Exoticism of Outer Islands Indonesia ; Zero Point of Indonesia

Eksotisme Pulau Terluar Indonesia : Tugu Kilometer Nol Indonesia.

Kapal ferry tujuan palabuhan Balohan siang itu sudah membunyikan stoom-nya. Aku yang baru saja tiba di Pelabuhan Banda Aceh langsung berlari menuju loket tempat penjualan tiket. Sempat panik karena semua loket sudah tutup, akhirnya aku bertanya pada seorang penjaga pelabuhan mengenai lokasi pembelian tiket untuk penyebrangan ke Pulau Weh. Petugas tersebut menyuruhku untuk lansung saja masuk ke kapal ferry yang sebentar lagi akan berangkat. Bend, seorang kawan yang mengantarkanku terus menemani dan memastikan bahwa aku benar-benar bisa masuk ke dalam kapal dan berlayar menuju pulau tersebut. Di depan mulut kapal rupanya ada sebuah antrian panjang. Antrian tersebut taklain adalah antrian pembelian tiket menuju Pulau Weh. Bend meninggalkanku setelah aku mendapatkan tiket dan stoom kapal sudah berbunyi dua kali, menandakan bahwa kapal sudah siap untuk diberangkatkan.

DSC07366
Sign Kilometer 0 Indonesia

Di dalam kapal, aku kemudian bertemu kembali dengan Yudha, seorang taman dari kerinci yang pernah berjanji untuk besama-sama mengeksplor Pulau Weh ketika aku berjumpa dengannya di Medan. Perjumpaanku dengannya adalah sebuah ketidak-sengajaan ketika aku sedang menjalankan sholat dhuzur di masjid agung Kota Medan. Setelah berbincang singkat, akhirnya kamipun berjanji untuk bertemu kembali di Pulau Weh. Pengalaman perjalanan dengan menggunakan kapal lintas pulau sudah tidak asing lagi bagiku. Dua jam perjalanan menjadi waktu yang sangat singkat sebelum akhirnya kapal bersandar mulus di pelabuhan Pulau Weh. Selamat Datang Di Pulau Weh, itulah plang pertama yang aku lihat sesaat setelah turun dari kapal. Suasana pelabuhan paling barat Indonesia ini terlihat kurang menarik. Denyut kehidupannya dirasa tidak jauh berbeda dengan beberapa pelabuhan yang ada di Pulau Jawa ataupun bahkan Lampung. Banyak mobil pengangkut sayuran dan bahan pokok lainnya yang saling berebut ketika mulut kapal diturunkan. Penumpangpun demikian. Mereka seakan berlomba untuk mendapatkan urutan pertama yang bisa keluar dari lambung kapal. Disaat yang bersamaan, banyak penjual jasa yang masuk dan saling berebut penumpang, menawarkan angkutannya untuk disewa. Keuleten dan kegigihan mereka patut diacungi jempol. Karena meskipun aku sudah menolaknya beberapa kali, mereka tidak putus asa menawarkan jasanya kembali padaku. Mereka baru pergi ketika Yudha memberikan kunci sepeda motor yang ia renral padaku, rupanya ia sudah memesannya terlebih dahulu pada saat masih berada di Banda Aceh.

DSC07351
Romantisme Senja di Nol Kilometer

Tempat pertama yang kami tuju adalah Tugu Kilometer Nol Indonesia. Pulau weh, memang sudah banyak dikenal sebagai pulau paling barat yang berada di Indonesia. Pulau ini pula yang kemudian menjadi tempat berdirinya tugu dimana titik awal dari Panjang Indonesia mulai dihitung. Perjalanan menuju kilometer nol Indonesia bisa dibilang sangat mudah sekali. Banyak petunjuk jalan yang akan membimbing para wisatawan untuk bisa sampai dan berfoto ria di tugu tersebut. Namun, jalan yang berliku dan tikungan yang sangat tajam menjadi tantangan tersendiri bagi para pengendara. Salah-salah dan kurang konsentrasi bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan yang fatal. Pulau Weh sendiri sudah menjadi hutan lindung yang kelestariannya terus dijaga. Tidak heran jika sepanjang perjalanan menuju tugu kilometer nol, para pengendara akan menemukan pohon yang tumbang atau kumpulan monyet liat yang sedang asik bermain ditengah jalan bahkan biawak yang sedang mencari makan. Jangan pernah sekali kali mengganggu atau sekedar melambatkan laju kendaraan jika berada dikawasan monyet ini. karena mereka masih liar, maka mereka akan terasa terganggu sehingga tidak heran jika mereka marah dan berusaha untuk menyerang pengunjung yang mendekatinya. Aku sendiri hampir saja menjadi korban kemarahan monyet-monyet tersebut. niat ingin mengabadikan kerajaan monyet yang sedang bermain, motorku malah diserang oleh beberapa monyet besar yang merasa terganggu. Untung, aku masih bisa mengontrol laju kendaraan sehingga masih sempat untuk menghindar dari serangan mereka. Rimbunnya hutan disepanjang jalan menuju lokasi wisata utama benar-benar membuat suasana sedikit menyeramkan. Jalanan yang kosong dengan udara yang sejuk dan hari yang sudah mulai gelap seakan menaikan bulu kuduknya untuk menggerakan tanganku menarik tuas gas sekencang-kenacangnya. Tetapi, meskipun gas sudah ditarik kencang, jalanan yang berliku justru menjadi kendala utama perjalananku, sehingga, mau tidak mau aku kembali mengendurkan tarikan gas dan menekan tuas rem sekencang-kencangnya agar tidak terjatuh.

