Aceh Tsunami Museum – Tsunami Memorial Place

Aku yakin, pasti sudah banyak wisatawan yang berkunjung ke museum ini jika mengunjungi Banda Aceh. Sejak peristiwa Tsunami 26 Desember 2004 tersebut terjadi, museum ini dibangun dengan tujuan sebagai tempat untuk mengenang bancana alam paling dahsyat di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Selain sebagai monument simbolis, museum ini juga digunakan sebagai tempat edukasi dan tempat perlindungan utama andai bencana serupa terjadi kembali. Arsitek yang membuat desain museum tersebut tak lain adalah seorang tokoh terkenal yang sekarang menjabat sebagai walikota kota Bandung. Museum sendiri aku rasa benar-benar berada di pusat kota banda aceh. Tidak perlu sulit untuk menemukan museum ini, karena hampir disetiap plang penunjuk jalan yang ada, tulisan petunjuk museum Tsunami ini selalu ada.

DSC07956
Display Sejarah Tsunami

Kali ini aku ditemani oleh seorang guide asli Aceh, Nadhira. Dengan menggunakan kereta, sebutan lokal untuk sepeda motor, hanya perlu 10 menit untuk bisa sampai di museum ini. Sampai di tempat parkir museum, aku dikejutkan oleh seorang juru parkir yang meminta uang parkir dengan nada tinggi seakan sedang marah. Aku tertawa sambil memberikan uang parkir padanya. Berbeda dengan Bandung, dimana uang parkir dibayar diakhir, di museum ini uang parkir harus dibayar diawal, dengan alasan utama yaitu banyak pengendara yang kabur dan tidak membayar uang parkir, sehingga pada akhirnya uang parkir harus dibayar terlebih dahulu dimuka.

DSC07991
Entrance Door

Masuk ke dalam kawasan museum sebuah lorong kenangan Tsunami yang mensimulasikan kejadian pada hari minggu pagi saat tsunami 12 tahun silam menjadi pintu utama untuk masuk kebagian dalam museum. Aku sangat bahagia, karena dari banyak museum yang pernah aku kunjungi, hanya museum ini satu-satunya museum yang gratis, tanpa pungutan biaya apapun. Maklum, pajalan sepertiku sangat mendambakan apapun yang memiliki tittle gratis. Ada himbauan yang terpampang sangat jelas sebelum masuk ke lorong ini. khususnya ditujukan untuk pengunjung yang masih trauma akan kejadian bencana tersebut. Didalam lorong itu, suasana gelap dan rintikan air serta suara gemuruh saat kejadian tsunami disimulasikan. Bulu halusku seketika bangkit. Meskipun lorong tersebut tidak terlalu panjang, tapi berhasil membuat rasa takutku datang. Gemericik air pun berhasil membuat bajuku basah, walau hanya sedikit saja.

DSC07928
Ruang Harapan

Kaluar dari lorong kenangan, aku dan pengunjung lain diarahkan kesebuah lorong berbentuk lingkaran dimana menurut guide-ku, lorong ini mensimulasikan keadaan panik yang dirasakan semua korban tsunami. Lorong yang melingkar dan tanpa ujung ini memceritakan keadaan dimana para korban merasakan kebingungan yang teramat mendalam pasca terjadinya gelombang setinggi 30 meter yang meluluh lantakan seisi kota. Akhir dari lorong ini adalah sebuah ruang harapan. Ruang harapan adalah ruangan berbentuk lingkaran yang tinggi dengan cerobong tertutup bertuliskan asma ALLAH diujung kerucutnya. Didalam ruangan ini terdapat banyak tulisan nama yang menjadi korban dari kejadian 12 tahun silam. Suasana duka atas kejadian inipun tergambarkan diruang harapan. Dengan cahaya lampu remang berwarna orange membuat siapa saja yang masuk keruangan ini akan merasakan kesedihan yang teramat dalam, tak terkecuali aku. Jika melihat ke ujung cerobongnya, lafadz ALLAH berhasil menghilangkan rasa sedih dan membuat para pengunjung, khususnya aku langsung teringat akan keagunganNYA. Ruang selanjutnya adalah jembatan yang mengantarkan pengunjung masuk ke ruang pamer beberapa foto dan barang-barang yang menjadi saksi bisu dari kedahsyatan tragedi ini. Di rungan tersebut terdapat diorama tentang musibah ini. bahkan, terdapat beberapa uang koin yang berlubang dan hancur akibat dari gelombang yang maha dahsyat tersebut. Video-video yang berisikan tentang testimoni dan saksi-saksi hidup pun terus diputar dengan harapan para pengunjung jadi mengetahui seberapa dahsyat kejadian ini terjadi.

DSC07935
Lorong Panik

Ohya, aku menyempatkan diri masuk kesebuah ruang audio visual yang ada di museum ini. Ruangan kecil itu berisikan sebuah layar lebar yang akan memutarkan sebuah video dokumenter tentang Tsunami. Ruangan yang menyerupai bioskop tersebut mampu menampung sekitar kurang lebih 30 orang, dan akan memutarkan video selama kurang lebih 10 menit. Karena di Banda Aceh sampai sekarang belum ada bioskop, maka aku berhasil membuat sebuah lelucun bahwa ternyata di museum inilah bioskop satu-satunya di Banda Aceh berada. Guide-ku pun langsung marah dengan ledekanku tersebut. walau pada akhirnya kita tertawa bersama. Setelah mengelilingi dan melihat semua display yang ada di museum ini, kamipun segara meninggalkan area museum tersebut menuju sebuah lokasi yang masih berkaitan erat dengan peristiwa Tsunami.

DSC07950
Bioskop Audio Visual

Museum ini bagiku tidak hanya sebagai tempat yang menyimpan dan memamerkan semua peninggalan kejadian Tsunami pada tahun 2004 silam. Dari museum ini, aku bisa merasakan betapa besarnya kekuataan dari sang maha kuasa. Sebuah renungan dan pelajaran yang bisa aku tangkap dari kejadian maha dahsyat ini adalah sebuah bencana dapat terjadi kapan saja, bencana tidak memandang siapa dia, seberapa hebat dia, bahkan seberapa terkenal dia. Jika ALLAH sudah berkehendak, nisaya kita sebagai umatnya hanya bisa pasrah dan menjadikan bencana tersebut sebagai suatu pelajaran yang harus dipetik hikmahnya. Kamipun segera meluncur kesebuah tempat dimana pembangkit listrik tenaga diesel yang hanyut terbawa gelombang tsunami berada. Namun naas, karena hari itu sudah terlalu petang, maka lokasi PLTD apung tersebut sudah tutup. Masih ada hari esok, ucapku.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s