Iboih Beach and Rubiah Island, a Sensation of Syariah Beach

Sensasi Pantai Syariah Ibioh dan Pulau Rubiah

Selesai mengunjungi tugu kilometer nol Indonesia, aku kemudian bergegas untuk meluncur menuju kota. Rencana awal, aku akan mencari penginapan murah yang ada disekitar kota Sabang. Namun, melihat situasi yang sudah terlalu gelap dan perjalanan ke kota membutuhkan waktu yang lumayan memakan waktu, akhirnya aku bertanya pada seorang bapak penjaga warung perihal penginapan murah yang masuk dengan bujet perjalananku. Menurutnya, beliau mempunyai sebuah penginapan yang ada di desa Iboih. Setelah bertanya masalah harga dan kelayakan dari penginapan tersebut, aku kemudian diantar oleh istri dari sang bapak tersebut ke penginapan miliknya.

DSC07439
Himbuan Untuk Menjaga Terumbu Karang

Letak desa Iboih tidak telalu jauh dari letak tugu kilometer nol Indonesia. Bahkan pengunjung melewatinya pada saat perjalanan menuju tugu tersebut. lagi-lagi karena hari sudah malam, dan jalanan sangat gelap, maka laju kendaraanku tidak bisa maksimal. Jalan yang berliku membuat aku dan para pengandara lainnya harus terus berkonsentrasi selama perjalanan. Aku membuntuti motor yang dipakai oleh istri sang empunya penginapan. Cahaya terang dari bulan malam itu menemaniku berkendara di rimbunnya hutan lindung Pulau Weh. Setelah sampai di desa iboih, kami memarkirkan motor lalu berjalan kaki menuju tempat penginapan yang akan aku tempati.

DSC07467
Panorama Laut Pulau Rubiah

Pertama kali aku masuk ke desa ini, suasana islami sudah sangat terasa. Lantunan warga yang sedang mengaji disebuah masjid yang letaknya tepat disebelah tempat parkiran motor itu sangat menggema. Terdengar jelas lantunan surat yasin yang sangat merdu. Rupanya, hari itu bertepatan dengan hari ketiga wafatnya salah satu warga desa Iboih. Sudah menjadi tradisi bagi semua warga desa dalam menggelar doa bersama untuk almarhumah. Yang menarik, hampir disetiap sudut terdapat plang-plang himbauan bagi para pengunjung untuk menghormati kehadiran budaya islam di desa ini. Bahkan, aku sempat melihat banyak sekali larangan bagi para pengunjung untuk tidak mengumbar aurat. Peraturan penginapanpun mengharuskan pengunjung yang sudah bersuami istri untuk bisa menunjukan akta nikahnya, bila tidak otomatis keduannya harus tidur terpisah kamar. Uniknya, meskipun banyak penginapan yang tidak memiliki kamar mandi di dalam kamarnya, para pengunjung bisa menggunakan kamar mandi masjid untuk mandi namun dikenakan tarif yang relative terjangkau. Benar-benar pantai syariah, batinku.

DSC07529
Desa Iboih

Awalnya aku berfikir untuk menggunakan kamar yang tidak memiliki kamar mandi saja, ini karena harga sewa kamar yang tidak memiliki kamar mandi lebih murah daripada yang menyediakan kamar mandi. Tetapi, letak kamar-kamar tersebut sangat kurang strategis, sehingga mengurangi rasa nyaman untuk ditempati. Ibu yang mengantarkanku melihat-lihat penginapannya memberikan kebebasan padaku untuk mengambil keputusan. Karena lokasi tempat penginapan yang direkomendasikan si ibu sangat tidak bagus, akhirnya aku memutuskan untuk berkeliling mencari penginapan lain yang lebih nyaman dan masih masuk dalam bujet perjalananku. dengan senang hati, ibu tersebut kemudian menemaniku berkeliling mencari tempat penginapan yang sesuai dengan seleraku.

Aku kemudian mendapatkan sebuah kamar yang pas untuk ukuran kantongku. Bahkan dengan fasilitas kamar yang disediakan, menurutku ini sangat murah sekali. Memang kamarnya tidak ber-AC, namun keberadaan kipas angin, TV, Wifi, Dispenser air minum, dan kamar mandi di dalam sudah sangat melabihi ekspektasiku. Kamar lain belum tentu menawarkan harga yang sama dengan fasilitas tersebut. karena kamar itupun aku pilih setelah menggunjungi semua tempat penginapan yang ada di desa Iboih. Yang membuatku semakin bahagia dengan kamar itu adalah letaknya yang langsung menghadap lautan lepas sehingga dari balkonya aku bisa melihat dengan jelas keindahan pemandangan laut dan selat serta pulau Rubiah di ujungnya. Setelah menyelesaikan urusan penginapan, akupun kemudian tertidur karena badan sudah merasakan lelah yang maksimal.

