Exploring Culinary at Square of Batu City

Berjalan kaki mengelilingi Kota Batu buatku memiliki kesenangan tersendiri. Bagaimana tidak, kota yang letaknya berada diperbukitan itu memiliki suhu yang sejuk, sehingga meskipun matahari sudah berada tepat diatas kepala, aku tetap tidak merasakan hawa panas sedikitpun. Berbekal flannel dibadan, sore itu aku turun dari kantor perintahan kota batu menuju alun-alun kota. Jaraknya tidak begitu jauh. Bila menggunakan kendaraan pribadi, dapat ditempuh dalam waktu 5 menit, sedangkan jika berjalan kaki, hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 20 menit. Karena aku rasa hari masih belum terlalu malam dan suhu yang lumayan dingin, aku memutuskan untuk berjalan kaki saja.

DSC09185
Suasana Alun-Alun Kota Wisata Malam Hari

Jalanan yang menurun membuat langkahku seakan terbantu oleh hukum grafitasi. Trotoar kotanya yang bagus membuat perjalananku tidak terasa lama. Pertokoan dan pedagang kaki lima yang aku jumpai mulai sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Dari kejauhan, riuh ramai wisatawan yang baru saja turun dari sebuah bus besar terlihat sangat ramai. Para wisatawan itu berbondong-bodong keluar dari bus besar dan langsung sepakat untuk masuk dan berfoto disebuah taman yang letaknya tepat ditengah-tengah persimpangan jalan. Hari ini, suasana alun-alun wisata kota Batu sangat ramai. Hari libur membuat banyak wisatawan lokal datang mengunjungi kota yang sejuk ini.

DSC08613
Sempol dan Pentol 

Aku tak mau kalah dengan mereka para wisatawan. Aku kemudian masuk dan berputar-putar mengelilingi padatnya alun-alun kota wisata ini. lucu juga, batinku. Bagaimana tidak, Wahana wisata murah yang mulai dibuka kembali pada bulan Mei 2011 itu mampu menarik banyak wisatawan untuk berkunjung menikmatinya. Di area yang menurutku tidak terlalu luas itu terdapat sebuah Bianglala besar tepat diujung tamannya. Secara tidak langsung, taman ini kemudian menjadi sebuah tempat iconic yang dimiliki oleh kota Batu. Tidak hanya bianglala, berbagai wahana lain seperti air macur yang dapat menari disajikan di tanam ini. beberapa patung yang menjadi ikon dari kota batu dan malang pun turut hadir menghiasi setiap sudut taman. Dengan panorama alam gunung Arjono, gunung Anjosmoro, dan Gunung Banyak, alun-alun ini sungguh membuat nyaman siapapun yang hadir walau hanya sekedar duduk dan berfoto saja.

DSC09175
Air Mancur Menari

Di sekeliling alun-alun ini, hampir semua pedagang makanan dan minuman selalu siap melayani siapa saja yang mulai lapar. Rasa penasaranku muncul saat melihat sebuah makanan yang dijajakan oleh seorang pedagang kaki lima. Sempol, dari namanya saja berhasil membuat rasa penasaranku muncul. Berbeda dengan Pentol yang taklain adalah Bakso, Sempol ini adalah irisan daging sapi yang berbentuk kotak dan kemudian digoreng dengan minyak panas. Rasanya, tidak jauh dari Pentol yang biasa aku makan sewaktu di Pare.

DSC08615
Ramainya Ketan Legenda – 1967

Sambil terus berjalan, aku kemudian melihat sebuah warung penjual ketan yang sangat ramai. Pengunjung yang ingin membeli terlihat mengular sampai ke badan jalan. Aku kemudian mendekati dan masuk ke dalam antrian tersebut. Pos Ketan Legenda namanya. Dari papan namanya saja, kita sudah diberitahu bahwa pos ketan ini sudah berdiri sejak tahun 1967. Pos Ketan ini rupanya sudah menjadi ikon kuliner Batu sejak lama. Menu yang disajikannya adalah beragam varian rasa dari ketan. Karena ingin merasakan sensasi ketan asli, maka aku memesan rasa ketan original yang hanya diberi serbuk biji kedelai yang ditumbuk, susu manis, serta parutan kelapa sebagai toppingnya. Enak juga rasanya, batinku. Entah karena memang perut yang sudah lapar atau karena memang doyan, akhirnya aku kembali masuk ke dalam antrian untuk memesan porsi keduaku malam ini. Setelah dirasa cukup, aku kemudian pergi meninggalkan pos tersebut dan masuk kesebuah gerai susu tepat didepannya. Namanya Kios Susu Ganesha, depot ini menjual beragam varian rasa susu murni yang langsung didatangkan dari peternak sapi yang ada disekitar Kota Batu. Aku kemudian memesan dua buah susu murni untuk aku nikmati sambil berkeliling di alun-alun kota.

DSC08627
Kedai Susu Ganesha

Rasanya, bagi para pencinta wisata kuliner, mengunjungi Alun-alun wisata itu wajib hukumnya. Semua jenis makanan baik itu asli Kota Batu ataupun makanan modern tersedia disini. Selain harganya yang sangat terjangkau, pilihan jenis makannanya pun sangat banyak dan beragam. Sayang, malam itu perutku sudah sangat kenyang, sehingga aku tidak mampu lagi jika harus terus menampung semua jenis jajanan unik yang ada. Mungkin lain kali aku akan sengaja mengosongkan perutku hanya untuk berwisata kuliner di Kota Wisata ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s