Let’s Learn to make coffee

Belajar Bikin Kopi Yu!

Aku hanya tertawa saat pertama kali menuliskan judul untuk tulisanku kali ini. bukan tanpa alasan mengapa aku hanya tertawa, ini karena semua orang juga pasti bisa untuk membuatnya. Suatu hari aku pernah berbincang dengan seorang teman yang memang coffee addict, dia berkata begini : “Nikmatin kopi itu gak perlu dibikin ribet”. Ya, mamang ucapannya ada benarnya, tetapi menurut para pecinta kopi, tentu saja cara penanganan kopi yang baik akan menghasilkan cita rasa yang baik pula. Aku sendiri pernah menonton sebuah film berjudul filosopi kopi yang diperankan oleh Chiko Jeriko dan Julie Estelle, keren sih filmnya, sampai-sampai pemeran di film itu harus berkelana keliling Indonesia hanya untuk mencari sebuah jenis kopi yang benar-benar memiliki cita rasa yang khas dan tentu saja nikmat. Belum lagi lokasi setting filmnya, yang aku yakin siapapun yang menontonnya pasti akan terhipnotis dan tergelam dalam keindahan panorama alamnya.

IMG_2369
Preparing Alat Aeropress

Kesempatan untuk belajar meracik kopi sendiri di sebuah kedai kopi yang kebetulan milik seorang temanpun tidak aku sia-siakan. Rasa penasaran menggunakan alat-alat sederhana yang biasa dipakai para barista untuk melakukan teknik manual brewing pun aku coba. Kali ini, dan pertama kalinya aku meracik kopi buatanku sendiri dengan menggunakan alat bernama aeropress. Sesuai dengan namanya, serbuk kopi yang sudah di ekstraksi pada akhirnya akan di press agar hasil ekstraksinya mengalir kedalam wadah penampung.

IMG_2371
Pouring Water

Hal pertama yang aku lakukan adalah menyiapkan biji kopi gayo yang sudah di roasting sebelumnya. Aku memilih biji kopi gayo taklain karena rasa penasaranku untuk mencicipi cita rasa kopi asal aceh tersebut. Ohya, sebelum biji kopi tersebut aku giling, aku sudah menyiapkan air matang dengan suhu tidak lebih dari 90 derajat celcius. Menurut para ahli kopi yang aku temui sih, suhu yang tinggi akan membuat biji kopi yang di ekstraksi menjadi gosong, sehingga hasilnya tidak terlalu bagus. Oleh karena itu, jika belum memiliki alat pengatur suhu, disarankan untuk menunggu kurang lebih 10-20 menit setelah air mendidih sebelum dituangkan kedalam serbuk kopi. Aku menurut saja dengan instruksi yang diberikan oleh teman sekaligus barista di kedai ini.

Takaran biji kopi yang aku pakai saat itu adalah 20 gram. Timbangan digital dengan baterai yang sudah lemah tidak mengurangi keakuratan berat dari biji kopi yang aku timbang. Setelah timbangan pas berada di angka 20 gram, aku menyiapkan gilingan biji (grinder) yang kemudian aku setting dengan ukuran medium. Pemilihan serbuk medium ini dimaksud agar proses keluarnya air saat ektraksi tidak terlalu cepat. Berbeda jika mengunakan settingan hard, yang berarti serbuk akan sangat kasar sehingga proses ektrasi tidak akan sempurna. Setelah proses penggilingan dilakukan, tahap selanjutnya adalah menyiapkan alat aeropress itu sendiri. Setelah dicuci bersih, serbuk kopi yang sudah digiling tadi aku masukan semuanya kedalam alat tersebut.