DSC07323
Sahabat Perjalanan

Jarak dari pelabuhan ke tugu kilometer nol Indonesia adalah 30 kilometer. Dengan jalan yang berliku, waktu tempuh menuju lokasi tersebut kurang lebih 50 menit. Karena aku baru sampai pelabuhan pukul 16.00 dan baru berangkat sekitar pukul 17.00, maka mau tidak mau aku harus sedikit mengencangkan laju kendaraanku agar bisa mendapatkan sunset tepat pada waktunya. Gapura selamat datang di lokasi wisata Pulau Sabang aku lewati begitu saja. Sesuai dugaannku, lokasi gapura tersebut masih jauh jaraknya dari lokasi kilometer nol yang ku maksud. Sebenarnya, sebelum sampai di kilometer nol, ada sebuah tempat menyerupai monument lainnya, yaitu Tugu Garuda. Pamor Tugu Garuda ini kurang begitu menarik perhatianku, sehingga aku tidak menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di tempat tersebut.

DSC07349
Sunset Paling Barat di Indonesia

Gapura berwarna putih yang sedang direnovasi itu kemudian menghentikan laju kendaraanku. Seorang penjaga datang menghampiriku. Rupanya, untuk masuk lokasi tugu kilometer nol ini dikenakan bea masuk. Namun, entah bea ini legal atau tidak, yang pasti aku tidak mendapatkan tiket resmi atas kunjunganku ke lokasi wisata seperti pada umumnya. Sudahlah, tidak masalah, batinku. Dari gapura pintu masuk tersebut, masih tersisa beberapa meter yang harus dijalani sebelum kendaraan diparkirkan. Suasana semerawut efek dari pembangunan tugu baru oleh pemerintah Kota Sabang rupanya tidak bisa dielekaan. Para pedagang makanan, penjual kaos oleh-oleh, sampai sisa-sisa besi untuk tiang bangunan berserakan tidak pada tempatnya. Bilik-bilik kayu sementara dijadikan sebagai lapak bagi para pedagang. Disudut lapak paling depan terdapat sebuah tempat bertuliskan “Tempat Pembuatan Sertifikat Nol Kilometer”. Layaknya pasar tumpah, untuk bisa sampai di tugu utama, kita harus berjalan masuk melewati sebuah lorong sempit dan padat hasil dari barang dagangan yang menghalangi pemandangan disekitarnya. Puas rasanya ketika pada akhirnya aku melihat dengan mata kepala sendiri sebuah tulisan barwarna kuning yang terbuat dari besi bertuliskan : Kilometer 0 Indonesia. Raut wajah sumringah keluar dari wajahku. Bukan karena perjalanan yang sulit atau menantang, tetapi lebih karena pada akhirnya aku bisa sampai juga di titik paling barat di Negeriku tercinta ini. Selain itu, meskipun tugu utama masih dalam renovasi, tetapi berhasil menikmati sunset di pulau paling barat Indonesia ini rasanya sungguh luar biasa. Semua orang tahu, bahwa matahari cuma ada satu di dunia, tapi bagiku menikmati sunset di berbagai wilayah di Indonesia memiliki ribuan bahkan jutaan keindahan yang tak tergambarkan lagi dengan kata-kata sekalipun.

DSC07290
Keluarga Besar di Nol Kilometer

Seiring dengan tenggelamnya sang surya, berakhir juga petualanganku menuju titik kilometer nol Indonesia ini. Aku kemudian berhak atas posisi ke 150786 dalam daftar pengunjung yang telah datang ke tempat ini dari total 200 juta lebih penduduk yang ada di Indonesia. Sertifikat kedatanganku-pun langsung tercetak dan ditandatangani resmi oleh Walikota Sabang. Sampai berjumpa kembali Kilometar Nol Indonesia. Rasa penasaranku akhirnya terbayar lunas oleh keindahan sunset mu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s