Good Morning Lampuuk Beach

Good morning Lampuuk Beach.

Niat untuk pergi mengunjungi pantai yang ada di Banda Aceh selalu berakhir dengan sekedar wacana. Janji hanyalah janji yang terucap ketika sedang asik berbincang dengan para sahabat baruku. Biasanya janji tersebut akan release pada malam hari menjelang subuh. Namun, lagi-lagi, pagi harinya kami semua tertidur sehingga rencana mengunjungi pantai pun berakhir dengan senyuman. Ini adalah hari terakhir saya berada di Banda Aceh. Sedih rasanya jika harus meninggalkan teman-teman yang sudah sangat akrab disini. Namun apadaya, waktulah yang pada akhirnya harus misahkan pertemuan ini.

DSC08091
Jalanan Lega Menuju Pantai

Tidak seperti biasanya, pagi itu kami semua sudah bangun. Hari ini adalah hari Minggu. Semua masyarakat di Banda Aceh sedang menikmati hari libur dari pekerjaan mereka. Cuaca yang bersahabat membuat kami semua semangat untuk mengunjungi sebuah pantai yang terletak disebelah barat Banda Aceh. Mandi bukan menjadi pilihan yang tepat, karena saat itu waktu menunjukan pukul 07.00. Kerera roda dua langsung kami hidupkan, dan kami berempat langsung meluncur ke pantai yang letaknya berada hampir paling ujung pulau Sumatra.

Sepanjang perjalanan, kendaraan yang berlalu-lalang masih sepi. Entah karena libur atau memang masih pagi, yang pasti, saat aku bertanya perihal kosongnya jalanan temanku manjawab bahwa di kota Banda Aceh kendaraan masih belum terlalu banyak. Jika dibandingkan dengan Bandung, jumlah kendaraan disini mungkin sepersepuluhnya. Cuaca yang tidak terlalu menyangat membuat laju kendaraan kami sangat lambat. Bukan berarti tidak ingin cepat sampai, namun ternyata perjalalan ini sekaligus sebagai perjalanan city tour yang diberikan oleh teman-teman kepadaku. Hampir setiap sudut jalan dan bangunan dijelaskan secara detail oleh teman yang mengendarai keretaku. Secara detail ia juga menjelaskan titik-titik dimana aliran air sisa Tsunami pecah dan kemudian surut dengan sendirinya. Monument-monumen serta taman-taman yang baru dibangunpun tidak lepas dari penjelasan sejarahnya.

DSC08106
Saung Untuk Pengunjung

Jalanan menuju ke Pantai Lampuuk benar-benar sangat kosong dan sepi. Terlebih lebar jalanan yang sangat besar membuat para pengendara kereta bisa dengan bebas sesuka hati mengendarai laju keretanya. Rupanya, jalanan ini awalnya sangat kecil. Tsunami pulalah yang kemudian membuat jalanan ini diperbesar dan diperlebar ukurannya. Disisi kiri dan kanan perjalanan aku dimanjakan oleh pemandangan gunung-gunung besar nan hijau. Belum lagi hamparan sawah yang mulai menguning dan beberapa rumah penjagannya. Sayangnnya, dibeberapa bagian gunung sudah mulai terkikis akibat penambangan batu dan pasir yang berlebihan. Nampak sangat jelas sisa tambang yang mengakibatkan munculnya daerah rawan longsor.

Masuk ke kawasan pantai ternyata kami harus membayar biaya retribusi. Biaya ini menurut temanku dikelola oleh warga setempat guna menjaga kelestarian dari lingkungan pantai. Aku hanya mengangguk saja, karena biaya retribusinya tidak terlalu mahal untuk sebuah panorama alam yang sangat menakjubkan. Dari pintu retribusi, masih ada sekitar satu kilometer lagi untuk bisa sampai dibibir pantai. Melihat jalanan yang sangat mulus berasapal, aku semakin tidak sabar untuk segera sampai dan melihat keindahan pantai tersebut.

DSC08101
Pantai Lampuuk

Plang bertuliskan Jaga Kebersihan Lingkungan Pantai, dan Jangan Buang Sampah Ke Laut menjadi gerbang utama kawasan pantai ini. Dihalaman parkirnya banyak berdiri saung-saung yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati hidangan khas laut. Kursi-kursi kayu berjejeran disekelilingnya. Hampir setiap warung jajanan menyediakan tempat bagi para pengunjung untuk bermalas-malasan. Di Pantai ini juga tersedia tempat penyewaan bodysurfing, sebuah papan yang terbuat dari spoons keras yang biasanya digunakan untuk berselancar. Ketinggian ombak di pantai ini lumayan sangat besar. Rambu-rambu larangan berenang berupa bendera berwarna merah terpasang sangat jelas dibagian air laut yang dalam. Tingginya gelombang laut ini karena pengaruh musim barat, namun tidak perlu khawatir, karena penjaga pantai selalu siap siaga selama ada pengunjung yang berenang. Disisi kanan pantai aku bisa melihat sebuah bukit yang masih hijau. Menurut temanku disana ada sebuah mata air panas yang keberadaannya masih dijaga oleh warga desa tersebut. Tempat ini tidak pernah diekspos oleh media ataupun kalangan wisatawan, karena tempat ini masih sangat sacral dan tidak diperuntukan untuk umum.

DSC08108
Suasana Santai di Pantai Lampuuk Banda Aceh

Keindahan pantai ini menurutku hampir menyerupai keindahan dari pantai Kuta di Bali. Pasir putih dan sangat terjaga kebersihannya membuat siapa saja pasti betah berlama-lama ditempat ini. Pantai ini juga merupakan spot terbaik untuk mencari keindahan dari tenggelamnya sang surya. Sayangnya, karena aku datang pagi hari, otomatis aku tidak bisa melihat keindahan sunset yang dimaksud. Tepat jam 11.00 kami meninggalkan Pantai. Matahari sudah mulai muncul dan gelombang panasnya sudah mulai menyengat kulit kami. Setelah puas menikmati keindahan pantai yang dahulu menjadi korban dari kedahsyatan gelombang Tsunami tersebut, kamipun pulang dengan perut yang lapar. Sampai jumpa kembali Pantai Lampuuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s