pengunjung menitipkan identitasnya demi mendapatkan kartu tanda pengenal yang dijadikan sebagai tiket masuk kampus tersebut. Lucu juga, pikirku. Ini mirip dengan sebuah peraturan kampus yang pernah aku kunjungi di Filipina sewaktu aku masih kuliah. Melalui satpam itulah kemudian aku bertanya perihal tempat kegitan acara tersebut berlangsung.

            “Mas naik lift saja langsung ke lantai 7”, instruksinya setelah aku mendapatkan kartu tanda masukku. Karena hari ini adalah hari sabtu, suasana kampus terlihat sangat sepi sekali. Tidak banyak aktifitas yang biasa dilakukan oleh para mahasiswa layaknya sebuah gedung pendidikan. Aku hanya melihat beberapa orang saja yang sedang berkegiatan di kampus tersebut. Lift pun kemudian terbuka, dan aku langsung menekan tombol 7. Seorang wanita datang dengan berlari kecil berusaha untuk mendapatkan lift yang sama denganku. aku yakin bahwa wanita tersebut memiliki tujuannya yang sama denganku, yaitu mengunjungi lantai 7 dan mengikuti acara yang sama denganku. Tebakanku ternyata benar, tidak ada tombol lain yang ditekan oleh wanita tersebut, itu artinya aku akan datang berdua dengannya menghadiri acara tersebut. Aku bersyukur dalam hati, karena ada ‘teman’ yang menemaniku saat masuk menghadiri acara itu. Setelah melakukan registrasi pada selembar kertas, kami pun masuk dan berpisah di dalam ruangan tersebut. Sedih.

IMG_3425
Expedition before Seven Summit Indonesia

Saat masuk dan mencari tempat duduk, rupanya dipanggung utama sudah ada dua orang pembicara yang sedang memaparkan pemikirannya mengenai topik pembicaraan sesuai tema acara. Aku sempat tersenyum kecil ketika sang narasumber utama yang ternyata jebolan dari Hubungan International Unpar itu berkata bahwa karena judul acaranya adalah ngabuburit, maka berarti acara ini memang dikemas dengan sangat santai dan tidak terlalu serius. Dia adalah Bima Prasena. Alumni HI Unpar angkatan 2002 itu juga merupakan salah satu anggota Wanadri yang sangat aktif dalam kegiatan alam bebas. Selain aktif dalam kegiatan di alam terbuka, Bima juga memiliki hobby menulis laporan perjalanan yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi narasumber dalam kegiatan ini. Saat ini, bang Bima, begitu aku menyebutnya merupakan pentolan dari kegiatan ekspedisi Ultra7, dimana misi dari kegiatan tersebut adalah untuk meng-update semua data dari ketujuh puncak tertinggi yang ada di Indonesia. Tahun sebelumnya, team ini berhasil menaklukan puncak Island Peak dan Himalaya basecamp dari jalur Khatmandu, Napal sebagai latihan sebelum ekspedisi seven summit Indonesia dimulai. Disampingnya duduk seorang gadis cantik bernama Tinitis Rinowati sebagai perwakilan dari Matrapa. Selain menjadi narasumber pendukung, Tinitis juga aktif dalam menjelaskan perihal teknik-teknik penulisan artikel jurnalistik dalam acara tersebut. Rupanya, narasumber yang dihadirkan di acara ini bukan hanya mereka saja, tetapi ada juga semua team Ultra7 yang terdiri dari Noer Hoeda, Agustinus Dwi Cahyo, serta Maul sebagai master dokumenter dari kegiatan ekspedisi itu.

IMG_3428
foto bersama para personil Ultra7

inti dari penjelasannya  pada acara ini adalah bahwa sebuah dokumentasi dan laporan perjalanan menjadi sangat penting untuk suatu ekspedisi. Melalui pendokumentasian, perjalanan kita adalah nyata dan dapat dibuktikan. Menurut Bima, ada lima unsur yang dapat menjadikan sebuah foto menjadi bagus dan indah. Kelima unsur tersebut adalah lokasi, waktu, teknik, komposisi dan soul. Akan tatapi, menurut Maul selaku visual desainer, unsur soul-lah yang merupakan unsur yang paling wajib dimiliki oleh sebuah gambar dukumentasi. Baginya, unsur soul hanya bisa didapatkan apabila seorang dokumentor dapat melebur dalam setiap foto yang diambilnya. Terlebih, tambahan dari Tinitis, bahwa unsur 5W + 1H tetap harus tetap ada dalam setiap penulisan artikel pelaporan perjalanan. Semua narasumber kemudian sepakat bahwa setiap penulis memiliki gaya yang berbeda dalam setiap penulisannya, namun intinya adalah terus menulis dan belajar untuk ‘peka’ terhadap keadaan atau kejadian yang ada disekeliling kita.

IMG_3427
Journalism Media

Rasanya, acara ini harus berhenti karena kumandang adzan magrib sudah terdengar. Moment buka puasa tersebut pun digunakan oleh para pengunjung acara untuk berfoto bersama dan saling bertukar nomor kontak jikalau suatu saat diperlukan. Aku sendiri juga tidak luput dari hal tersebut, aku kemudian meminta nomor kontak dari masing-masing anggota team Ultra7. Aku masih menaruh rasa penasaran dengan setiap ekspedisi yang dilakukan oleh mereka. Waktu 3 jam rasa masih sangat kurang untuk berdiskusi lebih lengkap dan menggali banyak informasi yang aku perlukan untuk perjalananku selanjutnya. Setelah sholat dan berpamitan, akupun kemudian melanjutkan kegiatanku selanjutnya. Sampai berjumpa kembali Team Ultra7, selamat menjalankan ekspedisi seven summit Indonesia, semoga kita bisa bertemu di pendakian pertama kalian : Semeru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s