Floating Diesel Power Plants Museum – Tsunami Memorial Place

PLDT Apung kita? Sebuah pesan singkat masuk ke akun Line ku. Ini adalah hari sabtu, dimana pada umumnya hampir disemua orang di Indonesia tak terkecuali di Banda Aceh, memanfaatkannya untuk berlibur ataupun berwisata ke berbagai destinasi wisata. Bagi sebagian orang, hari sabtu adalah hari yang pas untuk berjalan-jalan bersama keluarga ataupun pasangan. Namun tidak demikian denganku. Aku kembali bermalas-malasan setelah aku membalas pesan tersebut dengan jawaban persetujuan.

            “Jam 2 kita brangkat yah!” jawabnya lagi.

            “Oke.” Jawabku.

DSC08111
Monumen Peringatan Tsunami

Aku mengambil alat mandiku dan langsung bergegas menuju kamar mandi. Aku kaget karena hari itu jam sudah menunjukan pukul 13.55, dimana aku hanya memiliki waktu 5 menit untuk bersiap sebelum temanku datang menjemputku. Namanya juga mandi koboi, dalam waktu 5 menit saja aku sudah siap untuk berangkat menuju tempat yang tidak sempat aku kunjungi hari sebelumnya.

Tepat jam 14.00, teman yang menjemputku datang. Sambil menghisap sebatang rokok di depan pintu toko, aku memintanya untuk menunggu sebentar dan kita akan berangkat setelah rokok yang aku hisap habis. Ia pun menyetujuinya.

DSC08220
Framing PLTD Apung – Photo by Nadhira

Kereta berangkat menyusuri jalanan kota Banda Aceh yang siang itu cukup ramai. Menurut temanku, kondisi ini tidak seperti biasanya. Semenjak pengerjaan pembangunan proyek jalan flyover dimulai, jalanan kota selalu diwarnai dengan keramaian dan kemacetan. Aku sendiri, yang sudah terbisa dengan kemacetan di Bandung, menilai bahwa kemacetan yang ada di kota ini masih belum seberapa. Rupanya, jarak lokasi PLTD Apung tidak begitu jauh dari letak museum Tsunami. Hanya perlu waktu sekitar 5 menit saja dari museum Tsunami untuk bisa sampai dilokasi tersebut.

Dari jalur utama, aku sudah bisa melihat dengan jelas keberadaan sebuah kapal besar yang berada tepat ditengah pemukiman warga. Kapal itu tak lain adalah kapal PLTD Apung yang hanyut terhempas oleh gelombang Tsunami pada tahun 2004 silam. Hempasan gelombangnya membuat PLTD ini berpindah sejauh 5 kilometer dari posisi awalnya di laut barat Sumatra. Pagar pembatas kawasan membuat aku harus memarkirkan terlebih dahulu keretaku dan masuk melalui pintu utama kawasan bersejarah tersebut. Masuk kawasan PLTD Apung ini tidak dipungut biaya alias gratis. Seperti halnya museum Tsunami, ini adalah museum kedua yang aku masuki tanpa biaya retribusi. Didepan pintu masuk, ada sebuah monument tugu Tsunami yang dibangun untuk memperingati kejadian tsunami 12 tahun silam. Menumen itu berbentuk sebuah perahu dengan background berupa ombak besar dibelakangnya. Di memumen itu juga terdapat sebuah jam yang menunjukan waktu terjadinya tsunami serta pahatan nama-nama orang yang menjadi korban dari peristiwa tragis tersebut. Menurut sejarahnya, PLTD Apung ini dibuat di Batam pada tahun 1996, PLTD bergerak ini berhasil mengatasi krisis pembangkit listrik di Pontianak pada tahun 1997. Perjalanan PLTD Apung ini terhenti di Aceh pada tahun 2003, awal mulanya adalah untuk mengantisipasi krisis listrik di Aceh  yang pada saat itu Indonesia sedang bersitegang dengan GAM, sehingga pemutusan listrik di Aceh sering terjadi. Gelombang Tsunami yang terjadi pada tahun 2004 membuat semua aktifitas PLTD ini terhenti. Awalnya PLN, selaku operator PLTD ingin mengembalikan kapal seberat 2600 ton itu kelautan, namun pemerintah setempat saat itu menginginkan PLTD tersebut dijadikan sebagai tempat wisata sejarah, sehingga PLN kemudian hanya mengambil mesin-mesinnya saja yang ternyata tidak mengalami kerusakan yang sangat parah.

DSC08245
Sisa Reruntuhan Rumah – Photo by Nadhira

Layaknya sebuah kapal, terdapat beberapa ruangan dan dek yang sekarang telah dirubah menjadi ruang edukasi mengenai Tsunami, serta mengenai PLTD itu sendiri. Di dalamnya terdapat juga beberapa informasi yang sangat penting dari beberapa Negara pemberi bantuan. Beberapa foto bersejarah tentang bagaimana masyarakat dunia turun tangan membantu korban bencana juga ditampilkan secara apik di dinding-dinding ruangannya. Hari itu, pengunjung tempat bersejarah ini sangatlah padat. Untuk masuk ke ruangan museumpun para pengunjung diharuskan antri terbelih dahulu. Meskipun didalamnya terdapat pendingin ruangan, namun demi menjaga ketertiban dan kenyamanan pengunjung, pihak pengelola membatasi pengunjung yang masuk kedalam ruangan ini. Kejadian hanyutnya kapal besar ini membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan dari gelombang Tsunami tersebut.

DSC08182
Panorama di atas PLTD Apung

Beralih ke bagian luar kapal, beberapa bangunan sisa-sisa kejadian Tsunami yang berada dikomplek Museum ini masih dibiarkan hancur. Tidak ada renovasi yang dilakukan pada rumah-rumah tersebut, ini bertujuan agar suasana sisa Tsunami masih bisa disaksikan oleh pengunjung yang datang. Untuk dapat menikmati kemegahan kapal tersebut, disekeliling komplek ini dibuat jalur yang mengelilingi seluruh area PLTD dan juga rumah-rumah bersejarah tersebut. Jalur ini jugalah yang berhasil membuat pengunjung takjub dengan besarnya ukuran kapal, dan otomatis beberapa sudut yang menarik yang ada di  jalur ini bisa digunakan oleh pengujung sebagai tempat untuk berfoto ria dengan background kapal PLTD tersebut, tidak terkecuali aku.

DSC08274
PLTD Apung 

Adzan Ashar membuat para pengunjung harus meninggalkan sejenak keindahan dari museum PLTD Apung ini. sudah menjadi aturan dari pengelola, bahwa pada saat jam sholat, meseum ini akan ditutup sejenak untuk menghormati warga sekitar yang sedang menunaikan lima waktunya. Panggilan sholat itupula yang pada akhirnya membuatku berhenti menikmati keindahan PLTD dan meluncur menuju kediaman kembali. Sungguh Dahsyat gelombang Tsunami itu, Batinku kemudian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s