That Story Still Alive Here ; Nangroe Aceh Darusalam

Cerita itu memang masih ada disini, Nangroe Aceh Darusalam

Hah memang ceritanya apa? Judul diatas memang aku tulis sebagai salah satu cerita petualangan extreem ilegal yang aku alami di kota serambi mekah ini. Aceh, seperti yang banyak diberitakan media selalu kental dengan sebuah tanaman yang masuk dalam katagori narkotika. Bahkan, saat ini pemerintah Indonesia telah menetapkan tumbuhan tersebut kedalam jenis narkotika golongan I. Menurut Undang Undang Narkotika no 35 tahun 2009, jenis narkotika yang masuk dalam golongan I ini hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta memiliki potensi yang sangat tinggi yang mengakibatkan ketergantungan. Tanaman ini memang banyak tumbuh di aceh. Bahkan, dari informasi yang aku dapat di Wikipedia.com, dahulu kala tanaman ini banyak digunakan oleh masyarakat lokal sebagai komponen sayuran dan sangat umum disajikan. Sehingga sampai saat ini, penetapan undang-undang tersebut khususnya di kota ini masih menjadi pro-kontra.

ganja-yoga
Man of Canabis – Source : Google.com

Saat bertualang disana, aku secara tidak sengaja mencoba untuk mengali lebih dalam mengenai informasi tersebut. tidak lengkap rasanya jika mengunjungi aceh tanpa merasakan khasiat dari tanaman itu. Memang, karena adanya hukuman pidana yang tidak sepele (untuk golongan I dikenakan hukuman pidana maksimal 4 tahun), tidak banyak masyarakat yang begitu saja memberikan informasi tersebut kepadaku. Tidak semua orang yang aku temui begitu saja memberikan informasi mengenai keberadaan barang tersebut. perlu adanya pendekatan khusus yang harus aku lakukan agar mereka percaya bahwa aku bukan bagian dari intel ataupun aparat penegak hukum.

Aku memulainya dengan berbincang pada seorang pengemudi becak yang aku temui beberapa saat setelah aku sampai di terminal bus Banda Aceh. Sambil menunggu seorang teman yang menjemput kehadirannku, aku duduk bersama para pengemudi becak itu disebuah warung kopi di dekat terminal. Mungkin, karena penampilanku yang terkesan seorang backpacker kere dengan tas ransel besar dan muka berantankan sehabis tidur membuat para pengemudi becak tersebut langsung menjawab tidak pernah tahu tentang keberadaan barang ilegal tersebut. Menurutnya, semenjak disahkanya UU Narkotika, peredaran barang itu sudah lenyap sampai keakar-akarnya. merakapun kemudian mengganti topik pembicaraan lain yang tidak sensitif sifatnya.

titik-titik-penemuan-ganja-di-provinsi-aceh
Peta Sebaran Ganja di Aceh – Source : Google.com

Temanku kemudian menjemputku dan mengantarkanku kesebuah warung kopi yang telah berdiri sejak lama di daerah beurawe. Letaknya tidak jauh dari terminal kota banda aceh. Aku kemudian diperkenalkan kepada teman-temannya yang sudah lama nongkrong di kedai kopi tersebut. Perkenalanku dengan teman-teman barupun kemudian terjadi. Bahkan, saat aku berkata bahwa aku belum tahu dimana aku harus menginap, aku diperbolehkan untuk tinggal ditoko milik salah satu teman sebagai tempat istirahatku selama berada di Banda Aceh. Dengan senang hati, akupun mengiyakan tawarannya tersebut. Selesai ngopi. kami semua kemudian berpindah tempat ke toko milik salah satu temanku tersebut.

Ditoko, aku kemudian banyak bertemu dengan teman-teman dari sang pemilik. Dari seorang seniman lukis sampai seorang stand up comedian semua berkenalan denganku. Sebuah kehormatan bagiku untuk mengenal dan bersahabat dengan mereka. Setiap hari, aku selalu bertemu dengan orang baru yang datang silih berganti ke toko tersebut. Obrolan panjang pun tak jarang terjadi. Dari mulai obrolan seputar Banda Aceh, Tsunami, sampai dengan peredaran daun ganjapun kami bahas. Namun lagi-lagi, kerena memang daun tersebut semakin langka, maka tidak banyak informasi yang aku dapatkan.