DSC07441

Sinar matahari pagi itu membuat aku terbangun. malam itu aku lupa menutup tirai jendela, sehingga sinar matahari itu langsung menyambar mataku dan membangunkanku. Meskipun terasa sangat lelah, rasanya sangat disayangkan jika aku harus melewatkan keindahan matahari pagi di pulau paling barat Indonesia ini. aku langsung menyambar kacamataku dan mengambil kamera serta handphone lalu berjalan mengelilingi seisi pulau. Lensa kamera terus aku arahkan pada semua pemandangan yang aku rasa sangat layak untuk aku abadikan. Sepanjang perjalanan, hampir semua orang yang aku temui menyapaku. Aku mulai merasakan keramahan masyarakat di desa ini. menurut cerita dari warga asli desa, dahulu sebelum menjadi lokasi pariwisata, desa ini adalah salah satu desa nelayan yang mengandalkan hasil tangkapan ikan untuk kebutuhan sehari-harinya. Balum lagi, pulau Rubiah yang ada tepat di sebrang desa dahulunya adalah tempat karantina para Jemaah haji sebelum diberangkatkan ke tanah suci. Dan menurut sejarah yang diketahui warga, nama Iboih adalah nama salah satu raja yang dulu pernah berkuasa di pulau ini, sedangkan nama Rubiah adalah nama sang istri raja. Raja Iboih sendiri meninggal di desa tersebut, dan makamnya berada di tempat paling ujung dari desa tersebut. aku tidak tahu apakah informasi tersebut benar atau tidak, yang pasti bisa sampai di pulau ini saja adalah suatu kebahagiaan untukku.

DCIM102MEDIA
Salah satu ikan yang berhasil tertangkap kamera. 🙂

Bosan berkeliling, akupun kemudian meminjam alat snorkeling yang banyak disewakan oleh para warga. Karena alasan hemat, aku hanya menyewa masker dan fin saja. Sebenarnya aku tertarik untuk menyewa pelampungnya sekalian, namun arus laut di pantai ini tidak terlalu kencang, sehingga sangat aman jika snorkeling tanpa memakai baju palampung. Rasanya kedalaman air laut di pinggir pantai Iboih tidak terlalu dalam, pantainya banyak diisi oleh batu-batu karang yang sudah mati. Namun meskipun begitu, ikan-ikan yang berenang disekitar pantai sangat banyak dan indah-indah. Masyarakat sekitar sudah mulai mengerti bahwa ikan dan pariwisata adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, masyarakat melarang keras kepada siapa saja yang melakukan pengrusakan terumbu karang yang masih ada serta melarang adanya penangkapan ikan secara panah atau jaring. Batinku langsung kembali membandingkan keindahan bawah laut Maluku dan Alor yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Merasa kurang puas melihat keindahan bawah laut pantai Iboih, akupun kemudian menyewa sebuah perahu untuk mengantarkanku ke pulau Rubiah. Dari informasi yang aku dapat, keindahan bawah laut pulau Rubiah jauh lebih bagus daripada pantai Iboih. Akupun langsung pergi menuju loket pemesanan perahu untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut.

DCIM102MEDIA
Melhat Ikan di Pulau Rubiah

Jarak pantai Iboih dan Pulau Rubiah tidak terlalu jauh. Dengan menggunakan perahu ketingting, perjalanan ditempuh dalam waktu tidak lebih dari 10 menit. Dermaga kayu sederhana kemudian menantiku untuk segera berlabuh disampingnya. Setelah perahu bersandar, aku langsung naik ke daratan dan melihat keindahan panorama alam Pulau Rubiah. Air hijau yang kontras terpisah dengan biru pekat seketika kembali menghipnotisku untuk terus mengabadikannya melalui lensa kamera. Pengunjung yang tidak begitu ramai membuat ketenangan dan kesunyian tersendiri. Pulau ini benar-banar milik pribadi, batinku. Aku kemudian segera memakai perlangkapan snorklingku untuk melihat pesona bawah laut pulau ini. hasilnya, sungguh luar biasa. Terumbu karangnya masik bagus dan terus terjaga. Ikan-ikannya tidak perlu ditanyakan lagi. Banyak schooling fish yang berenang mendekatiku seolah-olah aku adalah santapan lezat bagi mereka. Ikan yang berwarna-warni terus berkeliling disekitarku setiap kali aku menggerakan jemari tangan yang menyerupai gerakan memberi makan pada ikan-ikan tersebut. Arus laut yang sangat tenang membuat pengunjung wisata dipastikan aman untuk berlama-lama menikmati keindahan bawah laut pulau ini.

Hanya karena matahari yang sudah berada ditempat paling tinggilah yang membuatku memutuskan untuk segera mengakhiri keindahan surga di pulau ini. bukan berarti aku takut akan sinar matahari, tetapi karena masih banyak tempat indah lainnya di pulau Weh ini yang harus aku kunjungi. keterbatasan waktu membuatku harus membuat perencanaan yang terukur, sehingga pada akhirnya aku kembali ke penginapan dan segera meluncur ke lokasi lain di pulau ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s