WOT BATU – Sunaryo’s Spiritual and Transcendental Journey

Cuaca bandung hari itu sungguh tidak bersahabat. Hujan sudah turun sejak hari masih sangat pagi. Suhu yang terasa sangat dingin membuatku kembali menarik selimut dan kembali tertidur. Mumpung hari minggu, pikirku. Malam sebelumnya, aku dan seorang sahabatku berjanji untuk mengunjungi sebuah museum yang ada di kota Bandung. Kamipun berencana pergi tepat pukul 11.00. Sayangnya, hujan membuat rencana kami harus tertunda. Sehingga pada akhirnya kami baru pergi pukul 14.00. Kami yang tidak tahu jam oprasional museum tersebut akhirnya harus kecewa karena saat kami tiba, rupanya museum tersebut sudah tutup. Untuk menghapus perasaan kecewa kami, akhirnya sahabatku itu memiliki ide berkunjung ke sebuah tempat baru yang menurutnya adalah sebuah tempat hasil karya terbaru dari seorang seniman Bandung yang sudah sangat terkenal. Tanpa pikir panjang, kendaraan pun langsung meluncur kearah utara kota Bandung.

IMG_3238
Batu Air – Altitude Instalation

Bukit Pakar, sesuai dengan namanya, lokasi ini berada tepat disebuah bukit yang ada disebelah utara kota Bandung. Panorama alamnya menang sudah terkenal diseantero wisatawan yang pernah berkunjung ke bukit ini. meskipun jalanan sedikit macet, namun tidak menggoyahkan niat kami untuk masuk ke kawasan tersebut. Hujan terus mengguyur kota ini, sehingga tidak heran jika suhu udara menjadi sangat dingin.

            “Memang tempat apa sih baww?” rasa penasaranku muncul.

            “Gak Tau aku juga, tapi katanya bagus dan baru dibuka.” Jawab sahabatku.

            “Katanya sih tempatnya gak jauh dari Selasar Sunaryo.” Lanjutnya.

            “Jadi penasaran.” Jawabku singkat.

            “Nah nah nah, ini tampatnya Baww!!” Teriak sahabatku.

            “Wiiih, nampak keren nih.” Jawabku antusias.

Mobilpun kami parkir disebuah lahan sempit yang sebetulnya tidak layak sebagai tempat parkir. Namun, atas perintah juru parkir yang ada, maka mau tidak mau kamipun parkir ditempat tersebut. Seorang satpam kemudian datang sesaat setelah kami turun dari mobil. Dengan ramah ia bertanya pada kami perihal kunjungan kami ke tempat tersebut. Ia menanyakan kepada kami, apakah sebelumnya sudah pernah singgah atau belum. Setelah kami jawab belum, ia pun menjelaskan sedikit mengenai tempat tersebut.

IMG_3264
Batu Gerbang

Namanya adalah WOT BATU. Sebuah Taman Batu seluas 2000 meter persegi yang berisi karya instalasi terbaru dari sang  maestro seniman bernama Sunaryo. Di taman ini kita bisa melihat sidikitnya 13 karya instalasi yang terbuat dari batu. Setelah membayar tiket kunjungan, seorang guide cantik bernama Dini kemudian menemani kami untuk berkeliling dan menjelaskan satu persatu makna dan maksud dari setiap karya tersebut.

Dimulai dari pintu masuk, yaitu Batu Gerbang, ia menjelaskan bahwa batu tersebut menggambarkan sebuah titik awal dari perjalanan kehidupan manusia. Bentuknya sendiri menyerupai sebuah lorong dengan batu besar tepat berada diatas kepala kita. Maknanya adalah bahwa kehidupan seseorang itu tidak ada yang pasti, sewaktu-waktu bisa saja berakhir sebelum pada waktunya, ibarat batu yang ada atas dikepala kita ini yang sewaktu-waktu juga bisa jatuh menimpa orang (baca : kehidupan) orang tersebut. Sambungan dari Batu Gerbang tersebut adalah adanya jalan berkerikil yang berarti bahwa perubahan irama setiap kali kerikil tersebut kita injak menyerupai perubahan irama kehidupan setiap waktunya. Keluar dari Batu Gerbang, Dini menunjukan pada kami sebuah Batu Mushola. Tempat ini juga berfungsi sebagai mushola yang bisa digunakan pengunjung untuk menjalankan lima waktunya. Yang menarik dari tempat ini adalah sebuah batu yang didatangkan khusus oleh Pak Sunaryo dari goa hira, yang diletakan tepat didepan arah kiblat. Maknanya adalah, agar kita senantiasa khidmat dalam berhubungan denganNYA.

IMG_3265
Batu Mushola

Batu ketiga adalah batu yang dinamankan Abah Ambu. Abah sendiri berarti Ayah, dan Ambu berarti Ibu. Kedua batu tersebut didatangkan dari tempat yang berbeda, namun saat kedatangannya memiliki bentuk yang saling melengkapi (harmoni). Menurut dini, 70 persen batu yang ada di kawasan ini didatangkan dari kawasan pegunungan sekitar Jawa Barat, sedangkan sisanya adalah batu-batu yang didatangkan dari luar negeri seperti india dan eropa.