Suatu pagi, seorang teman yang kebetulan seniman mengajakku untuk pergi ketempatnya bekerja. Hari itu, ia mendapatkan sebuah job untuk melukis tembok sebuah warung kopi yang baru dibuka. Ia mengajakku dengan maksud agar aku bisa mencicipi kenikmatan dari cara minum kopi tradisional yang banyak dilakukan oleh masyarakat Aceh pada tempo dulu. Kopi yang dibalik disebuah piring kecil dan diminum dengan cara menyeruput cairan yang keluar dari sela-sela gelas tersebut menjadi pengalaman yang sangat unik buatku. Sambil membuat barberapa artikel, akupun terlarut dalam suasana malam kedai kopi yang semakin ramai oleh pengunjung. Tidak terasa, waktu sudah menunjukan jam 12.00 dan pekerjaanpun dijanjikan akan dilanjutkan keesokan harinya. Akupun pulang menuju toko tempatku bermalam.

Ganja
Pocong Cimeng – Source : Google.com

Sesuai janji, esok harinya aku kembali diajak oleh temanku untuk menyelesaikan lukisan yang malam sebelumnya belum selesai. Tanpa pikir panjang, akupun langsung mengambil leptop kerjaku dan kemudian berangkat menuju tempat tersebut. Diluar dugaan, temanku itu sebelumnya sudah memiliki janji dengan pemilik kedai tersebut untuk membuat acara “mubes”. Acara ini taklain adalah acara sambutan untukku yang sangat penasaran dengan keberadaan daun ilegal tersebut. Dengan perasaan dagdigdug, aku kemudian tersenyum senang dihadapan temanku itu. Setelah melihat situasi sekitar, tamanku kemudian mengajakku untuk masuk kesebuah ruangan sederhana yang terbuat dari papan triplek dan terkesan kumuh. Mirip gudang, batinku. Dengan ventilasi kecil ruangan ini terlihat sangat pengap. Suhu udara banda aceh yang panas pasti membuat siapa saja yang tidur diruangan ini akan merasakan ketidak-nyamanan yang maksimal. Setelah pintu ditutup rapat dan kipas angin dinyalakan, temanku kemudian mengeluarkan sebuah wadah bekas sebuah permen didepanku. Rupanya, isi wadah tersebut adalah daun ganja yang sudah kering. Dengan sigap, ia langusung memisahkannya daun tersebut dari batangnya dan meremasnya sehingga hancur. Sebatang rokok kemudian dikeluarkan isinya dan diganti dengan serbuk daun tersebut. Sebagai penghormatan untuk tamu, aku kemudian mendapat jatah hisap paling pertama. Sambil menikmati batang-demi batang cimeng, seorang teman lainnya terus mengawasi lingkungan dan memastikannya tetap aman. Menurut budaya terdahulu, di Aceh ini ada sebuah tradisi dimana menolak pemberian cimeng dari seorang sahabat berarti menolak berteman dengannya. Selain itu, tradisi ngisap bersama pun menjadi budaya untuk mempererat silaturahmi disana. Mendengar istilah itu, aku kemudian teringat dengan salam Kalwedo yang ada di Maluku. Setelah batang terakhir habis, kamipun keluar dari ruangan dan meneruskan melukis dinding tembok yang masih kosong. Aku ikut membantu melukis beberapa bagian yang terlihat mudah.

img-20130211-02167
Mie Aceh with Cimeng – Source : Google.com

Ganja dan Aceh memang tidak bisa dilepaskan ikatannya. Semakin lama aku berdiam disini, teman-temanku mulai memberitahuku beberapa rumah makan yang konon masih menggunakan daun atau biji ganja sebagai resep olahannya, entah benar atau cuma sekedar membuat tamu sepertiku senang, entahlah, batinku. Di Aceh, makanan seperti gulai ataupun mie memang paling enak jika ditambah dengan daun tersebut. Namun karena berlakunya undang-undang narkotika dan ganja masuk kedalamnya, maka demi keamanan sesama, daun-daun tersebut mulai dimusnahkan dan sangat langka keberadaannya. Aku sendiri merasa beruntung karena pada akhirnya aku merasakan kenikmatan dari daun illegal tersebut. Tetapi, diluar semua itu, aku tetap harus selalu waspada dengan lingkungan sekitar. Dan pengalaman ini mungkin adalah pengalaman yang pertama dan yang terakhir buatku. Iam Flying Without Wigs..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s