Shining Batu, Kejuaraan Wushu Junior Se-Indonesia Piala Walikota Batu 2016

Shining Batu, Kejuaraan Wushu Junior Se-Indonesia Piala Walikota Batu 2016.

Aku selalu menaruh rasa penasaran setiap kali ada teman yang bercerita mengenai kota ini. Kota yang katanya dingin dan penuh dengan tempat destinasi wisata baik alam atapun buatannya itu sempat menjadi perbincangan dikalangan pencinta wisata. Muncul dengan slogan kota wisata, Kota Batu menjelma menjadi sebuah kota mandiri setelah menyatakan berpisah dari kota Malang. Beberapa tempat wisatanya berhasil menarik banyak wisatawan baik domestik ataupun mancanegara untuk datang dan berkunjung ke kota ini.

DSC08498
Sore disebuah persimpangan jalan kota Batu

Aku mamasukan dua buah kaos dan handuk kecil serta seperangkat alat kerja beberapa jam sebelum kereta yang mengantarkanku ke stasiun Kediri datang. Rencananya, aku akan pergi mengekplorasi berapa tempat di kota ini sebelum bulan ramadhan tiba. Disamping itu, perhelatan pertadingan wushu junior tingkat nasional sedang digelar disana, sehingga rasa semangatku untuk berkunjung semakin berkobar. Kereta ekonomi tujuan Kediri berangkat tepat pada waktunya. Setelah sampai stasiun terakhir, aku menyampatkan diri dahulu untuk mengunjungi beberapa teman yang ada di kampung inggris, Pare. Tujuannya hanya sekedar bersilaturahmi sebelum aku harus berpindah angkutan menuju Kota Batu. Waktuku di Pare ini Tidak lama, dan setelah makan siang, aku meminta tolong kepada seorang sahabatku untuk mengantarkanku ke terminal dimana bus tujuan Malang berada. Beruntung, tidak perlu waktu lama untuk menunggu bus yang aku maksud, karena sesaat setelah aku sampai terminal, bus pun keluar dan mengantarkanku ke Kota Batu. Perjalanan dari Kediri ke Batu ditempuh selama kurang lebih 3 jam. Rasanya, melintasi jalanan antar kota yang masih hijau dan dipenuhi oleh pepohonan rimbun tidak membuatku bosan. Sepanjang perjalanan, angin dingin khas pegunungan terus terasa sehingga membuatku harus mengambil dan memakai kemeja flannel yang ada di dalam tas ranselku. Aku lupa memasukan jaket kedalam tasku. Ini karena pada saat pergi, yang ada dikepalaku hanyalah suhu kota Kediri yang sangat panas, sehingga aku tidak membutuhkan jaket untuk mengunjunginya.

DSC08500
Trotoar Black-White Kota Batu

Bus Bagong yang mengantarkanku tiba di Batu tepat pukul 17.00. Saat turun, aku merasakan suasanya yang sangat mirip sekali dengan suasana Cikole Lembang, Jawa Barat. Suhu dingin dan lembab membuat bulu halusku ditanganku tiba-tiba berdiri. Kepulan asap muncul saat aku menghembuskan nafas. Wow, inikah Batu? Batinku bertanya. Dengan ramah, aku menolak setiap tawaran tukang ojek yang datang menawarkan jasanya padaku. Hari ini, hari pertamaku di kota batu, aku ingin menyelesaikannya dengan hanya berjalan kaki saja, pikirku. Lokasi tujuan pertamaku adalah tentu saja venue pertandingan wushu yang sedang digelar di kota tersebut. letaknya adalah di halaman timur balai kota Among Tani. Tempat itu ternyata adalah kawasan kantor pemerintahan kota Batu yang baru dan baru saja selesai dibangun. Karena aku sendiri tidak tahu dimana letak tempat tersebut, sehingga akupun pada akhirnya bertanya pada seorang ibu penjual gorengan yang baru saja membuka lapak jualannya. Sambil berbincang aku melahap beberapa buah bakwan dan singkong yang baru saja digoreng, masih panas dan cukup untuk mengganjal perutku sampai makan malam tiba.

DSC08506
Kejuaraan Wushu Piala Walikota Batu

Dinginnya cuaca menjelang malam hari membuatku semakin bersemangat untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalananku menyusuri trotoar jalanan kota ini sungguh mengasikan. Letaknya yang berada diketinggian dan masih dikelilingi oleh pegunungan membuat aku bisa melihat dengan jelas kelipan bintang dilangit dan juga lampu kota yang mulai menyala. Diakhir perjalanan, aku melihat sebuah panggung besar dengan tirai berwarna merah yang membentuk dinding dipasang mengelilingi panggung tersebut. tidak salah lagi, ini adalah tempat tujuan pertamaku.

DSC08543
Beraksi dihadapan Wasit Juri

Kejuaraan Wushu Junior Se-Indonesia – Piala Walikota Batu 2016, itulah tulisan besar yang tercetak dalam sebuah backdrop besar yang menggantung tepat ditengah-tengah panggung tersebut. Di atas panggung, aku melihat seorang gadis kecil sedang menunjukan keahliannya memainkan jurus tangan kosong dihadapan sepuluh orang wasit juri. Tanpa malu, anak tersebut mengeluarkan sekuat tenaga dan kemampuannya untuk membuat para wasit/juri terkesima, berharap mereka rela mengeluarkan nilai yang tinggi untuknya. Teriakan penonton menggema menyemangati gadis kecil itu. Lampu sorot berwarna kuning sukses membuat suasana panggung terlihat mewah. Bayangan hitam yang muncul dari setiap gerakan sang atlet terbentuk sempurna menemani kesendirian atlit tersebut di atas panggung. Berhubung hari sudah terlalu malam dan suhu udara semakin dingin, acara pertandingan tersebut harus diberhentikan dan dilanjutkan keesokan harinya. Aku kemudian tersenyum sendiri melihat suasana disekitarku. Tersenyum karena pada akhirnya aku sampai di Kota Batu, serta tersenyum karena mungkin ini adalah event wushu nasional pertama yang aku hadiri yang dilaksanakan di lapangan terbuka. Hallo Batu ! Iam ready for exploring you.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s