DAS KOPITAL ; Ngopi sambil Ber”Aksi” !

Siang itu, seorang barista pemilik sebuah kedai kopi di jalan tikukur menanyakan keberadaanku melalui pesan singkat. Isi pesannya memberitahuku bahwa saat itu ada salah satu temanku yang sedang mampir di kedai kopinya. Aku yang hari itu masih sibuk dengan segala akitivitas yang harus ku kerjakan berkata padanya bahwa aku masih belum bisa datang mengunjungi kedai tersebut, dan mungkin akan datang apabila semua urusanku sudah selesai. Sambil mengendarai sepeda motor menuju sebuah tempat print, aku bertanya padanya mengenai jam oprasional kedainya.

            “Buka sampe jam berapa.” Isi pesanku.

            “Sampai gua ngantuk ka.” Jawabnya.

            “Siip, kalo gitu, tolong lo jangan kebanyakan minum kopi dulu, oke!” balasku.

            “Sikap!” jawabnya.

Akupun melanjutkan semua pekerjaanku yang masih tertunda, motorpun melaju dan terparkir disebuah toko jasa printing.

IMG_2559
Kata-kata Pembakar Semangat !

Tiba-tiba seorang teman lainnya menghubungiku, dan dia berkata bahwa ia sedang berada di Bandung, dan memintaku untuk menemeninya berkeliling kota, atau sekedar bertemu dan berbincang. Dalam hati, aku langsung berniat untuk mengajaknya ke kedai kopi temanku tersebut.

            “Oke, nanti biar gw jemput ke hotel tempat lo nginap deh, kita ke tempat kopi teman gua aja.” Isi pesan singkat ku padanya.

            “siip,” Jawabnya singkat.

Jam tepat menunjukan pukul 09.00, suara telepon dari temanku yang datang ke bandung sontak membangunkanku. Aku langsung meminta maaf padanya, dan bersiap untuk segera menjemputnya saat itu juga. Aku memintanya untuk bersiap karena dalam waktu kurang lebih 10 menit, aku akan tiba di hotel tempatnya menginap.

            “Yuu, kita lets go!” pintaku.

            “Ayoo.” Jawabnya.

Motor kemudian melaju ke arah utara kota Bandung, kemudian berbelok ke arah kanan sebelum kantor gubernur Provinsi Jawa Barat. Aku sempat lupa keberadaan jalan tikukur tempat kedai kopi temanku berada. Setelah melihat nama plang jalan, akhirnya aku menemukan tempat yang dimaksud.

IMG_2558
Open Kitchen 

Dari luar, aku melihat ada sebuah mobil jeep land rover tua berwarna putih yang terparkir manis di depan gerbang kedainya. Suasana rumah tinggal sangat kental menyelimuti kedai itu. Tempat parkir yang disulap menjadi sebuah kedai membuat siapa saja yang datang pasti betah untuk duduk berlama-lama sambil menikmati seduhan kopi dari berbagai macam daerah. Tempat ini juga ternyata adalah markas dari sekelompok anak muda yang aktif dalam mengawal berbagai keputusan pemerintah. Layaknya sebuah tempat kumpul para aktivis, tempat ini menyediakan berbagai macam buku bacaan yang dapat dibaca secara cuma-cuma. Koleksinya bukunya pun tidak main-main, mulai dari buku tentang Hak Asasi Manusia, sampai dengan buku sejarah sebuah bangsa terpajang rapi disebuah rak yang terbuat dari kayu pinus tersebut.

IMG_2560
Kumpulan Buku

Nama kedainya sendiri adalah DAS KOPITAL. Dari namanya saja, aku mengira bahwa itu adalah sebuah plesetan dari sebuah buku karya Karl Marx yang berjudul DAS KAPITAL yang ditulis dalam bahasa german. Buku itu berisi suatu pembahasan yang mendalam tentang ekonomi politik . Buku ini juga merupakan suatu analisis kritis terhadap kapitalsme. Entah benar atau tidak perkiraanku tersebut, yang pasti aku merasakan aura kekeluargaan yang mendalam saat duduk dan bercengkrama dengan para pengunjungnya.

Aku kemudian bertemu dengan AL sang pemilik kedai kopi tersebut. Setelah ia memperkanakanku dengan beberapa temannya, Al mempersilahkanku untuk membuat dan meracik kopi sendiri. Semua alat yang ada bisa dipakai sesuka hati, bahkan AL memintaku untuk membuat satu cup kopi racikanku untuknya. Dengan senang hati aku langsung bangkit dan berdiri di balik meja bar, kemudian sibuk dengan peralatan yang ada. Sesaat setelah aku membuat kopi untukku sendiri, dan kopi untuk AL, seorang pencinta kopi yang memperkanalkan dirinya dengan nama Otong datang.

IMG_2564
Lets Aeropress

Setelah berkenalan, aku diminta olehnya untuk membuatkan secangkir kopi dengan alat yang ia bawa sendiri dari rumah. AEROPRESS. Dengan penuh rasa grogi, dan yang pasti takut, aku kemudian meracikan sentuhan Aeropress terbaikku. Aku takut dan grogi, karena aku sama sekali masih awam dalam meracik kopi. Jangankan meracik kopi yang nikmat untuk orang lain, membuat untuk diriku sendiri saja kadang masih gagal. Tetapi, Otong terus memintaku untuk membuatkan satu cup untuknya. Setelah aku berkata padanya bahwa aku masih belajar meracik kopi, Otong malah tambah semangat untuk dibuatkan kopi olehku. Dua cup Aeropress dengan filter kertas dan filter mesh aluminium aku buatkan untuknya. Otong tidak berkomentar banyak terhadap hasil racikanku itu, yang pasti senyum yang keluar dari mulutnya setelah meminum kopi hasil buatanku membuatku gembira. Bukan berarti racikanku sudah pas, tetapi minimal aku bisa terus belajar untuk meracik dan mencicipi berbagai macam jenis kopi yang aku buat. Lagi-lagi, memcicipi kopi kembali ke selera masing-masing.

IMG_2561
Barista in Action

Tidak terasa, waktu sudah menunjukan jam 12.00. Rasa kantukku sudah muncul. Setelah pamit kepada semua teman yang ada disana, akupun pulang dan berjanji akan datang kembali ke kedai tersebut. jika di ingat-ingat, di DAS KOPITAL, aku sudah membuat lebih dari 6 cup kopi dengan berbagai alat yang ada. Learning by doing, ucapku dalam hati.

hint :

Kedai kopi DAS KOPITAL berada di jalan tikukur bandung.

Jenis variant kopi yang tersedia lumayan banyak.

Untuk harga, sangat pas di kantong mahasiswa. murah meriaah. mantaap!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s