Throwback to Part of My Journey

Pagi ini aku iseng kembali melihat beberapa album perjalanan yang masih tersisa didalam Hardisk usangku. Bebapa file itu kembali mengingatkanku pada beberapa kejadian yang menurut pribadiku itu sangat luar biasa. Mungkin jika diurut dari beberapa tahun ke belakang, perjalananku mengunjungi ke beberapa destinasi wisata di Indonesia ini benar-benar membuat setidaknya pengalamanku bertambah.

IMG_4333
With Elephant – Way Kambas

Sebagai contoh, aku teringat pada perjalanan solo travel ku ke Lampung. Perjalanan itu terwujud karena rasa penasaranku usai melihat sebuah tayangan di stasiun televisi swasta yang membahas tentang petualangan mengunggang seekor gajah jinak di suatu kebun binatang terkenal di Bali. Melihat atraksi itu membuatku langsung terbayang akan keindahan Taman Nasional Way Kambas di Lampung. Akupun kemudian berangkat keesokan harinya tanpa banyak persiapan. Saat perjalanan menggunakan bus tujuan Bandung-Merak, seorang teman kemudian menghubungiku dan mengatakan bahwa iapun sedang berangkat ke Lampung guna menghadiri acara pemakaman kekeknya. Entah itu berita buruk atau bukan, yang pasti kejadian itu sungguh datang secara tiba-tiba dan membuatku sebenarnya sedikit malu karena harus melakukan liburan disaat seseorang sedang berduka. Awalnya aku memang berancana untuk tidak bertemu dengan temanku tersebut di Lampung, namun atas permintaaannya, akhirnya akupun mengunjunginya dan pada akhirnya mengeksplorasi Lampung bersama dengannya. Miris.

IMG_6681
Jimun Trip – Gunung Padang

Petualangan lainnya mungkin yang labih lama lagi berada di folder album kenanganku. Sebuah perjalanan bersama tiga orang sahabatku menggunakan sebuah mobil offroad menyusuri keindahan Pantai Sawarna dan Gunung Padang yang ada di Banten dan Cianjur. Kami manamai perjalanan ini dengan nama Jimun Trip. Jimun sendiri adalah sebuah mobil jenis jimny berwarna merah yang sudah dimodifikasi selayaknya mobil offroad yang bisa melaju dimana saja. Meskipun dengan tempat duduk seadanya, kami menikmati perjalanan tersebut seakan menjadi group petualangan yang benar-benar baru datang ke tempat baru. Ketidaktahuan kami akan lokasi bukan menjadi halangan bagi kami berempat untuk terus menginjak pedal gas menuju lokasi tujuan. Hujan lebat, tanjakan terjal, sampai jalan yang berlumpur kami labas tanpa ampun. Ruangan sempit tempat kami menginap menjadi saksi bisu ketidak-tahuan kami mengenai objek wisata tersebut. Sampai sekarang aku selalu kangen untuk melakukan perjalanan bersama dengan teman-temanku itu.

IMGP0549
Karimun Jawa – Photo by Me

Selanjutnya, aku melihat album dimana aku melakukan petualangan ke karimun jawa bersama kurang lebih sepuluh orang taman kuliahku. Perjalanan itu cukup menegangkan juga buatku. Terlabih itu adalah perjalanan laut paling panjang pertama yang aku alami. Memang 12 jam dilautan bisa saja aku hadapi dengan biasa, namun saat itu gelombang musim barat yang bisa mencapai 4-5 meter membuat kapal kayu logistik yang kami tumpangi terombang-ambing tidak karuan. Tak ayal rasa mual dan pusing pasti hinggap kepada siapa saja yang tidak terbiasa dengan perjalanan laut, tidak terkecuali aku. Mengingat perjalanan ke karimun jawa ini sebenarnya bisa dibilang petualangan yang tidak tepat waktu. Mengapa? Karena kami pergi pada saat musim barat baru saja dimulai. Dan awal musim barat biasanya sangat tidak dianjurkan untuk bermain atau berhubungan dengan lautan. Aku baru mengerti, mangapa banyak kapal yang tidak berani berlayar pada musim ini. Selain angin kencang, siklus gelombang pun tidak menentu sehingga para nelayan handal sulit untuk menghitung datangnya gelombang. Perjalanan yang menantang ini tetap membuatku bahagia, karena setidaknya saat itu aku resmi menanggalkan status jomloku kerena sepulangnya berpetualang di Semarang, aku mendapatkan kekasih. Ahiiiwww..

