Peunayong Market, Chinatown in Syariah City

Peunayong Traditional Market Banda Aceh

Sebagai pejalan solo (baca : seorang diri), senang rasanya jika bisa berkunjung ke setiap pasar tradisional yang masih ada disetiap kota yang dikunjungi. Dalam kesempatan kali ini, aku tidak menyia-nyiakan sebuah ajakan dari seorang sahabat untuk menemaninya berbelanja ke pasar tradisional yang ada di Banda Aceh. Berbekal sebuah cacatan belanjaan, kamipun pergi dengan menggunakan kereta roda dua. Sebelum mengunjungi pasar tersebut, aku diajak masuk ke sebuah supermarket yang ada disana. menurutnya, untuk beberapa jenis barang olahan yang ada disini harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan di pasar tradisional. Akupun mengerutkan dahi karena merasa dibohongi olehnya. Namun, ternyata tidak, setelah beberapa barang yang ada di supermarket terbeli, kamipun meluncur kesebuah pasar tradisional yang tidak jauh dari pusat kota.

DSC08003
Elang Malang – Pasar Peunayong Aceh

Pasar Peunayong, menurut sejarahnya adalah pasar semi permanen hasil dari perluasan pasar pinggir sungai Aceh (Krueng Aceh), yang dibangun pada kisaran tahun 1968-1969. Pada jaman dahulu, kawasan ini disebut sebagai kawasan leluhur bangsa etnis china yang sudah ada sejak tahun 17 Masehi. keberadaan bangunan-bangunan khas china dan vihara yang masih berdiri kokoh menggambarkan potret china perantauan yang membuat koloninya sendiri secara ekslusif. pada jaman itu, Banda Aceh hanya memiliki satu buah pasar sentral yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Ikan, sayuran dan berbagai bahan pokok lainnya dijual di pasar tersebut. karena semakin lama jumlah pedagang semakin banyak, maka pemerintah kota saat itu membuat sebuah pasar semi permanen untuk menampung jumlah pedagang yang tidak kebagian tempat jualan. Pasar Peunayong ini lokasinya tidak jauh dari pasar pinggir sungai tersebut. saat musibah Tsunami meluluhlantakaan Aceh, pasar inipun rata oleh sapuan gelombangnya. Akan tetapi, tidak memerlukan waktu lama, rekontruksi pasar sentral ini selesai pada tahun 2005 dengan bangunan yang lebih bagus dan permanen.

DSC08015
Suasana Pasar Peunayong

Masuk pasar ini tidak jauh berbeda dengan pasar yang ada di Bandung. Namun, yang menjadi unik dari pasar ini adalah barang-barang dagangan yang dijual oleh para pedagang. Selain sayur, aku melihat ada seorang pedagang yang menjual hewan yang dilindungi keberadaannya oleh Negara, yaitu burung elang. Elang malang itu dibiarkan berkeliaran dekat penjual, sayangnya elang tersebut tidak dapat terbang, karena bagian ekornya sudah dipotong oleh sang penjual. Tidak hanya elang, aku juga melihat seeokor Kukang yang sedang tertidur disebuah kandang besi berukuran 50×50 centimeter. Sewaktu menanyakan harga jualnya, pedangan tersebut menolak untuk menjualnya. Mungkin karena aku orang asing, maka pedagang tersebut enggan menjualnya padaku.

Berkeliling pasar ini menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagiku. Menikmati suasana lokal dengan budaya jual-belinya sungguh membuatku bahagia. Tujuan utama jika sedang berkeliling pasar tradisional disebuah tempat yang baru bagiku adalah berusaha mencari makanan tradisional yang masih eksis dari kota tersebut. sambil berkeliling dan membeli beberapa bahan mentah bersama sahabatku itu, aku terus mencari keberadaan dari penjual makanan tradisional Banda Aceh. Setelah bertanya kesana-kemari, dengan rasa kecewa, banyak penjual makanan tradisional tersebut sudah tidak ada. Entah mamang sudah tutup atau tidak berjualan, akupun harus memendam perasaan kecewa tersebut. akan tetapi, perasaan kecewaku pada akhirnya sirna setelah sahabatku memberitahuku bahwa ada seorang pedagang rujak aceh yang juga merupakan makanan tradisional kota ini. akupun langsung tersenyum bahagia dan memintanya untuk segera menyelesaikan belanjanya dan kemudian pergi membeli rujak tersebut.

DSC08031
Rujak Aceh – Photo by Nadhira

Rujak aceh rupanya bermacam-macam penampilannya. Aku mengira bahwa rujak ini tidak jauh berbeda dengan rujak uleg pada umumnya. Namun ternyata, rujak yang aku beli lebih mirip dengan es bul-bul yang ada di Bandung. Bedanya, jika es bul-bul memiliki kuah manis yang terbuat dari sirup yang dicampur buah, maka rujak aceh adalah buah yang campur dengan kuah manis yang terbuat dari gula merah yang diberi banyak air. Untuk isinya, kurang lebih persis sama. Hal yang disayangkan adalah tidak adanya tambahan cabai atau perasa pedas yang bisa membuat rasa rujak semakin nikmat. Aku membeli dua bungkus untuk dibawa manjadi oleh-oleh buat teman-teman ditempat singgahku sementara.

DSC08017
Belanja kebutuhan pokok

Kembali ke pasar Peunayong, aku selalu salah menyebutya dengan sebutan Pyongyang. Pyongyang sendiri adalah ibukota dari Korea Utara. Entah karena memang palafalan bahasa daerah yang sulit, membuatku susah untuk menyebutkan nama-nama daerah yang ada di Banda Aceh ini untuk pertama kalinya. Namun, jika sudah berulang kali, akupun lancar menyebutkan nama-nama tersebut.

Senang rasanya berlama-lama berada di kota yang dahulu terkanal dengan nama Serambi Mekah ini. keramahan masyarakat dan keamanan lingkungannya menjadi salah satu daya pikat kota besar di ujung paling barat Indonesia ini. Apalagi pembangunan pasca Tsunami yang bisa dibilang sangat cepat, membuat kota ini sangat tertata rapi dan terasa sangat indah. Karena masih banyak lokasi wisata indah dan tersembunyi di kota ini yang belum aku singgahi, maka akupun memiliki rencana untuk datang kembali menuntaskan perjalanan syariahku di kota ini. kamipun meluncur menuju kediaman setelah semua barang belanjaan lengkap terbeli. Dengan menenteng dua buah kantong plastik besar, kereta pun meluncur kearah Lampineung. Lets Rock(et), Rawk Street !!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s