A Heritage of Tjong A Fie

A Heritage of Tjong A Fie

Akhirnya, setelah berjibaku dengan semua aktifitas yang melelahkan di hotel, aku mendapatkan kesmpatan untuk berkeliling ke beberapa tempat bersejarah yang ada di kota Medan. Pagi ini aku tidak memilih berangkat ke Danau Toba ataupun Brastagi, karena memang sangat tidak memungkinkan. Aku hanya memiliki waktu sekitar 12 jam sebelum akhirnya aku harus melanjutkan perjalananku ke aceh. Seorang teman di Medan telah menghubungiku dari jam 09.00 pagi, sebelumnya kami memang berencana untuk pergi sekitar jam 10.00 waktu setempat. Setelah mandi dan bersiap, aku lalu dijemput oleh temanku itu. Bingung mencari tempat tujuan nampaknya tetap menjadi persoalan klasik bagi kami. Temanku yang seharusnya lebih tahu tempat destinasi yang ada di Medan malah balik bertanya padaku mengenai destinasi wisata yang akan kami kunjungi. Aku benar-benar tidak bisa memberikan ide, karena seharusnya aku adalah tamu yang semestinya dibimbing ke tempat-tempat wisata yang ada di kota medan.

DSC07022
Gerbang Utama Rumah Tjong A Fie

Tempat destinasi pertama kami akhirnya tertuju pada sebuah bangunan bersejarah yang telah menjadi warisan dan dilindungi oleh pemerintah setempat. Tempat bersejarah itu merupakan sebuah rumah tempat kediaman seorang major asal tiongkok yang sangat kaya raya dan juga menjadi founding father dari kota medan. Sosok asal negeri tiongkok itu sangatlah dihormati dan menjadi salah satu tokoh paling penting bagi kota Medan. Dia adalah Tjong A Fie. Dari namanya saja sudah dapat diketahui bahwa ia pasti adalah orang asli negeri tiongkok. Ia datang ke Medan dalam rangka bisnis sampai pada akhirnya ia menikah dengan seorang wanita asli medan. Wanita asli medan tersebut adalah istri ketiga dari sang major. Dari hasil pernikahannya, beliau dikaruniai tujuh orang anak yang sekarang sudah tiada, namun masih menyisakan cucu-cucu dan cicit-cicitnya.

DSC07030
Keluarga Besar Tjong A Fie

Dalam sejarahnya, Tjong A Fie ini adalah orang pertama terkaya di kota Medan. Dengan kekayaan yang sudah tidak dapat lagi terhitung jumlahnya. Ia memiliki banyak perkebunan yang sekarang sudah di nasionalisme kan menjadi PTPN. Ia juga memiliki banyak rumah dan tanah, serta memiliki 2 buah bank yang taklain adalah bank Deli yang kemudian di sudah berubah nama menjadi bank QNB. Beberapa tanah yang berada di medan pun ia berikan kepada pemerintah untuk dikelola, serta beberapa gedung telah beralih fungsi menjadi gedung-gedung perkantoran milik pemerintah. Rumah tinggalnya pun, sekarang telah diwariskan kepada pemerintah daerah untuk dijadikan sebagai museum peninggalan keluarga Tjong A Fei, namun ada beberapa ruangan yang masih dipergunakan oleh keturunan beliau yang masih hidup dan tinggal di rumah itu.

DSC07026
Suasana Ruang Utama Untuk Tamu Eropa

Dari pintu masuk yang tepat berada di pinggir jalan itu aku bisa langsung menebak bahwa itu adalah tempat bersejarah yang akan kami datangi. Meskipun terdapat plang besar bertuliskan Rumah Tjong A Fie, namun interior gapura sebagai pintu masuk yang bermotif tiongkok juga memberikan penegasan bahwa itu adalah tempat bersejarah yang ada di kota ini. Gampang saja menilainya, dikarenakan hampir semua bangunan disampingnya sudah berubah menadi bangunan modern, namun hanya ada satu buah rumah yang sangat nyenrik yang tetap mempertahankan kekhas-annya berupa ukiran-ukiran khas negeri tiongkok. Gapura besar itu menjadi pintu utama menuju halaman rumah Tjong A Fie. Di depan pintu utama, aku melihat ada seorang petugas penjual tiket masuk sedang duduk santai. Hari ini rupanya pengunjung yang datang belum terlalu ramai. Setelah membayar tiket masuk, aku berkenalan dengan Putra yang selanjutnya akan menemaniku sebagai guide dan dia akan menjelaskan semua tentang sejarah Rumah Tjong A Fie padaku. Penjelasan pertama yang dipaparkan oleh mahasiswa tingkat akhir di universitas Sumatra utara itu adalah penjabaran lengkap mengenai sosok Tjong A Fie. saat menjelaskan, Putra kemudian menunjukan sebuah foto keluarga hitam putih yang tergantung di dinding sebelah pintu masuk. Foto itu berisikan keluarga besar Tjong A fie saat beliau masih berumur 61 tahun. Begitu masuk ruang utama, kesejukan rumah ini sangat terasa. Lantai yang terbuat dari keramik hitam serta dinding dari kayu tebal memberikan nuansa yang sangat teduh jika kita sedang berada didalamnya. Dari ruang utama, Putra mengajak kami masuk kedalam ruang petemuan.

