Coffee and Cherry Tea, Same From Coffee but Different Flavor

Coffee and Cherry Tea.

Yeaah, baru saja beberapa bulan terakhir ini aku belajar tentang bagaimana membuat dan merasakan cita rasa yang terkandung dalam segelas kopi. Buatku, hal yang membuat segelas kopi menjadi hal yang menarik bukan terletak pada hasil akhirnya, melainkan pada proses bagaimana secangkir kopi itu bisa tersaji nikmat didepan meja tempat dudukku.

Bayangkan, sebelum menjadi minuman nikmat penggugah semangat, kopi yang menurut sejarahnya masuk ke Indonesia berkat para penjajah itu harus melalui beberapa proses tahapan. tidak mudah bagi para petani kopi untuk bisa menghasilkan langsung biji kopi yang memiliki kualitas unggulan. Proses tanam kopi dengan ketinggian yang beraneka ragam pun sejatinya memberikan cita rasa yang berbeda pula. Belum lagi, setelah biji kopi matang, pengambilannya tidak bisa sembarangan. Biji kopi kemudian dipilih dan disortir dengan penuh ketelitian untuk mengahasilkan ukuran dan warna yang nyaris sama dan seragam. Membayangkan proses memilih dan menyortirnya saja sudah membuat kepala pegal rasanya. Perlu ketelitian dan kesabaran bagi si petani agar kopi-kopinya bisa diproses lebih lanjut.

IMG_2414
Sample Beans Process, Cafffeto Display

Ada tiga buah proses pengolahan yang biasanya diberikan pada biji kopi yang aku ketahui. Yaitu natural process, honey process dan wash process. Ketiga proses itu tak lain adalah salah satu faktor yang memperngaruhi profil cita rasa kopi. Ya, hanya salah satu faktor, dan ini harus aku garis bawahi, karena pada kenyataanya masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus diperhatikan untuk menghasilkan profil cita rasa kopi yang nikmat.

Belajar dari seorang barista di daily routine manually brew coffee, proses natural ini menurutnya adalah proses pengeringan kopi yang paling sederhana, logikanya, proses ini mirip dengan proses pengeringan anggur, yaitu pengeringan langsung tanpa memisahkan buah dan biji kopinya. Proses ini biasanya dilakukan dibawah sinar matahari langsung. Dan setelah kering, pemisahan biji kopi dan kulitnya biasanya terjadi pada saat proses penggilingan. Di proses ini, kemungkinan terjadi fermentasi alami yang kemudian membentuk profil akhir rasa kopi.

IMG_2583
Aeropress Dolok Sanggul Beans

Untuk honey process, sederhannya adalah memisahkan terlebih dahulu biji kopi dan buahnya dengan alat, dan kemudian biji tersebut dikeringkan. Yang disebut honey disini adalah getah atau lendir (mucilage) yang masih menempel di biji kopi pada saat pengeringan dilakukan. Pada saat pengeringan berlangsung, mucilage itupun ikut mengering sehingga menghasilkan warna yang seolah-olah biji tersebut dilumuri oleh madu. Tidak heran jika pada akhirnya proses ini dinamankan honey process.

Proses terakhir adalah wash process, dari penamaannya saja sudah dapat dipastikan bahwa proses ini memerlukan pencucian pada biji kopinya. Namun pencucian disini diartikan sebagai pencucian biji kopi setelah biji kopi tersebut dipisakan dari buahnya dengan menggunakan mesin atau alat. Namun pada saat pemisahan tersebut masih terdapat lendir kopi yang menempel dibijinya, dan lendir ini kemudian dicuci lagi sampai bersih kemudian dikeringkan.

IMG_2592
Left : Cascara and Right : Sunda Beans with Natural Process, Thanks PannaCoffee

Itulah ketiga proses yang terjadi pada biji kopi setelah di panen dari pohonnya. Setelah itu, apakah biji kopi bisa langsung dinikmati? Tentu saja tidak, karena biji kopi harus melalui proses roasting (sangrai), grinding (penggilingan) dan baru bisa diekstraksi (seduh) serta dinikmati oleh para pencintanya. Disamping itu semua, untuk menghasilkan cita rasa yang nikmat, faktor-faktor seperti suhu air, perbandingan serbuk dan air, faktor lamanya serbuk terektraski dan juga bagaimana kebersihan sebuah alat harus diperhatikan. Walaupun pada ujungnya sensasi cita rasa kopi kembali kepada peminumnya, tetapi semua proses itu membuatku semakin penasaran untuk terus mendalaminya.

IMG_2598
Cascara Experiment

Lalu apa itu cascara? Cascara adalah teh yang terbuat dari kulit kopi. Ya, kulit kopi yang dikeringkan adalah bahan dasar pembuat cascara. Tapi bagaimana mungkin teh bisa terbuat dari kulit kopi? Pada awalnya aku mengira bahwa teh ini lahir atas dasar keinginan untuk menikmati kopi, namun biji kopinya tidak ada. Logikaku melayang pada jaman dahulu pada saat kopi adalah sebuah barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh para bangsawan. Jika di daerah Sumatra barat ada yang menggunakan daun kopi yang diseduh; Aiwa Kawa, atau bahkan sisa kotoran luwak yang kemudian menjadi kopi termalah di dunia, maka di barat sana ada cascara ini. cascara berarti “kulit” dalam bahasa Spanyol. Maraknya industri seduh kopi membuat cascara menjadi sebuah solusi cerdas terhadap kulit kopi yang umunya hanya dibuang setelah dipisahkan dari bijinya. Karena hasil pengeringannya yang mirip dengan buah cerry, maka kemudian cascara ini lebih dikenal dengan nama cherry tea. Lalu, apakah semua rasa cascara sama? Jelas tidak, karena lain biji kopinya, berbeda juga cita rasa cascara-nya.

Jadi selain bisa menikmati sensasi rasa kopi setiap hari, aku juga kemudian merasakan sensasi dari cascara yang menurutku berhasil memberikan “ledakan” di dalam mulutku. kopi dan cascara adalah minuman baru pembangkit semangat untukku.

Sudah menggiling dan mengekstraksi kopi hari ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s