IMG_8231
Terjun dari jembatan cinta – Pulau Tidung – Photo by Me

Album selanjutnya yang aku buka adalah perjalananku mendaki sebuah gunung wisata di daerah Garut, Jawa barat. Gunung Papandayan menjadi kisah pertamaku dalam aktifitas pendakian gunungku. Kala itu semua teman-teman komunitas fotografiku mengajak berlibur ke sebuah gunung di Garut. Niatnya sih mendekatkan diri pada alam, karena saat itu masing-masing dari kami sedang mengalami masa jenuh dengan dunia fotografi dan mengusulkan untuk mencari hobby baru. Kondisi gunung yang masih sepi dan rindang membuat perjalanan pendakianku sungguh bermakna. Babi liar masih banyak berkeliaran di gunung itu, bahkan tahun itu belum ada biaya retribusi yang diberlakukan oleh pengelola gunung tersebut. biaya masuk kesana cukup dengan membayar seikhlasnya saja. Pondok salada dan tegal alun menjadi tempat pertamaku melihat indahnya bunga eidelweis yang kala itu tertutup kabut putih khas cuaca gunung.

IMG_1428
Perjalanan di Papandayan

Oh iya, aku lupa soal album perjalanan pertamaku dengan teman-teman kuliah satu geng, Pulau Tidung. Pulau yang masih masuk dalam gugusan kepulauan seribu yang ada di utara Jakarta itu membuat ikatan persahabatanku dengan teman-teman semakin erat. Ini adalah perjalan dengan rombongan besar menurutku. Bayangkan saja, kurang lebih 14 orang pergi bersama dengan menggunakan sebuah mobil travel yang kami charter langsung menuju ke pelabuhan Muara Angke Jakarta. Perjalanan itu tidak hanya diikuti oleh taman satu genk, tetapi juga pacar-pacar dari beberapa temanku pun ikut. Romantisme jembatan cinta yang masih sepi pengunjung membuat siapa-saja pasti merasa iri pada yang membawa pasangan. Katanya sih, jembatan cinta itu dibuat sebagai sarana pembuktian cinta dari sepasang kekasih, cara pembuktiannya adalah dengan meloncat dari atas jembatan yang memiliki ketinggian kurang lebih 12 meter ke laut lepas dibawahnya. Sebuah pengalaman yang menakutkan bagiku. Untungnya, aku sedang tidak mempunyai kekasih saat itu, eh membawa kekasih tepatnya. Hehe.

Jika aku menceritakan semua file kenanganku rasanya sudah bisa membuat satu novel berseri. Disamping beberapa file perjalanan harus aku relakan hilang karena satu musibah yang dialami oleh teman yang meminjam handiskku saat itu. Aku hanya bisa bersyukur karena masih diberi waktu dan kesempatan untuk terus mengekplorasi keindahan tempat-tempat destinasi wisata dengan caraku sendiri. Masih diberi rejeki untuk melihat indahnya ibu pertiwi, serta masih diberi tenaga untuk terus mengedukasi minimal diri sendiri untuk tidak merusak dan mengotori keindahan alam yang menjadi warisan buat anak cucu nanti. Etdahhh…

Mengakhiri perjalanan memang melegakan, namun pada akhirnya, Inti dari perjalanan adalah perjalanan itu sendiri – Ernest Hemingway

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s