Launching Documentary Film : “INI SCENE KAMI JUGA!”

Hari itu ada yang berbeda di Daily Routine Coffee. Arti beda disini bukan berarti ada menu baru atau tatanan letak kedai yang berubah. Semenjak pertama kali aku datang dan bermain sambil belajar di kedai ini, aku belum pernah merasakan banyaknya pengunjung yang hadir dan membuat sebuah suasana kedai menjadi sangat ramai. Biasanya suasana yang tenang, syahdu, dan tentram inilah yang membuatku betah untuk duduk berlama-lama sambil menikmati secangkir kopi aeropress buatanku sendiri. Namun hari ini beda, aku yang terkejut ketika pertama kali hendak memarkirkan motor dan melihat kedai ini penuh dengan pemuda-pemudi berbaju serba hitam dan celana sobek dilutut serta jaket jeans belel dengan penuh bordiran emblem*. Wow, banyak anak punk, pikirku. Dan benar saja, begitu aku akan memarkirkan sepeda motorku, seseorang menginstruksikan padaku untuk segera mematikan mesin karena pemutaran video doukumenter sedang berlangsung. Dengan respect, akupun segera mematikan mesin sepeda motorku dan mendorongnya hingga sampai pada posisi parkir yang benar.

IMG_2602
Dokumentary Film : Ini Scene Kami Juga!

Rupanya, hari itu sedang berlangsung sebuah acara peluncuran film documenter yang bertajuk “Ini Scene Kami Juga”. Film documenter tersebut adalah sebuah film yang mendokumentasikan tentang keterlibatan kaum perempuan dalam skena hardcore/punk di Indonesia. Acara ini diorganisir oleh Woo Kolektif yang memang telah banyak membuat acara-acara serupa di dunia hardcore dan punk Indonesia. inti dari acara ini sebenarnya adalah ingin mematahkan stigma negatif tentang anak hardcore/punk yang beredar dimasyarakat, apalagi perempuan. Disisi lain, dalam acara ini, menceritakan dengan jelas bahwa perempuan juga berhak untuk mendapatkan porsi yang sama dalam sebuah scene yang lebih banyak di dominasi oleh kaum adam tersebut.

ArLWWcRCopxjfjFbIUXB_D_RhTXPSiAlTjryP2jTvgiW
Poster Acara

Dialah Dinda Advena selaku frontline dari daily rats, Hera Mary selaku film maker, Ika Vantiani yang ternyata adalah pemilik dan pencetus Penitik Pink (PePi) yaitu sebuah wadah produktif yang menaungi dan mensupport semua aktifitas produktif yang dihasilkan oleh para anak hardcore/punk, serta Tika yang aku lupa untuk menulis profil tentangnya. mereka semua kemudian berdiskusi dalam sebuah talkshow langsung dan mengemukakan pendapatnya masing-masing dengan perannya masing-masing.

Banyak isu yang kemudian digali dan dibicarakan bersama dalam talkshow tersebut. salah satunya adalah isu seksisme dan juga pelecehan seksual yang terkadang harus mereka terima saat menghadiri sebuah acara hardcore/punk. Seksisme sendiri adalah sebuah diskriminasi gender yang menilai bahwa kaum perempuan dianggap rendah pada saat sebuah acara hardcore/punk berlangsung. Dinda dan Tika, selaku frontline dari sebuah band hardcore pun sering mengalaminya. Menurut mereka, selalu saja ada yang mengambil kesempatan untuk bisa meraba-raba apa yang seharusnya tidak diraba oleh kaum adam. Padahal, menurut Ika, menikmati sebuah acara itu adalah suatu hak bersama tanpa harus melihat gender. Baik laki-laki ataupun perempuan memiliki kesamaan hak untuk berkarya. Pesan dari film documenter ini menurut sang pembuatnya, Hera Mary, tak lain adalah memberikan ruang yang layak dan memberikan sikap respect antar sesama kaum penikmatnya, serta tanpa adanya diskriminasi dari segi manapun. Disamping itu, Hera ingin agar teman-teman perempuan yang ada di dalam scene lebih berani memberikan sesuatu yang berharga untuk komunitasnya sendiri tanpa harus mendengar cibiran masyarakat luar, bahkan cibiran teman di komunitas sendiri. karena kamu adalah dirimu sendiri, tambahnya.

Berbicara mengenai hardcore/punk perempuan rasanya memang tidak terlepas dari tanggapan negatif masyarakat luar. Kaum hardcore/punk lalaki saja terkadang dipandang sebelah mata, apalagi kaum perempuan. Untuk itulah para pembicara kemudian berusaha untuk mengedukasi serta menghilangkan miskonsepsi terhadap kaum hardcore/punk. Miskonsepsi yang muncul itu adalah pandangan-pandangan negatif terhadap mereka. Pengganggu, pembuat onar, serta tidak memiliki masa depan sudah menjadi cap yang melekat kuat pada mereka. Namun, itu semua ternyata tidak benar. Ika, selalu pemilik rumah kolektif PePi menjelaskan bahwa sekarang ini sudah saatnya untuk meluruskan apa yang telah menjadi miskonsepsi tersebut. Menurutnya, banyak karya brilliant bermunculan dari kaum marginal yang selalu mendapat pandangan negatif ini. karya-karya tersebut bahkan sanggup menembus pasar luar negeri bahkan sangat dipuji dan diapresiasi di luar sana.

IMG_2601
Para Pegunjung Acara

Pesan terakhir yang ingin disampaikan oleh masing-masing narasumber adalah bahwa kaum perempuan nyatanya mampu bersaing dengan kaum laki-laki di dunia hardcore/punk Indonesia. Suksesnya acara lady fest, gigs khusus perempuan  di yogjakarta bulan lalu tak lepas dari peran dan keinginan kuat dari semua hardcore/punk wanita yang ingin merasakan rasa aman dari gangguan-gangguan mengenai seksisme dan pelecehan seksual. Dinda menambahkan bahwa menyimpang dari “kultur” untuk mendapatkan kenyamanan bukan berarti harus mendapatkan cibiran negatif. Masyarakat harusnya tidak hanya melihat dari kulit luarnya saja. Pahami dan dalami sebelum men-judge seseorang yang “melenceng” dari kehidupan normal.

IMG_2603
Suasana Daily Routine Hari itu.

Acara itupun kemudian diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari semua penontonnya. Meskipun acara ini awalnya dikhususkan untuk kaum perempuan, namun nyatanya perbandingan jumlah pengunjung laki-laki lebih mendominasi. Aku yang masih menikmati segelas kopi papua akhirnya paham, bahwa perempuan ternyata memiliki peranan yang dahsyat dalam perkembangan music hardcore/punk saat ini. sudah lama sekali rasanya aku tidak mengikuti perkembangan aliran musik ini. sudah banyak perubahan-perubahan yang telah terjadi didalamnya. Sudah banyak pula karya-karya besar yang telah tercipta. Akupun pada akhirnya terinspirasi oleh para narasumber tersebut. Pesan yang menjadi pelajaranku adalah lakukan hal apa saja yang menurut kamu itu benar dan membuat kamu nyaman, jangan pedulikan tanggapan orang lain, karena mereka hanya melihat kulit luarnya saja.

Satu persatu pengunjungpun mulai berpergian. Gelas-gelas kopi yang beredar mulai masuk kembali ke tempatnya dibar. Setelah semua dibersihkan dan dirapikan, sekarang giliran botol-botol keleng beer yang berputar. Happy hardcore!!

*emblem adalah tanda pengenal berupa bordiran khas anak punk. biasanya berupa logo atau simbol sebuah band atau komunitas dan kelompok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s