IMG_2364
memindahkan hasil gilingan

Ini adalah proses yang butuh keahlian dan kesabaran ekstra menurutku. Memasuki tahapan pouring water, yaitu memasukan air kedalam serbuk kopi yang sudah siap dibasahi dalam wadah aeropress tidak bisa sembarangan. Mula-mula serbuk kopi itu dibasahi dengan sedikit air, namun air tersebut tidak boleh sampai menggenangi serbuk kopi tersebut. Ukuran berat pun ada takarannya diproses ini. sambil dituangkan, berat dari air tersebut diukur sampai batas maksimal 20 gram. Masih dengan menggunakan timbangan yang sama, aku menuangkan air kedalam wadah tersebut dengan sangat hati-hati. Karena dengan 20 gram air yang aku masukan tidak membasahi semua serbuk kopi, otomatis aku tambahkan lagi air sampai dengan 30 atau 35 gram, namun yang penting jangan sampai menggenangi serbuk kopi tersebut. Menurut barista yang mengajarkanku, proses awal penuangan air ke dalam serbuk kopi namun tidak sampai menggenangi serbuk tersebut bertujuan agar ekstraksi awal serbuk kopi bisa terjadi. Oleh karena itu, proses yang dinamakan damp (lembab) tersebut harus didiamkan terlebuh dahulu selama kurang lebih 45 detik sebelum kemudian dituangkan lagi air sampai batas tertentu. Akupun kemudian mendiamkan kopi tersebut lembab selama kurang lebih 40 detik dan kemudian menuangkan lagi air kedalam wadah sampai dengan air berada pada level 1. Pada proses ini, aroma kopi sudah mulai terasa. Setelah di aduk sampai rata, aku kembali menuangkan air pada campuran kopi tersebut sampai pas digaris level 2. Setelah ditutup dengan filter khusus aeropress, kemudian aku menyiapkan gelas sebagai wadah tempat penampungan hasil ektraksi kopi tersebut.

IMG_2388
Pressing Aeropress

Tahapan terakhir adalah melakukan pressing terhadap larutan kopi tersebut secara perlahan. Karena sifatnya press, maka diperlukan sedikit tenaga untuk membuat cairan kopi hasil ektraksi keluar semua dengan sempurna. Rasanya, inilah kopi pertama buatanku yang dibuat dengan cara yang tidak sederhana. Biasanya untuk membuat kopi, aku cukup menuangkan serbuk kopi dan air mendidih ke dalam gelas, dan menunggu dingin untuk kemudian aku cicipi. Tidak ada yang menarik dengan cara pembuatan konvensinal tersebut. Dengan sedikit usaha dan unsur ribet yang aku lakukan dalam meracik kopi, rasa dan sensasi yang dihasilkan juga berbeda. Meskipun aku masih awam dalam urusan kopi, namun hari itu aku merasakan hal yang unik dalam setiap tetes kopi yang masuk ke dalam mulutku. Cita rasa kopi Gayo dengan perlakuan aeropress memberikan cita rasa ringan dan segar dalam mulut. Akupun meninggalkan kopi pancong pesanan pertamaku, dan berpaling ke kopi gayo yang aku buat sendiri dengan penuh rasa bahagia. Sambil menikmati kesegaran kopi tersebut, lantunan lagu Dia karya maliq deesenssial berhasil membawa lamunanku terbang bertemu dengan EL, sang pengelana kopi yang menemukan kopi perfecto di dunia yang berasal dari Indonesia .

FYI : Semua aktifitas ini berasal dari pengalaman pribadi yang masih sangat awam dalam meramu bahkan menghasilkan cita rasa kopi yang nikmat. Jangan tanyakan lebih lanjut mengenai seluk beluk kopi, karena itu sangat percuma, aku pasti tidak mampu menjawabnya.

Pelajaran penting dalam kegiatan ini adalah berani mencoba dan berani bertanggung jawab dengan hasilnya (baca : mencuci sendiri peralatan yang telah dipakai)

Dibutuhkan kesabaran dan keahlian pada saat pouring water agar air bisa merata membasahi semua permukaan kopi, dan ini harus belajar, asli, jika grogi niscaya aliran air akan terputus-putus.

Advertisements

2 thoughts on “Let’s Learn to make coffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s