Instalasi selanjutnya adalah Batu Merenung. Sebuah karya yang diciptakan sebagai ruang kontemplasi. Batu tersebut menyerupai sebuah kursi dengan meja disampingnya. Batu ini menghadap kearah timur, dimana sebuah landscape pegunungan yang indah bisa langsung terlihat. Saat aku duduk dibangku tersebut, aku bisa melihat dengan jelas keberadaan puncak gunung manglayang dengan paduan putih awan yang mengelilinginya. Sungguh panorama yang luar biasa, batinku. Instalasi berikutnya yang dipaparkan oleh Dini adalah Panggung kehidupan. Dimana terdapat tiga buah karya instalasi batu yang memiliki makna yang saling berkaitan. Instalasi tersebut adalah Batu Indung, Batu Mandala, dan Batu Perahu. Makna inti dari ketiga batu tersebut adalah sebuah kehidupan berasal dari sebuah indung (kelahiran) dengan hubungan hidup (Mandala) berupa hubungan manusia dengan sesamanya, serta perjalanan hidup (Batu Perahu) dan diakhir dengan kematian. Karya-karya dari mestro Sunaryo ini sebagian besar berisikan mengenai kehidupan dan kematian yang saling berkaitan. Di usianya yang sudah sepuh, Pak Sunaryo ingin menginterpretasikan bahwa makna kematian baginya adalah bukan lagi suatu hal yang patut ditakuti. Kematian itu baginya keadaan kembalinya pada alam itu sendiri. Dengan demikian, hampir semua karya yang ada di tempat ini selalu saling berhubungan dengan alam.

IMG_3250
Panoramic – Batu Angin, Batu Sake, Batu Lawang, Batu Langit Bumi, Batu Sepuluh

Disebelah Panggung kehidupan, ada instalasi batu Antara Bumi dan Langit. Menurutnya, makna dari instalasi ini adalah hubugan antar lelaki (langit) dan perempuan (Bumi), dimana seharusnya langit selalu menjaga bumi. Karya selanjutnya adalah Batu Lawang (gerbang) yang mengantarkan kita ke Batu Air (kematian). Bila dilihat secara keseluruhan, keterkaitan batu lawang ini berawal dari kehidupan (Panggung Kahidupan) dibatasi oleh Batu Lawang serta menuju Batu Air (kematian). Bentuk dari batu Lawang sendiri berupa gerbang yang terdiri dari tiga buah batu besar dimana terdapat pahatan identitas dari Pak Sunaryo. Setelah memasuki Batu Lawang, kami disuguhi oleh Batu Air. Batu air ini bermakna kematian. Kematian yang tidak terbatas (Infinite). Ini dapat dilihat dari sebuah kolam air yang tidak memiliki ujung. Seakan-akan kolam tersebut langsung bersatu dengan alam yang ada disekitarnya. Di tengah kolam tersebut terdapat sebuah karya instalalsi yang disusun menyerupai tulisan ALTITUDE secara tidak sengaja. Menurut Dini, awal mula peletakan batu-batu air tersebut memang tidak disusun sedemikian rupa. Namun, setelah selesai, banyak orang yang melihatnya sebagai rangkaian huruf yang bermakna Altitude. Ini karena mungkin letaknya yang berada diketinggian.

IMG_3240
Batu Gunung

Wot sendiri berarti jembatan. Sehingga Wot Batu dapat dimaknai sebagai Jembatan Batu. Ini terdapat pada istalasi selanjutnya yang menghubungkan sebuah parit kecil pemisah antara sisi kiri instalasi dan sisi kanan istalasi. Makna dari Wot itu juga berati jembatan yang menghubungkan daerah yang abstrak (kehidupan) dengan daerah yang lebih real. Disamping Wot Batu, terdapat Batu Gunung, dimana diatasnya terdapat informasi mangenai jarak dan kondisi gunung yang ada disekitar bukit pakar ini. Kami kemudian masuk kedalam sebuah ruangan audio visual dimana Batu Ruang berada. Didalam ruangan tersebut kami dipertontonkan sebuah video karya Pak Sonaryo yang bercerita mengenai asal mula lahirnya kehidupan. Ruangan gelap tersebut menandakan bahwa kehidupan itu sangat luas dan kita tidak tahu sampai mana batasannya. Ruagan yang sangat gelappun membuatku menjadi mengerti dengan makna “luas tanpa batasan” tersebut.

IMG_3252
Batu Waktu

Keluar dari Batu Ruang, terdapat Batu Sepuluh, dimana Batu tersebut berarti sepuluh perintah tuhan yang kala itu disampaikan pada Nabi Musa. Inti dari batu ini adalah hargailah perbedaan sesama manusia. Baik itu berbeda agama, suku ataupun ras yang dimiliki manusia lainnya. Jangan pernah bertikai karena perbedaan tersebut. Batu selanjutnya adalah Batu Seke yang berarti Sumber air. Kemudian batu Angin yang bermakna hubugan manusia dengan tuhannya, dan yang terakhir adalah Batu Waktu yang bermakna bahwa waktu itu akan terus bergerak. Ada sebuah pepatah kuno yang berasal dari Gunung Galunggung yang sangat menarik, yaitu : Hana Nguni Hana Mangke, Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke yang berarti Ada Dulu Ada Sekarang, Tidak Ada Dulu, Tidak Ada Sekarang.

IMG_3243
Batu Lawang – Batu Perahu – Batu Langit Bumi

Amanat Gunung Galunggung itupun akhirnya menjadi penjelasan terakhir yang diberikan Dini pada kami. Dengan ucapan salam dan terima kasih yang santun, kamipun kemudian dipersilahkan untuk menikmati segelas minuman hangat yang disediakan secara cuma-cuma oleh pengelola. Duduk disebuah bangku dengan memandang panorama alam kota Bandung sungguh membuat kami enggan untuk beranjak. Belum lagi turunnya kabut membuat suasana semakin menakjubkan. Hanya rasa lapar yang pada akhirnya membuat kami beranjak dari tempat duduk dan melaju kesebuah tempat makan kaki lima di tengah kota Bandung.

“Perjalanan itu bersifat pribadi, Kalaupun aku berjalan bersamamu, Perjalananmu bukanlan perjalananku.” – Paul Theroux –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s