DSC07078
Kulkas dan Oven Gas Pada Tahun 1980an

Ada tiga ruang pertemuan yang masing-masing memiliki pengunjung khusus. Ruang pertama adalah ruang pertemuan khusus untuk sultan kerajaan Deli. Diruang itu terdapat empat kursi kayu yang didatangkan langsung dari tiongkok. Usia perabotan yang ada di rumah ini hampir sama dengan usia rumahnya sendiri, yaitu sekitar 160 tahun lebih. Beberapa pajangan yang terbuat dari porselen asli tiongkok masih tertata rapi disetiap sudut dan di meja-meja pajangan yang ada di ruangan ini. Ruangan kedua adalah ruang pertemuan yang dikhususkan untuk orang Eropa. Ruang ini berada tepat di ruang utama setelah pintu masuk. Dari interiornya terlihat sangat sederhana, hanya terdapat kursi dan meja yang dihiasi dengan sebuah vas bunga saja. Ruangan ketiga adalah ruangan yang dikhususkan untuk orang-orang Belanda. Diruangan ini terdapat beberapa lukisan dan juga pejangan yang masih terbuat dari porcelen. Setelah melewati ruangan pertemuan, kami menuju ruangan tengah dimana ruangan ini tidak memiliki atap, namun disekelilingnya terdapat jendela-jendela dan partisi kayu sebagai celah masuknya cahaya. Menurut fengshui china, ruangan ini berarti tempat masuknya rejeki, dan tepat dibawahnya, terdapat altar dewa agung dimana pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengabadikan gambarnya.

DSC07047
Ruangan Tanpa Atap, Tempat Rejeki Datang

Ruangan selanjutnya adalah tempat tidur utama pemilik rumah. Kasur yang terbuat dari kayu yang sangat tebal, mungkin kayu terbaik pada jamannya dan masih kokoh menopang sebuah kasur empuk yang ternyata bukan lagi kasur asli empunya rumah. Yang asli sudah lepuk termakan usia, kata Putra. Uniknya, aku melihat ada sebuah timbangan badan dan juga sebuah mesin penyedot debu yang menggunakan tenaga listrik. Menurut penjelasan yang diberikan oleh Putra, pada jaman itu, sekitar tahun 1980, hanya Tjong A Fei lah satu-satunya orang di Medan ini yang rumahnya sudah memiliki lisrik. Jadi bisa dibanyangkan betapa kayanya Major tersebut. dikamarnya pula aku melihat ada sebuah peti besi asli yang ia bawa dari negeri tiongkok sewaktu ia memutuskan untuk hijrah ke Medan.

Masuk ruangan selanjutnya adalah ruangan makan utama keluarga. Hanya terdapat sebuah meja yang lengkap dengan peralatan makan yang masih asli dan bertahan dari sejak pertama kali rumah ini berdiri. Pengunjung tidak diperbolehkan menyentuh barang-barang tersebut, karena barang-barang itu dinilai memiliki nilai sejarah yang sangat tak ternilai harganya. Di dapur, aku menemukan sebuah oven gas dengan merek Philips serta sebuah kulkas bermerek hitachi yang masih asli. Rupanya perusahaan tersebut sudah memproduksi alat-alat rumah tangga pada tahun tersebut, aku tidak bisa membayangkan berapa harga jualnya kala itu.

DSC07091
Hiasan Pintu Tradis China

Mengunjungi lantai dua, ada sebuah ruangan besar yang pada masanya hanya diperuntukan untuk berdansa. Lantai kayunya dibuat dan didatangkan khusus dari Inggris, dan atap plafonnya didatangkan langsung dari Prancis. Benar-benar mewah, batinku. Disisi kanan rumah adalah tempat tingal cicit dari TJong A Fei, dan pengunjung tidak diperbolehkan masuk, sedangkan disebelah kanan rumah terdapat ruangan-ruangan kantor Tjong A Fie, serta perpustakaan dan ruangan pertemuan biasa. Seluruh ruangan tersebut tidak lepas dari foto-foto dan lukisan-lukisan asli juga beberapa kaligrafi pemberian pemerintah tiongkok atas jasa Tjong A Fie membantu masyarakat kurang mampu di tiongkok. Ruangan terakhir yang aku masuki sebelum tour ini selesai adalah ruangan dimana terdapat surat warisan yang terukir besar didinding tembok, satu berbahasa belanda, dan satunya lagi sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Di rumah yang memiliki total luas 4000 meter persegi itu aku mulai mambayangkan sekaya dan sedermawan apa sosok Tjong A Fie saat itu. Dari sejarahnya saja, aku menilai bahwa beliau adalah sosok yang peduli akan sesama. Tidak ada kesombongan yang terlihat dari setiap lukisan paras wajahnya. Bahkan kekayaannya sampai sekarang masih dapat dinikmati oleh semua warga yang beradi di medan. Sungguh menginspirasi batinku.

Terima kasih banyak Sobrina, karena telah meluangkan waktu untuk mengajakku berkeliling kota medan. Horas !!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s